
Merasa adel belum keluar dari ruangan-nya, elmir pun kembali menoleh " Ada apa del? " Tanya-nya karena tergambar jelas dari wajah adel bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu.
" Ehm, ada yang mau ku tanyakan padamu " Ujar adelia memberanikan diri, meski sebenarnya ia ragu dan takut elmir akan marah.
" Ada apa? Kau ingin ambil cuti? Atau sebuah pinjaman besar? " Tanya elmir menerka
" Bukan itu el " Bantah adelia, ia sedikit ragu dengan pertanyaan-nya. Namun di sisi lain, adel juga begitu penasaran.
" Lalu apa? " Kini elmir berganti posisi dan duduk di kursi kebesaran-nya. Pria itu mengetuk-ngetuk jarinya ke meja menunggu pembicaraan adel.
" Siapa wanita yang bersamamu semalam? " Tanya adel memberanikan diri, meski tahu bahwa itu bukan urusannya, tetapi dalam hatinya ia merasa sangat cemburu melihat elmir menggendong seorang wanita.
Elmir hanya diam mendengar pertanyaan tersebut, meskipun elmir sudah mengetahui bahwa mereka berdua saling mengenal namun ia enggan untuk mengatakan masalah pribadi-nya pada adelia.
" Itu bukan urusan mu del. Kalau kau ingin meminta cuti atau pinjaman, kau bisa mengatakannya langsung pada bima. Dia akan mengurusnya! " Katanya beranjak dari kursi, elmir lalu kembali menatap pemandangan dari balik jendela. Seperti biasa, tak lupa dirinya untuk menyalakan rokok-nya " Kau boleh keluar " Sambung-nya tanpa menoleh.
Dengan perasaan yang sangat kesal adel keluar dari ruangan elmir, tak di sangka dirinya masih menyukai elmir selama beberapa tahun ini " *Ck kenapa sebegitu dingin-nya dia padaku, memang-nya aku ini kurang apa*? " Umpat-nya berdecak kesal sambil mengepal tangan-nya.
......................
Dua minggu telah berlalu, kini aku memulai mengoperasikan fluffy shop. Meskipun masih terlihat sepi pengunjung tetapi aku tak pantang menyerah, Fluffy shop tetap banyak mendapatkan orderan melalui online.
Karena tak ada pembeli yang datang, aku memilih duduk menikmati secangkir kopi sambil memandangi lalu lalang jalanan kota di sore hari, ada beberapa pasangan yang berjalan kaki di depan toko, hal itu membuatku sedikit iri. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan siapapun, hemm hanya ada alan dan reynald. Mereka sudah seperti saudaraku, tidak ada perasaan lebih.
Namun ketika sedang memikirkan itu, aku di ingatkan dengan seseorang yang minggu lalu aku temui. Aku memutus kontack dengan-nya agar aku bisa melupakannya dan fokus dengan tujuan-ku.
Sambil memikirkan hal itu, aku kembali menyeruput seduhan kopi ku yang sudah hampir dingin.
Aku menatap jarum jam di tangan kanan-ku yang sudah berada di angka 5, lalu aku pun mengemasi gelas-ku dan segera mencuci-nya.
Butuh waktu 2 minggu untuk memindahkan barang-barangku kesini, bahkan mesin jahitku pun turut aku bawa karena tanpa-nya aku bukanlah apa-apa.
Ini adalah hari ketiga aku membuka toko, hari minggu besok aku berencana untuk mulai tinggal disini karena ayah dan ibu sudah mengizinkan ku untuk menempati rumah ini.
Dari dalam toko, aku mendengar suara pintu terbuka. Ku pikir ada seorang pembeli masuk, tetapi ternyata yang datang adalah ayah.
" Ayah " Ucap-ku lalu melihat ke arah belakang ayah, karena mengira ayah datang bersama ibu ataupun dani.
" Ayah baru pulang kerja nak jadi sendirian, kebetulan ingin mampir kesini. Bagaimana tempatnya? Apakah nyaman? " Tanya ayah mendudukkan tubuh-nya di sofa.
Akupun segera memberi segelas air padanya " Ehm, Nyaman kok yah... Ehm tapi sejak hari pertama membuka toko, aku belum mendapat pelanggan yah " Sahut-ku terdengar sedih.
" Tidak apa-apa, wajar karena masih baru " Tutur ayah menyemangati ku. Ayah selalu mendukung apa saja yang ku lakukan, aku sangat menyayanginya.
Aku hanya tersenyum, benar apa yang ayah katakan. Ini belum apa-apa, aku tidak boleh mengeluh.
" Oh ya nak, ibu menyuruhmu untuk syukuran disini. Bagaimanapun, ini kan tempat baru kamu dan untuk usaha juga? " Ujar ayah menyampaikan pesan dari Tria.
" Ah benar, aku kelupaan yahh " Sahutku memegangi dahi-ku " Kalau hari minggu saja gimana yah? Sekalian aku pindah kemari? " sambungku. Tradisi keluarga kami sudah biasa di lakukan jika melakukan pindahan rumah.
Ayah hanya mengangguk dan tersenyum " Iya nak, ayah akan bilang pada ibu agar membantumu " Ucap-nya mengelus kepalaku.
" Apa ayah sudah makan? "
" Belum nak, ayah akan makan di rumah nanti. Pasti ibumu sudah masak untuk ayah " Sahut-nya tersenyum hangat. Ayah sangat mencintai ibu, aku bahagia melihaat-nya, semoga kelak aku memiliki suami seperti ayah.
" Ya sudah, kita pulang bersama yuk " Ajakku menggandeng tangan ayah.
Sebelum pulang, aku terlebih dulu mengunci semua pintu. Aku dan ayah pulang bersama menaiki sepeda motor, angin sore yang sejuk membuatku mengingat masa kecil. Masa dimana aku sering bermotor-motoran bersama ayah dan kakak " Rasanya sudah lama tidak jalan-jalan pakai motor begini sama ayah " Ucap-ku memegang erat punggung ayah.
" Kamu benar, rasanya dulu kamu masih sangat kecil membonceng ayah bersama kakak mu " Sahut ayah. Tak dipungkiri, aku juga merindukan kakak yang sudah satu tahun tidak pulang.
Tahun lalu kakak sempat pulang, namun hanya satu minggu berada di rumah dan harus berangkat kembali. Kali ini bukan ke luar kota, melainkan kakak di tugaskan untuk ke luar negeri.
Semenjak kakak berada di jerman, kami jarang sekali berkomunikasi. Hanya satu bulan sekali, bahkan terkadang tiga bulan sekali. Ia benar-benar menjadi pria sibuk sekarang.
" Hmmm, kia jadi kangen sama kakak yah " Tuturku menyendekan kepala di punggung ayah
" Kakakmu juga pasti merindukan mu, coba nanti telfon saja kalau kita sudah sampai rumah " Sahutnya. Aku hanya mengangguk dengan wajah cemberut-ku.
Namun walau begitu aku bersyukur dan bahagia, karena sekarang ekonomi keluarga-ku tidak sesulit saat itu. Kakak sudah bekerja keras, hingga bisa sampai ke jerman, sehat-sehat disana yaa kakak ku.
Deutschland, Freitag, 14.15 Uhr
Perbedaan waktu di jerman lebih lambat lima jam dari indonesia. Terlihat fahrian sedang duduk sendirian di cafe, ia baru saja menemui client-nya. Fahrian tampak sedang melamun dan memikirkan sesuatu, namun beberapa saat kemudian ia mengambil ponsel-nya dari saku karena mendapati sebuah panggilan.
Saat itu pun fahri langsung menjawab panggilan tersebut.
Fahri: Hallo, Assalamualaikum..
Panggilan tersebut rupanya dari heri abizard, yang tak lain adalah ayah-nya.
Heri: Waalaikumsalam, Bagaimana kabarmu nak?
Dari balik telfon, heri mengaktifkan speaker agar terdengar oleh ibu dan para adik-adik yang berada di samping heri.
Fahri: Alhamdulillah, aku sehat yah. Bagaimana kabar keluarga yah?
Heri: Kami semua sehat nak alhamdulillah, oh iyaa kau sedang apa sekarang? Apa ayah mengganggumu?
Fahri: Tidak yah, aku baru saja menemui client dan sekarang sedang istirahat. Apa ayah sendirian? Apa ibu dan adik-adik dirumah?
Belum saja ayah selesai bicara, aku langsung merebut ponsel-nya agar bisa berbicara dengan kakak.
Fahri: Suara ayah tidak terdengar jelas, bagaimana dengan kia yah, apa dia jadi membuka toko.
Kiara: Kapan kakak pulang? Kenapa lama sekali?
Fahri: Oh, kiaraa... Apa kamu begitu merindukan kakak?
Ayah dan ibu hanya saling menatap dan menggeleng, mendengarkan aku dan kakak berbicara. Aku sudah terbiasa begini, sejak kecil aku hanya bersikap manja pada ayah dan kakak saja.
Kiara: Tentu saja? Memangnya kakak, tidak pernah merindukan ku?
Fahri: Aduh, kakak juga kangen padamu. Ehm tapi, apa kamu jadi membuka toko dek..
Kiara: Hmm, iyaa aku sudah membuka toko sejak tiga hari yang lalu dan rencananya aku akan pindah juga hari minggu.
Fahri; Ehmm begitu, kenapa cepat sekali? Lalu bagaimana dengan tempatnya, apakah nyaman? Sudah pindah nama kan setifikatnya?
Kiara: Tempatnya lumayan kak, sertifikat apanya? Aku hanya menyewa disana.
Fahri: Apaa?? Kakak kira kau sudah membelinya?
Kiara: Memangnya uang dari mana kak, ada-ada saja deh kakak*terkekeh*
Kakak sempat diam sejenak, entah apa yang di pikirkan.
Kiara: Hallo kak, apa kakak mendengarku?
Fahri: Oh iya kakak dengar kok. Dek, apa kakak boleh minta nomor pemilik gedung yang kamu sewa itu.
Kiara: Untuk apa kak?
Fahri: Hanya untuk jaga-jaga saja, siapa tahu adikku kena tipu, hehe.
Kiara: Cih, nggak ada alasan yang lebih keren ya? Baiklah nanti aku kirim lewat pesan, apa kakak ingin mengobrol dengan ibu?
Fahri: Sebenarnya kakak ingin bicara dengan ibu, tapi kakak sudah harus kembali bekerja dek. Nanti kakak telfon lagi saja ya?
Kiara: Ya sudah, toh dari tadi juga ibu mendengarkan pembicaraan kita.
Fahri: Iyaa, sampaikan salam untuk ibu dan dani ya.. Kakak harus kembali bekerjaa sekarang.
Kiara: Iya kak, jaga diri yaa dan sehat-sehat lah
Fahri: Iyaa, kalian juga ya. Assalamualaikum..
Kiara: Walaikumsalam..
Tuttt.... Panggilan terputus...
Fahri tersnyum menatap layar ponsel-nya, ia memandangi foto keluarganya yang ia jadikan walpaper di ponsel-nya " Rasanya energi ku kembali terisi penuh " Gumam-nya memasukan ponsel ke dalam saku. Ia lalu kembali ke perusahaan-nya.
Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan " Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini, agar bisa pulang ke indonesia " Batin-nya memperhatikan jalanan yang padat.
Dari hati yang paling dalam, sebenarnya fahri tidak ingin di tugaskan ke luar negeri. Ia lebih memilih di luar kota karena masih berada di indonesia, tetapi mengingat saat adiknya tidak melanjutkan sekolah, cukup membuat fahri sedih.
Saat itu fahri baru mendapatkan pekerjaan dan belum bisa membantu membiayai sekolah adiknya. Dan pada saat mendapatkan tawaran ke luar negeri, ia langsung menerimanya tanpa basa basi. Ia berfikir bahwa dia masih memiliki dua adik yang harus menyelesaikan pendidikannya. Meskipun tidak semudah yang di bayangkan, kenyataannya pekerjaan disini lebih berat dengan indonesia, dan lagi harus merasakan rindu karena jauh dari keluarga.
POV KIARA
Kia tampak sedang duduk sendirian di teras depan rumah, ia mencatat apa saja yang akan di belanjakan untuk acara selamatan toko baru-nya " Sepertinya ini sudah cukup, nanti tinggal tanya ibu aja deh apa aja yang kurang " Gumam-nya sambil menutup buku catatan.
Di tempat lain, seorang pria sedang bekerja paru waktu di cafe menjadi waiters. Pengunjung-nya cukup ramai di malam hari, sehingga membuatnya tak bisa bersantai walau sejenak.
Ketika cukup senggang, seorang waiters wanita melempar kaleng minuman kepada pria pekerja paru waktu tersebut, hmmm dia adalah alan " Woy, minum dulu " Alan pun menangkap minuman kaleng tersebut
" Thanks ri " Sahut-nya meneguk minuman itu
" Gilaa yaa, rame banget malem ini padahal bukan malam minggu " Ucap yuri, teman waiters alan.
" Ck, ini sih belum apa-apa " Yap alan banyak melakukan pekerjaan paru waktu, tentu saja ini belum apa-apa baginya. Alan lalu membuka ponsel-nya dan membaca sebuah pesan dari kiara ;
Rara;
Al, besok nganggur nggak? Anterin aku belanja yaa?
Alan ;
Siap neng
Alan tersenyum usil membalas pesan kiara hingga membuat yuri yang ada di depannya salah paham " Ciyee, yang di semangatin pacarnya senyam senyum sendiri " Ujar yuri
" Haha pacar apa-nya? Dia sudah seperti adikku ri " Sahut alan apa ada-nya. Memang benar bahwa alan sudah menganggap kia seperti adiknya sendiri.
" Halah, di dunia ini nggak ada yang namanya temen antara pria dan wanita, apalagi kaka adek-an. Modus itu wkwk " Ucap yuri meledek alan
" Wahh pengalaman ya, wkwk " Mereka berdua bercanda dan saling meledek hingga di tegur oleh atasan mereka. Tanpa alan sadari, yuri sedikit menaruh perasaan pada alan. Apalagi yuri sudah cukup lama mengenal alan, namun yuri lebih memilih menyukai alan diam-diam.
Bersambung...