
Raba terkejut bukan main, tengah malam pintu rumahnya di ketuk hingga bergetar, sosok Ghifa dan ayahnya datang bertamu. Wajah keduanya sangat sulit di artikan, terutama Hamdan yang tampak emosi.
Di dampingi kakeknya, Raba duduk dengan perasaan campur aduk, matanya terpaku pada Ghifa yang tak bisa menjelaskan apapun kepadanya. Sekali lagi ia mencoba mencari tau lewat isyarat, kemudian Raba menangkap petunjuk dari matanya.
" Ada apa, kalian ada perlu apa ?" tanya kakek Ahmad, merasa kebingungan.
" Saya ingin tau kebenaran dari Raba, apa yang terjadi di antara kalian ?" ucap Hamdan langsung saja.
Raba berpikir sejenak, melihat Ghifa yang hanya menatapnya dalam diam, ia tau ini sangat mendesak.
" Katakan yang jelas, kenapa kamu menekan cucuku ?" tanya kakek Ahmad lagi, di terlihat sangat tak menyukai Hamdan kali ini.
Raba menyentuh tangan kakeknya, berusaha menjelaskan perlahan " Kami saling mencintai selama ini, " Jawab Raba begitu cepat pada Hamdan.
Dengan kompak kedua pria dewasa itu menatap Raba dengan tajam, terutama kakeknya yang terlihat tak begitu percaya. Masih tetap terdiam, Hamdan menoleh putranya, matanya begitu bulat sempurna dengan rahang yang kian mengeras.
" Aku malu datang dengan seperti ini, tolong beri dia ampun Pak, aku tau dia sangat kurang ajar. Aku berjanji Ghifa akan menikahi cucumu hari ini juga" Kata Hamdan pada Kakek Ahmad.
Dengan wajah kebingungannya, sang kakek menatap cucunya, mencoba menanyakan hal ini kepadanya dengan jelas.
" Aku tak terima dengan lamaran yang se-kasar ini, jelaskan dulu apa yang terjadi ! " Jawabnya penuh dengan kemarahan.
Raba semakin panik, apa yang harus ia lakukan. Jelas sekali jika ia sedang terjebak dalam kesalahpahaman, Hamdan pada Ghifa dan kakek kepadanya. Raba sangat bingung, dia tak tau apa-apa kali ini, sedangkan Ghifa tak memberinya petunjuk sama sekali.
" Maafkan saya Kek, saya memang khilaf saat itu, biarkan aku bertanggung jawab, meski harus seperti ini keadaannya" ucap Ghifa dengan gemetar.
Raba melotot, tak menyangka jika Ghifa berbohong sedemikian ekstrimnya, matanya terpaku pada Ghifa yang masih saja diam padanya.
" Kek, aku juga salah waktu itu." Tambah Raba dengan cepat, dia tau Ghifa butuh bantuannya.
Dalam hati Raba, berkali-kali mengutuk Ghifa, tanpa tau masalahnya apa, tiba-tiba datang mengakui ke-khilafan, Raba hanya memendam kesal. Tak tau harus bagaimana beralasan pada kakeknya.
" Katakan yang sebenarnya, kakek tak ingin mendengar kebohongan. " Bentak pak Ahmad pada Raba.
Seketika dada Raba berdetak begitu kencang, seumur dia hidup tidak pernah melihat sosoknya yang seperti ini. Dengan gemetar ia mencoba menatap kakeknya.
" Maaf kek, itu memang sudah terjadi" suara Raba begitu pelan, tangisnya mulai terdengar.
" Maaf kan dia kek, saya bisa bertanggung jawab sekarang, jangan marahi dia" Ucap Ghifa pada kakek Ahmad.
Pak Ahmad melempar pandangannya pada Ghifa, dengan membiarkan cucunya tertunduk lesu dengan air matanya.
" Aku pikir kamu masih punya batasan kepada Raba kemarin, ternyata kau sama kurang ajarnya dengan laki-laki bejat di luaran sana."
Semua orang hanya diam, membiarkan pak Ahmad meluapkan semua emosinya. Terlihat ia menghela nafas, menyadari tangis Raba yang semakin terdengar oleh dirinya.
" Apa kamu mau di nikahi pria seperti dia, katakan pada ku, jangan menangis seperti ini " katanya pada Raba.
Raba tak menyangka, jika harus berperan begitu menyedihkan demi Ghifa, meski tak sungguhan tetapi kekecewaan kakeknya begitu menakutkan dirinya. Jika ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Ghifa, meski terpaksa Raba akan mencobanya.
Sejenak Ghifa terlarut dalam kata-kata Raba, tak menyangka dia akan melakukan ini, rasa bersalah kian tergambar di wajahnya.
Kemarahan kakeknya tak bisa lagi di bendung, wajahnya begitu keras seolah tak bisa menerima apa yang telah di katakan cucu satu-satunya. Raba semakin gelisah, takut jika akan terjadi sesuatu pada kakeknya.
" Ini sudah malam, kecilkan suaramu Mas. Jika Raba mau di nikahi Ghifa, biarkan saja. Besok bawa mereka ke KUA, jangan saling teriak di sini" ucap Nenek, ia berjalan sembari mencari pegangan.
Raba langsung berlari, menghampiri neneknya. Begitu juga dengan kakek Ahmad yang tergopoh memapah istrinya.
" Mereka sudah mengakuinya, biarkan mereka menikah saja. Aku sangat gemetar mendengarkan kamu berteriak, kaki ku sangat lemas mendengar cucuku menangis" ucapnya lagi.
Entah bagaimana neneknya bisa terbangun, dan mengatakan semuanya dengan begitu tenang. Sedikit senyuman terbit di wajah Raba, setidaknya ini adalah bentuk pertolongan untuk dirinya.
Raba melirik kakeknya, mencari tau apa dia masih marah. " Baiklah, aku bicarakan lagi nanti. Sekarang kita masuk" katanya, kemudian memapah nenek ke dalam.
Raba menyelimuti neneknya, menepuk punggung tangannya untuk menenangkan, tak lama kakeknya keluar lagi. Raba menghembuskan nafasnya, menciumi tangan neneknya.
" Jangan menangis cucuku, Nenek akan selalu membela mu, meskipun Kakek mu yang mamarahimu, tenanglah, jika kamu mencintai dia, Nenek merestui mu menikah dengannya." ucapnya dengan begitu lembut.
Raba mengira, jika neneknya hanya mendengar pembicaraan tadi setengahnya saja, jika tau kalau Ghifa menidurinya meski sakit pasti akan memukulinya itu dengan tangannya langsung. " Nenek tidur ya, ini sudah sangat malam" kata Raba.
Tak mau pergi terlalu lama, Raba keluar lagi, memastikan kakeknya baik-baik saja. Raba menatap Ghifa dengan sangat kesal, tak terima dengan kekonyolan yang ia lakukan di tengah malam seperti ini, Raba membuang muka, saat Ghifa menatapnya kembali.
" Baiklah, kita sepakat menikahkan mereka. Setidaknya kita urus dulu persyaratan hingga bisa melangsungkan pernikahan secara legal." Ucap Hamdan berusaha menenangkan diri.
Kakek Ahmad diam saja, dia keberatan tetapi tak bisa mengajukan solusi lainnya. Dia hanya bisa menyetujuinya, demi Raba yang telah mengakui mencintai Ghifa.
Setelah mengucapkan maaf berkali-kali, Ghifa dan Hamdan pamit pulang. Tak sedikitpun Raba menatap wajah Ghifa, rasa kesal padanya semakin menjadi, sejak awal ia memang bersedia, tetapi tak menyangka akan dengan cara seperti ini. Ini sama saja menghina dan melukai perasaan kakeknya.
Raba menatap jam dinding, jarumnya hampir meninggalkan angka dua belas, ia menghela nafas, tak percaya hal ini terjadi.
Ting...
Hp nya menampilkan pesan. Raba tau itu pasti Ghifa, rasa enggan begitu kuat di benaknya untuk membuka, tetapi dia sangat penasaran.
Maaf sekali, ini sangat mendesak
Benar saja, itu dari Ghifa. Raba ingin sekali marah, tetapi dia teringat jika ia tak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Ghifa. Walau bagai manapun ia telah bersedia membantunya.
Aku berharap kakek tetap baik-baik saja
Tulisnya pada Ghifa, dengan cepat terbaca oleh Ghifa. Raba tak perduli ia akan membalas apa, dia melempar Hp nya asal, ia begitu lelah dan tak percaya dengan semua ini.
" Maaf Kek, Nek, Raba tak punya pilihan" gumam Raba, begitu pelan.
***