
Ghifa tiba-tiba merinding geli saat mengingat dirinya memberi kecupan virtual pada Raba. Demi menolak Zahra gadis baik hati dan terlihat lugu itu, Ghifa melepas urat malunya pada Raba.
" Gadis keras kepala sepertinya pasti hanya menganggap ku gila, tak masalah, tidak terlalu penting. " gumamnya, menyemangati dirinya sendiri.
Ghifa kembali ke kantornya setelah drama makan siang tadi. Tidak ada hal yang berarti, dia malah sedang asik memutar-putar pena di ujung jarinya. Berkali-kali melihat Hp, sekiranya ada balasan dari Raba atau tidak.
Pintu terbuka, bahkan ketukannya tak begitu terdengar. " Ada apa ?" Tanya Ghifa ketus pada Ardi.
" Bang gimana, udah ketemu Om Hamdan?" ucapnya tak sabaran.
Ghifa meletakan penanya, menghembuskan nafasnya begitu kasar.
" Kayaknya kalah lagi sama Om Rizal. Tapi Ayah tadi kasih aku proyek kecil sih, kalau kita kalah tender. Semuanya udah ku kasih, proposal, dan sebagainya pada Ayah. Tapi yah itu nggak yakin kalau dia melihatnya. Sudah lah, kita tunggu saja hasilnya" ucap Ghifa kesal.
Bukan putus asa, tetapi dia tau kapasitasnya sendiri, berdiri sendiri saja sudah sangat susah apa lagi melawan om Rizal kontraktor handal di perusahaan ayahnya.
" Yah.... Abang kan harus tebus mobil, gaji aku, dan karyawan lainnya " Ucap Ardi setengah menangis di buat-buat.
Ghifa melempar pena pada dada Ardi, " Ku buang saja kamu, keliatan terpaksa untuk apa. Sana pergi" ucap Ghifa kesal.
Ardi tertawa, melihat Ghifa yang bisa marah seperti ini pertanda semangat kerjanya sudah kembali, " Jahat sekali anda tuan Bos, maaf saya tahu salah " jawab Ardi sengaja di buat-buat.
Tak lama, tawa keduanya menguar memenuhi ruangan itu. Ardi tau Ghifa tak akan sungguhan mengatakan itu. Jangankan mengusirnya pergi, mengundurkan diri saja tidak akan ia terima.
" Jadi, kalau kita gagal di Hunian Asri masih ada tempat lain untuk cari rezeki kan Bang ?" tanya Ardi dengan serius.
" Sepertinya ada, Ayah tidak jelaskan secara rinci sih. Tapi ada lah, percaya saja, aku juga akan berusaha lebih keras mencari di tempat lain. Jangan khawatir" Ghifa menepuk pundak Ardi yang di seberang kursinya.
" Akan ku bantu sekuat tenaga, jangan sedih ya Bang" ucap Ardi menyentuh balik tangan Ghifa di pundaknya.
Ghifa menarik dengan kasar tangannya, tak menyukai perlakuan Ardi yang berlebihan. " Apaan sih, sok pinter" ucapnya tak terima.
" Bang, aku pulang cepat hari ini ya, mau kencan sama ayang" Ucap Ardi tiba-tiba.
Ghifa langsung mendelik, " Terserah".
Ardi keluar dari sana dengan santainya, merasa tak ada salah telah membuat Bosnya kesal. Ghifa hanya menggeleng menatap Ardi dari kursinya.
Ghifa melirik kembali Hpnya yang layarnya terus menggelap sejak tadi. Malas mengambilnya, Ghifa memilih berkemas dia juga akan pulang lebih awal dari pada Ardi.
***
Hamdan asik membaca buku, sedangkan istrinya tak berhenti memainkan bunga-bunga yang baru saja ia beli. Nia bahkan tak henti-hentinya bergumam kecil, sembari menata pot-pot di taman pribadinya ini.
" Yah, tadi sengaja bareng sama Ghifa?" Nia mendekati suaminya, meletakan pot mawar di meja.
" Tidak, dia memang ada di kantor tadi " Jawabnya tak mengalihkan pandangannya dari buku.
Nia hanya mengangguk,
" Bunda tadi sengaja ?" Kata Hamdan, ia meletakan bukunya di meja pula.
" Tidak, kebetulan sekali, tetapi Bunda masih berniat menjodohkannya "
Hamdan menyentuh punggung tangan istrinya, " Sabar ya Bun, jangan terlalu memaksa. Mungkin putramu itu masih sangat terluka, kita hanya bisa bersabar lagi agar dia tetap baik-baik saja, jangan terlalu memaksa. "
" Mas, sudah dua tahun. Usia Ghifa itu sudah berapa sekarang, setidaknya ia harus punya teman hidup kan, meski masih terluka. Dibiarkan seperti ini terus bisa-bisa dia tua sendirian. " ucap Nia menahan rasa kesal dan sedihnya.
Hamdan tak menjawab lagi, ia membiarkan istrinya itu meluapkan semua yang mengganjal di hatinya. Jika di lihat-lihat, apa yang di lakukan oleh istinya memang tidak salah, tetapi Hamdan juga tidak bisa terus-terusan menasehati Ghifa, dia sudah sangat dewasa.
Ketika hari mulai menggelap, kedua pasangan itu beranjak dari taman kecilnya. Hamdan menggandeng Nia, dia tau istrinya akhir-akhir ini sedang banyak sekali pikiran.
Mereka sampai di rung tengah, bersamaan Ghifa yang baru saja pulang. Wajahnya begitu kusut, tetapi masih terlihat tampan. Tangannya menenteng Jas hitamnya, ia juga menyapa ayah dan bundanya.
" Tumben, ada janji pulang cepet ?" tanya Nia.
Ghifa melempar tubuh lelahnya di sofa, " Nggak ada sih, " jawabnya pelan.
Hamdan berlalu terlebih dahulu, sedangkan Nia mendekat pada putranya.
" Ghi, Ustadzah yang tadi telfon Bunda. Dia bilang kamu anak baik, tetapi Zahra tak menyukaimu" Kata Nia begitu berhati-hati.
Ghifa kontan menegakkan tubuhnya, tak menyangka secepat itu keputusan itu di ambil gadis manis dan anggun tadi. Ghifa tersenyum, merasa berhasil.
" Ya Allah Ghi, malah senyum. Bunda temui istrinya walikota ya, kemarin anaknya juga naksir kamu. Tapi kayaknya masih muda tapi ndak papa, Bunda coba ya" ucap Nia menyemangati putranya.
Ghifa menatap bundanya, entah mengapa sejak ia di tinggal Sovia pergi, ia selalu seperti ini cemas anaknya akan sendirian. Di samping rasa kesalnya, Ghifa juga menyadari kekhawatiran yang begitu besar dari sang bunda.
" Bun, Ghifa sudah lihat anak Pak walikota di kapan hari, dia gadis manis dan lucu. Kalau menurut Ghifa, dia kurang cocok dengan Ghifa yang hampir tua ini. Tidak perlu ya," Ghifa memeluk bundanya.
" Gimana ini Nak, anak walikota kamu ndak mau, sama Zahrah, dia yang ndak mau. Kemarin ngakunya pengen nikahi Raba, ternyata sudah di tolak juga. Bunda ini sedih Ghifa.... "
Nia terlihat sangat frustasi, Ghifa sampai tak tega melihat bundanya yang seperti ini. Mau tak mau, ia hanya bisa menghiburnya saat ini.
Dalam hati Ghifa berkata, Raba hari ini memang resmi bekerja.
" Bun, Ghifa coba kejar Raba lagi deh, siapa tau dia masih mau sama Ghifa. Ghifa nggak tua-tua banget kan untuk Raba, cocok kan ya ?" katanya, sembari memasang wajah super percaya dirinya.
Nia tersenyum, " Kamu pikir, Raba ndak ada pacar. Kalau ndak ada pacar pasti ndak nolak kamu kan Nak, kamu tidak tanyakan alasan dia menolak?"
Ghifa terdiam, dia melupakan poin ini. Bagaimana jika Raba memiliki pacar, dan dia terpaksa menekan perjanjian dengannya di belakang pacarnya, ah bagaimanapun Ghifa tak ingin merusak hubungan orang.
" Kamu lupa tanya alasannya?" kata Nia lagi.
Ghifa diam saja, tidak hanya lupa ia bahkan tidak kepikiran ke arah sana. Tetapi Raba sudah menyetujui menikah dengannya, meskipun hanya kontrak.
" Apapun Bun, Ghifa bisa kok kejar Raba lagi " ucapnya begitu saja, tak sempat memikirkan alasan lain.
***