
Keesokkan paginya setelah sarapan pagi Darren langsung berangkat ke Kampus. Darren ke Kampus menggunakan motor sport mewah miliknya.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Darren pun sampai di Kampusnya.
Sesampainya di Kampus. Darren langsung memarkirkan motornya. Ketika Darren membuka helm yang menutupi kepalanya. Para mahasiswa dan mahasiswi menatap takjub Darren terutama para mahasiswi.
Mahasiswi mahasiswi tersebut menatap wajah tampan Darren. Mereka begitu tertarik dan sangat menyukai wajah tampan Darren. Bukan hanya wajah Darren saja yang disukai oleh mereka. Bahkan kepribadian Darren juga mereka sukai.
Menurut mereka, Darren itu sosok laki-laki yang sangat kejam jika diusik dan diganggu. Namun dibalik itu, Darren itu sosok yang lembut jika sudah bersama dengan keluarga, sahabat dan kekasihnya. Dan Darren itu tipe laki-laki yang setia dan tidak gampang tergoda dengan perempuan mana pun walau perempuan tersebut memiliki beribu cara untuk menggodanya.
Darren yang merasa ditatap dan perhatikan oleh semua mahasiswa dan mahasiswi hanya bersikap acuh dan juga cuek. Darren sama sekali tidak memperdulikan tatapan-tatapan yang tertuju padanya.
Darren terus melangkah menyusuri luasnya Kampus tempatnya kuliah. Ketika Darren sedang melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya.
BRUKK!
Orang itu terjatuh dan pantatnya mendarat sempurna di tanah. Sementara Darren hanya menatap orang itu datar dan dingin tanpa ada niat untuk memberikan pertolongan.
Tanpa mempedulikan kesakitan orang itu, Darren pergi begitu saja meninggalkan orang tersebut.
Melihat kepergian Darren membuat orang itu menatap marah. Dan detik kemudian, orang itu pun berteriak sambil memaki Darren.
"Hei, kau. Dasar laki-laki brengsek!"
Mendengar teriakan dan umpatan dari orang itu, Darren langsung berhenti. Sementara para mahasiswa dan mahasiswi lainnya menatap tak suka dan juga jijik.
[Wah. Mau cari mati nih cewek]
[Kau belum tahu siapa laki-laki yang kau sebut brengsek itu]
[Jangan sampai kau menyesal]
[Kau sudah salah mencari lawan, kawan]
Itulah ucapan-ucapan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang dituju untuk perempuan yang terjatuh itu. Dan mereka semua melihat jika perempuan itu yang menabrak Darren bukan Darren yang sengaja menabraknya.
Darren membalikkan badannya lalu menatap tajam kearah perempuan tersebut.
"Ada apa?" tanya Darren dengan nada ketusnya.
"Yak! Ada apa kau bilang? Apa kau tidak lihat aku sedang kesakitan saat ini? Dan itu semua salahmu!" bentak perempuan itu.
"Kenapa kau menyalahkanku? Memangnya aku melakukan apa kepada perempuan busuk sepertimu." Darren berucap kejam dengan tatapan matanya yang menajam.
Mendengar perkataan dari Darren membuat perempuan itu marah. "Brengsek. Beraninya kau bicara seperti itu padaku. Apa kau tidak sadar akan kesalahanmu, hah?!" bentak perempuan itu sambil berusaha untuk berdiri.
"Memangnya kau siapa sehingga aku harus takut padamu. Dan aku sangat menyadari akan satu hal bahwa aku tidak memiliki kesalahan apapun padamu. Kau jatuh karena ulahmu sendiri. Jadi jangan seenaknya saja menyalahkanku."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan perempuan tersebut. Darren tidak ingin berlama-lama berurusan dengan perempuan yang tak jelas itu. Dirinya masih banyak urusan yang belum selesai.
Sementara perempuan tersebut menatap kepergian Darren dengan tatapan marah. "Awas kau," ucap perempuan itu pelan.
Perempuan itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ruang Rektor. Perempuan itu adalah mahasiswi baru di Kampus tersebut.
Dibilang mahasiswi baru tidak juga. Hanya saja perempuan itu ingin mendaftar ulang dikarenakan perempuan itu sudah lima bulan cuti kuliah. Selama lima bulan ini, perempuan itu berada di Singapura melakukan pengobatan.
^^^
Darren sudah berada di kelasnya bersama keempat sahabatnya. Di kelas itu juga ada Kiran beserta sahabat-sahabatnya. Darren dan Kiran mengambil jurusan yang sama yaitu Bisnis. Jarak tempat duduk mereka sangat jauh karena ruang kelas Darren sangat luas.
"Bagaimana persiapan acara untuk nanti malam?" tanya Darren kepada keempat sahabatnya.
"Semuanya sudah dipersiapkan Ren," jawab Barra.
Mendengar jawaban dari Barra. Darren tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar sudah tidak sabaran untuk memberikan pelajaran kepada Veronika.
Ketika Darren dan keempat sahabatnya tengah membahas acara dan rencana nanti malam, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Dan setelah ponselnya sudah berada di tangannya terlihat nama 'Vicky' tangan kanannya di layar ponselnya. Tanpa buang-buang waktu lagi. Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Vicky."
"Hallo, Bos. Aku mendapatkan kabar terbaru tentang kematian nona Ataya."
"Katakan."
"Begini, Bos! Selain Alonso, ketua mafia AL CAPONE dan sekretaris Bos. Ternyata ada satu orang lagi yang ikut andil dalam kematian nona Ataya."
"Jadi maksudmu dalang kematian Ataya bukan dua. Tapi tiga, begitu?"
Mendengar perkataan dari Darren membuat Zidan, Chico, Barra dan Chello terkejut.
"Siapa dia?"
"Mantan kekasihnya Bos. Nona Kiran."
Mendengar jawaban dari Vicky sontak membuat Darren seketika marah. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Kitan tega melakukan hal sekeji itu terhadap Ataya.
"Brengsek kau Kiran. Tunggu saja pembalasanku," batin Darren.
"Apa kau yakin?"
"Yakin Bos. Aku sudah mendapatkan video lengkapnya. Video percakapan antara nona Kiran dan Veronika, sekretaris Bos."
"Baiklah. Kirim video itu padaku."
"Baik Bos. Aku akan kirim video itu dalam waktu empat jam. Video itu dalam proses penyalinan."
"Baik. Aku tunggu."
Setelah itu, Darren langsung mematikan teleponnya. Dan Darren mengalihkan perhatiannya menatap kearah Kiran yang saat ini sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya.
Zidan, Chico, Barra dan Chello juga ikut mengalihkan perhatiannya melihat kearah Kiran. Sesekali mereka menatap tepat di mata Darren. Dapat mereka lihat Darren yang menatap marah kearah Kiran.
"Ren. Ada apa? Apa yang dikatakan Vicky padamu?" tanya Chello.
Darren tidak menjawab pertanyaan dari Chello. Dirinya masih menatap tajam kearah Kiran.
Sementara ditempat lain di ruangan yang sama hanya jarak saja yang memisahkan salah satu sahabat Kiran menyadari bahwa Darren sedari tadi menatap kearah Kiran.
"Kiran. Coba lihat deh. Dari tadi Darren memperhatikan kamu terus!" Sania berbicara kepada Kiran sambil matanya melihat kearah Darren.
Mendengar perkataan dari Sania. Kiran, Bella, Erlina dan Rara langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah Darren dan keempat sahabatnya.
Dan benar apa yang dikatakan oleh Sania bahwa Darren memang tengah menatap kearah Kiran.
"Kiran. Menurutku Darren masih mencintaimu. Kalau Darren tidak mencintaimu lagi. Darren tidak mungkin menatap kamu seperti itu," ucap Bella.
Mendengar perkataan dari Bella membuat hati Kiran benar-benar bahagia. Kiran berharap kalau Darren benar-benar masih menyimpan rasa untuknya.
"Apa yang akan kau lakukan Kiran?" tanya Erlina.
"Apanya?" tanya Kiran yang tatapan matanya masih melihat kearah Darren.
"Jika benar Darren masih memiliki perasaan suka dan cinta kekamu," ucap Erlina.
"Aku akan menebus kesalahanku di masa lalu. Dan aku juga akan memperbaiki hubunganku dengannya. Jika aku berhasil. Aku berjanji untuk selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi. Aku akan selalu percaya padanya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Kiran menjawab pertanyaan dari Erlina.
Mendengar ucapan dan janji Kiran. Bella, Erlina, Rara dan Sania tersenyum bahagia. Mereka juga berharap jika hubungan Kiran bisa kembali lagi dengan Darren.
^^^
Setelah dua jam mengikuti materi kuliah. Dan setelah selesai urusannya di kantin. Kini semua mahasiswa dan mahasiswi sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Vito beserta sahabatnya, Velly dan Nasya beserta sahabatnya, Kiran dan juga para sahabatnya kini berada di lapangan Kampus.
Vito, Velly dan Nasya menceritakan tentang hubungan mereka dengan Darren. Ketika ketiganya bercerita terlihat gurat kebahagiaan di wajah ketiganya. Melihat kebahagiaan Vito, Velly dan Nasya membuat hati mereka semua ikut merasakan kebahagiaan.
"Jadi benar Darren sudah memberikan maaf untuk kalian?" tanya Novan dengan menatap wajah Vito.
"Iya, Novan. Darren, adikku sudah memaafkanku, memaafkan Velly dan memaafkan Nasya," jawab Vito.
"Awalnya, Darren hanya memaafkan Papa dan menerima Papa. Sementara kami, Darren belum memberikan maafnya dan belum mau menerima kami," sahut Velly.
"Kemarin kami berbicara berempat dengannya. Dari pembicaraan itulah Darren berlahan memberikan maaf untuk kami," kata Nasya.
"Kami turut bahagia melihat hubungan kalian," sahut Daniyal.
"Semoga tidak ada masalah lagi menghampiri keluarga kalian," ucap Gisella.
"Yang namanya masalah pasti akan selalu datang menghampiri kita. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya," sela Hanna.
"Ya, Hanna benar. Yang namanya masalah pasti akan selalu datang. Baik itu masalah kecil maupun masalah besar." Danar berbicara sambil menatap satu persatu wajah sahabatnya.
"Vito, Velly, Nasya. Ambillah hikmah dari kejadian yang menimpa keluarga kalian. Jadikan pembelajaran untuk kedepannya. Dan tanamkanlah rasa kepercayaan dalam diri kalian. Kepercayaan itu hampir sama dengan kehormatan dan harga diri seseorang. Jika kehormatan itu direnggut. Maka akan sulit bisa kembali lagi. Hidup orang itu akan hancur seketika. Itulah yang dirasakan oleh Darren. Kepercayaan akan dirinya, kehormatan dan harga dirinya telah direnggut oleh keluarganya sendiri. Sekali pun hubungan kalian sudah membaik. Aku sangat yakin bahwa Darren tidak sepenuhnya kembali seperti dulu." Radika berbicara sambil menatap wajah Vito, Velly dan Nasya.
Sementara Vito, Velly dan Nasya mendengar perkataan dari Radika hanya diam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Radika. Adiknya sudah memaafkan kesalahan mereka. Tapi adiknya tidak sepenuhnya kembali kepada mereka. Salah satunya, adiknya memutuskan untuk tinggal sendiri.