
Dua tahun lalu
Suasana halaman gedung universitas pendidikan begitu ramai dengan para wisudawan, mereka saling mengucap selamat, dan kebanyakan sedang asik bersua foto. Gadis imut yang baru saja keluar dari gerombolan temannya, terburu-buru menyapa kerabat yang ikut mengantri menemuinya.
" Maaf Om, Tante, Raba baru menemui kalian. Raba pikir tidak akan datang, " senyum menawan itu terus terpancar di hari bahagianya, riasan tipis natural pada wajahnya menambah kesan cantik dua kali lipat hari ini.
" Tentu saja kita datang, Amara sudah mengingatkan kita tiga kali sehari sebelum hari ini, " jawab wanita anggun dengan setelan muslim yang tak mengurangi senyumnya sejak tadi, dia juga tertawa kecil.
" Aku tidak ingin kamu sendiri, lihat Mas Ghifa juga berhasil aku paksa datang kesini !" Amara menunjuk pria yang berdiri tak jauh dari mobil, dia tampak enggan bergabung dengan banyak orang, " Sebentar lagi dia pasti kesini, " tambah Amara pada Raba.
" Tidak apa, Raba sudah senang kalian datang, kakek dan nenek juga ada disini" Reba tersenyum, melihat semua orang.
" Selamat ya Nak, akhirnya selesai juga kuliahnya" ucap Hamdan laki-laki yang berdiri tak jauh dari sang istri.
" Makasih ya Om, " sedikitpun tak berkurang senyum Raba, ia sangat menikmati wisudanya hari ini.
Tak lama pria yang di panggil Ghifa datang bergabung di tengah-tengah mereka yang berkumpul, langkahnya terlihat enggan, tapi masih terkesan sopan, " Hai, selamat ya, " ucapnya pada Raba singkat.
Raba hanya tersenyum menanggapi Ghifa yang terlihat sangat datar, dia tau rengekan Amara pasti sangat membuatnya pusing, hingga ia terpaksa datang kesini. Raba sangat memahami, kakak sahabatnya ini tentu banyak kesibukan, di tambah dia yang tidak terlalu suka dengan tempat ramai seperti ini.
" Kita foto yuk, sayang banget ini muka sahabat aku yang udah cantik gini, " ajak Amara tiba-tiba. Bahkan ia sudah mengeluarkan ponsel pintar mahalnya dari saku, ia bersiap mencari siapa saja yang bisa di mintai tolong. " Mas, foto kami berdua, yang bagus ya!" titahnya pada Ghifa.
Ghifa mengambil ponsel adiknya dengan malas, " Iya, iya. kameranya canggih ini, jelek juga pasti jadi cantik, Ribet banget " jawabnya menggerutu.
Amara tak menggubris, dia sibuk merangkul Raba yang berdiri dengan santai siap berpose. Keduanya sampai tak bisa memilih senyum dan gestur tubuh yang bagus untuk di ambil gambar. Meraka bebas bergaya tanpa malu. Kemudian di tambah kedua orang tua Amara yang turut menemani kedua gadis periang itu berfoto.
" Mas Ghifa, sini tak foto in, jarang-jarang kan foto sama Raba. Untuk hari ini saja " Amara mengambil alih ponsel canggihnya dari Ghifa, dia mendorong pelan tubuh tinggi tegap kakaknya ke samping Raba.
Tanpa menolak Ghifa berdiri mensejajari gadis ber toga sahabat adiknya itu. Dia memiliki wajah manis dan ceria, di usianya yang sekarang ini cukup bisa di sebut wanita cantik. " Senyum Mas," titah Amara pada kakaknya.
Ghifari tak menjawab, dia melakukan apa yang di perintah sang adik, dia tersenyum.
" Terimakasih Mas, mau repot-repot datang kesini " ucap Raba ketika selesai berfoto.
" Santai aja, " Ghifa sedikit bergeser dari posisinya saat ini.
Sejengkal jarak keduanya semakin bertambah, saat Raba juga ikut bergeser mendekat pada Amara. Amara masih sibuk melihat hasil jepretan kakaknya tadi. Dia yang selalu bersemangat dan sedikit berisik itu selalu menghibur Raba yang memiliki sifat pendiam namun tidak pemalu.
Raba menengok kebelakang, terlihat keduanya berjalan bersamaan. Raba menghampiri kakek dan neneknya dengan segera, begitu juga dengan Amara.
Mereka berjalan menuju tempat awal tadi. Kedua gadis itu kompak memapah sejoli senja itu dengan sayang, meski sebenarnya mereka masih sangat sehat jika hanya untuk berjalan.
" Kita habis foto tadi Nek, habis ini nenek dan kakek ya " tutur Amara pada seseorang yang sedang di gandeng nya dengan sangat akrab.
Nenek hanya mengangguk, ia berfokus pada kedua pasangan yang tengah menyapanya dengan senyuman begitu ramah. " Kalian sudah datang,?" ucapnya pada ibu Amara, bu Nia.
" Baru saja sampai Bu, saya pikir kita terlambat." Ia memberikan salam dan menjabat tangan.
Semua orang berdiri mensejajari Raba sang objek utama, Ghifa bermaksud menjadi fotografer seperti tadi. Tiba-tiba Raba berlari menghampiri seseorang. Tampaknya ia meminta tolong untuk mengambilkan gambar untuk mereka.
" Mas Ghifa, gabung kita aja. Raba minta Mbak itu foto kita" ucapnya menunjuk seorang wanita yang mengikuti dirinya.
" Oh, ok." Ghifa berpindah tempat, berdiri di dekat Ayahnya.
Raba mengulurkan ponselnya, karena kesederhanaan keluarganya, Raba tidak berlebihan untuk mengabadikan momen ini. Tidak perlu pergi ke studio foto atau yang biasa di lakukan para wisudawan lain bersama kelurganya.
" Sekali aja ngak papa Mbak, maaf merepotkan ya" tuturnya begitu lembut.
" Ok, Mbak"
Raba berdiri di tengah, di gandeng Amara, selanjutnya kakek dan nenek. Begitu juga di sisi kirinya ada kedua orang tua Amara termasuk Ghifa.
Mbak baik itu menyerahkan ponsel Raba, setelah satu kali jepret. Raba tak lupa berterima kasih.
" Kok cuma sekali Ra, kalau jelek gimana?" keluh Amara.
" Bagus kok Am, kasian Mbaknya sibuk" jawab Raba sambil menunjukan hasil fotonya.
Setelah tak ada lagi acara resmi, semuanya bergerak pergi makan siang. Hanya Untuk sekedar saling bertukar cerita.
" Kita satu mobil aja, Ayah sama Bunda bawa mobil sendiri, mas Ghifa sopir kita hari ini " ucap Amara begitu bersemangat.
Raba hanya tersenyum, sesekali mencoba mencari tau raut muka laki-laki yang sudah masuk di balik kemudinya.
" Mas Ghifa ndak keberatan?" ujar Raba setengah berbisik.
" Dia nggak ada kerjaan hari ini, udah santai aja " jawab Amara, kembali berbisik.
Raba kembali melirik wajah dingin Ghifa yang terlihat sangat serius.
" Kita ke tempat biasa Mas, " perintah Amara santai pada Ghifa.
Ghifa tak menyahut, sejak tadi dia hanya diam menyimak semua obrolan Amara dan Raba. Tak tertarik mengikuti alur percakapan asik mereka.
Sepanjang perjalanan suara Amara mendominasi seisi mobil, sesekali Raba juga menyahuti celoteh sahabatnya itu. Amara juga tak henti-hentinya menceritakan semua hal yang sudah dan akan ia lakukan hari ini, kakek dan nenek Raba juga selalu meladeni Amara berbicara. Pergerakan mobil yang begitu lamban akhirnya tidak terasa, berkat Amara yang pintar mengolah suasana.
Mobil itu terhenti di halaman sebuah restoran cukup sederhana namun terlihat sangat nyaman. Ghifa akhirnya menyempatkan diri makan bersama, menikmati kedekatan Amara dan Raba dari jarak yang lebih dekat.
***
Sepenggal kisah saat Ghifari kali kedua bertemu secara langsung dengan Raba, gadis sebaya adiknya yang terus ia dengar cerita dari Amara. Saat itu Ghifa kebetulan tidak memiliki pekerjaan, dengan paksaan sang adik akhirnya ia mau menghadiri acara wisuda, datang sebagai kerabat.
Meski mereka hanya sempat sedikit berfoto, dan meluangkan waktu untuk makan siang bersama. Ghifari sangat jelas mengingat wajah sederhana manis Raba, perawakan yang hampir sama dengan Amara, hanya saja ia tidak berhijab seperti bunda dan adiknya. Dia sangat ramah dan sangat dekat dengan kedua orang tuanya juga.
Al Ghifari sempat mengantar pulang mereka bersama Amara, dari situ ia juga mengetahui jika sosok Raba yang tinggal hanya bersama kakek dan neneknya.
" Dek, Am. " panggil Ghifa pelan.
Mereka sudah sampai rumah, bahkan mobil telah berhenti di garasi lima menit yang lalu. Ghifa sengaja membiarkan sang adik tidur sejenak, dia suka melihat wajah damai Amara tertidur. Kemudian membangunkannya.
***
Setelah menghadiri wisuda sahabat sang adik, Ghifa meneruskan langkahnya kembali akan pergi ke suatu tempat.
Perselisihan Ghifa dengan sang ayah tentang pernikahannya tiga tahun lalu kini tiba di akhirnya. Menang dengan sedikit menunda beberapa tahun, kini Ghifa sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Sovia.
"Kamu dimana Vi, aku jemput ya"
" Kamu tidak perlu kesini Ghifa, aku bisa sendiri kok. Kamu pasti sibuk"
" Tunggu di sana, aku jemput kamu"
" Iya sayang, aku tunggu ya",
Ghifa mematikan telponnya, dia menancap gas menuju butik dimana kekasihnya mencoba gaun pernikahan mereka. Masa pancaran awet dan lawas Ghifa dan Sovia kini sampai pada puncaknya, hari H sebentar lagi. Mereka telah melewati masa penantian panjang dan bersiap mengarungi bahtera bersama.
Ghifa melaju di jalanan aspal yang begitu licin akibat hujan kecil yang mengguyur, si hitam mengkilat nya membelah jalanan dengan lihai.
Hati Ghifa berdebar membayangkan kekasihnya mengenakan gaun indah yang ia pilihkan, berdebar membayangkan nama mereka terukir indah di buku nikah, berdebar membayangkan jemarinya saling bertukar cincin dan mengecup kening Sovia setelah menikah, ah dan masih banyak lagi bayang-bayangan indah yang terus saja silih berganti memenuhi pikirnya.
Ghifa telah sampai di depan gedung butik Sovia berada. Dia berusaha menghubunginya berulang kali, tapi tak ada jawaban. Ghifa turun dari mobil, bermaksud mencari calon istrinya itu.
Ghifa terkejut saat banyak orang berlarian, mengerumuni sesuatu di pinggir jalan. Dia berniat mencari tau, Ghifa tetap meneruskan kakinya masuk ke dalam butik.
" Ya Allah, Mbak itu kan baru saja dari sini, Ngak nyangka udah meninggal saja" bisik-bisik karyawan yang tampak melihat keluar dari pintu masuk butik.
Ghifa hanya menoleh, melihat kerumunan yang mulai berkurang. Dia meneruskan langkahnya menuju lebih dalam lagi.
" Mas Ghifa kan, calonnya Mbak Sovia?" tanya seseorang.
Ghifa tersenyum" Iya saya, di mana Sovia?" tanyanya bersemangat.
Wanita di hadapannya tampak bingung matanya berair " Mbak Sovia, dia tertabrak mobil di depan tadi. Dia meninggal Mas " jawabnya terbata.
Ghifa tertegun kemudian terburu-buru berlari keluar, kemudian masuk lagi " Sepertinya dia masih di dalam, bukan dia. Dia tidak ada di luar" ucapnya setengah marah pada wanita itu.
Tak lama ponselnya berdering,
" Nak, temui bunda di rumah sakit !"
" Ada apa bunda, ?"
" Datanglah segera, kita bicarakan lagi nanti"
Tubuh Ghifa bergetar merasakan musibah telah menimpa orang tercintanya. Dengan kesadaran yang tak seberapa ia berusaha fokus dalam perjalanan. Setidaknya dia masih berharap Sovia selamat, jika dia yang celaka di jalan akan membuatnya sedih.
Matanya berair, tubuhnya lemas, lidahnya Kelu tak sanggup berkata. Saat melihat Sovia terbaring kaku di pembaringan.
Wanita itu benar, Sovia telah pergi saat ia datang menemuinya. Tubuh ramping itu tak berdaya menahan otaknya yang terbentur kerasnya aspal jalan. Dia pergi dengan kisah tragis di siang hari ini. Sovia pergi meninggalkan calon suaminya sendiri. Hari itu Sovia pergi tanpa pamit dan tak akan kembali.
Saat itulah Ghifa terperosok dalam duka dan pilu, tak kuasa menerima kisah tragis yang menimpanya. Penyesalan yang terus saja bergelayut dalam relung hatinya, berdiam menjadi keputusasaan.
Kehangatan hatinya membeku seiring berjalannya waktu, tak perduli dengan dirinya sendiri, larut dalam sepi yang begitu ia ratapi. Ghifa mengubah dirinya menjadi kaku, tak perduli dan sangat pendiam.
Jika ada bintang lain yang bisa meneranginya semoga saja dia bukan bintang yang akan pergi ketika muncul mentari.
Secuil cerita getir dua tahun lalu.
" Jangan bercanda kamu?" Nia tak percaya.
" Iya. Raba teman Amara, Ghifa mau menikahinya Bun" ucapnya dengan tenang.
***