RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Lima tahun Lalu



Suara riuh bahagia dan haru dari sekumpulan siswa-siswi SMA yang baru saja melaksanakan wisuda kecil ala mereka, memenuhi halaman sekolah. Mereka saling berpelukan melepas rasa rindu sebelum berpisah.


" Aku janji Ra, bakal ikut kamu kuliah di manapun, aku ngak mau sendiri " ucap Amara pada Raba sahabat nya.


Mereka bahkan tak saling menangis.


" Kamu bisa pilih universitas impian mu, jangan ikut aku, kemungkinan aku tidak di terima di sana, mungkin saja aku bekerja dulu baru lanjut "


" Ah kamu ini pintar Ra, sekali tes pasti di terima. Jika tidak, aku minta ayah kuliah kan kamu juga bersama ku"


" Am, kamu berlebihan. Meski om Hamdan bisa aku tidak akan mau, kita tetap bersahabat meski tidak bersama, tenang lah Am" bujuk Raba lembut.


" Aku tidak menangis karena tidak akan berpisah dengan mu, jika kamu mengatakan begitu aku tidak suka Ra, jangan tolak permintaan ku, "


Raba menggeleng ia tersenyum hangat.


" Doa kan saja aku lulus tes, dan di terima."


" Tentu Ra, aku yakin itu"


Kedua karib itu meneruskan langkahnya, berniat menemui keluarga mereka yang sedang menunggu. Meski tidak ada acara resmi Raba dan Amara sepakat akan bepergian bersama dengan keluarga mereka, sekedar merayakan kelulusannya.


Kedua gadis sebaya itu bergandengan menghampiri mobil hitam yang terparkir rapi di halaman. Amara yang berhijab dan Raba yang bersanggul rapi. Riasan sederhana ala wisuda anak SMA begitu terlihat, sangat manis dan lucu.


" Kakek, Nenek kalian juga ikut?" tanya Raba saat melihat keduanya telah duduk rapi dalam mobil.


" Iya dong, ndak papa ya agak sempit sedikit" ucap Bu Nia, bunda Raba.


" Ah makasih Tante, Raba jadi ngak enak" Raba tersenyum sedikit ragu.


Amara dan bu Nia di kursi belakang, sedang Raba menemani kakek dan nenek di kursi tengah. Di depan ada ayah Amara dan ada pria yang tak begitu akrab dengan Raba, dia Ghifa kakak laki-laki Amara, dia diam fokus mengemudi.


" Kita ke tempat biasa kan Yah, yang ada sate kambing nya?" tanya Amara.


Amara sangat bersemangat, terlihat jelas gurat bahagia di wajah manisnya.


" Iya Am, duduk tenang di situ. Kita sampai di sana pesan sate" jawab Hamdan.


Semua orang tertawa, sikap Amara yang berisik dan tak bisa diam membuat ayahnya bosan mendengar celotehnya.


" Ah Ayah, kan Amara tidak sabar" dia mengerucutkan bibirnya tidak suka.


Tidak ada yang menyahuti Amara, semua tenang menikmati deru mobil yang bergerak perlahan.


Raba tersenyum, kala ia menoleh kebelakang melihat wajah kesal sahabatnya yang merasa tak di gubris.


Dia tak berniat menghibur, berada di tengah keluarga sahabatnya ini cukup canggung meski sudah terbiasa, Raba hanya sungkan. Terlebih pada sang sopir hari ini dia terlihat diam tak bersuara seperti orang asing yang di paksa mengemudi.


***


Di balik kemudi hari ini, Ghifa bisa melihat gadis kecil yang sangat di idolakan adiknya dari sudut spion. Matanya bulat, wajahnya cantik dan manis, meski masih sangat muda ia terkesan dewasa di usianya. Ghifa sekilas mengingat, tentang Raba dari sang adik kala itu, wajar saja jika Amara begitu menyukainya tentu saja karena sifatnya yang terkesan seperti kakak perempuan pada nya.


" Raba, gimana. Mau lanjut kan?" pertanyaan itu datang dari Hamdan.


" Sedang nunggu hasil Om, kemarin tes pertama sudah lulus" jawab Raba hati-hati.


" Syukurlah, Amara juga akan lanjut di sana, dia tidak ingin jauh dari mu katanya" Hamdan tertawa.


" Doa kan saja dia di terima Pak, Raba ini cuma mengandalkan prestasi saja" tambah sang kakek dari tempat duduknya.


" Raba itu hebat Kek, lihat saja dia pasti bisa" Hamdan bahkan menengok kebelakang, mencari sosok Raba yang sedang di puji .


Tak terasa mereka telah sampai tujuan, Ghifa menghentikan mobilnya dengan sempurna di parkiran.


" Yey, sampai" sorak Amara dari belakang.


Semua tersenyum, sembari beranjak keluar.


Tempat yang selalu di bicarakan Amara memang sangat bagus, indah dan megah. Selera yang tak sederhana bagi gadis periang yang sangat baik hati.


Mereka menikmati makan siang dengan nikmat, di tambah keceriaan Raba dan Amara yang tak teralihkan oleh apa pun.


Meski tak ikut berlarut dalam pembicaraan mereka, Ghifa bisa merasakan kenyamanan keduanya berteman.


Ghifa mengarah kan mobilnya menuju alamat Raba tinggal, bermaksud mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu.


Di sebuah rumah sederhana Raba dan kakek, neneknya turun. Mereka menghilang di pintu bercat putih yang kembali tertutup. Mereka sempat memaksa untuk singgah, namun Hamdan berjanji di lain waktu.


Ghifa tersenyum pada kakek dan nenek Raba,yang dengan ramah mengucapkan terimakasih kepadanya. Pertama kali Ghifa bertemu dengan Raba, dia cukup terkesan pada gadis tenang dan pendiam itu. Rupanya benar apa yang sering ia dengar dari Amara jika dia gadis baik, dan sangat mandiri.


***


Keluarga kecil itu bergerak menuju ke kediaman, tanpa obrolan menarik seperti tadi. Amara telah nyenyak di samping sang ibunda, hanya tiga orang dewasa yang sibuk menyelami pikiran masing-masing.


Jalanan yang selalu sibuk, tak sedikit pun menggugah selera mereka untuk berbicara. Bu Nia yang tak berniat membuka obrolan, begitu juga Hamdan yang tak berselera.


" Yah..." panggil Ghifa.


" Hem.."


" Langsung pulang?"


" Tanya Bunda"


Ghifa terdiam, ia berpikir ada salah apa pada ayahnya, dia terkesan mendiamkan nya.


Ghifa menurut, meneruskan perjalanan dengan tenang. Sejak pagi tadi Ghifa merasa ayahnya sedang marah, tetapi ia tidak tau apa sebab nya.


***


Setengah delapan, dengan tampilan rapih dan menawan Ghifa keluar dari kamar, tak sengaja bertemu sang bunda.


" Bun, ayah mana?"


" Ada di kamar, kenapa?"


" Ghifa mau keluar sebentar, sampaikan pada ayah ya bun"


Belum sempat Nia menjawab, Hamdan keluar dari kamarnya.


" Hendak kemana kamu?" tanya Hamdan tegas.


Ghifa sedikit terkejut, " Hanya sebentar Yah-"


Hamdan meninggikan suaranya tiba-tiba,


" Kapan kamu akan menikahi Sovia?"


Pertanyaan yang datang secara tiba-tiba itu cukup membuat Ghifa tersinggung, dia merasa di tegur dan di perintah dalam satu waktu yang mengejutkan.


" Aku belum memikirkannya Yah" jawabnya pelan.


" Sampai kapan kamu akan seperti ini, setiap saat hanya izin pergi untuk berpacaran tidak jelas, kamu pikir kamu ini masih remaja."


Ghifa tersentak mendengar ayahnya berbicara sangat lantang dan seolah menuduhnya melakukan salah tentang hubungannya.


" Ghifa tidak berbuat salah Yah, kita tidak aneh-aneh, Sovia gadis baik. Kita hanya pergi sesekali di sela jam kerja, itu saja" Ghifa membantah.


Nia sempat terkejut, melihat sang suami yang tiba-tiba berapi-api menegur sang putra. Meski dia telah berulang menegur Ghifa, dia tidak akan se-marah ini. Nia berusaha tenang, mencoba melerai pertikaian keduanya.


" Yah, katakan yang jelas pada Ghifa, agar dia tidak salah mengartikan, " ia menghampiri sang suami mengusap pundaknya perlahan.


" Jika kamu mencintainya, nikahi saja jangan banyak membuang waktu tidak jelas seperti ini. Ingat kamu ini sudah cukup dewasa tentukan masa depan sejak sekarang. Sudah berapa lama kalian berpacaran tidak ada arti seperti ini?"


Ghifa terdiam, enggan kembali berpikir berapa lama ia telah memacari Sovia, dia juga tidak ingat. Amarahnya menggumpal, dia merasakan tekanan tak beralasan dari sang ayah.


" Tidak ada alasan lain Ghifa, jika kau benar-benar mencintainya nikahi dia segera ! " titah sang ayah dengan tegas.


Dia meneruskan langkahnya, meninggalkan Ghifa yang masih terdiam .


" Turuti saja apa kata Ayah Nak, dia tidak sedang membencimu, dia sangat mengkhawatirkan mu. Kali ini bunda tidak bisa membantu" ucap Nia hati-hati.


***


Kepalang tanggung, hati yang sudah tak nyaman itu segera ia bawa pergi dari rumah. Tak bohong, Ghifa sangat terluka dengan sikap ayahnya ternyata tak menyukai keputusannya. Ghifa tak habis pikir, dia sudah cukup menurut agar tak berbuat semaunya tentang Sovia, dia juga sangat berusaha menjaga batasan-batasan agar tak terperosok ke dalam dosa. Dia hanya ingin menjalani masa mudanya bersama Sovia, bahagia menikmati hal sederhana di atas ikatan sepasang kekasih.


Ghifa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalurkan rasa kesal dan kecewanya yang begitu memenuhi dada. Dia tau bisa mati di jalan jika celaka, tetapi setidaknya dia bisa menyalurkan kesalnya sebentar.


Tak mengeluarkan sepatah kata, ia meneruskan perjalan ke rumah sang kekasih. Dari awal dia memang hendak menemuinya, sayang suasana hatinya telah berubah karena sang ayah.


" Papa lagi ngak ada, kita ngobrol di luar aja ya " kata Sovia pada Ghifa .


Keduanya duduk di teras rumah, bercahaya kan lampu bernuansa malam yang sedikit redup.


" Kenapa, kamu ada masalah?" tanya Sovia.


Ghifa menatap sang kekasih yang begitu lembut mengamatinya.


" Ayah marah padaku"


" Soal apa?"


" Em.... Meminta ku menikahi mu" jawab Ghifa jujur.


Sovia diam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Ghifa.


" Trus, kenapa kamu marah?"


Ghifa menggeleng, mencoba menunjukan ketidaktahuannya.


" Kamu tidak yakin pada ku?" Sovia kembali bertanya.


" Bukan, aku hanya tidak suka cara ayah yang menegur ku, dengan amarah seperti tadi. Dia juga menuduhku membuang waktu" keluhnya dengan jujur.


" Kita bisa bicarakan lebih lanjut, aku siap menikah kapan pun Ghifa, aku tidak akan menolak"


Tak di sangka kemarahannya yang begitu menggebu, bisa runtuh dengan kata-kata manis dari Sovia yang begitu menenangkan. Ghifa tersenyum, meraih tangan sang kekasih.


" Apa memang aku yang terlalu bodoh, tak berani mencobanya?" tanya Ghifa pada dirinya sendiri.


Sovia tersenyum lembut, membalas genggaman hangat Ghifa.


" Tanya kan dulu pada Papa, katakan saja aku yang sangat mencintaimu ini tidak sabar ingin menikah, jika kamu malu" Sovia tertawa kecil.


" Aku tidak malu, Ayahku pasti bertanggung jawab telah memaksa ku menikah. Dia akan segera melamar mu." ucapnya sungguh-sungguh.


Malam yang larut terasa dingin, semilir anginnya menembus hati yang sempat mengeras karena marah. Ghifa pulang dengan segenap keberanian, setidaknya ia tidak malu menjawab pertanyaan ayahnya nanti.


***