
Malam ini semua sandiwara dan permainan Darren akan berakhir. Dan malam ini adalah malam terakhir untuk seorang Veronika merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan Veronika akan berganti dengan jeritan kesakitan yang akan diberikan oleh Darren dan keempat sahabatnya.
Darren sedang bersiap-siap di kamarnya. Jika bukan demi membalaskan dendamnya, Darren jijik untuk berdekatan dan berduaan dengan Veronika alias sekretarisnya.
Darren saat ini mengenakan setelan jas berwarna hitam kemeja putih sebagai **********.
Setelah dirinya dalan keadaan rapi. Darren pun bergegas keluar meninggalkan kamarnya untuk menuju lantai bawah.
Darren menuruni anak tangga sembari berbicara dengan salah satu sahabatnya yang saat ini sudah berada di lokasi acara ulang tahun pernikahan kedua orang tua Veronika.
"Bagaimana persiapan semuanya, Bar?"
"Semuanya sudah dalam kendali kita, Ren! Alex dan sepuluh anggotanya yang akan bertugas menyerangmu dan Veronika ketika di dalam perjalanan."
"Bagus. Jangan terlalu lama disana. Aku sudah tidak sabaran ingin memberikan pelajaran untuk wanita murahan itu."
"Baik, Ren! Setidaknya aku dan yang lainnya hanya membutuhkan waktu 2 jam saat acara puncaknya."
"Baiklah. Berhati-hatilah. Jangan sampai kau, Zidan, Chico dan Chello terluka."
"Siap."
Setelah selesai berbicara dengan Barra. Darren mematikan ponselnya dan memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Ketika Darren tiba di bawah. Kelima kakak-kakaknya menatap kagum dirinya. Darren yang melihat kelima kakak-kakaknya yang sedang menatapnya hanya tersenyum.
"Mau sampai kapan kalian menatapku seperti itu?" tanya Darren.
Saskia, Nuria, Marco, Afnan dan Lory hanya memberikan senyuman manisnya atas pertanyaan Darren.
Saskia mendekati adiknya, lalu tangannya mengusap lembut kedua wajah adiknya itu. Dan tak lupa Saskia memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Kamu tampan sekali malam ini sayang. Kakak benar-benar bahagia punya kamu didalam hidup Kakak. Begitu juga dengan yang lainnya. Jika Mama masih hidup. Mama pasti bahagia dan bangga punya putra seperti kamu. Diusiamu yang terbilang masih muda. Tapi kamu sudah menjadi seorang CEO terkenal. Kamu memiliki dua Perusahaan sekaligus."
Mendengar perkataan Saskia seketika air matanya Darren jatuh membasahi wajah tampannya. Melihat Darren yang menangis membuat hati mereka sakit. Inilah kelemahan mereka. Mereka paling tidak bisa kalau melihat Darren menangis. Mereka sangat tahu jika Darren anak yang sensitif.
"Aku rindu Mama," ucap Darren.
GREP!
Saskia langsung memeluk tubuh adiknya. Dapat Saskia rasakan tubuh adiknya yang bergetar.
"Maafkan aku... Hiks," ucap Darren dalam isakan.
Mendengar ucapan dari Darren. Hati Saskia, Nuria, Marco dan Afnan kembali terluka.
Saskia melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan adiknya. Tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata adiknya.
"Kamu gak salah. Gak ada yang salah disini. Jadi Kakak minta sama kamu. Jangan menyalahkan diri kamu atas apa yang terjadi sama Mama. Kamu sudah berusaha semampu kamu untuk menyelamatkan Mama. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kita hanya manusia biasa. Dan yang menentukan semuanya adalah Tuhan."
"Apa yang dikatakan oleh Kak Saskia benar? Kakak juga gak suka kalau setiap membahas Mama. Kamu selalu nyalahin diri kamu sendiri. Kamu gak salah Ren. Ini semuanya sudah takdir. Setiap manusia pasti akan merasakan kematian." Nuria ikut menghibur adiknya.
"Sudah. Jangan nangis lagi. Kalau kamu nangis terus nanti ketampanan kamu hilang. Bukankah malam ini kamu harus terlihat tampan didepan wanita murahan itu dan juga didepan keluarganya. Dan malam ini juga kamu akan mengakhiri sandiwara kamu yang menjadi kekasih wanita murahan itu." Marco berbicara sambil merapikan jas yang dikenakan dan merapikan sedikit rambut adik bungsunya.
"Pokoknya malam ini kamu harus berhasil. Jadi besok kamu gak perlu lagi pura-pura menjadi kekasih wanita sialan itu," kata Afnan.
"Dan kamu juga harus tunjukan kedia. Siapa itu Darrendra Smith," tutur Lory.
Detik kemudian Darren tersenyum ketika mendengar ucapan dari kelima kakak-kakaknya.
"Terima kasih. Aku menyayangi kalian," ucap Darren tulus.
Saskia, Nuria, Marco, Afnan dan Lory tersenyum mendengar ucapan dari Darren.
"Sama-sama. Kami juga menyayangimu. Bahkan kasih sayang kami lebih besar darimu."
Mendengar jawaban kompak kelima kakak-kakaknya Darren langsung mempoutkan bibirnya. Sementara kelima kakak-kakaknya tersenyum senang karena sudah berhasil menjahili adiknya.
...***...
Di sebuah gedung besar dan mewah yang terletak dilokasi Goulburn Street, Australia tampak begitu ramai. Di dalam gedung itu sedang ada pesta perayaan ulang tahun pernikahan. Yang mengadakan acara tersebut adalah keluarga Aldema dan keluarga Choe.
Para tamu undangan banyak yang berdatangan. Rata-rata para tamu undangan itu dari kalangan pebisnis. Banyak para pebisnis besar dan terkenal yang hadir diacara tersebut.
Darren dan keempat sahabatnya juga sudah berada diantara para tamu undangan tersebut. Bahkan Veronika tak pernah lepas dari Darren dan selalu menempel padanya. Hal itu sukses membuat Darren merutuk dan mengumpat dalam hatinya.
Di acara ulang tahun pernikahan kedua orang tua Veronika. Kedua orang tua Veronika dan anggota keluarga Veronika lainnya memperkenalkan Darren sebagai calon menantunya. Calon menantu tertua keluarga Aldema dan keluarga Choe.
Ketika mendengar pengumuman itu membuat Darren dan keempat sahabatnya mengutuk keluarga Aldema dan keluarga Choe. Jika bukan karena sebuah rencana pembalasan dendam. Baik Darren maupun keempat sahabatnya sudah menghajar habis-habisan dua keluarga tersebut.
"Baiklah. Para tamu undangan sekalian. Kini tibalah acara yang kita nantikan yaitu acara tiup lilin yang akan dilakukan oleh tuan Lucky Aldema dan nyonya Sandara Aldema." pembawa acara berbicara di depan para tamu undangan.
Tanpa Darren ketahui. Dalam acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Veronika sudah membicarakan rencananya untuk mengingat Darren dengan pertunangan. Veronika meminta anggota keluarganya agar dirinya bisa bertunangan dengan Darren. Dan bagaimana pun caranya Darren harus mau bertunangan dengan Veronika.
Ketika mendengar niat dan rencana Veronika. Baik kedua orang tua Veronika maupun keluarga besarnya sangat setuju jika Veronika bertunangan dan menikah dengan Darren. Bahkan mereka akan melakukan segala cara untuk membuat niat Veronika tercapai di malam ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya.
Namun tanpa mereka sadari niat dan rencana mereka tersebut justru akan menjadi bumerang untuk mereka sendiri. Mereka berpikir jika niat dan rencana mereka akan berjalan lancar. Itu hanyalah sebuah halusinasi saja. Tanpa sadar mereka telah mengantarkan nyawa mereka untuk masuk ke kandang singa.
Kedua orang tua Veronika berdoa terlebih dahulu. Setelah melakukan doa. Keduanya pun meniup lilin. Ketika lilin itu mati. Terdengar tepukan tangan yang begitu meriah dari para tamu undangan.
Lanjut ke acara selanjutnya. Kedua orang tua Veronika memotong kue ulang tahun pernikahannya. Potongan pertama diberikan masing-masing kepada mereka sendiri dan disusul dengan anggota keluarga.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue. Para tamu undangan mengucapkan selamat kepada keduanya. Dan berakhir para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia.
Ketika para tamu undangan tengah mencicipi hidangan, terdengar suara salah satu anggota keluarga Veronika. Orang itu adalah adik laki-laki dari ayahnya Veronika yang bernama Arlan Aldema.
Arlan berbicara di depan semua para tamu undangan. Beliau dengan lantangnya mengatakan bahwa malam ini adalah malam kebahagiaan keluarga Aldema dan keluarga Choe.
"Malam ini ada dua acara yang telah kami persiapkan. Pertama, acara ulang tahun pernikahan kakak laki-laki saya yaiti Lucky Aldema dan Sandara Aldema dari keluarga Choe. Dan acara tersebut telah sukses dilaksanakan beberapa menit yang lalu. Kini kita lanjut ke acara kedua. Acara keduanya itu adalah acara pertunangan keponakan sulung saya dengan kekasihnya."
Arlan melihat kearah Veronika yang saat ini tengah menggandeng tangan Darren. Lalu detik kemudian, terukir senyuman di bibir Arlan.
"Malam ini Veronika akan bertunangan dengan kekasihnya bernama Darrendra Austin." Arlan berbicara dengan begitu lantangnya. Dan tak lupa senyuman yang mengembang di bibirnya.
Mendengar pengumuman tersebut semua para tamu undangan bersorak gembira begitu juga dengan Veronika dan keluarga besarnya. Veronika sangat bahagia malam ini.
"Maafkan aku Darren. Dengan cara seperti ini aku bisa mengikatmu. Jadi kau tidak akan bisa lari atau pun lepas dariku. Ditambah lagi tidak akan ada perempuan mana pun yang akan merebutmu dariku." Veronika berbicara dalam hatinya.
Namun tidak dengan Darren dan keempat sahabat Zidan, Chico, Barra dan Chello. Mereka benar-benar terkejut dan juga marah.
"Brengsek," batin Darren. Darren mengepalkan kuat tangannya.
"Wanita sialan ini sudah melewati batas," batin Zidan, Chico, Barra dan Chello.
Darren melepaskan tangan Veronika yang saat ini sedang menggandengnya. Dengan sekali melakukannya, tangan Veronika pun berhasil terlepas.
Darren menatap tajam kearah Veronika. "Apa-apaan kau Veronika! Berani sekali kau membuat rencana ini tanpa merundingkannya terlebih dahulu kepadaku!" teriak Darren.
Mendengar teriakan Darreb membuat semua para tamu undangan melihat kearah Darren dan Veronika. Begitu juga dengan anggota keluarga Veronika. Semuanya menatap kearah Darren dan Veronika.
"Ren, kau..." Veronika tersentak saat mendengar nada bicara Darren.
"Kau pikir aku setuju bertunangan denganmu, hah! Kau jangan berkhayal terlalu tinggi Veronika. Kau tidak pantas menjadi pendampingku. Yang pantas menjadi pendampingku itu adalah Ataya Parvez. Dia adalah wanita satu-satunya yang aku cintai di dunia ini!" teriak Darren dengan kerasnya.
Mendengar perkataan, teriakan dan bentakkan dari Darren membuat Veronika, anggota keluarganya dan para tamu undangan terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu dan bahkan Darren menghina Veronika didepan para tamu undangan.
Veronika menatap wajah Darren dengan menantang. "Ataya sudah mati Darren. Dia sudah mati. Ataya tidak bisa dan tidak akan mungkin menjadi pendamping hidupmu!" teriak Veronika.
Darren tersenyum menyeringai. "Ataya memang sudan mati. Tapi cintanya akan terus hidup di hatiku. Cintanya tidak akan pernah mati. Dan selamanya aku mencintanya. Jika pun aku harus mencari pengganti Ataya. Yang jelas wanita itu bukan kau. Aku tidak sudi menjadikan kau pendamping hidupku!" bentak Darren.
"Jika kau masih mencintai Ataya. Lalu hubungan kita beberapa minggu ini apa?" tanya Veronika.
Darren menatap nyalang Veronika. "Selama ini aku hanya pura-pura mencintaimu. Seperti yang pernah aku katakan sejal awal. Aku tidak pernah tertarik padamu. Kau hanya berstatus sebagai sekretarisku di kantor. Tidak lebih dari itu. Kau saja yang selalu berusaha menarik perhatianku dengan pakaian terbukamu. Kau bahkan juga sudah mengetahui bahwa aku telah memiliki calon istri. Tapi kau tidak mempedulikan hal itu. Kau tetap saja terus mengejarku. Dari awal aku sudah mengetahui niat busukmu padaku. Makanya aku mengikuti permainanmu dan mempermudahkan jalanmu dengan pura-pura menjadi kekasihmu!" bentak Darren.
Seketika tubuh Veronika terhuyung ke belakang ketika mendengar perkataan dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika semua rencananya telah diketahui oleh Darren.
Melihat putrinya dipermalukan didepan semua para tamu undangan membuat Lucky menghampiri Darren dan Veronika. Dirinya tidak terima akan sikap Darren terhadap putrinya.
PLAAKK!
Lucky langsung menampar keras wajah Darren ketika dirinya telah berada di hadapan Darren. Melihat Darren yang ditampar membuat Zidan, Chico, Barra dan Chello mengepalkan tangannya kuat.
"Berani sekali kau memperlakukan putriku seperti ini!" bentak Lucky.
Darren menatap nyalang ayahnya Veronika. "Anda telah berani mencari masalah denganku. Dan anda juga telah berani menamparku, hum!"
"Memangnya kenapa? Kau pikir aku takut denganmu. Kau baru anak kemarin sore yang hanya kebetulan berhasil menjadi seorang CEO. Sementara aku sudah terlebih dahulu menjadi CEO dibandingkan denganmu." bentak Lucky dengan menunjuk wajah Darren.
Darren tersenyum menyeringai. "Baru memiliki Perusahaan terbesar nomor 12 di dunia dan di Australia. Anda sudah sombong seperti ini. Malam ini juga aku bisa membuat Perusahaanmu dan Perusahaan seluruh anggota keluarga besarmu hancur dalam hitungan detik." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman.
"Tidak usah mengancamku. Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman dari bocah ingusan sepertimu." teriak Lucky.
"Baiklah kalau begitu. Jika anda berpikir ucapanku barusan hanya sebuah ancaman. Aku akan buktikan."
Darren menatap semua para tamu undangan. "Kalian buka mata kalian lebar-lebar. Dan pasang telinga kalian semua. Malam ini akan ada pertunjukan yang akan membuat kalian semua terkejut." Darren berbicara dengan nada yang keras.
"Barra. Sepertinya ada perubahan rencana. Lakukan sekarang juga. Aku ingin melihat keluarga besar Aldema dan keluarga besar Choe hancur malam ini juga."
"Siap Darren. Dengan senang hati. Aku juga sudah muak melihat kedua keluarga brengsek tersebut. Apalagi perempuan tak tahu diri itu."
Setelah mengatakan itu. Barra dibantu beberapa anggotanya langsung memperlihatkan sebuah video yang sudah mereka persiapkan. Video itu terpampang di tv besar yang sudah dipasang di ruangan itu sehingga semua para tamu undangan bisa melihatnya.