RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Satu Kebohongan



Raba membuka pagar, setelah memastikan mobil Ghifa melaju. Dia tersenyum kala menutup pintu pagar, rupanya ia belum bisa lupa pada wajah Ghifa yang heran dengan cara ia makan. Selama ini Raba sendiri tak pernah di tanya alasannya, oleh siapa pun, sedangkan Ghifa sangat terus terang bertanya kepadanya.


Raba menutup pintu kamarnya, setelah memeriksa neneknya yang sudah tertidur, sedangkan kakek masih menonton televisi. Tubuhnya ambruk begitu saja di tengah ranjang, rasa lelah yang sudah bergelayut di pundaknya, semakin menjadi saat kasur empuk di depan matanya.


Raba menatap jam di pergelangan tangannya, bentuknya yang sangat kecil, tetapi tak lelah mengingatkan waktu kepadanya, Raba tersenyum, " Pulang semalam ini, gara-gara ngobrolin hal gak jelas sama Mas Ghifa. Aneh sekali" gumamnya.


Bukan tak menyadari segalanya, perkara ajakan menikah yang terlalu iseng, terlalu kentara jika Ghifa masih sangat mencintai Sovia. Ghifa bukan orang bodoh yang tak mengerti arti pernikahan, jelas Raba tau itu. Berhubung keadaan juga sibuk menghimpitnya, Raba tergoda mengikuti kegilaan Ghifa yang ah sungguh tak masuk akal.


Langit-langit kamarnya sudah tak lagi menarik, Raba beranjak dengan sekuat tenaga, mengusir rasa malas yang terus saja bergelayut di sekujur tubuhnya.


Gadis hampir berusia dua puluh tiga tahun itu menikmati guyuran shower, meski malam akan semakin larut ia tetap membasahi rambutnya. Dia terbiasa dengan itu, seharian berkeringat membuat gatal dan bau mengganggu kepalanya.


Tak perlu lama, ia menuntaskan mandinya. Beralih duduk di meja rias sambil bermain Hp. Setidaknya, ia harus membalas satu pesan penting dari seseorang. Bibirnya terangkat membentuk lengkungan dan lesung di ujungnya, ketika mendapati pujaan hatinya mengirim gambar hati di ujung pesannya.


Rambutnya sudah kering, rangkaian scincare ala kadarnya sudah ia pakai, Raba bersiap tidur. Merebahkan tubuhnya yang sudah wangi, bekerja seharian sungguh membuatnya sangat lelah, tak bisa jika di teruskan terjaga.


Belum sampai tertidur Raba kembali teringat ucapan Ghifa, masalah Amara. Apa yang harus di katakan padanya, apa lagi sebelumnya tak ada sedikitpun ketertarikan pada kakak sahabatnya itu dari awal. Raba tak ingin pusing memikirkannya, malam sudah semakin larut, ia harus tidur sekarang juga.


***


Ghifa keluar dari mobilnya, ia juga menyempatkan diri menyapa pak Man, sopir ayahnya. " Ayah ada kerjaan Pak ?" kata Ghifa.


" Iya Mas, tapi sebentar."


Ghifa mengangguk, ia duduk di kap mobil menunggu pak Man merapihkan posisi mobilnya.


" Pak Man bawa motor?" tanya Ghifa saat sopir ayahnya itu turun dari mobil.


" Bawa Mas, " dia menunjuk motor di pojokan garasi.


Ghifa mengikuti arah telunjuk pak Man, kemudian tersenyum, " O " ucapnya. " Oh iya, sini biar Ghifa yang bawa kuncinya, Pak Man langsung balik aja ngak papa" kata Ghifa lagi.


Sang sopir tersenyum, mengulurkan kunci mobil yang di pegang nya," Terima kasih ya Mas, kalau begitu saya pulang dulu" katanya.


Ghifa mengangguk, menunggu Pak Man keluar dari garasi, baru ia masuk ke dalam rumah.


Ketika sampai di ruang tengah, Ghifa terkejut melihat ayah dan bundanya berdiri seperti sedang menunggunya. Ghifa tak ingin banyak tanya, kalau bisa ia segera menghilang dari tatapan mereka.


Wajah ayahnya begitu tajam, seolah akan menguliti dirinya. Begitu juga dengan bundanya yang tak biasanya terlihat cemas kepadanya.


" Yah, Bun, ada apa ?"


Hamdan berlalu begitu saja, dia tak sedikitpun menoleh pada Ghifa. Sedangkan Nia, sedikit mengusap air matanya. Ghifa mendekat, memeriksa sang bunda yang terlihat tak baik-baik saja.


" Ghifa, segeralah menikah dengan Raba, Bunda tidak mau Ayahmu itu menjodohkan kamu dengan putri koleganya. " Katanya mengusap air matanya.


Ghifa tak bisa menyerap apa saja yang sedang terjadi, " Kolega, siapa ?" tanya Ghifa penasaran.


Nia duduk di sofa, begitu juga dengan Ghifa yang mengikutinya, " Dengarkan Bunda ! Apa pun yang terjadi segera nikahi Raba, Ayahmu baru saja menerima lamaran dari temannya, Ayahmu tidak bisa menolak niat baiknya, dengan alasan ada banyak jasa yang tak bisa ia tebus."


Ghifa tau, sosok wanita masa lalu, yang banyak membuat bundanya cemburu. Meski tak menyimpan rasa benci, tetapi Nia tentu memilih tidak berhubungan dekat dengannya.


" Iya, "


" Kan Ghifa ngak mau "


Ghifa semakin marah, karena melihat bundanya menangis. Jelas saja pasti ayahnya tadi berdebat dengan bundanya. Ghifa segera menemui ayahnya di kamarnya. Dengan tergesa ia mengetuk pintu kamar itu dengan sedikit tak sabaran.


Ghifa sempat menunggu, hingga ayahnya membuka pintu. Wajahnya sama datarnya dengan Ghifa, dia berdiri menunggu Ghifa berbicara terlebih dahulu.


" Yah, Ghifa tidak mau" ucapnya begitu saja.


" Kamu mau proyek kan, nikahi saja anak Dito. Kebetulan putrinya itu sangat menyukaimu, nanti Ayah minta sendiri proyek itu dari Om Rizal" kata Hamdan datar.


Ghifa berdecak, " Yah, aku ngak mau nikah sama dia. Lagian, proyek itu juga belum tentu jatuh ke Om Rizal" ucapnya tak terima.


Hamdan menatap Ghifa tajam, seolah tak menyukai perkataan putranya, " Jangan berharap kamu, kamu pikir proyek sebesar itu bisa kamu tangani dengan perusahaan bangkrut mu itu. " kata Hamdan meninggikan suaranya.


Ghifa tersentak, dengan ucapan ayahnya. Tak di sangka jika selama ini ayahnya hanya pura-pura tidak tau. Tangan Ghifa mengepal sempurna, dia sangat tidak menyukai kenyataan ini. Ghifa sangat tak terima jika harus menikah demi proyek, ini sangat melukai perasaanya.


" Alangkah lebih baik jika kamu bisa menerimanya, karena ayah sama sekali tidak bisa menolaknya" tegas Hamdan.


Ghifa tak ingin kalah dari ayahnya, jika ia menerima pernikahan ini itu artinya ia menyerah dari kesulitannya.


Hamdan berbalik, hendak masuk ke dalam kamarnya. " Tidak bisa Yah, karena aku sudah melakukan sesuatu pada Raba. Aku harus menikahinya" ucap Ghifa tiba-tiba.


Hamdan menghentikan langkahnya, menatap Ghifa dengan sangat tajam, matanya bahkan seolah akan menebas leher Ghifa.


Dengan bibir yang bergetar Ghifa dengan jelas mengulangi, " Aku telah melakukannya bersama Raba, apa aku boleh tidak bertanggung jawab padanya?" katanya.


" Jangan bohong" Bentak Hamdan.


" Itu mengapa aku di pukul dengan kayu oleh kakeknya Raba, jika bukan meniduri cucunya" ucapnya setengah berteriak.


Ghifa tak bisa berpikir lebih jauh lagi, dia sungguh tak ingin menikahi orang lain lagi. Apa lagi dengan banyak hal yang menjadi tujuannya, Ghifa seakan mengatakan semuanya demi hidupnya, dia berulang kali mengucapkan kata maaf pada Raba, dalam hati atas kebohongannya.


Plak...


Akhirnya, Hamdan tak kuasa mendengar pengakuan Ghifa yang sangat memalukan. Dengan penuh rasa amarahnya, Hamdan kembali mengangkat tangannya,


" Ayah jangan Ayah...." ucap Nia tergopoh memeluk Ghifa.


Air mata Nia juga bercucuran, tak menyangka jika Ghifa telah melangkah terlalu jauh. Dia juga tak percaya jika putranya ini bisa membohonginya.


***