
seperti janji yg Rhafi katakan, bahwa ia akan mengajak anak anaknya untuk beli es krim.
"abi, adek mau es krim yg banyak" ucap Rangga antusias.
"iya nanti abi beliin es krim yg banyak buat adek" ucap Rhafi.
"kak, ayo masuk mobil" ucap Ranti pada Rara.
"iya mi" Rara pun lekas masuk mobil dan duduk di kursi belakang bersama Rangga.
(skip)
saat sampai di toko xx, mereka langsung masuk dan memilih beberapa cemilan manis.
"abi, adek mau es krim yg itu" ucap Rangga menunjuk sebuah es krim vanila.
"iya nih" ucap Rhafi sambil memberikan es krim yg di tunjuk oleh Rangga.
"kakak mau apa?" ucap Rhafi.
"kakak ambil coklat aja bi" ucap Rara.
"adek juga mau coklat" ucap Rangga.
"adek kan udah beli es krim masa mau coklat juga, nanti sakit gigi" ucap Rara.
"kakak kenapa sih ngelarang adek mulu" ucap Rangga dengan raut wajah kesal.
"kakak nggak ngelarang dek, kakak cuma ngingetin doang" ucap Rara dengan nada kembali dingin.
"abi umi, boleh ya adek beli coklat juga" ucap Rangga.
"iya sayang, tapi jangan makan sekaligus ya, nanti giginya rusak oke" ucap Ranti.
"oke umi" ucap Rangga kemudian ia mengambil coklat yg ada di rak di samping nya.
"kakak mau apa lagi? " ucap Rhafi.
"kakak ini aja bi" ucap Rara sambil menunjukkan dua bungkus coklat yg ia pegang.
"umi mau apa? " ucap Rhafi
"umi mau gendong abi" ucap Ranti dengan nada manja.
"uluhh uluhh sayangnya abi, nanti pas sampe di rumah abi gendong ya" ucap Rhafi sambil mengelus kepala sang istri.
"aaaa.. maciuuww suami ku" ucap Ranti.
"abi umi, ini tempat umum jadi jangan mesra mesraan di sini, apalagi di depan anak kecil kayak kakak dan adek" ucap Rara dengan datar. (emang si Rara kalo ngomong selalu datar, senyum juga jarang).
"hehhehe... iya iya umi sama abi minta maaf" ucap Rhafi sambil menggaruk tungkuknya yg tak gatal.
"hmmm" Rara hanya berdehem menanggapi nya.
"yaudah umi, kakak dan adek ke mobil deluan ya, abi akan ke kasir" ucap Rhafi yg diangguki oleh Ranti.
saat sampai di mobil, mereka langsung masuk kecuali Rara, ia berdiri mematung di depan pintu mobil sambil melihat ke satu arah.
"kak ara, ayo masuk" ucap Ranti
"umi masuk aja dulu" ucap Rara, ia masih menatap ke satu arah.
"yaudah nanti masuk ya" ucap Ranti lalu masuk ke mobil
"iya umi"
bukannya masuk ke mobil tapi, Rara malah melangkah kan kaki nya ke arah yg ia lihat.
"kasian" gumam Rara.
ia terus melangkah kan kaki nya ke arah anak laki-laki yg di seret oleh orang tuanya sambil menangis. entah karna apa, tapi yg jelas ia merasa kasihan.
"ayahh, aris gak mau tinggal sama ayah, aris gak mau ayah jahaaatt!! " ucap anak itu sambil terisak.
"hei diam kamu anak kecil, aku hukum kamu nanti kalo gak diam!! " bentak pria paruh baya yg sedang menggandeng tangan anak kecil itu.
Rara semakin mendekati ayah dan anak itu, karna ia merasa kasiahan pada anak yg terus menagis.
"assalamu'alaikum" ucap Rara sopan tapi masih dengan nada datar. tapi tak ada yg menjawab salamnya.
"ada perlu apa kamu anak kecil" ucap pria itu.
"om maaf sebelumnya, kenapa om buat anak om nangis" ucap Rara dengan nada dingin plus datar.
"terserah saya lah, anak anak saya bukan anak kamu kan, jadi kamu minggir sana anak kecil" ucap pria itu.
"terserah saya lah saya mau minggir atau nggak, tubuh tubuh saya bukan tubuh om kan" ucap Rara sambil tersenyum tipis.
"berani ya kamu!! " bentak pria itu.
"iya lah om, jadi anak itu harus berani membela kebaikan, tapi ya om, maaf kalo saya kurang sopan. jujur saya gak suka sama sikap om yg kasar sama anak om" ucap Rara, ia menekan semua kata kata yg ia keluarkan.
"mau saya kasar sama anak saya atau kasar sama anak orang itu bukan urusan kamu ya!! " bentak pria itu.
"weeess, tenang om selow aja, kita di sini bersaing secara sehat. ehh tunggu, apa kata om tadi? bukan urusan saya?? sesama manusia itu kita harus saling tolong menolong, jadi jelas ini menjadi urusan saya" ucap Rara.
"sekarang saya minta om lepasin anak om, dan kembalikan dia pada ibunya, atau... " sambung nya.
"atau apa heh?!!, saya gak takut ya sama ancaman kamu!! "
"atau saya akan laporin om ke po-li-si, atas tuntutan penganiayaan, jadiii.. gimana?? " ucap Rara sambil tersenyum sinis.
nampak lah wajah pria itu yg pucat dan ia mematung.
"kamu pikir saya percaya! " ucap pria itu dengan penuh emosi.
_________________________________
holla, jangan lupa like comen and vote....