
tak lama kemudian, dokter yg memeriksa Rara pun keluar. dengan cepat Ranti langsung menghampiri dokter itu.
"dokter, gimana keadaan anak saya dok? " ucap Ranti dengan air mata yg terus mengalir dari pelupuk matanya.
"alhamdulillah bu, anak ibu sudah melewati masa keritisnya. tapi.. " ucap dokter itu.
"tapi apa dok?? " ucap Ranti.
"karna benturan keras di kepala anak ibu, mungkin anak ibu akan mengalami kebutaan" ucap dokter.
"astaghfirullah, abi kakak bi hiks.. kakak!! " ucap Ranti.
"saya harap ibu bersabar, karna ini ujian yg harus dilewati. nanti setelah anak ibu sadar, saya akan mengecek keadaan matanya" ucap dokter.
"makasih ya dok" ucap Rhafi yg terus memeluk Ranti.
"iya Pak, bapak dan ibu bisa menjenguknya sekarang, kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu lalu pergi.
"umi, umi yg tenang ya. sekarang kita liat kakak, umi gak boleh keliatan sedih di depan kakak, nanti kakak juga ikut sedih" ucap Rhafi sambil menghapus air mata di pipi Ranti.
setelah Ranti tenang, mereka berdua masuk ke ruang tempat Rara dirawat. betapa hancurnya hati mereka, melihat putri mereka satu satunya kini terbaring lemah, dengan seluruh alat-alat di tubuhnya.
"kakak, hiks.. kakak bangun ya, umi kangen sama kakak.. " ucap Ranti sambil terisak.
"umi, kita tak boleh sedih di depan kakak, nanti kalo kakak sedih gimana? " ucap Rhafi dengan nada lembut.
"iya bi" ucap Ranti lalu memeluk Rhafi dengan erat.
tak lama kemudian, tangan Rara bergerak dan mulut nya mengeluarkan suara dengan lemas.
"umi.. abi.. " panggil Rara, seketika Ranti dan Rhafi langsung menoleh ke arah Rara.
"kakak!! kakak udah sadar, kakak gak papa kan? ada yg sakit?? bilang sama umi" ucap Ranti.
"umi, kenapa mata kakak di tutup? " tanya Rara, yaa.. pelupuk matanya memang ditutup dengan perban yg cukup tebal.
"kakak, mata kakak... " Ranti tak mampu berkata kata lagi.
"kakak, adek gak papa kok. sekarang adek lagi sama nenek" ucap Rhafi.
"disaat kayak gini kamu masih aja mikirin adek kamu kak, padahal kondisi kamu.... " batin Rhafi, dan tak sengaja matanya mengeluarkan cairan bening yg sedari tadi ia tahan, cepat cepat Rhafi langsung menghapus nya.
"adek beneran gak luka kan abi?? " ucap Rara.
"iya kak, adek baik baik aja, sekarang kakak makan dulu ya" ucap Rhafi.
"umi suapin ya kak" ucap Ranti sambil mengambil bubur yg ada di nakas samping tempat tidur Rara.
"nih.. Aaaaa.. " Rara pun membuka mulut nya.
"umi, kenapa kakak make penutup mata? " tanya Rara.
"emm.. karna mata kakak lagi sakit, mangkanya harus pake, sebentar lagi di buka kok, nih kakak makan lagi ya" ucap Ranti, hatinya benar benar hancur melihat anaknya seperti ini. kalau bisa biar ia saja yg menggantikan posisi Rara.
"umi, kakak makannya udah ya, kakak pengen buka penutup mata ini" rengek Rara.
"kakak, penutup mata nya dibuka tunggu mata kakak udah sembuh ya" ucap Rhafi sambil membelai kepala anaknya.
"emang mata kakak sakit apa bi? " ucap Rara.
"mata kakak perih gak? " ucap Ranti, ia belum bisa mengatakan yg sebenarnya pada Rara, ia tidak sanggup melihat Rara menderita.
"sedikit mi, tapi gak papa kok. umi abi, kakak mau ketemu sama adek, kakek dan nenek" ucap Rara.
"iya, nanti abi suruh nenek kesini ya" ucap Rhafi.
"iya bi, kakak kangen banget sama nenek" ucap Rara.
"kakak, maafin abi ya, abi gak bisa jaga kakak, abi bukan abi yg baik buat kakak" ucap Rhafi sambil meneteskan air mata.
"abi, abi itu adalah abi yg paaaaaliing baik sedunia, kakak beruntung punya abi dan umi" ucap Rara.
hati Rhafi dan Ranti semakin tersentuh mendengar Rara mengatakan hal itu. melindungi Rara saja mereka tak bisa tapi bisa bisa nya Rara mengatakan bahwa mereka adalah orang tua yg baik.