
Meskipun Raba dan Ghifa mengibaratkan pernikahannya hanya sebatas kerja sama, tetapi akad nikah dan proses nya sah di mata negara dan agama. Apa pun perumpamaan yang disebut oleh keduanya, mereka tetap sama seperti sepasang suami istri lainnya, legal dengan segala ketentuannya.
Setelah bertemu dengan Nia kemarin, Raba menuruti semua permintaan ibunda Ghifa, termasuk bersedia melangsungkan pernikahan di rumahnya. Dengan alasan apapun, Raba dan Ghifa tak bisa menikah dengan semaunya.
Hari ini, kediaman pak Ahmad tak begitu sepi dan tidak juga ramai, keluarga Ghifa datang mengantarkan putra sulungnya itu dengan jumlah keluarga inti yang tak seberapa banyaknya. Ini juga terjadi karena Ghifa dan Raba yang kalah berpendapat dengan Nia, ibunda Ghifa yang tak ingin pernikahan putranya terjadi di kantor urusan agama saja, menurutnya terlalu nelangsa, bagaimana pun ini pernikahan yang di nanti-nanti di keluarganya.
Dengan hiasan pernak pernik di seluruh penjuru, cukup menjadi tanda jika pernikahan sedang berlangsung di kediaman pak Ahmad. Begitu pula dengan Raba, yang tak bisa lagi menolak permintaan Amara yang sibuk mendandaninya menjadi seperti ratu sungguhan hari ini.
Kebaya putih yang begitu pas melekat membentuk tubuh indahnya, dan kain bermotif seperti batik yang menjadi setelan bawahnya. Begitu juga dengan sanggul sedikit berat yang cukup membuatnya mendadak pusing, dengan ketenangannya, Raba tetap tersenyum menikmati pekerjaan nya hari ini. Jujur saja, dia sedikit terlalu menikmati perannya kali ini, hingga timbul rasa gugup dan cemas kala mengingat ini sebuah pernikahan.
" Ra, kamu kenapa. Deg degan ya ?" goda Amara yang setia menemaninya.
Raba melihat pantulan wajahnya di kaca, kemudian menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Amara.
" Mas Ghifa marah karena acara ini ?" tanya Amara lagi. Dia tau jika adik Ghifa ini mengerti kesepakatan keras tentang resepsi di pernikahan ini. " Ada aku Ra, apa pun yang terjadi setelah ini aku yang akan membela mu ya. Kamu lihat aku lebih memilih menemani mu dari pada mendampingi kakak ku " ucapnya lagi, dengan senyum yang begitu menenangkan.
Raba semakin merasa bersalah pada Amara dan juga semua orang, karena terlalu jauh membohonginya. Ia sangat tak nyaman karena ada sesuatu yang tak bisa ia bagi dengan sahabatnya ini, rasa bersalah semakin memadati hati Raba. Ia meraih tangan Amara, menggenggamnya begitu erat, berusaha menyampaikan maaf tanpa kata darinya.
Pintu kamar di ketuk, sosok ibunda Ghifa muncul dengan segala keramahannya, dia tampak anggun dengan senyum yang begitu meneduhkan, perlahan ia mendekati Raba, " Kita keluar sekarang ya, penghulu nya sudah datang " ucapnya begitu tenang, sembari menggandeng Raba.
Raba menurut, dengan tenang mengikutinya dengan Amara yang juga menggandengnya. Ada rasa yang begitu aneh dalam dirinya seperti bahagia, terharu malu dan sebagainya Raba tak bisa memahaminya saat ini, apa lagi saat kakinya keluar dari kamarnya dengan sempurna.
Raba hanya berusaha mengingatkan dirinya sendiri, jika pernikahan ini terjadi karena ada hutang janji yang harus di tepati, dia di minta duduk sejajar dengan Ghifa. Sosok pria gila yang entah mengapa ia tampil lebih tampan kali ini. Padahal sama seperti biasanya, dengan setelan jas dan kemeja putihnya. Dadanya semakin bedegub kencang tak karuan.
Tanpa berniat meliriknya lebih jauh lagi, Raba memilih menenangkan dirinya hadapan keluarga besar itu. Dengan kelopak mata yang terus menatap ke bawah, Raba tak tau apa saja yang sedang terjadi. Dia sibuk bercengkerama sendiri dengan hatinya, yang tak karuan rasanya.
Raba tertunduk lagi, ketika mendengar penghulu melafalkan do'a, sebuah tanda jika prosesi ini telah selesai secara sempurna. " Ghi, ayo segera pasangkan cincinnya " kata seseorang, Raba tak mengenal siapa dia, hanya saja parasnya hampir sama dengan bundanya Ghifa, ia tampak lebih ramah dari pada kakek dan ayahnya Ghifa, mereka tampak masam.
Ghifa mengambil cincin dan segera saja meraih jemari Raba, tanpa ragu memasangkan nya. Sedang kan Raba sempat terkejut saat mendapati jemari kosong yang di ulurkan Ghifa padanya. Kemana larinya cincin kak Sovia ? Tanya Raba dalam hati. Ia melirik ke tangan sebelahnya, oh ternyata pindah di sana, benar seperti dugaannya, jika Ghifa tak kan bisa meletakan cincin itu begitu saja, apa lagi menggantinya.
Dalam lamunannya, Ghifa tiba-tiba menyodorkan tangannya kembali seperti baru menyadari ada yang tertinggal, Raba sedikit kebingungan, ia mendongak melihat mata Ghifa yang mendelik memberinya isyarat, " Bersalaman, cium tangan " ucapnya setengah berbisik sembari menggeram kesal.
Raba buru-buru menerima uluran tangan Ghifa, mencium nya secara singkat, lagi-lagi Raba terkejut bukan main saat Ghifa mengecup keningnya lumayan lama. Oh apa ini ? Mengapa rasanya ia seperti tersengat listrik, begitu menegang sekujur tubuhnya. Raba buru-buru menarik kepalanya, ketika merasa bibir Ghifa pergi dari keningnya, keduanya saling berpaling salah tingkah.
Keduanya di bimbing untuk menandatangi segala bentuk surat menyurat dan di berikan buku nikah yang entah mengapa tak ada rasa bangga di keduanya, kemudian tak lama semua orang bergantian menyalami dan mengucapkan selamat pada Raba dan Ghifa. Raba bersungguh-sungguh meminta maaf pada kakek dan neneknya, menahan air mata yang entah bagaimana tak tertahankan, dia sungguh terhanyut dengan suasana haru. Begitu juga dengan Ghifa yang tampak sangat lama meminta maaf pada Hamdan. Entahlah, apa saja yang sedang mereka sesali dalam tundukan kepalanya.
Semua orang saling berbincang, sembari menikmati hidangan ala kadarnya sebagai jamuan. Ghifa tampak duduk dengan dengan tenang di tengah para bapak-bapak, begitu juga dengan Raba yang bergeser sedikit menjauhi Ghifa, setelah sempat di paksa berfoto tadi.
Dari semua orang yang hadir, hanya ada satu sosok yang terlihat begitu bahagia seperti tak mengerti asal cerita dari pernikahan ini, dia Rizal, kakak kandung ibu dari Ghifa, dia dengan santainya melontarkan banyak candaan pada Ghifa.
" Untung saja kamu menikah Ghi, jadi tak terlalu sedih karena kehilangan Hunian Asri, lagi pula lebih baik kamu bulan madu dari pada sibuk di proyek " katanya setengah tertawa.
Raba yang ikut mendengarnya sedikit penasaran dengan reaksi Ghifa, ia langsung menatap wajah Ghifa. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah itu nampak datar dan dingin.
" Ah, pekerja kecil seperti ku ini sangat wajar jika kalah tender dari Hamdan group, memang sudah bisa di tebak Om " ucap Ghifa matanya tampak lurus menatap Hamdan.
Hah, pria gila itu berani melotot pada Ayahnya, ucap Raba dalam hati, tak percaya melihat Ghifa yang seperti itu. Dia bahkan bergidik ngeri melihatnya. Jelas saja Raba merasa jika Ghifa tidak sedang bercanda sejak tadi.
***