
Di kediaman Rasendria. Yohanes, Liana dan ketiga anak-anaknya kini berada di ruang tengah. Setelah kejadian di kampus dimana Darren yang meluapkan kemarahan kepada Kiran sehingga berakhir terbongkarnya perbuatan buruk Kiran terhadap Ataya
Radika sebagai putra kedua dari Yohanes dan Liana serta Kakak kedua dari Kiran telah menceritakan kepada kedua orang tuanya dan kakaknya tentang apa yang telah dilakukan oleh adik perempuannya.
Kini Yohanes, Liana dan Dendra meminta penjelasan kepada Kiran atas apa yang telah dilakukan olehnya.
"Kiran. Katakan pada Papi. Apa benar video yang dilihat oleh Radika, kakakmu?" tanya Yohanes.
Kiran tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya. Dirinya saat ini benar-benar ketakutan.
"Kiran Rasendria. Apa kau tidak dengar Papi bertanya padamu?!" bentak Dendra.
Mendengar bentakan dari Dendra seketika Kiran terkejut dan langsung melihat wajah ayah dan kakak tertuanya.
"Ma-maafkan aku," ucap Kiran dengan suara bergetarnya.
"Bukan kata maaf yang Papi ingin dengar Kiran. Penjelasan tentang video itu yang ingin Papi dengar dari mulutmu," sahut Yohanes tegas.
"Iya. Itu benar. Aku dan Veronika sekretarisnya Darren memang bersekongkol untuk menyingkirkan Ataya. Tapi..." ucapan Kiran terpotong karena Dendra langsung memberikan tamparan keras di wajah Kiran.
PLAAKK!
"Dendra!"
"Kak Dendra!"
Yohanes, Liana dan Radika terkejut ketika Dendra menampar Kiran. Selama ini Dendra tidak pernah bersikap kasar atau pun memukul Kiran. Dan ini adalah pertama kalinya.
"Apa yang ada di otakmu Kiran?! Kenapa kau berubah menjadi monster yang kejam? Papi, Mami, Kakak dan Radika tidak pernah mengajarkan kamu menjadi perempuan jahat. Kami selalu mendidik kamu menjadi perempuan yang baik-baik. Kakak sudah cukup mentolerir perbuatan kamu ketika kamu menceritakan tentang apa yang kamu lakukan kepada Darren saat Darren difitnah dan dituduh telah membunuh ibu dan tantenya sehingga berakhirnya hubungan kamu dan Darren. Dan sekarang ini apa? Kau melakukan kesalahan lagi Kiran!"
"Aku melakukan ini karena aku mencintai Darren. Darren hanya milikku. Aku tidak rela Darren bersama wanita lain." Kiran menjawab perkataan kakaknya.
PLAAKK!
"Aaakkkhhh!"
Dendra kembali menampar wajah Kiran. Kesabaran sudah habis menghadapi sifat manja adiknya. Selama ini semua keinginan dan kemauannya selalu dituruti. Apapun yang diinginkannya selalu didapat.
"Kau masih berani mengatakan bahwa kau mencintai Darren. Jika kau mencintai Darren, maka kau akan memilih percaya terhadap Darren disaat keluarganya tidak mempercayainya. Jika kau mencintai Darren, maka kau akan ada di sampingnya disaat keluarganya membuangnya. Namun, apa yang kau lakukan? Kau justru ikut membencinya. Bahkan kau menamparnya dan tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya padamu. Kau sendiri yang memutuskan hubungan kalian berdua. Kau sendiri yang meminta Darren untuk pergi menjauh darimu. Kenapa sekarang justru kau yang marah ketika melihat kemesraan Darren dan kekasihnya?!"
Dendra menatap wajah adik perempuannya dengan tatapan kecewa. "Kakak benar-benar kecewa padamu Kiran. Sekarang urus dirimu sendiri. Apa yang ingin kau lakukan. Lakukanlah. Terserah! Kakak sudah tidak peduli lagi. Kakak benar-benar malu memiliki adik sepertimu."
Setelah mengatakan itu, Dendra pergi meninggalkan ruang tengah menuju pintu utama. Dendra memutuskan untuk pergi dari rumah dan sementara waktu akan tinggal di rumah miliknya.
Sementara Yohanes, Liana dan Radika hanya bisa diam tanpa suara. Mereka juga tidak menyalahkan sikap keras Dendra kepada Kiran. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Dendra adalah benar. Baik Yohanes maupun Liana dan Radika dapat melihat kekecewaan di mata Dendra akan Kiran.
"Mami tidak tahu harus berkata apa padamu Kiran. Kamu lihat bagaimana reaksi kakakmu Dendra akan jawaban darimu. Kakakmu benar-benar kecewa akan sikapmu. Bukan kakakmu saja. Mami juga kecewa padamu. Kenapa sayang? Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Apa salah Darren padamu sehingga kau tega menyakiti kekasihnya?" tanya Liana dengan berlinang air mata.
BRUUKK!
Kiran jatuh bersujud di kaki ibunya. Dan memeluknya. "Mami, maafkan Kiran! Mami, Kiran tahu Kiran salah. Tapi Kiran berani bersumpah. Kiran tidak memiliki niat apapun untuk membunuh Ataya. Kiran akui jika Kiran memang cemburu ketika melihat Darren dan Ataya. Memang Kiran ingin menyingkirkan Ataya dari kehidupan Darren. Maksud dari kata menyingkirkan itu adalah Kiran ingin membuat hubungan mereka retak. Dengan kata lain mereka bermusuhan. Bukan dalam artian membunuh Ataya."
"Mi, Pi, Kak Radika. Aku memang bersekongkol dengan Veronika untuk menyingkirkan Ataya dari kehidupan Darren. Tapi aku benar-benar tidak menyangka jika Veronika mengartikan lain dalam kata menyingkirkan. Aku baru menyadarinya ketika mendapat kabar tentang kematian Ataya. Sehari Ataya dimakamkan, aku menemui Veronika di Apartemen miliknya. Setiba disana, aku mendengar Veronika berbicara dengan seseorang di telepon. Dari sanalah aku mengetahui semuanya bahwa Veronika membayar kelompok mafia untuk menyerang rumahnya Ataya. Ketika mendengar hal itu aku benar-benar takut. Aku takut jika aku akan terkena imbasnya jika Veronika sampai ketahuan. Padahal aku sama sekali tidak mengetahui niat jahat Veronika terhadap Ataya. Kami bersekongkol, tapi beda rencana."
Mendengar pengakuan dari Kiran membuat Yohanes, Liana dan Radika benar-benar terkejut dan juga syok. Satu hal yang mereka ketahui tentang Kiran. Bagaimana pun watak keras Kiran, sifat manja Kiran dan kemauan Kiran yang harus dituruti. Kiran tidak pernah ada niat untuk membunuh orang.
Kiran berdiri dan menatap wajah kedua orang tuanya dan kakaknya. "Pi, Mi, Kak Radika. Percayalah padaku. Aku tidak membunuh Ataya. Aku tidak tahu menahu masalah penyerangan itu. Aku akui aku salah telah bersekongkol dengan Veronika. Aku tidak tahu jika Veronika memiliki niat jahat ingin membunuh Ataya." Kiran menangis.
GREP!
Radika langsung memeluk tubuh adiknya. Dapat Radika rasakan tubuh adiknya yang bergetar karena ketakutan.
"Hiks... Kak Radika. Aku berani bersumpah. Aku tidak ikutan dalam merencanakan penyerangan rumah Ataya. Aku benar-benar tidak tahu niat Veronika yang sebenarnya... Hiks," isak Kiran di dalam pelukan Radika.
"Kakak percaya padamu. Kamu tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi bagaimana dengan keluarganya Ataya? Darren pasti sudah memperlihatkan video itu kepada keluarga Ataya," ucap Kiran.
"Jika benar begitu. Kamu harus meminta maaf kepada keluarganya Ataya. Kamu harus berkata jujur kepada mereka. Katakan semuanya kepada mereka awal mula kamu bertemu dengan Veronika. Kamu juga harus jujur kepada Darren. Jika keluarga Ataya menuntut kamu, setidaknya Darren pasti akan menolongmu untuk meyakinkan keluarga Ataya." Yohanes berucap.
"Baik, Pi! Aku akan meminta maaf kepada keluarganya Ataya. Dan aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka," jawab Kiran.
"Dan ingat kata-kata Mami. Jika Darren mau membantumu. Dan masalah selesai. Mami minta padamu. Berubahlah menjadi gadis yang baik. Jangan ulangi lagi perbuatan yang tidak baik itu. Jika Darren tidak mencintaimu lagi. Lepaskan dia. Biarkan Darren bahagia dengan gadis lain. Jangan menyakitinya lagi. Dengan kau mengikhlaskan Darren dengan gadis lain. Itu tandanya kau benar-benar mencintainya. Mencintai bukan berarti harus memiliki, namun membuat orang yang dicintai itu bahagia bersama orang lain."
"Apa yang dikatakan Mami kamu benar? Papi tidak ingin putri Papi menjadi gadis perusak hubungan orang. Papi akan sangat sedih jika putri Papi melakukan hal itu."
"Maafkan aku Mi, Pi, Kak Radika. Aku janji. Kali ini aku akan benar-benar mengikuti semua apa yang Papi, Mami dan Kak Radika katakan. Tapi... Tapi bagaimana dengan Kak Dendra?"
"Kamu tidak perlu khawatir. Kakakmu Dendra hanya kecewa saja padamu. Kakakmu itu tidak benar-benar membencimu. Asal kau tulus meminta maaf. Kakakmu itu akan kembali padamu. Percayalah sama Mami."
"Baik, Mi! Aku akan minta maaf dengan Kak Dendra," sahut Kiran.
***
Darren saat ini berada di rumah Ataya. Lebih tepatnya di kamar Ataya. Darren membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Ataya. Seketika Darren menangis.
"Hiks... Ataya. Aku merindukanmu. Aku kesepian tanpamu ketika di Kampus. Biasanya setiap selesai mengikut materi kuliah. Aku selalu melihat wajahmu dan senyumanmu. Tapi sudah dua minggu ini aku tidak melihatmu."
"Ataya. Aku ingin memberitahumu. Orang-orang yang sudah menyakitimu dan mengambilmu dari sisiku sudah aku hancurkan. Mereka semua sudah mati. Sekarang kau bisa bahagia disana. Kau tidak usah bersedih lagi, oke! Tentang keluargamu kau tidak perlu khawatir. Selama aku hidup. Selama aku masih bernafas. Selama itulah keluargamu akan baik-baik saja. Keluargamu sudah menjadi keluargaku sekarang. Aku akan menjaga dan melindungi mereka."
"Mama, Tante Amanda. Apa kalian saat ini sedang bermain bersama dengan Ataya? Apa kalian bahagia disana? Bagaimana kabar kalian? Mama, Tante Amanda. Aku merindukan kalian."
Tanpa Darren ketahui. Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Ataya saat ini tengah menguping di balik pintu kamar Ataya. Mereka menangis terharu ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Darren.
"Ataya. Mami berjanji akan menyayangi Darren. Mami akan selalu ada di samping Darren. Mami tidak akan meninggalkan Darren. Mami janji sayang," batin maminya Ataya.
"Ataya, putri cantiknya Papi! Papi berjanji akan selalu memberikan waktu untuk Darren. Papi akan menyayangi Darren seperti menyayangi putra Papi sendiri," batin papinya Ataya.
"Dek, Kakak janji akan menjaga, melindungi dan menyayangi Darren," batik Aksa.
"Ataya, adeknya Kakak! Kakak janji akan menjadi Kakak yang baik untuk Darren. Kakak akan menyayangi Darren seperti Kakak menyayangi kamu. Berbahagialah disana sayang," batin Nathan.