RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Payung Merah Jambu



Ghifa sudah bersiap dengan rapi, mengikuti sarapan pagi yang jarang sekali ia lakukan. Saat membuka matanya Ghifa mendapat balasan pesan dari adiknya. Dia mengatakan akan bertemu pagi-pagi sekitar jam delapan pagi. Meski di luar nampak rintik hujan perlahan turun, dia tetap akan pergi.


Karena tak mau kehilangan kesempatan untuk menemui Raba, ia memutuskan menunggunya di depan rumah seperti kemarin malam. Setidaknya dia harus tiba satu jam lebih awal dari keberangkatannya.


" Tumben bangun pagi, ada acara Mas?" tanya bunda Nia.


Weekend seperti ini Ghifa akan bangun siang biasanya, lihat kali ini sedikit berbeda.


" Oh, pergi sama Ardi "


Tak lagi banyak hal yang di bicarakan, sarapan pagi itu terlalui dengan begitu saja. Ghifa bahkan terlihat tergesa menyelesaikannya.


Mobil hitam mengkilat buatan Jepang itu merayap ke tengah jalan. Ghifa sungguh membulatkan tekadnya untuk menemui Raba terlebih dahulu sebelum ia bertemu dengan Amara. Sepanjang jalan tak hentinya ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Takut tak sampai di sana pada waktu yang tepat.


" Jangan sampai terlewat " ucap Ghifa pada dirinya sendiri.


***


Pagi itu Raba telah bersiap menemui Amara, sahabatnya itu telah menghubunginya malam tadi. Satu bulan tak bertemu rindu mereka semakin berkarat membungkus hati. Raba bahkan tak mengurangi semangatnya padahal meski hujan terus mengguyur bumi sejak tadi.


Langkahnya sedikit tergesa tanpa ragu membelah gerimis, membiarkan rambut hitam tergerai itu basah. Raba terhenti saat melihat sosok Ghifa yang berdiri di depan gerbang rumahnya seperti malam kemarin.


Raba menarik nafas dengan sebal, menatap laki-laki berpayung dengan sepatu putih yang di biarkan basah terkena genangan hujan. Matanya tajam menatap ke arahnya, Raba berpaling tak mau perduli.


Ghifa mengikuti langkah kecil Raba, tanpa kata dan menyapa. Raba tak menghentikan langkahnya, tak di sangka Ghifa dengan cepat menarik tangannya. Raba terhenti mendadak dan menabrak langkah Ghifa yang tak mau berhenti.


" Kenapa sih, ?" Raba menarik pergelangan tangan yang terlalu kecil di genggaman Ghifa.


" Saya antar, " ucapnya sembari berusaha berbagi payung dengan Raba.


Raba tampak tak suka, " Saya bisa sendiri" berusaha keluar dari bawah payung Ghifa.


Raba meneruskan langkahnya dengan Ghifa yang juga mengikutinya.


" Bertemu Amara kan?" tanya Ghifa.


Raba berhenti " Kenapa, Mas takut aku mengadu pada Amara?"


" Tidak. Ini hujan, lebih baik kamu ikut saya, tujuan kita sama " ucap Ghifa datar saja.


Raba menatap wajah Ghifa sebal, ingin sekali menolak tetapi gerimis semakin besar buliran nya. Begitu terasa membasahi bajunya. Tidak ada pilihan.


Raba diam saja, dan berputar menuju pintu mobil Ghifa. Dengan cepat Ghifa membuka pintu, mempersilahkan Raba masuk. Membiarkan ia duduk dengan tatapan tajamnya.


" Katakan apa maksud mu, menunggu ku di tengah hujan seperti ini " ucap Raba.


Ghifa hanya menoleh, dia bersiap melajukan mobilnya. Membiarkan gadis itu menumpuk rasa kesal dan penasarannya.


Mobil itu bergerak menelusuri jalanan yang tergenang air, Minggu ini semakin syahdu berlibur dan bermalas-malasan. Raba sudah berkali-kali berdecak malas karena kebisuan Ghifa. Mengajaknya tanpa alasan dan membuatnya kebingungan. Kalau saja tidak karena hujan mana mungkin ia mau semobil dengannya.


" Kalian, kenapa janjian di sini?" tanya Ghifa, saat berhenti di pinggiran jalan tak jauh dari taman kota.


Raba enggan menjawab, ia bersiap turun dan mencari Amara.


Raba melotot merasa terkejut dengan sikap Ghifa yang ternyata semaunya. " Lepas, cuman gerimis ini. Aku mau turun" ucapnya ketus.


Ghifa melepaskan tangannya, Raba bergegas keluar dari mobil dan meninggalkan Ghifa. Berlari kecil mencari keberadaan Amara. Karena hujan Amara pasti berpindah di tempat yang teduh.


Tak lama sosok cantik tinggi anggun dan ramah itu melambaikan tangan, di bawah payung merah jambu di bawah pohon besar. Raba berlari kecil mendekati Amara.


" Sudah lama?" tanya Raba.


" Baru saja, loh kok ada Mas Ghifa?" Amara terkejut melihat kakaknya itu berjalan santai mengikuti Raba.


Raba hanya mengedikkan bahu pada Amara tak mau memberi tahu. Matanya beralih pada Ghifa yang berhenti di hadapannya.


" Kalau hujan gini, jangan berdiri di bawah pohon. Ranting akan jatuh, bahaya " ucap Ghifa tanpa menjelaskan kedatangannya.


Amara menukar payung yang di bawa Ghifa dengan miliknya, " Mas ih, pakai yang ini. Kasihan Raba " ucapnya sembari menggandeng Raba.


Mereka berjalan mendahului Ghifa dengan payung merah jambu yang lebih kecil dari payungnya tadi. Ghifa hanya menatap payung itu sebal.


Raba menahan tawanya ketika menoleh kebelakang melihat Ghifa dengan wajah kesalnya. Setengah mati agar tak meledak begitu saja di depan Amara. Hujan yang tak begitu deras cukup menjatuhkan keangkuhan sosok Ghifa yang membuatnya kesal hari ini.


" Kita tidak bisa duduk di taman, hujan seperti ini, apa perlu ke suatu tempat Ra " Amara menghentikan langkahnya.


Raba tampak berpikir, mencoba mencari solusi. " Kita tunggu lima menit, sepertinya akan reda " Raba mengulurkan tangannya merasakan titik hujan yang tak lagi begitu terasa.


Kebiasaan mereka menghabiskan waktu dengan cara duduk santai saling bercerita di taman adalah kegiatan yang sederhana yang mereka jadwalkan dengan rutin.


" Berdiri di sini, seperti ini?" tanya Amara.


Raba melihat kursi taman yang basah kuyup akibat hujan, " Sepertinya buruk, " Raba menggeleng tak setuju dengan sarannya sendiri. Keduanya kompak tertawa.


" Lima menit ya Ra, habis itu kita putuskan lagi, dan pilih tempat pengganti " sela Amara di tengah tawa mereka.


Ghifa yang tak jauh dari keduanya berdiri merasa kesal dengan tingkah gadis yang tak jelas dan sangat membuang waktu. Ghifa merasa terpanggil untuk menegur dan meluruskan sesuatu.


Ghifa berdiri tegap di hadapan Amara dan Raba, memandanginya dengan begitu kesal " Kalian ngapain sih, ngak ada guna, " ucapnya setengah berteriak.


Amara kontan melotot tak terima dan terkejut melihat Ghifa yang berkacak pinggang di hadapannya.


" Mas kenapa ngikutin kita, minggir dong, jangan marah-marah ngak jelas gitu " Amara tampak bertanya pada Raba, karena kakaknya ini datang bersamanya.


Ghifa menarik nafas beratnya, mengeluarkan dengan sangat kasar seperti orang frustasi. " Ini hujan Amara, kamu bisa pilih tempat untuk saling bercerita, kan?Jangan hujan-hujanan. "


Raba dan Amara saling menatap. Tak menyangka jika Ghifa mengikutinya dan tampak kesal. Amara menggeleng, merasa aneh dengan sikap kakaknya yang cukup aneh dan tak seperti biasanya.


" Mas, ini sudah reda. Kita tak perlu hujan-hujanan ok. Dan, pergilah aku tidak suka jika Mas tetap di sini " Amara mendorong pelan Ghifa, agar sedikit menyingkir dari hadapan Raba.


Raba diam saja melihat perdebatan kecil itu terjadi di depan matanya. Seperti biasanya aura Ghifa yang menjengkelkan itu semakin membuat Raba kesal.


" Aku ada perlu dengan Raba "


***