Revenge

Revenge
Pertemuan Terakhir Dengan Sang Nenek



Darren dan keempat sahabat-sahabatnya baru meninggalkan Perusahaan DRN'Smith setengah jam yang lalu. Mereka saat ini sedang menuju Kampus.


Darren dan keempat sahabat-sahabatnya menggunakan tiga mobil mewah. Darren menggunakan Lykan Hypersport, Zidan dan Chico menggunakan Lamborghini Gallardo. Sementara Chello dan Barra menggunakan Bugatti La Voiture Noire.


Baik Darren maupun sahabat-sahabatnya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika mereka tengah fokus berkendara. Salah satunya tak sengaja melihat sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan penuh. Dan beberapa detik kemudian, melintas dua mobil lainnya yang mengarah kearah mobil yang melintas pertama.


"Bukankah mobil yang melintas yang pertama itu adalah mobil yang biasa digunakan oleh Nenek Victoria," batin Chico.


Seketika matanya Chico membelalak setelah menyadari sepenuhnya. "Zidan. Putar balik!"


Mendengar seruan dari Chico, seketika Zidan menginjak rem mobilnya. Setelah mobil itu berhenti, Zidan menatap wajah Chico.


"Ada apa?"


"Aku tadi melihat mobil yang biasa digunakan oleh Nenek Victoria mengarah kesana," sahut Chico sambil tangannya menunjuk kearah belakang. "Dan bukan itu saja. Ada dua mobil yang mengejar mobilnya Nenek Victoria."


"Apa? Kau yakin itu mobil Nenek Victoria? Kau salah lihat kali."


"Tidak Zidan. Aku tidak salah lihat. Bahkan aku melihat ada Nenek Victoria di dalam mobil itu. Okelah kalau aku salah lihat. Tapi aku juga melihat dengan jelas sopir yang membawa mobil itu."


Mendengar ucapan dari Chico. Zidan pun memutar balik mobilnya dan mengarahkannya kearah yang ditunjuk oleh Chico.


Sementara Darren maupun Barra dan Chello seketika menghentikan mobilnya ketika mobil yang ditumpangi oleh Chico dan Zidan yang berada di belakang berhenti dan berbalik arah.


"Itu kenapa Zidan dan Chico berbalik arah? Ada apa?" tanya Chello.


"Aku juga tidak tahu Chello," jawab Barra.


Namun detik kemudian, ponsel milik Barra berdering. Barra yang mendengar ponselnya berdering langsung mengambilnya di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Barra melihat nama 'Chico' di layar ponselnya. Tanpa menunggu lagi, Barra langsung menjawabnya.


"Hallo, Barra."


"Bar, suruh Chello dan Darren putar balik. Ikuti mobil kami. Barusan aku melihat mobilnya Nenek Victoria dikejar-kejar oleh dua mobil di belakangnya. Nenek Victoria dalam bahaya."


"Baiklah."


PIP!


Barra langsung mematikan panggilannya. Dan kemudian, Barra menjulurkan kepalanya keluar dan melihat kearah dimana Darren yang memang sudah berhenti dari tadi. Barra memberikan kode kepada Darren untuk putar balik.


Mengerti akan kode dari Barra. Darren langsung masuk kembali ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin mobilnya. Darren memutar balik mobilnya kearah yang dimaksud oleh Barra. Setelah itu, Darren pun melaju kan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Darren mengambil ponselnya dan menghubungi Barra bermaksud menanyakan kenapa harus putar balik. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.


"Ada apa? Kenapa harus putar balik?"


"Chico melihat mobil Nenek Victoria dikejar-kejar oleh dua mobil yang tak dikenal dari arah belakang."


"Apa? Kau yakin itu mobil Nenekku?"


"Seperti itu yang dikatakan oleh Chico."


"Baiklah."


PIP!


Darren langsung mematikan panggilannya. Dan kemudian Darren melajukan mobil dengan kecepatan penuh melebihi batas maksimal.


DOR!


DOR!


Salah satu mobil yang ada di belakang mobil milik Victoria menembaki ban mobilnya sehingga membuat mobil tersebut oleng dan menabrak tiang listrik.


BRAAKK!


Mobil bagian depan hancur dan mengeluarkan asap serta percikan api. Sementara Victoria dan sopirnya tak sadarkan diri.


Dua mobil yang mengejar saat ini sudah berada tak jauh dari mobil Victoria. Kemudian keluarlah sekitar delapan orang dari dua mobil tersebut. Dari delapan orang tersebut hanya dua yang memegang senjata. Dua orang itu melangkah mendekati mobil Victoria.


Ketika dua dari delapan orang itu hampir mendekati mobil Victoria, terdengar suara mobil yang mengarah kearah mereka. Kedelapan orang itu langsung melihat keasal suara mobil tersebut.


Detik kemudian keluar dua orang dari dalam mobil. Orang itu adalah Zidan dan Chico. Keduanya sudah memegang senjata.


"Menjauhlah dari mobil itu!" teriak Zidan ketika melihat dua orang yang hendak mendekati mobil Victoria.


Sementara dua orang itu tidak mempedulikan teriakan Zidan. Keduanya tetap melangkahkan kakinya untuk menghampiri mobil Victoria.


DOR! DOR!


Tembakkan tepat mengenai tangan kedua orang itu sehingga membuat senjata tersebut lepas dari tangan keduanya.


"Siapa kalian!" bentak orang pertama.


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Pergi dari sini. Maka nyawa kalian selamat," jawab Chico.


"Cih! Apa hak kalian menyuruh kami pergi, hah?!" bentak orang kedua.


"Seharusnya kalian yang harus pergi dari sini. Kalian hanya berdua. Sementara kami berjumlah delapan orang!" bentak orang keempat.


"Siapa bilang mereka hanya berdua? Kami ada disini!" seru Barra yang datang bersama dengan Darren dan Chello.


"Hahahahah. Kalian terlalu percaya diri. Lihatlah kalian hanya berjumlah lima orang. Kalian masih kalah jumlah dengan kami."


"Terlalu banyak bicara."


Darren langsung berlari dan menyerang kedelapan orang-orang itu dan diikuti oleh keempat sahabatnya.


Darren dan keempat sahabatnya memberikan pukulan dan tendangan secara brutal kedelapan orang itu.


BUGH! BUGH


DUAGH! DUAGH!


"Ren, lebih baik kau selamatkan Nenek Victoria. Para sampah ini biarkan kami yang membereskannya!" seru Chello.


Darren berlari menghampiri mobil sang Nenek yang saat ini beberapa mengeluarkan letupan api.


Darren berulang kali memukul, meninju kaca jendela mobil itu, namun hasil nihil. Kaca tidak juga pecah. Darren menuju ke kaca depan dan ada sedikit kaca yang pecah. Darren meninju kaca itu dengan keras.


PRAAKK!


Kaca itu pun pecah. Darren kemudian memasukkan tangannya, lalu menekan tombol kunci. Setelah itu, Darren langsung membuka pintu mobil tersebut.


Pintu mobil sudah terbuka. Ketika Darren hendak menggendong Victoria, tiba-tiba kedua mata Victoria terbuka. Victoria menatap dengan senyuman wajah Darren. Tangannya berlahan mengusap lembut pipi putih Darren.


"Da-darren," lirih Victoria. Dan berlahan air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Iya, Nek! Aku Darren. Cucu Nenek." Darren menangis.


"An-andara... Andara ya-ng te-lah membunuh Clarissa dan Amanda. Dan di-dia juga in-ingin membu-nuhmu sa-yang. Jaga di-rimu." Victoria berucap dengan terbata-bata dengan tangannya menyelipkan sesuatu ke dalam saku celananya Darren. Setelah itu, Victoria pun menutup kedua matanya untuk selamanya.


Darren langsung menggendong tubuh sang Nenek dan membawanya keluar dari dalam mobil. Pas disaat Darren berhasil membawa tubuh Neneknya. Seketika mobil tersebut meledak.


DUUAAARRR!


Tubuh Darren yang sedang menggendong tubuh sang Nenek mental karena ledakan yang begitu kuat dan besar. Tubuh Darren terhempas ke tanah dengan pelipis membetur sudut aspal sehingga mengakibatkan luka sobek di sana.


Sementara tubuh Victoria mental di rerumputan dengan kepala belakang membentur batu besar yang ada di rumput itu.


"Darren!" teriak Zidan, Chico, Barra dan Chello ketika melihat tubuh Darren yang mental akibat ledakan tersebut.


Mereka berlari menghampiri Darren dan Victoria setelah berhasil membunuh kedelapan orang-orang yang mengejar mobilnya Victoria dengan sangat mengerikan.


Mereka kemudian menggendong tubuh Darren dan tubuh Victoria. Mereka membawa keduanya dengan wajah yang kentara khawatir dan juga takut.


Di perjalanan ke rumah sakit. Barra menghubungi salah satu kakak-kakaknya Darren. Barra menghubungi Marco karena Marco salah satu kakaknya Darren yang bersikap tenang jika mendapatkan kabar buruk. Beda dengan Saskia, Nuria dan Afnan. Ketiganya memiliki kecemasan dan rasa khawatir yang berlebihan.


***


Di rumah mewahnya Darren terlihat Saskia, Nuria, Marco, Afnan, Lory dan keluarga Austin sedang berada di ruang tengah. Mereka saat tengah membahas bagaimana perkembangan hubungan keluarga Austin dengan Darren saat di tinggal beberapa jam kemarin.


Baik Felix, Rafael maupun anak-anaknya menceritakan bagaimana sikap Darren kepada mereka. Mendengar cerita dari keluarga Austin. Saskia, Nuria, Marco, Afnan dan Lory tersenyum bahagia.


"Aku ikut bahagia mendengarnya, Pa!" seru Nuria.


"Setidaknya ada sedikit celah untuk kalian mendapatkan maaf dari Darren, walau Darren masih berbicara ketus dengan kalian. Bagaimana pun kalian yang lebih kejam menyakiti Darren dari pada Papa Felix," ucap Marco.


"Iya, kau benar Marco. Disini Kamilah yang sangat kejam dengan Darren dulu dibandingkan Papa," sahut Raka dan diangguki oleh Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Iya. Papa hanya sekali yaitu menampar Darren dan juga mengusir Darren. Sementara kita berulang kali," ucap Velly.


"Jadi wajar saja Darren belum sepenuhnya memaafkan kesalahan kami. Sementara terhadap Papa. Darren seperti sudah 100% membuka hatinya," ujar Nasya.


"Hei, kalian jangan berkecil hati seperti itu. Percayalah! Tidak lama lagi adik kecil kalian akan kembali kepada kalian." Nuria memberikan semangat kepada saudara-saudaranya.


Ketika mereka tengah berbincang-bincang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Marco.


Marco yang mendengar ponselnya berdering langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Ketika Marco melihat nama 'Barra' di layar ponselnya seketika hati Marco menjadi tak tenang. Tak biasanya Barra, sahabat adiknya itu menghubunginya. Tanpa pikir panjang lagi. Marco pun langsung menjawab panggilan dari Barra.


"Hallo, Barra."


"Hallo, Kak Marco."


Marco dapat mendengar dengan jelas suara serak dan lirih Barra. Dalam hati Marco mengatakan pasti terjadi sesuatu.


"Ada apa Barra? Kenapa dengan suaramu?"


Mendengar Marco yang berbicara dengan salah satu sahabat adik bungsu mereka. Baik Saskia, Nuria, Afnan, Lory maupun keluarga Austin melihat kearah Marco.


"Marco, ada apa?" tanya Saskia.


Marco memberikan kode dengan gerakan tangannya. Saskia yang paham hanya pasrah menurut.


"Kak Marco. Kami sedang dalam perjalanan ke FAIR FIELD HOSPITAL."


"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi?"


"A-ada dua mobil yang mengejar mobilnya Nenek Victoria dan orang-orang itu hendak membunuh Nenek Victoria. Kami berhasil membunuh orang-orang itu. Tapi ketika Darren ingin menyelamatkan Nenek Victoria dan selang beberapa detik Darren yang berhasil membawa Nenek Victoria keluar dari dalam mobil seketika mobil itu meledak sehingga membuat tubuh Darren dan Nenek Victoria terlempar."


"Apa?!" teriak Marco.


Marco seketika berdiri dari duduknya ketika mendengar berita yang begitu mengejutkan baginya.


"Lalu bagaimana keadaan mereka?"


"Keduanya tak sadarkan diri dengan luka di kepala."


"Darren," lirih Junmyeon.


"Baiklah. Kakak dan yang lainnya akan kesana."


Setelah mengatakan itu, Marco langsung mematikan panggilannya. Marco kemudian menatap wajah kedua kakaknya yaitu Saskia dan Nuria, adiknya yaitu Afnan serta sepupunya Lory. Dan keluarga Austin.


"Ada apa Marco?"


"Darren, Kak!"


"Da-darren? Darren kenapa Marco?" tanya Saskia yang seketika langsung meneteskan air matanya.


"Barra dan yang lainnya kini menuju rumah sakit untuk membawa Nenek Victoria dan Darren yang sama-sama tidak sadarkan diri."


"Nenek. Kak Marco. Nenek kenapa? Apa yang terjadi Kak?" tanya Nasya.


"Aku dengar dari Barra kalau ada orang yang mengejar mobilnya Nenek Victoria. Dan orang-orang itu ingin membunuh nenek Victoria."


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang. Darren butuh kita!" seru Afnan.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Mereka pergi dalam keadaan yang panik. Sebelumnya, Lory sudah menghubungi keluarga Smith. Dan Rafael menghubungi Andara, istrinya. Felix juga sempat menghubungi Julian dan anak-anaknya.