RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
25 bukan 30



Ghifa langsung memukul pundak Ardi begitu keras, tak terima dengan ucapannya. " Sembarangan aja kalo ngomong, ya ngak lah" ucapnya.


" Ya ampun Bang, sakit. Kan aku cuma curiga" ucapnya tak terima.


Andai dia tak sedang jadi sopir, mungkin dia sudah membalas pukulan Ghifa dua kali lebih kuat dari yang ia dapatkan.


" Lagian mulutnya jahat bener kalo ngomong" kata Ghifa.


" Aku tanya sekali lagi nih, buat apa sih Bang duitnya. Dua puluh lima juta doang sampai ke Pegadaian. Kan aku bisa bantu"


Ghifa melirik Ardi, kemudian mengabaikannya ia memilih memandang padatnya kendaraan di luar jendela.


" Aku juga masih ada, tapi kurang. Ada lah, hal kecil kamu ngak perlu tau" jawab Ghifa.


Ardi menghembuskan nafas, tak berniat membahasnya lagi. Ardi tau, Ghifa tak akan sembarangan menggunakan uang lagi. Kejadian investasi yang gagal belum lama ini cukup menjadi pelajaran baginya.


Ayahnya sendiri pun tidak tau jika Ghifa telah kehilangan uang perusahaannya dalam jumlah besar, setidaknya cukup menguras keuangannya. Sosoknya yang santai bak konglomerat itu memang tak bisa di hapuskan, meski sebenarnya ia juga sedang miskin.


Sepanjang jarak dari Pegadaian hingga ke kantornya, Ghifa tak banyak bicara. Dia terlampau diam, seperti sangat berat beban dalam hidupnya.


" Ar, jangan cerita ke siapapun masalah ini, terutama pada Amara. Oh iya, kamu harus tau terlebih dahulu, aku berniat mengambil alih proyek Hunian Asri, dan aku langsung yang akan menggarapnya. " Kata Ghifa,saat baru saja masuk ke kantornya.


" Yakin Bang, bisa ?"


" Bisa. Lagian semua orang pada bubar kan, kumpulkan saja sisanya yang masih mau bekerja, katakan aku sendiri yang akan mengerjakan "


Ardi tampak berpikir, langkah keras Ghifa terkesan begitu terburu-buru. Padahal kemarin malam mengatakan jika bulat akan menolak kontrak dari Hunian Asri. Dia bahkan mengubah keputusannya begitu mendadak sekali.


" Kita butuh Distributor nya ?" kata Ardi.


Ghifa menghentikan langkahnya, dia menatap Ardi sejenak kemudian meneruskan langkahnya.


" Biar aku bicara sama Ayah" ucapnya.


Ardi membuka kan pintu, menunggu Ghifa masuk terlebih dahulu. Kemudian dia duduk menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ghifa menarik nafas dan membuangnya kasar berkali-kali.


" Aku bisa bantu, jika Abang sungkan pada om Hamdan. Minta Papa untuk merayunya, mungkin?" kata Ardi lagi.


Ghifa memejamkan matanya, memikirkan banyak hal yang jauh lebih rumit dari pekerjaannya. Dia bahkan tak lagi pusing dengan masalah perusahaan yang entahlah, dia juga tak bisa mendeskripsikan.


" Tidak perlu Ar, aku saja. Jangan ganggu Om Agus"


Ardi hanya mengangguk.


Karena Ardi tak berniat duduk menemani Ghifa, ia memutuskan keluar saja dari ruangan itu.


Ghifa merogoh Hp nya yang sempat berbunyi tadi, memeriksanya dengan teliti.


Ghifa menarik nafas, " Kamu rupanya" ucapnya.


Terimakasih...


Pesan dari nomor Raba.


Ghifa meletakan lagi benda itu di meja. Ghifa sangat pusing hari ini, masalah memang banyak tetapi kepalanya ini sangat berbeda. Memejamkan mata dan terlelap dengan posisi duduknya.


***


Raba baru saja sampai dari tempat nya mengajar les, tepat pukul tujuh malam. Ia merebahkan sejenak badannya di ranjang, memejamkan matanya yang begitu berat. Lelah yang telah berkelanjutan ini tak pernah berkurang sedikit pun dari hari ke hari.


Jika Raba tak menghabiskan waktunya dengan mengajar, dari mana penghasilan tambahan dari gaji honorer nya. Memang lelah tiada henti, tetapi ia tetap semangat menjalani.


Tiba-tiba ia teringat dengan masalah uang yang harus di bicarakan dengan Ghifa. Raba mencari Hp nya di tas. Sedikit tergesa karena tak kunjung menemukan benda itu.


Raba duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menggulir layar canggih itu mencari nomor Ghifa.


" Telpon aja kali, mana sempat dia membaca pesan " kata Raba bergumam.


Raba beranjak dari sana, berniat mandi sebelum benar-benar tertidur. Tiba-tiba bunyi dering Hp nya terdengar.


Mas Ghifa memanggil.....


Raba kembali duduk.


" Kamu telpon saya?"


" Iya, kenapa jumlahnya berbeda?"


" Beda, aku lupa"


" Aku hanya minta dua puluh lima, yang di kirim tiga puluh"


" Oh itu, ya itu, em anggap saja itu uang tambahan agar kamu bisa rajin nyicil"


" Hah, aneh. Yang ada makin banyak cicilan aku. Jangan maksa balikin ya awas aja"


" Terserah kamu saja. "


Terdengar bunyi Tut.....Tut....


Dari seberang telepon Raba. Dia bahkan belum selesai bicara dengannya. Dia mendesah dan melempar Hp nya begitu saja ke tengah ranjang.


" Apa sih, ngak jelas" ucap Raba.


Raba melanjutkan langkahnya pergi mandi, sebelum malam semakin berlarut.


***


Hamdan duduk santai di depan televisi seperti biasanya. Malam ini kembali sepi, karena Amara sudah kembali ke pondoknya. Sedangkan istrinya sedang sibuk di dapur entah sedang apa dia.


Hamdan melirik putranya yang berjalan dengan lesu, langkahnya sempoyongan dan tiba-tiba saja ambruk di sofa dekat Hamdan. Kontan saja ayahnya itu memeriksa apa yang sedang terjadi.


Tangannya terulur hendak membangunkan Ghifa, tanpa sengaja menyentuh keningnya.


" Ya Allah, Bun.... Bunda. Ghifa demam " teriaknya menghampiri istrinya.


" Demam, dia dimana?" Nia berjalan mengikuti suaminya yang terlihat sangat panik.


Wajah yang tak berubah sejak dulu, ketika mengetahui anak-anak nya demam. Pria paruh baya itu terlihat lebih khawatir dari pada sang Bunda yang tampak lebih tenang.


Nia menyentuh kening putranya, " Nak, minum obat saja. Lalu istirahat, Bunda bantu" ucapnya sembari membangunkan Ghifa dari telentang nya.


Ghifa menurut, berjalan pelan pindah ke kamarnya. Kepalanya sangat berat sejak di kantor tadi, malah semakin menjadi saat mengemudi. Untung saja tidak celaka di jalan.


" Gimana Bun, apa perlu ke Rumah sakit?" tanya Hamdan dengan cemas.


" Kamu ini kenapa sih Mas, dia itu cuma demam. Setelah minum obat dan tidur dia akan sembuh. Kebiasaan, khawatir nya berlebihan " omel Nia.


Hamdan menarik nafas lega, sejak dulu dia tak pernah bisa tenang jika Ghifa sakit, Kemudian tersenyum pada istirnya yang tampak merengut itu.


" Namanya juga kebiasaan Bun, besok-besok tidak kok. Ok ya" jawab Hamdan berkilah.


Nia bergegas mengambilkan air putih dan obat untuk Ghifa. Meninggalkan suaminya yang masih terdiam karena menyadari sikapnya yang tak bisa berubah seperti yang di katakan istrinya.


Hamdan mengekori istrinya ke dapur, mencari apa yang sedang ia buat di dapur tadi. Hamdan tersenyum kala melihat secangkir teh hangat lemon tersaji di meja makan. Minuman kesukaannya buatan sang istri.


" Untuk Ghifa, Mas buat aja sendiri " kata Nia ketika melihat suaminya itu menyentuh cangkir itu.


Hamdan sampai terkejut dengan suara Nia yang sedikit meninggi.


" Ya ampun Bun, sampai kaget." Hamdan mengelus dadanya sambil beristigfar." Iya, iya buat sendiri" Hamdan meletakan kembali cangkir yang masih hangat itu.


***