Revenge

Revenge
Tatapan Kerinduan



Ke esokkan paginya Darren dan kelima kakak-kakaknya sedang sarapan pagi bersama. Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan terutama Darren.


"Ren,"panggil Marco.


Darren langsung melihat kearah kakaknya. "Iya, Kak."


"Bagaimana?" tanya Marco.


"Bagaimana apanya?" tanya Darren sambil mengunyah makanannya.


"Usahamu untuk merebut kedua Perusahaan bajingan itu dan keluarganya."


"Menurut Kakak bagaimana? Apa aku gagal atau justru sebaliknya?"


Darren bukannya menjawab justru memberikan pertanyaan balik kepada kakaknya sehingga membuat kakaknya mendengus kesal.


"Aish, kau ini. Ditanya malah balik nanya," ucap Marco.


"Hehehe." Darren hanya terkekeh melihat kekesalan kakaknya.


Sementara Saskia, Nuria, Afnan dan Lory hanya tersenyum melihat keduanya.


"Kak Marco," panggil Darren.


"Apa?" Marco menjawab panggilan dari adiknya ketus. Marco sengaja karena ingin membalas adiknya.


"Yaelah. Ketus amat jawabnya," ucap Darren.


"Biarin," sungut Marco.


"Ya, sudah! Gak jadi," ucap Darren.


"Yah. Kok malah situ yang ambekan?"


"Suka-suka aku dong. Memangnya Kakak Marco aja yang bisa ambekan sama aku. Aku juga bisa. Wleeee!"


"Hahahahaha."


Saskia, Nuria, Afnan dan Lory tertawa. Mereka sedari tadi berusaha untuk tidak tertawa. Dan pada akhirnya tawa mereka pun pecah.


Darren menatap wajah Marco. "Kakak, aku serius sekarang. Bagaimana? Pu..." ucapan Darren terpotong karena Marco sudah terlebih dahulu bersuara.


"Pukul 12 malam kita akan menyerang markas Al Capone. Dan sesuai keinginanmu. Bajingan itu akan di seret hidup-hidup menuju kediaman Alberto. Kebiasaan bajingan itu adalah setiap malam bajingan itu akan berada di markasnya. Bajingan itu akan kembali pulang ke rumahnya atau pulang ke rumah orang tuannya sekitar pukul 8 pagi." Marco berucap sambil menatap wajah tampan adiknya.


Mendengar jawaban dari kakaknya, Darren tersenyum bahagia. Dirinya sudah tidak sabar untuk melihat wajah orang yang sudah membunuh wanita yang begitu dicintainya.


"Kejutan pertama menantimu Alonso," batin Darren.


"Apa kamu sudah mempersiapkan semua?" tanya Afnan dengan menatap wajah adiknya.


"Sudah Kak. Kejutan pertama akan aku tunjukkan kepada bajingan itu ketika rapat pemegang saham pukul 1 siang nanti di SKYE Suites Australia." Darren menjawab pertanyaan dari Afnan.


"Sudah... Sudah! Selesaikan sarapan kalian. Kalian bisa telat nanti ke kantor!" seru Saskia menegur adik-adiknya.


"Baik, Kak!"


Dan mereka pun kembali melanjutkan sarapan paginya sampai selesai.


...***...


Di kediaman keluarga Austin tampak hening. Bukan karena tidak ada penghuni. Tapi karena penghuninya saat sedang perang dingin. Dengan kata lain Felix dan kelima anak-anaknya begitu sangat kecewa dengan Rafael dan Andara. Ditambah lagi tidak ada raut kebahagiaan sama sekali terpancar di wajah mereka masing-masing setelah kepergian Victoria, ibu dan nenek mereka.


Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya sudah tidak lagi menaruh hormat kepada Andara. Semenjak pulang dari rumah sakit dan semenjak pulang dari pemakaman Victoria. Serta semenjak kemarahan Darren dan kekecewaan saudara-saudari tirinya yang tak lain kakak-kakaknya Darren. Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tidak lagi bertegur sapa terhadap Rafael dan Andara. Terutama terhadap Andara.


Diantara Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Nasya lah paling curiga terhadap Andara. Nasya mulai mencurigai Andara saat ayahnya menceritakan sebuah kebenaran tentang Darren dan Clarissa, Ibu kandung Darren. Nasya berpikir semua kejadian yang menimpa keluarganya penyebabnya adalah Andara.


Kini Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya berada di ruang tengah. Sementara Rafael dan ketiga anak-anak berada di kamar masing-masing. Untuk Andara, wanita itu tidak berada di rumah semenjak kejadian di rumah sakit.


"Papa," panggil Nasya.


Felix melihat kearah Nasya, putri kembarnya. "Ada apa sayang?"


"Papa percayakan apa yang dikatakan oleh Darren saat di rumah sakit dua hari yang lalu?" tanya Nasya.


"Papa percaya sayang. Sangat percaya," jawab Felix.


Nasya kemudian melihat kearah Raka, Satya, Vito dan Velly. "Lalu bagaimana dengan kalian?"


"Kakak juga percaya dengan apa yang dikatakan Darren," ucap Raka dan diangguki oleh Satya dan Vito.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan tetap membiarkan pembunuh itu tinggal disini? Jika pembunuh itu berlama-lama tinggal disini. Bisa saja giliran kita yang dibunuhnya." Nasya berucap sambil menatap wajah ayah dan keempat saudaranya.


"Papa." Raka melihat kearah ayahnya.


"Iya, Raka! Ada apa sayang?" tanya Felix.


"Coba Papa hubungi Darren. Tanyakan padanya. Tindakan apa yang harus kita ambil untuk menghadapi pembunuh itu. Bagaimana pun pembunuh itu istri om Rafael. Dan kita tidak bisa terlalu lama berdiam seperti ini. Kita ini keluarga, Pa! Om Rafael itu adiknya Papa. Hanya om Rafael yang tersisa." Raka berbicara panjang lebar.


"Kak Raka benar, Pa! Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Jika Darren kembali membenci om Rafael. Itu urusan pribadi Darren. Kita jangan ikut-ikutan membenci om Rafael. Mungkin saat ini om Rafael belum menyadarinya atau belum mempercayai semua yang dikatakan Darren. Kalau aku diposisi om Rafael mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti om Rafael." Satya juga ikut berbicara.


"Iya, Pa! Kak Raka dan Kak Satya benar. Hanya om Rafael saudara Papa yang tersisa saat ini. Aku tidak ingin ada yang terluka lagi. Aku tidak ingin ada yang pergi lagi. Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini." Vito berucap dengan tatapan matanya menatap ayahnya.


Mendengar perkataan dari ketiga putranya membuat Felix sedih. Di dalam hatinya membenarkan semua perkataan ketiga putranya itu. Saat ini dirinya hanya memiliki Rafael sebagai keluarga dan saudaranya. Sementara ibu, istri dan adik perempuannya sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dan itu semua karena keegoisan dan kebodohannya di masa lalu.


Sementara hubungannya dengan putra bungsunya bisa dikatakan masih belum membaik. Apalagi semenjak kejadian di rumah sakit itu. Putranya kembali terluka dan kecewa untuk yang kedua kalinya.


"Baiklah. Papa nanti akan menghubungi adik kalian. Dan Papa akan bicara baik-baik pada adik kalian tentang Rafael, om kalian!"


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum. Mereka berharap Darren tidak marah kepada ayahnya.


"Ya, sudah! Lebih baik kalian bersiap-siap untuk ke Kantor dan ke Kampus," ucap Felix.


"Baik, Pa!"


Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya langsung beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar masing-masing untuk bersiap-siap.


...***...


Darren sudah berada di Kampus. Ketika tiba di Kampus. Darren langsung diserang dengan banyak pertanyaan dari keempat sahabatnya. Dan hal itu membuat Darren hanya menghembuskan nafas kasarnya.


Kini Darren dan keempat sahabatnya berada di lobi utama Kampus. Lobi itu sudah seperti penginapan bagi para mahasiswa dan mahasiswi. Mereka bisa bersantai dan beristirahat disana jika merasa jenuh dan lelah menghadapi materi kuliah.


"Bagaimana?" tanya Chello.


"Bagaimana apanya? Kalau nanya itu yang jelas. Kamu sama saja dengan Kak Marco. Kak Marco juga nanya gitu tadi di rumah." Darren berbicara sambil menatap kesal Chello.


Mendengar perkataan Darren. Baik Chello, Barra maupun Chico dan Zidan tersenyum. Mereka tersenyum ketika melihat tatapan kesal Darren.


"Oke... Oke! Aku minta maaf. Sekarang katakan padaku. Kau berhasilkan merebut kedua Perusahaan itu?" ucap dan tanya Chello menatap penuh harap Darren.


Melihat keempat sahabatnya yang menatap penuh harap dirinya. Darren tersenyum.


"Iya. Aku berhasil. Dan hari ini sekitar pukul 1 siang nanti aku akan memberikan kejutan pertama untuknya," jawab Darren.


"Baguslah," sahut Chello.


"Aku senang mendengarnya," ucap Zidan.


"Ini kabar yang sangat membahagiakan untukku," ujar Chico.


"Dan aku tidak sabaran untuk melihat kejutan kedua untuk bajingan itu," sahut Barra.


"Hm." Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello mengangguk.


Ketika Darren sedang asyik dengan dunianya bersama keempat sahabatnya. Vito dan kedua adiknya Velly dan Nasya datang menghampiri Darren yang sedang bersama keempat sahabatnya. Hanya mereka bertiga saja tanpa sahabat-sahabat mereka. Begitu juga dengan Kiran dan sahabatnya.


"Darren," panggil Vito.


Baik Darren maupun Zidan, Chico, Barra dan Chello langsung melihat ke asal suara. Darren dapat melihat dari tatapan mata Vito, Velly dan Nasya tersirat tatapan kesedihan, tatapan penuh tanya dan tatapan kerinduan.


"Kak Vito, Kak Velly, Kak Nasya." Darren berbicara di dalam hatinya.


PUK!


Barra menepuk pelan bahu Darren. Begitu juga dengan Zidan, Chico dan Chello.


"Bicaralah baik-baik dengan mereka. Bagaimana pun mereka adalah kakak-kakakmu," ucap Barra dan diangguki oleh Zidan, Chico dan Chello.


"Kalau sudah selesai temui kami di ruang latihan tinju," ucap Chello.


Setelah mengatakan hal itu kepada Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello pun pergi meninggalkan Darren dan ketiga kakaknya.