
Setelah kejadian di malam hari, Ghifa dan Raba sepakat melanjutkan pernikahannya. Hanya saja Raba menyerah, dengan kesepakatan merahasiakan semuanya dari Amara. Raba sangat pusing jika tidak bercerita dengan sahabatnya, berbohong pada kakek dan neneknya saja sudah membuatnya sangat menderita.
Bagaimana tidak, kakeknya mendiamkannya sejak malam itu. Raba tak ambil pusing, dia tetap fokus pada operasi mata neneknya, belum lagi masalah kerjaannya yang semakin bertambah.
Itu lah mengapa, ia menyempatkan diri menemui Amara, meminta bantuannya untuk mengurusi masalah pernikahannya. Sejak itu juga, dia belum bertemu dengan Ghifa lagi.
Amara datang dengan wajah yang tak bisa di tebak, dia sedikit tergesa menghampiri Raba.
" Kamu bisa jelaskan rincinya sekarang juga" Kata Amara, sembari menarik kursi di seberang Raba.
Suasana syahdunya musik cafe, tak menyurutkan rasa penasaran Amara. Raba menghela nafas, menatap sahabatnya begitu lekat.
" Bantu aku urus pernikahan ini, aku sangat sibuk, " Kata Raba.
Amara memicingkan matanya, " Kamu tidak berniat bercerita yang lainnya, aku tidak percaya kamu mencintai Mas Ghifa. Pasti ada alasan lain kan?"
Ini dia, pertanyaan Amara yang sangat tidak di harapkan olehnya. Raba pikir tak menjelaskan asal mula kontrak itu jauh lebih baik, jika dia mengetahuinya entah akan jadi apa Ghifa nantinya.
" Kami saling cinta Am, maaf jika kami sangat tidak sopan. Dan tidak berniat menyembunyikannya dari semua orang"
Mata Amara membulat sempurna, " Kamu benar melakukannya dengan Mas Ghifa, apa hanya pura-pura ?" kata Amara tak percaya.
Raba menghela nafas, jika seperti ini terlihat sekali jika Amara adalah adik Ghifa. Mereka sangat mirip, ngeyel dan curigaan.
" Aku tidak bohong, " Ucap Raba lirih, " Am, tolong ya, aku sangat sibuk " katanya memelas pada sahabatnya.
Amara menarik es kopi Raba, meminumnya begitu saja hingga tandas.
" Terserah apa pun alasannya, aku tak perduli. Aku juga sibuk Ra, Mas ku yang gila itu juga sudah merepotkan ku, " gerutunya terus terang.
Raba tersenyum kecil, walau bagaimanapun dari pada membohongi lebih baik jujur apapun reaksi sahabatnya ini, meski tak semuanya di ceritakan" Mas Ghifa sibuk juga ?" tanya Raba tiba-tiba.
Amara mengangguk, " Sepertinya banyak masalah di kantornya" ucapnya lagi.
Entah bagaimana cara Ghifa memberitahu adiknya ini, hingga ia tetap tenang tidak banyak tanya kepadanya. Padahal Amara bisa bertanya lebih banyak padanya tentang pernikahan mendadak ini.
Lagi-lagi, Raba tak ambil pusing masalah ini, dia hanya bersyukur jika Amara bersedia membatu segalanya, " Bisa ya Am, sekalian kan Mas Ghifa juga minta kamu yang urus. Nenek harus operasi, dan aku masih ban-,
" Iya, iya aku bantu" kata Amara memotong rengekan Raba.
Raba tersenyum kecil, sahabatnya ini memang sangat bisa di andalkan. Meskipun jelas ia merasa kesal. " Tapi foto dan tanda tangan mungkin di butuhkan, aku ngak mau ya kamu gak bisa kalau aku kabarin" ucap Amara, menekankan kata-katanya.
" Iya, "
***
Amara berpisah dengan Raba, dia memutar perjalananya menuju kantor sang kakak. Dengan membawa banyak rasa kesal dan penasaran yang tak tertuntaskan dari sahabatnya.
Siapa yang tak terkejut jika notifikasi pesan yang jarang sekali ia dapatkan dari kakaknya, tiba-tiba saja mengabarkan akan menikahi sahabatnya dalam waktu dekat. Jika Raba tak mengajaknya bertemu tadi, Amara pasti sudah memaki-maki saudara kandungnya itu.
Mobil silver kesayangannya, melaju sangat cepat membelah jalanan. Tak lama, ia sampai di depan kantor Ghifa yang tampak lebih sepi dari biasanya.
Pintu depan terbuka sempurna, Amara sedikit merasa aneh melihat lalu lalang karyawan yang bisa di hitung jarinya, " Kemana semua orang pergi ? gumamnya, ia terus berjalan mencari ruangan kakaknya.
Sesekali, ia menoleh kiri dan kanan. Mencoba mencari para staf yang mungkin saja sedang sibuk di suatu tempat. Amara menghentikan langkahnya, ketika ia bersitatap dengan Ardi, laki-laki perusuh di masa kecilnya.
" Kenapa ?" kata Amara, pada Ardi yang tampak terpaku padanya.
Amara mengeriyit, " Kamu berharap aku mencari mu ? Tentu saja Mas Ghifa " jawab Raba dengan sebal.
Ardi masih saja diam, apa mungkin dua tahun tak bertemu membuatnya sangat terkejut dengan dirinya ? Amara berlalu, tak perduli lamunan Ardi yang membuatnya menganga begitu lama.
" Ama, hei tunggu, " katanya memanggil.
Amara sedikitpun tak menoleh, terus berjalan sembari mengingat di mana letak ruangan kakaknya. " Tunggu, Ama " ucap Ardi, dia menghadang Amara.
" Bang Ghifa ngak ada, kamu bisa datang lagi nanti. " Ucapnya, mengabaikan tatapan Amara yang begitu tajam.
Amara tak mengidahkan Ardi, dia tetap berjalan. " Ama, ngak ada ," Seru Ardi lagi.
" Berhenti panggil aku Ama, " Amara menghentikan langkahnya, berbalik menatap Ardi dengan kesal.
Klek,
Amara dan Ardi kompak menatap Ghifa yang baru saja keluar dari ruangan nya.
" Ngapain di sini ?" tanya Ghifa pada adiknya.
Amara tak menjawab, ia menerobos masuk, langsung duduk menunggu Ghifa kembali masuk. Ghifa mengikuti sang adik yang berwajah masam, dari sudut matanya ia mengira akan ada kemarahan besar dari nya.
" Astagfirullahhaladzim, Mas. Kok bisa sih bisa khilaf sama Raba, tega banget. Mas tau dosa kan, heran deh " omelnya begitu Ghifa duduk di depannya.
Ghifa mengeriyit kan matanya, " Bunda yang ngomong?" kata Ghifa tak merasa heran.
" Iya lah, Raba? Mana bisa dia cerita. Pasti dia malu, yakin Mas Ghifa suka sama dia ?"
Ghifa berdehem tak percaya Amara mempercayai cerita bundanya, dia tak menjawab justru hanya mengedikkan bahunya.
" Dia minta bantu urus semuanya, sama kayak Mas Ghifa, sibuk. Amara tuh punya kesibukan juga " ucapnya tak terima, lebih mirip merengek.
" Kita ngak ribet kok, hanya butuh KUA. Lagian kita memang sibuk."
Amara menghela nafas, menyandarkan punggung nya asal. Seolah masih tak percaya dengan semua yang di lihatnya, Amara tegak tiba-tiba, meneliti wajah sang kakak yang datar-datar saja.
" Mas nggak lagi pura-pura kan ?" katanya sungguh-sungguh.
Giliran Ghifa yang menghela nafas, ingin sekali melempari Amara yang masih saja tak percaya dengan ucapannya. Ghifa hanya menggeleng, bentuk konfirmasi dari kecurigaannya.
" Terakhir kali cerita, Raba sedang saling berjuang untuk hidup bersama dengan seseorang, apa benar itu kamu ya Mas ?"
Pertanyaan Amara justru mengingatkan sesuatu tentang Raba, satu hal yang terlewat darinya. Pacar, ya bagaimana gadis keras kepala itu mengatasi masalah ini dari pacarnya. Dia juga belum menceritakan lebih detail rencana ini padanya.
" Yakin dia cerita gitu ?"
" Iya, Raba bahkan begitu bahagia saat menceritakannya pada ku, tidak menyangka jika itu Mas Ghifa." Ucapnya tersenyum.
Ghifa semakin tak enak pada Raba, rasa bersalah merayap di hatinya. Tetapi tak lama dia mengingat sebuah kesepakatan yang telah mereka lakukan, Ghifa tetap merasa tak salah. Karena ini adalah sebuah kerja sama, sudah lah Ghifa tak perduli.
" Kamu seneng Dek ?"
***