
Ghifa menatap Raba yang pergi tanpa kata darinya, dia tau gadis keras kepala itu berhak marah kepadanya. Ghifa melipir ke dapur hingga ke tengah cafe, dia melihat apa yang di lakukan Raba dari kejauhan, setelah mendapat ajakan mendadaknya.
Ketika ia mengerti Raba kembali duduk, Ghifa meneruskan langkahnya. Dia tau ini sesuatu yang sangat menggangu bagi Raba, tak mau berharap, dia kembali ke mobil. Ghifa benar-benar tak berharap lagi, dia menyalakan mobilnya bersiap pulang tanpa Raba.
Tiba-tiba ia tersenyum, saat bayangan Raba terlihat dari spion mobil nya, ia terlihat berlari kecil hingga mendekati mobilnya. Dia bahkan langsung membuka pintu, masuk tanpa bertanya. " Cepetan, keburu dia keluar " Titahnya, seperti pada sopir pribadi.
Ghifa menuruti meski menggerutu di dalam hati, dia juga sedikit mengomentari tingkah Raba yang seperti terbiasa duduk di sampingnya, udah nyaman sepertinya, naik mobil ku, ucapnya dalam hati.
Raba masih saja menoleh kebelakang, padahal mobil sudah keluar dari halaman cafe. Jelas sekali di mata Ghifa, jika gadis di sebelahnya ini seakan tak rela pergi dari sana. " Kalau keberatan, kenapa masih ikut " celetuk Ghifa yang risih dengan tingkah Raba.
Raba hanya mendengus, dia seperti tak berniat menjawab perkataan Ghifa yang terdengar kesal. " Ini namanya tanggung jawab dalam bekerja, saya bisa-bisa saja tidak ikut dan meneruskan pacaran saja " kata Raba terang-terangan. Wajahnya merengut sama seperti tadi.
Ghifa sampai berdecak, tak menyangka gadis ini semakin menjadi-jadi tingkahnya, jika seperti ini Raba sama saja seperti adiknya, tidak dewasa apa lagi tangguh seperti Sovia. Jika tidak demi tetap mencintaimu, mana mau aku berurusan dengan gadis ini, Ghifa membatin lagi.
Di dalam mobil bisa saja terlihat begitu damai, tak saling kata tetapi dalam hati keduanya sibuk mengatai satu sama lain. Raba yang tak terima kencannya di ganggu, dan Ghifa yang tak menyukai sikap Raba yang semaunya.
Di lampu merah, Raba terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia ragu pada wajah Ghifa yang lempeng dan cuek.
" Kenapa ?" ucap Ghifa tiba-tiba.
Raba melirik dengan takut-takut, " Aku diminta ngapain ?" ucapnya sangat pelan.
Ghifa hanya mengedikkan bahu, mengatakan hal yang sama tidak tahu tentang apa pun. Raba menghela nafas, entah apa yang sedang di pikirkan olehnya, helaan nya terdengar begitu kasar di telinga Ghifa.
" Ijo tuh " ucap Raba pada Ghifa.
Ghifa yang sedikit melamun kontan berdehem mengembalikan fokusnya pada jalan. " Tenang aja, ada Amara. Dia pasti bantu kamu " kata Ghifa mencoba menenangkan.
Saat tiba di rumah, garasi tampak kosong, itu berarti hanya ada bundanya di rumah. Ternyata Ghifa salah mengatakan kata-kata nya tadi. " Kamu bohong, Amara sedang pergi kan ?" sambar Raba tiba-tiba.
Ghifa hanya menarik bibirnya singkat, seolah mengatakan aku tidak mengerti. Tanpa menunda, Ghifa mengajak Raba masuk kedalam dengan tanpa ragu. " Tungguin " kata Raba menarik kecil kemeja Ghifa.
Ghifa melirik tangan Raba yang masih melekat di bajunya, sembari menghentikan langkahnya, menunggu langkah Raba yang sangat pelan. Akhirnya keduanya berjalan beriringan.
Ibunda Ghifa sudah menunggu dengan tak sabaran di ruang tamu, wajahnya tampak tak se-tenang biasanya. Semakin menciut nyali Raba, ia berusaha menebak banyak kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
" Apa kabar sayang, lama tak bertemu ? " katanya memeluk Raba begitu hangat.
Ghifa segera duduk, menyaksikan Raba dan bundanya saling berpelukan, satu hal yang biasa seperti selama ini. Ghifa justru terheran-heran dengan Raba yang malah duduk mendekat padanya.
Tiba-tiba Ghifa hendak pergi, tetapi dengan sikap Raba menggenggam tangannya, menatapnya dengan sangat memohon, seolah tak mau di tinggal.
Nia menggantungkan ucapannya, beralih menatap sikap Raba yang begitu jelas di matanya, ada senyum yang rasanya tak bisa tertahan dari Nia. " Raba, maaf kan Ghifa yang berprilaku buruk pada mu " ucapnya, sembari melihat Ghifa yang kembali duduk menuruti Raba.
Raba beralih pada Nia, dia bingung harus bersikap seperti apa. Jika senyum, seperti tak sesuai dengan dirinya yang sebenarnya seperti menjadi korban, " Harusnya kita yang meminta maaf Tan, karena tak bisa menahan diri " ucapnya sangat pelan. Raba sangat malu mengatakan ini, harusnya Ghifa yang menjawab sebagai pelaku perusuh sebenarnya.
" Sudah lah Bun, kita tidak bermaksud ke kesana kok sebenarnya, ya karena khilaf ya jadi terjadi " ucap Ghifa begitu saja, dia bahkan tak perduli lagi jika orang akan salah mengartikan perkataanya.
Raba menoleh Ghifa, mencubit pahanya dengan keras, tak terima di seret lebih jauh dengan kebohongan yang sangat memalukan ini.
" Ghifa, kamu juga, jika sudah suka sama Raba dari dulu kenapa tidak jujur saja, kita tidak akan keberatan meski kalian memaksa. Mengapa menunggu ada kejadian seperti ini ?" Jelas sekali Nia mengomeli putranya. Sedangkan Ghifa, sibuk mengusap cubitan di pahanya.
Ghifa dan Raba kompak tertunduk, tak menyangka segala yang keluar dari mulutnya tak pernah memenangkan keadaan sama sekali. " Ya sudah, Bunda juga hanya bisa berdo'a untuk segala kesalahan ini. " ucap Nia merasa putus asa. Untuk apa menceramahi pria dewasa yang seharusnya tau segalanya tentang dosa dan akibatnya.
Raba semakin kesal pada Ghifa, tingkahnya ini jelas saja membuat semua orang kecewa, Raba jadi sangat malu menjalani statusnya sekarang ini.
Kamu memang di bayar untuk menanggung rasa malu, Raba. Kata Raba dalam hati.
" Ra, kami berniat membawa banyak keluarga kami, tetapi Ghifa kekeh tidak mau. Jadi, Tante sangat tidak enak dengan sikap anak Tante yang kurang ajar seperti ini, apa kamu juga sama, tidak mau pernikahan ini tersebar luas ?"
Raba melirik Ghifa lagi, pria gila itu lagi-lagi seenaknya melempar semua keputusan kepadanya, " Raba, bagaimana baiknya Mas Ghifa saja Tan, lagi pula Raba takut Mas Ghifa masih trauma. " Jawab Raba asal, kali ini dia benar-benar menggunakan kelemahannya Ghifa yang jelas masih trauma.
Nia menatap putranya dengan kasihan, setelah kepergian Sovia, dia terlihat begitu menderita dengan segala keluhannya selama ini. " Maaf kan dia ya Nak, di memang sedikit berbeda " ucap Nia lagi pada Raba, Raba bahkan sempat ingin tertawa mendengarnya.
" Mana cincinnya, Bunda mau lihat " ucap Nia tiba-tiba, seolah baru mengingatnya.
Ghifa sedikit tersentak, kebingungan harus bagaimana, berkali-kali ia merogoh saku celananya, tak rela jika harus memperlihatkan pada sang bunda. Ghifa juga menatap Raba, berusaha meminta bantuan padanya.
Dengan cueknya, Raba seolah mengangkat tangan atas perkara kali ini, dia malas beralasan lagi. Meskipun ia menyadari saran darinya kali ini cukup sulit di jelaskan pada orang lain. Dengan sangat pelan, Ghifa mengeluarkan kotak cincin itu di letakan di atas meja.
" Ghifa, kamu kok bisa sejahat ini pada Raba. Cari kan yang lain, " ujar Nia sembari mendorong kembali padanya.
Raba melotot, melihat Nia semakin histeris memarahi Ghifa. Dia semakin tak enak hati, hingga terpaksa ia harus mengatasinya lagi. " Tan, maaf ya Raba ngak tau jika itu, ya sudah Raba ganti saja yang lain. Maaf ya Mas, maaf " ucapnya berbohong lagi.
Raba melirik Ghifa yang tersenyum miring. Seenaknya, lepas tangan lagi.
***