RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Kita Makan Dulu



Setelah berbincang banyak dengan bundanya, Ghifa berpikir sejenak sembari menikmati guyuran shower. Apa pun, menikahi Raba adalah jalan terbaik untuk saat ini. Lagi pula kontrak sudah di tanda tangani, masalah pacar dan kekasih gadis keras kepala itu di luar urusannya, Ghifa tak perduli.


Ghifa keluar dari kamar mandi, sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia melirik jam di Hpnya, belum terlalu malam, menurutnya. Ghifa mencoba mengirimkan pesan untuk Raba.


" Lagi pula, kamu itu pegawai ku" gumamnya saat teringat, mungkin saja dia belum pulang kerja.


Ghifa melanjutkan kegiatannya, mula-mula ia merapihkan rambut setengah basahnya. Berdiri sambil bernyanyi kecil di depan kaca. Sesekali ia memeriksa jambang dan kumisnya. Saat mandi tadi, ia lupa mencukurnya.


" Tidak masalah, masih tetap Ok" ucapnya.


Ghifa mengganti handuknya dengan celana panjang santai, lagi pula Raba belum membalas pesannya. Ghifa duduk di pinggir ranjang, dengan membiarkan dadanya bertelanjang. Memainkan Hp yang masih saja sepi tidak ada notifikasi.


Selang beberapa menit, profil Raba muncul di layarnya. Dia membalas pesannya.


Katakan saja tempatnya.


Ghifa tersenyum, kemudian ia membagi lokasi yang akan jadi tempat pertemuan kali ini.


Ghifa beranjak dari sana, menghampiri lemari besar tempat baju-bajunya. Setidaknya ia menutup dadanya itu dengan kaos atau, ah ternyata ia mengganti celananya juga.


Tampilannya santai tetapi masih terlihat rapi di hari kerja, meskipun tergolong sudah selesai jam kerja. Tak masalah, gadis keras kepala itu pasti akan menemuinya masih dengan seragam kerjanya, kalau tidak batik ya warna coklat tua.


Ghifa tersenyum, mematut wajahnya yang entah mengapa menurutnya itu sangat tampan. Bahkan Sovia juga sangat menyukainya. Selesai bersiap, Ghifa keluar dari kamarnya. Melenggang menemui si hitam mengkilap, yang sayangnya sedang masa pegadaian.


Mobil itu melesat, hanya meninggalkan klakson pada pak Man, keamanan di rumahnya.


Nia yang tak sengaja melihat dari balkon kamarnya berkata," Katanya ndak ada janji " ia menggeleng dengan senyum kecil.


***


Raba baru saja menyelesaikan les terakhir hari ini, entah mengapa muridnya ini meminta jam tambah, di hari Senin seperti ini. Biasanya hanya satu jam, mungkin karena dia ingin menguasai materi lebih detail lagi. Jadilah jam tujuh ia baru keluar dari rumah itu.


Raba mengurungkan niatnya pulang, karena Ghifa mengajaknya bertemu. Raba bersabar sedikit menunggu balasan dari Ghifa sembari mondar mandir kecil. Dan tak lama, Raba tersenyum saat alamatnya tak jauh dari ia berdiri sekarang.


Raba melihat wajahnya di layar Hpnya, kusam sudah pasti, tetapi masih tertolong dengan warna bibir yang masih sedikit segar. Raba tak perduli, dia memang baru selesai bekerja.


Ojek online pesannya sudah tiba, ia segera meluncur ke tempat Ghifa menunggu. Raba menebaknya, jika pria itu pasti pulang kerja juga, kemungkinan tidak akan lama ngobrolnya nanti.


" Makasih ya Mas..." ucap Raba, sembari mengembalikan helm.


" Sama-sama Mbak" jawabnya.


Raba menarik nafas, menghembuskan begitu perlahan, ia merapihkan seragam yang ia tutupi dengan cardigan, tak lupa merapihkan pula rambutnya yang tergerai.


" Duh, ngak pas banget sama penampilan lusuh ku ini, di tempat sebagus ini lagi" gerutu Raba, di depan Cafe besar dan mewah.


Dengan ragu Raba melangkahkan kakinya, sepatu hitamnya masih terlihat bersih tanpa debu, sekali lagi Raba melihat jam tangannya, kalau-kalau terlambat. Dia celingukan mencari sosok Ghifa.


" Mbak Rabania, kan?" tanya seseorang.


Raba menengok, " Ah, iya saya. " jawabnya sedikit terkejut.


" Pak Ghifa ada di sana, apa perlu saya bantu" ucapnya, sembari menunjuk Ghifa di sebuah meja pojok sekali dekat dengan sebuah tangga.


Ghifa menghela nafas, " Saya kesana sendiri saja" jawab Raba dan tersenyum padanya.


Raba meneruskan langkahnya, dia menatap Ghifa yang membelakanginya, dia tampak rapih dari belakang sangat terbalik dengan dirinya yang masih kusut.


" Aku juga baru sampai " kata Ghifa.


Ghifa menyodorkan menu, dan Raba segera membukanya, kebetulan sekali ia belum makan. Raba melirik Ghifa sebentar, kemudian mengatakan, " Aku lapar, kita makan saja ya "


Ghifa mengerutkan kening, cara Raba mengatakan itu seperti minta Izin tetapi juga menawarkan, wajahnya sangat datar dan terus terang.


" Boleh, samakan saja " Jawab Ghifa singkat.


Keduanya kembali terdiam, menunggu saling bicara. Raba masih asik meneliti parah Ghifa yang begitu segar dan wangi, ya parfum sampai jelas tercium oleh hidungnya. Aroma segar dan sangat ciri Khas.


" Kamu baru pulang?" ucap Ghifa tiba-tiba.


Raba sedikit terperanjat, melihat Ghifa tiba-tiba menatapnya. " Iya, seperti yang kamu lihat " ia seolah menunjukan seragam kerjanya yang masih melekat.


Ghifa diam lagi, terlihat bingung untuk mengawali pembicaraannya. Raba tersenyum samar, melihat Ghifa dengan wajah bingungnya.


" Jadi, apa yang perlu di bahas " tanya Raba begitu saja.


" Apa kamu punya pacar?"


Raba tertawa kecil, " Memangnya kenapa ?" katanya, balik bertanya.


Mengapa baru sekarang dia menanyakannya, padahal dari awal dia kekeh mengajaknya menikah, dalam hati Raba berkata.


" Ini sebuah pertanyaan, jawab saja" kata Ghifa datar.


Raba tak langsung menjawab, menunggu Ghifa yang tampaknya masih ingin berpendapat.


" Sudah lah terserah, punya atau tidak yang penting kamu haru fokus bantu saya. Bunda sangat ingin aku menikah, "


" Menikah saja kita, kita sudah bicarakan kapan hari kan?" jawab Raba enteng, " Lagi pula, aku sudah di bayar" katanya lagi dengan pelan.


Ghifa terdiam dengan pandangannya tajam pada Raba, " Kamu yakin tidak menyesal, aku tidak keberatan dengan status duda setelah ini. "


Raba menatap Ghifa dengan kesal, " Aku juga sudah rela jadi janda setelah ini, asal jangan lakukan apapun pada ku"


" Hah, apa maksudmu. Aku juga tidak berpikir ke sana sedikit pun, hanya saja jika kita tak bisa bercerai begitu saja bagaimana ?" ucap Ghifa sedikit mengecilkan suaranya.


Raba ikut terdiam, memikirkan yang baru saja di ucapkan oleh Ghifa. Masalah janda dan duda memang tak jadi masalah, tetapi jika tak memiliki kesempatan untuk bercerai, mereka harus bagaimana.


Raba tau Ghifa masih sangat mencintai Sovia, dan itu tak kan berubah. Sedangkan ia juga sedang mencintai pria idaman yang selalu ada untuknya.


Apa yang terjadi setelah pernikahan akal-akalan ini. Ah, Raba jadi bingung, apalagi uang Ghifa yang sudah ia gunakan, mengembalikannya saat ini tidak akan mungkin.


" Aku tidak punya solusi lain" Kata Raba.


Sedangkan Ghifa juga diam saja, dia bahkan hanya mengetuk kan telunjuknya di meja. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan.


" Kita pikirkan nanti saja, setelah makan mungkin ada jalan keluarnya" ucap Ghifa saat melihat pramusaji datang mendekati mejanya.


Raba ikut menoleh, melihat pesanannya datang begitu menggoda. Sementara fokusnya bergeser pada makanan enak di depan matanya.


" Baiklah kita makan dulu" ucap Raba bersemangat, pada Ghifa.


***