Revenge

Revenge
Panggilan Pertama Darren Kepada Felix



Darren sudah berada di markas BLACK WOLF. Dan kini Darren tengah duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruangan milikmu. Darren tidak sendiri melainkan bersama dengan keempat sahabat-sahabatnya.


"Bagaimana Ren?" tanya Chello.


"Berjalan sempurna," jawab Darren.


"Lalu apa langkah selanjutnya?" tanya Chico.


"Aku menunggu wanita murahan itu untuk menjalankan rencananya," jawab Darren.


"Terus masalah kelompok yang sudah menyerang rumah Ataya. Bagaimana?" tanya Barra.


Mendengar pertanyaan dari Barra mengenai kelompok yang menyerang rumah Ataya seketika Darren langsung berdiri dari duduknya dan bergabung bersama keempat sahabat-sahabatnya di sofa.


"Masalah kelompok itu yang ingin aku bahas dengan kalian," jawab Darren ketika sudah duduk di sofa.


"Maaf, Ren. Sampai saat ini aku belum bisa menemukan titik terang dari kelompok yang menyerang rumah Ataya. Aku juga tidak tahu dimana letak salahnya. Padahal selama ini aku selalu berhasil." Zidan berbicara sambil menatap wajah Darren merasa bersalah.


"Ayolah, Zidan! Kau sudah berapa lama kenal denganku? Dan aku berapa lama kenal dengan kalian? Dan sudah berapa lama kita menjalin hubungan persahabatan? Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Ada kalanya sesuatu yang kita kerjakan mengalami kegagalan. Dan kegagalan itu cukup kita jadikan pembelajaran. Aku tahu kau sudah bekerja keras selama ini. Dan aku ucapkan terima kasih." Darren berbicara dengan begitu bijak kepada sahabat-sahabatnya.


Sementara keempat sahabat-sahabatnya tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan bijak dari Darren. Mereka benar-benar bersyukur memiliki sahabat seperti Darren.


"Oh iya, Ren! Aku dengar dari Vicky katanya kau sudah mengetahui nama kelompok itu. Apa itu benar?" ucap dan tanya Zidan.


"Iya. Itu benar. Aku sudah tahu nama kelompok itu," jawab Darren.


"Siapa?" tanya Barra, Chico, Chello dan Zidan bersamaan.


"AL CAPONE," jawab Darren.


"AL CAPONE." Zidan, Chico, Barra dan Chello mengulang ucapan Darren.


"Iya," jawab Darren.


"Kau tahu dari mana jika kelompok itu yang menyerang rumah Ataya?" tanya Zidan.


"Kak Marco. Dulu Kak Marco pernah punya masalah dengan kelompok itu. Bahkan Kak Marco hampir membantai habis seluruh anggota keluarga dari ketua kelompok itu. Kelompok itu berjanji tidak akan mengusik Kak Marco dan orang-orang terdekat Kak Marco. Dan sekarang kelompok itu justru melanggar janjinya dengan menyerang rumah Ataya."


"Terus rencana apa yang sedang kau rencana sekarang ini? Tidak mungkin kan kau diam saja setelah mengetahui pelaku pembunuhan Ataya!" seru Chello.


"Aku meminta pada Kak Marco untuk memberikan semua informasi tentang keluarganya, kekayaan pribadinya dan juga kekayaan keluarganya. Serta gudang persenjataan milik bajingan itu. Kak Marco akan memberikan semua informasi yang aku minta besok."


"Wah, rencana yang bagus! Aku sudah tidak sabaran untuk menyerang kelompok itu dan juga anggota keluarganya!" seru Barra.


"Apalagi aku. Tanganku sudah gatal untuk membunuh mereka," ucap Chico.


Sementara Darren dan Chello tersenyum mendengar perkataan dari Barra dan Chico.


...***...


Di rumah Darren sudah berada Felix, Rafael, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Dara, Jerry dan Michel. Sementara untuk Saskia, Nuria, Marco, Afnan dan Lory masih di luar.


Mereka sengaja pulang terlambat agar keluarga Austin bisa punya banyak waktu bersama Darren. Ini semua rencana Saskia dan Nuria. Keduanya ingin adiknya memberikan maaf untuk keluarga Austin, walau tidak langsung memaafkan. Setidaknya adiknya itu tidak ketus atau pun kasar ketika berbicara dengan anggota keluarga Austin.


Saskia menghubungi Felix dan memintanya dan yang lainnya untuk pulang lebih awal. Saskia juga mengatakan bahwa adiknya itu akan pulang cepat dan tidak akan kemana-mana setelah selesai dengan urusannya.


Adiknya membatalkan semua kerjaannya di Perusahaan DRN'CORP dan Perusahaan DRN'Smith dan digantikan dengan pekerjaan lain yaitu yaitu menjebak Veronika.


"Velly, Nasya. Kalian masak apa sayang?" tanya Felix ketika melihat kedua putrinya sedang bertarung di dapur.


"Ini, Pa! Aku masak nasi goreng seafood kesukaannya Darren," jawab Velly.


"Dan aku buat kentang goreng untuk Darren. Darren kan juga suka dengan kentang goreng," jawab Nasya.


"Semoga Darren suka ya," sahut Felix.


"Aku berharap begitu, Pa."


Disaat Velly dan Nasya sedang memasak. Dara datang dan membantu dengan cara menata makanan yang sudah selesai dimasak oleh Velly dan Nasya.


Dua puluh menit kemudian, Velly dan Nasya pun selesai memasak. Begitu juga dengan Dara yang juga sudah beres menata semua makanan serta minuman di atas meja.


Dan tak lama kemudian, terdengar suara orang yang menekan bell. Mendengar bell berbunyi. Nasya langsung berlari untuk membukakan pintu.


CKLEK!


Pintu di buka oleh Nasya. Ketika pintu terbuka. Terlihat seorang pemuda tampan yang sudah berdiri di depan pintu. Pemuda itu adalah Darren.


"Darren, kau sudah pulang?"tanya Nasya lembut.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Nasya. Darren langsung masuk begitu saja dan meninggalkan Nasya yang masih berdiri di depan pintu dengan menatap punggung Darren.


"Darren," lirih Nasya.


Setelah itu, Nasya menutup kembali pintu itu dan kembali menuju ruang tengah.


Nasya sudah berada di ruang tengah bersama keluarganya. Sementara Darren berada di kamarnya sedang membersihkan tubuhnya. Mereka sedang mengobrol membahas Darren.


"Bagaimana sikap Darren saat kamu bukain pintu?" tanya Satya.


Nasya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka yang mendapatkan gelengan kepala dari Nasya langsung paham.


Ketika mereka tengah mengobrol, mereka mendengar bunyi suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka semua pun langsung melihat keasal suara.


Terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing saat melihat Darren yang sudah dalam keadaan bersih dan dengan pakaian santai yang dikenakannya. Darren melangkah menuju ruang tengah.


"Kenapa aku tidak melihat Kak Saskia, Kak Nuria, Kak Marco, Kak Afnan dan Kak Lory? Apa mereka belum pulang?" batin Darren sembari matanya melihat ke segala arah.


Raka dan adik-adik yang memperhatikan Darren yang sedang mencari keberadaan kelima kakak-kakaknya merasakan kesedihan di hati masing-masing. Coba dulu mereka tidak menyakiti adiknya. Pasti saat ini mereka lah yang dicari oleh adiknya.


Felix berdiri dari duduknya dan menghampiri putra bungsunya yang kini masih berdiri tak jauh dari mereka. Sedangkan Darren hanya tetap berdiri di posisinya sambil menatap wajah Felix.


"Kenapa, hum?" tanya Felix lembut sembari tangannya mengisap lembut rambutnya.


Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya. Matanya tetap terus menatap wajah ayahnya. Sementara Raka dan yang lainnya tersenyum menatap Darren yang tidak memberontak. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata kasar untuk ayahnya.


Darren masih fokus menatap wajah ayahnya. Tatapan yang sulit diartikan. Bercampur aduk! Seperti sekarang ini dimana Darren menatap ayahnya antara rindu dan benci.


Disaat matanya masih terus menatap wajah ayahnya, berlahan kilas-kilasan kejadian setahun yang lalu berputar di kepalanya sehingga membuat rasa benci mencuat ke permukaan.


Dan beberapa detik kemudian, kilas-kilasan kejadian setahun yang lalu hilang berganti dengan kilas-kilasan dimana kedua kakaknya yaitu Saskia dan Marco memberikan masukan, nasehat dan bujukan kepadanya.


Sang kakak perempuan mengatakan padanya bahwa seburuk apapun ayahnya. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi dia adalah ayahnya. Darah dalam tubuhnya mengalir darah dari ayahnya.


Sang kakak perempuannya juga mengatakan lakukanlah demi Mama agar sang Mama bahagia di alamnya. Bahkan kakak perempuannya mengatakan jika dirinya tetap menaruh dendam akan ayahnya, maka ibunya akan kecewa di alamnya.


Bukan itu saja, Darren juga mengingat perkataan kakak laki-lakinya yaitu Marco. Sama seperti sang kakak perempuan. Kakak laki-lakinya juga menginginkan hal yang sama seperti kakak perempuannya.


Setelah mengingat ucapan demi ucapan dari kedua kakaknya. Tanpa diminta air matanya jatuh membasahi wajah tampannya. Darren menangis kala mengingat perkataan dari kedua kakaknya itu.


Mereka yang melihat Darren yang tiba-tiba menangis menjadi panik dan juga khawatir. Mereka kembali menyalahkan dirinya masing-masing saat melihat Darren yang sudah menangis.


"Hiks... Hiks...," isak Darren.


Felix langsung memeluk tubuh putra bungsunya dan mengusap-ngusap lembut punggungnya. Dan seketika tangis Darren pun pecah.


"Hiks... Papa... Papa... Hiks," isak tangis Darren.


Felix yang mendengar putra bungsunya memanggil dirinya dengan sebutan Papa seketika meneteskan air mata. Felix benar-benar bahagia ketika mendengar panggilan putra bungsunya.


Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya langsung berdiri dari duduknya ketika mendengar Darren yang menangis sambil memanggil nama ayahnya. Mereka semua menangis. Begitu juga dengan Rafael, Dara, Jerry dan Michel.