
Dua porsi nasi goreng spesial, menu pilihan Raba. Ghifa tak berhenti menatap gadis keras kepala yang tengah menikmati makanannya. Dia terlihat sangat lapar, Ghifa melirik jam di tangannya, wajar jika ia sangat lapar, semalam ini baru makan.
Raba tak sedikit pun mengeluarkan suara, dia sangat menikmati makanannya. Ghifa juga begitu, tetapi matanya sibuk meneliti Raba. Timun, tomat dan selada sudah hilang dari permukaan nasi goreng, apa lagi nasinya mungkin hanya sebiji yang tersisa. Raba begitu menikmati semuanya.
Ghifa dibuat penasaran dengan potongan udang yang di sisihkan oleh Raba, " Kamu gak suka udang ?" kata Ghifa tak tahan.
Raba melihat piringnya, dia menggeleng begitu cepat, pipinya sedikit mengembung dengan suapan terakhirnya, " Aku suka" jawabnya pelan.
Ghifa masih tetap melihat Raba, dia sendiri sudah menyelesaikan makannya sejak tadi. Ghifa menyodorkan air mineral, ketika melihat gelas es teh Raba sudah mengering.
" Makasih, " Ucap Raba pada Ghifa.
Ghifa diam saja, Raba meminumnya dengan cepat, dan ia meneruskan memakan potongan udang yang di sisihkan tadi. Ghifa tersenyum kecil, melihat Raba yang menikmati udang di akhir makannya.
Rupanya Raba mendengar kekehan Ghifa, dia sontak melihat ke arahnya. " Kenapa ?" ucapnya merasa heran.
" Sesuka itu sama udang?"
Raba menyadari jika pria di hadapannya melihat bagaimana cara dia makan sejak tadi, ia tampak berpikir, "Udang se-enak ini, terlalu sayang jika di makan terlebih dahulu. Tutup makan mu dengan sesuatu yang menyenangkan" Jawab Raba, ketika menelan semua undang-undangnya.
Ghifa berdecak, " Sama aja masuk perut, di dalam perut juga kecampur semua, gak di pilih mana yang favorit atau tidak" celetuk Ghifa tak percaya dengan Raba.
Raba hanya melotot tak terima, kemudian ia menyisihkan piringnya. Bersiap melanjutkan diskusi yang sempat tertunda. Ghifa minum terlebih dahulu, sisa rasa nasi goreng entah mengapa masih saja melekat di tenggorokannya.
" Kamu yakin dengan semua ini?" tanya Ghifa sekali lagi.
Kini giliran Raba yang terlihat berdecak, " Terpaksa sih, tetapi tidak masalah jika di coba. " ucapnya lagi.
Ghifa tampak berpikir, melihat Raba yang entah mengapa lebih tenang dari pada tadi, gadis seusia adiknya ini terlalu keras pada dirinya sendiri. Apa pun alasannya, mengapa terlalu menggampangkan pernikahan, seperti ini.
Setelah berhadapan dengannya beberapa kali, mengapa justru Ghifa yang meragukan segalanya. " Ya sudahlah tak usah di pikirkan terlalu jauh, masalah Bunda biar saya yang urus." ucapnya tiba-tiba.
Lagi pula, Ghifa juga baru mengatakan akan berusaha mengejar, tidak mungkin di tuntut cepat menikah dekat-dekat ini.
" Oh iya, maaf untuk siang tadi" Kata Ghifa lagi.
Raba mengingat sesuatu matanya terpaku pada Ghifa seketika, " Lain kali jangan lagi, aku kerja kan di sekolah. Bahaya kalau ada yang dengar" ucapnya .
Ghifa menggaruk tengkuknya, mendengar kata lain kali dari Raba, mengapa ia jadi merasakan geli sendiri. Ghifa mengalihkan perhatian dengan minum.
" Jika berlanjut, bagaimana cara kamu jelaskan dengan Amara, kakek, nenek atau pacarmu ?" tanya Ghifa.
Raba seolah baru teringat ia tampak berpikir, kemudian tersenyum. " Gampang sih yang lain, kalau Amara perlu cara khusus" jawabnya.
Ghifa mengeriyit, ada apa dengan senyum kecilnya itu, apa yang sedang di pikirkan Raba. Ghifa masih ingin diam, menunggu ia kembali bersuara.
" Bagaimana jika kita katakan yang sebenarnya saja pada Amara, dia pasti mengerti. Jika kakek dan nenek tidak akan banyak bertanya" katanya lagi.
" Kalau pacar ?" tanya Ghifa cepat.
Raba menatap Ghifa, seolah berpikir dahulu Raba diam sejenak , " Jangan katakan apa pun padanya. Lagi pula kita pasti bercerai kan?" ucapnya dengan enteng.
Ghifa menggeleng, mengatai Raba gila dalam hatinya. " Masalah Amara yang paling berat, kita tidak boleh jujur padanya. Yang ada berantakan semua rencana ini, kita harus buat dia percaya " ucap Ghifa dengan tegas.
" Bahaya kalau di tau"
" Trus, aku ngak bisa"
" Kamu harus bisa, ngak masalah bohong sekali. Aku juga bisa bohong sama pacarmu. " Ghifa menekankan kata-kata nya.
Raba menghela nafas, " Ya sudah, lagian emang aku yang di bayar untuk ini" ucapnya pelan.
Ghifa melirik Raba yang seolah mengalah dan tak mau berpendapat lagi. Ia juga melirik jam tangannya kembali.
" Kita pikirkan kapan-kapan lagi, sekarang saya antar kamu pulang" ucap Ghifa.
Dia beranjak, mendekati kasir. Jika di teruskan ngobrol di cafe seperti ini, bisa-bisa ia di pukul kakeknya Raba lagi nanti. Mungkin saja, kali ini karena cucunya pulang terlalu malam.
Tak jauh dari itu, Raba mengikuti Ghifa yang berjalan keluar dari kemegahan Cafe. Saat Raba berdiri sambil memainkan Hpnya, Ghifa mengatakan, " Kamu lupa, saya antar " sedikit ketus pada Raba, yang terlihat memesan ojek online.
Raba mendelik, " Lupa, " katanya, " Ngomongnya ketus banget" gerutunya pelan.
Ghifa berbalik, memastikan Raba mengikutinya. Matanya tak berhenti menatap wajah cemberut gadis keras kepalanya. Sudah kenyang saja masih cemberut apa lagi saat lapar, Ghifa menekan tombol kunci. Parahnya, Raba sampai terperanjat kaget hanya karena suara kunci mobilnya berbunyi, Ghifa pun berdecak.
Saat keduanya sudah di dalam mobil, Ghifa masih menyempatkan matanya melirik Raba. Apakah dia mengenakan seat belt nya, ternyata dia tidak lupa. Ghifa melajukan mobilnya, meninggalkan cafe langganannya.
Jam delapan, mereka baru bergerak pulang. Ghifa sempat membayangkan bagaimana rasa lelahnya Raba yang masih di jalan saat petang. Mengapa dia terlalu keras bekerja, sedang ia begitu masih sangat muda. Pertanyaan ini sementara tersimpan dalam hati Ghifa.
" Oh iya, jadi kapan nenek bisa operasi ?" tanya Ghifa tiba-tiba.
Saling terdiam dalam satu ruang tak begitu asik bagi Ghifa, selain bosan dia bisa mengantuk karena perutnya sangat kenyang.
" Sekitar tiga hari lagi, jika nenek tetap sehat. Jadwalnya sudah ada sih" jawab Raba seadanya.
Ghifa mengangguk kecil, tak tau harus bertanya apa lagi kepadanya. Keduanya terdiam lagi, sekitar dua menit.
Tiba-tiba Raba berdehem kecil, " Untuk malam itu maaf. Pasti sakit ya, soalnya dulu kakek pensiunan keamanan Bank. Pasti punggungnya, memar ya ?" ucapnya, terlihat merasa tak enak hati.
Ghifa mengurangi kecepatan, saat berbelok di tikungan dekat rumah Raba, " Oh itu. Kamu sudah meminta maaf waktu itu, dan pantas saja ya memarnya lumayan awet, ternyata tersertifikasi gebukannya. " Ghifa tertawa kecil.
Raba juga ikut tertawa, " Kerasa banget ya legalnya ?"
" Iya nih, lain kali ngak lagi deh ganggu kamu di depan pagar. " Kata Ghifa masih dengan tawanya.
Mereka tak saling menyadari jika obrolannya telah berubah suhu, sedikit hangat dan menguarkan kenyamanan.
Pagar besi putih sudah terlihat, itu artinya Raba sudah sampai. Ghifa menghentikan mobilnya, melihat Raba yang bersiap turun, " Makasih ya nasi goreng, dan tumpangannya, lain kali ku ajak mampir." kata Raba.
Ghifa hanya mengangguk, membiarkan Raba turun, saat ia melajukan mobilnya Raba terlihat melambaikan tangan dengan senyum tipisnya.
" Eh, dia kok manis" kata Ghifa.
***