Revenge

Revenge
Penyerangan Keluarga Roberto



Darren bersama dua tangan kanannya dan 100 mafioso kini berada di luar mansion keluarga Alberto.


Darren melihat kearah jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya. Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya.


"Sudah waktunya kita memulai permainan kita!" seru Darren.


Darren langsung merusak gerbang kediaman keluarga Alberto dengan cara menembak gembok tersebut. Dengan sekali tembakan gembok itu hancur.


Setelah itu, Darren dan dua tangan kanannya menendang kuat gerbang tersebut sehingga gerbang itu roboh.


Darren, dua tangan kanannya dan para mafiosonya memasuki area perkarangan kediaman keluarga Alberto dan membunuh siapa pun yang mereka lihat. Ada sekitar 100 penjaga yang menjaga kediaman Alberto.


KREEKKK! KREEKKK!


(Bunyi kepala yang dipatahkan)


CTASS! CTASS!


(Bunyi tubuh yang ditebas)


DOR! DOR!


JLEB! JLEB!


Baik Darren, kedua tangan kanannya dan para mafiosonya membunuh 100 penjaga dengan cara mematahkan kepala, menusukkan katana tepat di jantung dan di kepala sampai menembus ke belakang, menebas tubuh hingga terbagi menjadi dua, menembak dengan menggunakan suppressor sehingga tidak menimbulkan suara.


"Bagaimana?" tanya Darren pada Alex.


"Aman, King."


"Bagus."


Darren melihat kearah tiga pria yang berdiri di belakangnya. "Ingat tugas kalian setelah tiba di dalam. Seperti yang sudah aku perintahkan kepada kalian. Jika kalian gagal. Nyawa kalian sebagai taruhannya." Darren berbicara dengan wajah dinginnya.


"Siap tuan," jawab ketiga pria itu.


Alonso memiliki satu adik perempuan. Dan Darren memerintahkan tiga pria itu untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Alonso terhadap Ataya.


BRAAKK!


Alex dan Satria menendang kuat pintu rumah itu sehingga pintu itu rusak. Setelah itu, Alex, Satria dan Darren memasuki rumah keluarga Alberto dan diikuti para mafioso di belakang.


"Bangunkan mereka semua!"


"Baik King!"


Para mafioso langsung pergi menuju setiap kamar untuk membangunkan para penghuni rumah yang sedang tertidur lelap. Sementara Darren menduduki dirinya di sofa.


Selang beberapa menit kemudian, para mafioso keluar dengan menyeret paksa para anggota keluarga Alberto yang sedang tertidur lelap. Para mafioso tersebut mendorong dengan kuat tubuh para anggota keluarga Alberto hingga tersungkur di lantai.


"Siapa kalian!" bentak Willian Alberto.


"Kami adalah malaikat mautmu dan keluargamu," jawab Darren dengan memain-mainkan senjatanya di tangannya.


Darren menatap penuh amarah anggota keluarga Alberto. Dirinya benar-benar ingin menghabisi seluruh anggota keluarga Alberto malam ini juga dan akan menyisakan satu yaitu Alonso untuk disiksa terlebih dahulu di markasnya.


"Lebih baik kau pergi dari sini. Dan bawa semua para sampah ini dari rumahku!" bentak Radita Alberto selaku istri William Alberto.


"Aku dan kelompokku baru saja datang. Dan kami belum memulai permainan. Bagaimana bisa kami pergi dengan tangan kosong," ucap Darren dengan menatap tajam Radita.


"Cuih!" Radita meludah. "Aku tidak peduli. Sekarang keluar. Tinggalkan rumah ini!" teriak Radita. "Apa begini cara orang tuamu mendidikmu, hah?! Atau jangan-jangan ibumu itu seorang wanita murahan dan kau anak dari hasil hubungan gelap ibumu. Pantas saja kelakuanmu seperti ini!" bentak Radita.


Mendengar perkataan Radita yang telah menghina ibunya membuat Darren menggeram marah. Dirinya tidak terima kalau ada yang berani menghina ibunya, apalagi di depannya.


Darren berdiri dari duduknya, lalu kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Radita.


Kini Darren telah berdiri di hadapan Radita. Darren menatap nyalang wajah Radita.


Dan detik kemudian...


SREEKK!


Darren menarik kuat rambut Radita sehingga menimbulkan suara teriakan yang begitu nyaring.


"Aaakkkhhh!"


"Radita!


"Mama!"


SREETT!


"Aaakkhhh!"


BRUUKKK!


Darren menarik kuat rambut Radita sehingga membuat kepala Radita mendongak ke atas. Dan detik kemudian, Darren melukai leher Radita cukup dalam dan panjang dengan menggunakan pisau lipatnya.


"Mama!" teriak kedua anak-anaknya.


"Radita!" teriak William.


Mereka berteriak histeris dan menangis ketika melihat tubuh ibunya/istrinya tergeletak tak bernyawa bersimbah darah di lantai.


"Itu hukuman bagi yang sudah berani menghina ibuku," ucap Darren.


Darren melihat kearah tiga pria yang dibawanya, lalu memberikan kode agar segera melaksanakan tugasnya.


Ketiga pria itu yang paham akan kode yang diberikan oleh Darren langsung melaksanakan tugasnya.


Ketiga pria itu menghampiri anak perempuan William Alberto. Ketiga pria itu menarik paksa anak perempuan Willian Alberto dan membawanya ke kamar.


"Papa!" gadis itu berteriak sambil memberontak ketika dibawa ke kamar oleh ketiga pria itu.


"Apa kami datang tepat waktu Darren!" seru Zidan.


Zidan datang bersama ketiga sahabatnya, Marco dan para mafioso kelompok mafia COBRA.


Darren dan yang lainnya melihat kearah sahabat-sahabatnya dan juga kakaknya. Detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya.


"Kalian terlambat beberapa menit saja. Aku sudah memulai permainannya," sahut Darren sambil melihat kearah Radita Alberto yang sudah tak bernyawa di lantai.


Baik Marco dan keempat sahabatnya langsung melihat kearah tatapan mata Darren. Mereka tersenyum ketika melihat salah satu anggota keluarga Alberto telah tewas.


"Kenapa kau tidak menunggu kami, Ren!" seru Chico.


"Kelepasan. Perempuan sialan itu telah berani menghina ibuku," jawab Darren.


"Kak Marco. Mana bajingan itu?" tanya Darren.


"Ada diluar," jawab Marco, lalu memerintahkan tangan kanannya untuk membawa Alonso masuk ke dalam.


BRUUKK!


Tangan kanannya Marco langsung mendorong tubuh Alonso sehingga terduduk dengan berlutut di lantai.


"Hallo, Alonso. Kita bertemu lagi. Bagaimana? Menarik bukan?" ucap dan tanya Darren dengan menatap tajam Alonso.


"Kau..." Alonso menatap marah Darren.


"Dia adikku," sahut Marco.


Alonso terkejut ketika mendengar perkataan dari Marco yang menyebut bahwa laki-laki yang sudah merebut Perusahaan miliknya dan Perusahaan milik ayahnya adalah adik dari orang yang hampir membunuh dirinya dan anggota keluarganya.


"Kau pasti sudah tahu maksud dan tujuan kedatanganku kemari, bukan?" tangan Darren dengan wajah dinginnya.


"Aku adalah Darren. Ketua mafia dari BLACK LION."


Alonso membelalakkan kedua matanya ketika mendengar ucapan dari Darren. Dirinya tidak menyangka bahwa dirinya akan dipertemukan dengan seorang ketua mafia yang paling kejam di dunia. Kelompok mafia nomor satu setara dengan kelompok mafia COBRA milik Marco.


"Kau sudah salah bermain-main denganku Alonso. Aku tidak pernah mengusik hidupmu. Tapi kau sudah berani mengusik hidupku melalui wanita yang sangat aku cintai. Kau dengan keji membunuhnya dan juga melecehkan tubuhnya." Darren menatap marah dan juga dendam wajah Alonso.


Alonso menatap wajah Darren. Dapat dilihat olehnya dimanik Darren terlihat amarah dan dendam yang tertuju untuknya.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika wanita itu adalah kekasihmu," sahut Alonso.


DUAAGGHH!


"Aaakkkhhh!" Alonso berteriak kesakitan ketika mendapatkan tendangan kuat di dadanya dari Darren.


Darren menatap penuh amarah Alonso. "Maaf kau bilang. Setelah apa yang kau lakukan pada Ataya kekasihku sekaligus calon istriku dan juga para pelayannya. Sekarang kau berani mengucapkan kata maaf padaku!" bentak Darren.


"Aku hanya melakukan apa yang diminta oleh wanita itu. Jika saja wanita itu tidak meminta bantuanku. Aku juga tidak akan melakukan hal itu kepada kekasihmu. Wanita itu datang menemuiku di markas. Dia memintaku untuk membunuh seseorang. Saat aku bertanya siapa yang ingin dia bunuh. Wanita itu menunjukkan sebuah foto. Foto seorang wanita. Wanita itu marah karena kekasihnya direbut." Alonso berbicara sesuai apa yang terjadi.


Darren tersenyum di sudut bibirnya. "Aku sudah tahu tentang wanita itu. Sekali pun kau tidak memberitahuku. Aku sudah tahu jika wanita itu dalang utamanya. Setelah urusanku selesai denganmu. Maka giliran wanita itu dan anggota keluarganya."


Alonso menatap Darren. "Kau boleh melakukan apa pun padaku. Tapi aku mohon padamu. Lepaskan ayahku dan kedua adikku. Jangan bunuh mereka. Kau sudah membunuh ibuku."


"Aku membunuh ibumu karena ibumu telah menghina ibuku. Ibumu menyebut ibuku sebagai wanita murahan." Darren berbicara dengan wajah yang benar-benar marah.


Darren menatap menyeringai Alonso. "Permainan baru saja dimulai Alonso. Kau dan kelompokmu sudah membunuh wanitaku dan semua pelayan di rumah itu. Nyawa dibayar nyawa. Aku baru membunuh satu dari salah satu orang terdekatmu. Masih ada sisa yang lainnya yang masih hidup. Jadi, biarkan aku menyelesaikan permainanku ini."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Alonso terkejut. Dirinya tidak menyangka jika hidupnya dan hidup anggota keluarganya akan berakhir malam ini.


"Kau lihat di atas sana Alonso," ucap Darren sambil menunjuk ke lantai dua.


Alonso melihat kearah tunjuk Darren. Begitu juga dengan yang lainnya. Alonso langsung membelalakkan matanya ketika melihat adik perempuannya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tubuh adiknya ditutupi dengan selimut dan dalam keadaan menangis.


Alonso melihat kearah Darren dengan tatapan marahnya. "Brengsek! Apa yang kau lakukan pada adikku!"


Darren tersenyum menyeringai. "Sama sepertimu saat kau membunuh wanitaku. Apa yang kau lakukan pada wanitaku. Itu juga yang dilakukan oleh ketiga pria itu terhadap adik perempuanmu. Dan lihatlah. Apa yang akan mereka lakukan pada adik perempuanmu itu."


Detik kemudian, ketiga pria itu menjatuhkan tubuh adik perempuan Alonso ke bawah.


"Tidaaakkk! Rania!" teriak Alonso, William dan Andri ketika tubuh Rania, adiknya/putrinya di jatuhkan ke bawah.


BRUUKK!


Tubuh Rania jatuh tergeletak tak bernyawa di lantai bawah dengan bermandikan darah.


"Rania!" teriak William, Alonso dan Andri


William, Alonso dan Andra menangis melihat tubuh adiknya/putrinya tergeletak tak bernyawa dengan kepala hancur.


"Aarrgghhh! Brengsek! Kau telah membunuh ibuku dan juga adikku!" teriak Andri. Andri langsung berlari ingin menyerang Darren.


DOR! DOR!


BRUUKK!


"Andri!" teriak Alonso dan William.


Ketika Andri ingin menyerang Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello langsung memberikan tembakkan kearah Andri. Peluru-peluru itu menembus jantung dan kepala Andri masing-masing empat peluru.


Melihat ibu dan kedua adiknya tewas membuat tubuh Alonso membeku ditempat. Matanya menatap kearah tiga jenazah di hadapannya.


"Seharusnya kau berpikir seribu kali sebelum membantu wanita itu Alonso! Aku sudah memberikan kesempatan hidup untukmu dan juga untuk keluargamu. Tapi kau menyia-nyiakannya." Marco berucap sambil menatap tajam kearah Alonso.


"Kau sudah tahu bukan moto hidupku dan moto hidup keluargaku. Moto hidupku dan moto hidup keluargaku adalah jangan mencari masalah dengan kami atau pun mengusik kami. Jika ada yang mengusik dan menyakiti kami. Maka kami juga akan mengusik dan menyakiti orang tersebut." Marco berucap lagi.


Darren menatap penuh amarah dan dendam Alonso. "Ataya. Orang yang membunuhmu ada di hadapanku sekarang. Aku akan membunuhnya bersama wanita murahan itu di markas BLACK LION," batin Darren.


Darren memerintahkan beberapa mafiosonya membawa Alonso ke markas BLACK LION dan membunuh semua penghuni yang ada di kediaman Alberto tanpa ada yang tersisa.


"Bunuh mereka semua. Setelah itu, kalian bakar rumah ini." Darren berucap dengan lantangnya.


"Baik King," jawab mafiosonya bersamaan.


"Alex, Satria. Kalian bawa bajingan ini ke markas BLACK LION. Kurung dia di ruang penyiksaan. Aku akan buat acara reunian nya bersama wanita murahan itu." Darren berbicara sambil menatap wajah Alonso.


"Baik King," jawab Alex dan Satria.


"Ucapkan selamat tinggal dengan ayah dan adik laki-lakimu Alonso. Dia adalah adik laki-lakimu yang tersisa," ucap Darren.


"Tidak. Jangan bunuh mereka. Aku mohon!" teriak Alonso ketika tubuhnya dibawa paksa oleh Alex dan Satria keluar.


"Bunuh mereka semua. Jika kalian gagal. Maka nyawa kalian dan keluarga kalian sebagai gantinya." Darren berucap sembari menatap para mafiosonya.


Mendengar perkataan Darren membuat para mafioso tersebut ketakutan.


"Baik King," jawab mereka.


Setelah itu, Darren dan keempat sahabatnya beserta Marco pergi meninggalkan kediaman Alberto. Begitu juga dengan para mafioso COBRA.