
Bosan karena Ardi tak mau menemuinya di kantor, Ghifa memutuskan pulang saja. Padahal dia ingin sekali membicarakan banyak hal masalah kerjaan yang semakin tak jelas penyelesainnya.
Ghifa bahkan merasakan keruntuhan usahanya sudah di ujung mata. Ghifa sedang bergantung pada satu proyek yang peluangnya sangat sedikit keberhasilannya.
Ghifa heran mengapa lampu rung tengah masih begitu terang menyala, tak seperti biasanya. Terdengar pula suara tawa ayahnya yang begitu renyah bak kerupuk kulit, asik sekali mereka mengobrol di malam-malam seperti ini.
Tak mau mengganggu pembicaraan mereka yang begitu asik, Ghifa memilih sedikit memelankan langkahnya. Tetapi tanpa sengaja ia mendengar ucapan Amara yang begitu serius, Ghifa menajamkan telinganya. Tak di sangka mereka sedang membicarakannya.
Menjodohkan lagi, apa mereka ini sangat terganggu dengan dirinya yang sekarang. Ghifa mendesah tak terima, mereka ini tak memiliki masalah lain saja.
Dan lagi, Amara bahkan mengungkit nama yang sangat tidak di sukai bundanya. Memang putri Tante Rahma sudah besar, terakhir kali bertemu dia masih SMP.
Tak terima di jodohkan dengan sembarang orang, Ghifa harus menegaskan pada semuanya saat ini juga. Dia sudah sangat bosan dan kesal dengan hal ini.
" Maaf, jika Mas tak suka. Jangan marah " ucap Amara saat Ghifa tiba-tiba muncul di belakangnya.
Ghifa juga tak sengaja menatap wajah ayahnya yang seketika dingin tak sehangat tawanya tadi. Entah lah, Ghifa merasakan ada rasa benci dari sorot matanya.
" Aku bisa cari sendiri, " Ghifa meneruskan langkahnya menuju kamar.
Ruang televisi itu mendadak sepi, Ghifa sadar telah merusak kehangatan mereka tetapi ia juga tak bisa bergabung dengan hati yang terpojok seperti ini.
Ah andai saja Sovia tetap berada di sisinya, tak mungkin ada cerita seperti ini. Bukan tak bisa menerima kenyataan, hanya saja sesekali Ghifa merasa tak terima dengan garis takdir. Iya, dia terlalu buruk untuk seukuran hamba sepertinya.
Ghifa menghempaskan paksa tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit yang tetap membisu meski ia berkali-kali mengajaknya bicara. Mengapa begitu menyedihkan sekali dirinya, bangkit dari masa sulit saja tidak bisa.
Banyak orang menilainya telah tegar, dan kembali seperti dulu. Siapa sangka kerapuhannya begitu terlihat di jarak terjauh sekalipun. Menutup mata pura-pura tak tahu, mungkin saja hal terbaik untuk nya.
Lelah tubuhnya yang tak tau apa penyebabnya ini semakin terasa. Sebab itu juga Ghifa tak suka berada di rumah seperti ini. Setelah mengucapkan kata-kata seperti tadi membuat Ghifa tak enak hati. Terutama pada Amara yang terlihat bersedih tadi.
Masih setengah sepuluh, setelah membersihkan diri Ghifa keluar dari kamarnya. kalau-kalau keluarganya itu masih di ruang tengah. Namun, Ghifa hanya melihat sang ayah yang sedang melihat berita.
Lampu tengah telah di matikan, Ghifa tak jadi meneruskan niatnya. Tak di sangka Hamdan berdiri dari duduknya, memanggil Ghifa dengan pelan.
" Kita ngobrol dulu, Ayah tau kamu tak bisa tidur " katanya pada Ghifa.
Ghifa berbalik, menatap ayahnya wajah yang begitu lama selalu ia hindari. Seolah tak pernah bertemu keduanya saling bertukar pandang begitu lama.
Ghifa mengangguk, ia mendekat dan segera saja duduk di sofa panjang bersama Hamdan. Tanpa kata, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Hamdan melirik sang putra, mencoba menebak apa yang sedang di rasakan oleh putranya ini.
Bingung tak ada yang mau memulai, akhirnya Ghifa mengalah sebagai yang termuda. Dia beranjak " Aku buat kopi dulu Yah, " ucapnya.
Hamdan juga tak mencegah, setidaknya dia juga harus berpikir lebih lama lagi apa saja yang akan ia katakan kepada Ghifa, nasehat kah, atau teguran. Hamdan sendiri bingung akan mengatakan apa.
Begitu pula dengan Ghifa, tangannya mengaduk isi cangkir, matanya menerawang jauh kosong di benaknya. Perasaan kaku ini masih begitu terasa, pikiran mengapa ayahnya tiba-tiba ingin bicara dan sedikit curiga jika ayahnya telah mengetahui tentang masalahnya.
Dua cangkir kopi original dengan asapnya yang masih mengepul, di suguhkan oleh Ghifa. Ia berjalan cukup hati-hati takut kopinya jadi perkara baru jika tumpah.
Televisi yang menyiarkan kisruh dan bobroknya kehidupan itu masih menemani duduk santai mereka. Keduanya bahkan tetap dia seperti tadi. Entahlah dua laki-laki ini kenapa.
" Ghi, soal pernikahan Ayah tak akan lagi memaksa. Ayah pikir kamu sudah cukup dewasa Ayah tak berhak mengatur mu lagi seperti terakhir kali, Ayah hanya berkesempatan mengingatkan mu saja. Jika ada keinginan menikah, segera lah Nak, jangan memaksa hidup sendri jika tak berani. "
Setelah dua tahun terakhir, ini kali pertama ayahnya berbicara sebanyak ini pada Ghifa. Ada rasa bahagia namun rasa bersalah semakin bertambah. Jelas sekali jika selama ini ayahnya menyalah kan dirinya sendiri.
" Yah, Maaf Ghifa tidak kunjung dewasa. Malah bersikap semaunya pada diri sendiri, wajar saja jika Ayah lelah mengingatkan ku. Dan jangan salahkan diri Ayah karena Ghifa yang menyedihkan seperti ini "
Hamdan menepuk punggung kokoh putranya, dan kontan saja Ghifa mengaduh begitu keras.
" Aduh....." Ghifa meringis.
Hamdan langsung menarik tangannya dari sana, " Kenapa?" ucapnya panik.
Ghifa tersenyum kikuk, " Ah itu, kepentok sesuatu Yah. "
Hamdan membalik punggung keras Ghifa, dengan cekatan ia membuka kaos yang di kenakan putranya. " Lihat, jangan-jangan memar ini !"
Hamdan segera berdiri menyalakan lampu, agar bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di punggung Ghifa.
" Nah kan, kepentok apa ini, ini seperti di pukul. Kamu berkelahi?" begitu berentet pertanyaan laki-laki yang katanya sedang tidak perduli pada putranya.
Tanpa di sadari wanita yang baru saja keluar dari kamarnya, " Kalian ini sedang apa ?" Nia langsung saja duduk di hadapan Ghifa.
" Bun, ini lihat Ghifa luka-luka gini, coba tanya berkelahi di mana dia " ucap Hamdan meminta Ghifa berbalik pada Bundanya.
Nia mengeriyit, suaminya ini terlihat berlebihan sekali. Padahal hanya bercak biru yang tak begitu kentara, apa yang sedang ia pikirkan.
Nia menatap mata suaminya, dan kedua mata suaminya itu terlihat berkedip seirama beberapa kali, rupanya dia hanya bercanda. Nia tersenyum, mungkin ini cara mereka kembali menghangatkan suhu yang telah membeku selama ini.
" Kamu berkelahi Nak?"
Ghifa mendongak, menatap ibunya dan menggelengkan kepala. Dia menurunkan kaosnya, duduk lebih tegak di tengah ayah dan bundanya.
" Sebenarnya, ini dipukul. Dan Ghifa tidak berkelahi. "
" Siapa yang mukul kamu Nak, katakan apa kamu melakukan sesuatu buruk atau orang itu yang iseng pada mu " Nia tak sabaran lagi.
Ghifa terdiam sejenak, dia mengapa bisa lupa jika ini hadiah dari kakeknya Raba. Bagaimana cara ia jujur pada mereka.
Ghifa menggaruk tengkuknya , " Ini, di pukul kakek nya Raba, "
***