
Dengan menahan sedikit kebas dan malu, Ghifa mengikuti Raba masuk ke dalam rumah seperti perintah sang kakek. Begitu masuk Ghifa di persilahkan duduk dengan sangat ramah oleh Raba. Entahlah, sepertinya Raba merasa bersalah.
" Maaf ya Mas, ada yang luka, atau kita pergi ke rumah sakit aja?" ucap Raba sembari meletakan barang bawaannya asal di lantai.
Ghifa menggeleng, dia juga berusaha menegakkan pundaknya agar tak terlihat kesakitan. " Tidak papa, tidak perlu" jawabnya singkat.
Kakek Raba duduk menyebelahi tamu dadakannya. Menyentuh punggung Ghifa pelan, memeriksa apa ada luka yang serius di balik switer tak seberapa tebal.
" Pundaknya kokoh gini, tidak mungkin luka dengan sekali gebuk, mungkin lebam dikit " ucapnya pada Raba, yang tampak khawatir.
Ghifa mendelik saat ada rasa kebas yang kembali terasa kala tangan kakek menekannya, dia berusaha tersenyum menutupinya.
" Kakek, namanya juga di pukul pasti sakit " ucap Raba melirik Ghifa yang meringis kesakitan.
Ghifa memandang Raba dengan teliti seolah ia baru melihatnya kali ini. Ada sosok dewasa dan perhatian yang menguar dari wajah teduhnya. Ghifa langsung berpaling tak ingin menaruh rasa pada gadis di hadapannya.
" Lain kali, bertamu dengan layak nak, sudah berapa kali kamu menghadang jalan Raba seperti tadi. Itu sangat tidak sopan" ucap sang kakek masih dengan aura dinginnya.
Ghifa memandang Raba, tentu saja karena tersinggung dengan apa yang di ucapan sang kakek.
" Raba yang memintanya, Mas Ghifa menunggu ku" Ucapnya menyela.
Tatapan Ghifa terlalu sulit di artikan oleh Raba, merasa kesal karena di sindir, harusnya dia merasa. Tetapi Raba tak ingin memperburuk suasana, jelas-jelas pria ini sangat angkuh.
" Tidak, tidak kek. Saya memang bersalah maaf karena tidak sopan." Ghifa menundukkan kepalanya kepada kakek Raba.
Suasana hening seketika, seolah tak ada lagi hal yang bisa di bicarakan.
Pyaar.....
Tiba-tiba saja terdengar suara benda pecah dari dalam. Kakek dan Raba segera berlarian masuk dan mencari sumbernya. Ghifa dengan rasa terkejut dan spontan nya ia juga mengikuti mereka.
" Maaf.... Nenek tidak sengaja." Suara itu terdengar bergetar dari nenek.
Terlihat ia yang mencoba meraba benda yang ia cari, dia duduk di sebuah kursi roda.
" Sudah ku katakan, panggil saja aku. Kamu terlalu memaksa " ucap kakek sembari menjauhkan kursi roda dari hadapan Raba yang tengah memunguti pecahan gelas.
Ghifa berjongkok membantu Raba, tak banyak kata dia hanya mengikuti alur yang terjadi. Begitu dengan Raba, dia tidak mencegah atau menolak tindakan Ghifa.
Raba beranjak mengambil sesuatu yang bisa di gunakan untuk mengemas pecahan itu agar tak berbahaya. Menerima uluran tangan Ghifa untuk melanjutkan menyelesaikan nya dengan sapu.
" Raba ambil minum untuk nenek," ia bergegas pergi ke dapur.
Ghifa melihat nenek yang merasa bersalah di hadapannya, matanya berair terlampau sedih karena tak bisa apa-apa. Ghifa teringat cerita adiknya tentang nenek yang sakit mata dan keadaannya yang tak begitu sehat lagi.
Raba datang membuyarkan lamunan Ghifa, menegurnya agar kembali duduk di ruang tamu seperti tadi. Ghifa menuruti, setelah kakek dan nenek pergi ke dalam kamar.
" Maaf soal tadi, kamu boleh pergi sekarang, " ucap Raba begitu dingin.
Ghifa menyadari jika dia telah terlalu jauh mengetahui suasana di dalam tadi. Mungkin saja gadis di hadapannya ini merasakan tidak suka atau tak nyaman dengan kehadirannya.
Mata Raba begitu tajam seolah akan menusuk Ghifa dalam sekali hentak. Dia hanya diam tak menjawab ucapan Ghifa kali ini. Ghifa tak mengalah, apa pun sikap gadis di hadapannya ini ia harus bisa memenangkan kesepakatan ini.
" Pergi saja, aku tak butuh bantuan itu " jawab Raba setelah beberapa saat.
Dari nada bicara dan raut wajah yang jauh berbeda dengan saat Ghifa di pukul tadi. Raba begitu terang-terangan menunjukan tidak menyukai tawaran yang sedang di sodorkan oleh Ghifa.
Sadar diri merasa di usir, Ghifa beranjak mendekati daun pintu. Terakhir kalinya, ia ingin melihat wajah keras kepala itu, dengan berharap bisa mengubah keputusan, namun Ghifa salah. Raba tetap sama, menolak untuk saat ini. Ghifa pergi tanpa salam.
***
Raba bergegas melihat neneknya di kamar, tak biasanya hal seperti ini terjadi. Bahkan ini kali pertama sang nenek sampai menjatuhkan gelas dari tangannya.
" Apa yang terjadi Nek, katakan pada Raba?"
Raba duduk bersimpuh di hadapan wanita senja yang telah merawatnya selama ini. Wanita satu-satunya yang ia miliki stelah ibunya pergi.
Dengan lembut tangan lemah nan keriput itu menangkup wajah Raba, sesekali mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
" Tidak, tidak apa-apa. Hanya tak sengaja menjatuhkan nya, Maaf mengejutkan mu"
Seperti dirinya yang selalu mengandalkan kata tidak apa-apa, Raba tau jika neneknya sedang tidak baik-baik saja. Senyum yang begitu khas darinya tak akan mengubah pemikiran khawatir dari Raba.
" Kalau begitu istirahat ya Nek, ini sudah sangat malam " Raba membantu nenek berbaring di ranjang. Perlahan menuntunnya dan menyelimutinya.
Raba keluar dari sana, saat nenek terlihat memejamkan kedua matanya. Berjalan mencari kakek, seperti biasanya kakeknya itu pasti duduk dengan secangkir kopi di teras. Raba menemaninya, diam tak langsung bertanya banyak hal.
" Sudah tidur Nenek mu?"
" Sudah Kek, " Raba tak berani memulainya.
Kakek menyeruput kopi yang tak terlihat lagi asapnya, bisa di tebak jika kopi itu sudah sangat lama di buat hingga dingin.
" Raba sudah ingatkan, jangan ngopi di malam seperti ini, Kakek butuh tidur cukup di malam hari " omel Raba.
Kakek tersenyum " Sedikit saja, Kakek begitu ingin kali ini. Sudah satu Minggu tidak meminumnya"
Raba mendesah, tak percaya sama sekali dengan ucapan memelas dari kakeknya ini. Dia diam tak lagi mengomentari, dia percaya jika kakeknya sudah sangat pandai mengatur dengan keras pola hidupnya, katanya agar tetap sehat dan menjadi wali saat Raba menikah nanti.
" Nenek mu, tangannya semakin melemah begitu juga sakit matanya yang bertambah. Sebenarnya kakek berencana menggunakan tabungan pensiun kami untuk berobat Nak. "
Raba diam mendengarkan. Dia tau keinginan terus sehat agar bisa saling menemani sepasang suami istri senja ini begitu kuat dan gigih, mereka akan terus berjuang bersama.
" Tunggu Raba bisa ya Kek, simpan saja dulu tabungan kalian. Masih banyak hal yang harus kalian lakukan dengan uang itu. Raba janji akan mengatasinya."
Dengan suara yang begitu bergetar Raba meyakinkan dirinya sendiri agar bisa lebih mampu mendapatkan segalanya untuk nenek dan kakeknya.
" Jangan memaksa, Kakek tau kamu seperti apa. Cukup jadi diri sendiri dan menikmati masa mudamu Nak, jangan terlalu perduli kan kami "
***