
Ghifa menatap Raba dengan begitu lekat, gadis keras kepala ini bisa berubah sedemikian pandai nya. Senyuman dan pertanyaan yang nampak khawatir itu seolah terpasang begitu otomatis saat melihat dirinya.
Begitu juga dengan sang bunda yang malah sibuk mencari tau dari wajah Raba yang sangat aneh menurut Ghifa. Dia seperti bertanya dengan isyarat, Ghifa tak tahan lagi melihat dua wanita yang saling pandang dengan mata menyelidik itu.
" Tidak, aku tidak sakit" kata Ghifa singkat.
Nia menatap Ghifa dan Raba bergantian, ada banyak prasangka yang seolah muncul begitu saja, dia sampai mendekati Ghifa. " Kamu bohong lagi sama Bunda?" ucapnya setengah berbisik.
Wajar saja jika bundanya curiga, apa lagi jika bukan karena ceritanya yang ngawur saat perkara punggung memar. Ya, benar malam itu Ghifa mengaku telah di pukul oleh kakeknya Raba, karena mengaku jadi pacarnya. Kakek Ahmad tidak menyukainya, bahkan dia mengatakan telah menyerah mengejar Raba.
" Mas Ghifa beneran tidak sakit Tante, kok Raba lihatnya beda. Atau, Mas Ghifa ngak cocok sama cuaca yang kadang ngak jelas seperti sekarang ini, jadi apa kata dokter Tan"
Sial, Raba begitu terang-terangan menunjukan perhatian seperti ini. Semakin bertambah tajam saja mata bunda menatapnya.
" Ah itu, saya baik-baik saja," Katanya pada Raba " Yah kita masuk saja dulu, dokternya udah ada" ucapnya pada Hamdan, kemudian Ghifa berjalan melewati Raba begitu saja.
" Maaf Raba, Tante harus masuk. Nanti Tante telfon kamu ya Sayang, dah Tante masuk ya" ucap Nia tak enak hati.
Raba hanya tersenyum dan mengangguk, melihat mereka pergi dari hadapannya. Raba juga merasa Ghifa terlihat sangat menghindarinya, dan itu membuatnya merasa heran.
***
Ghifa diam saja saat ayahnya berjalan mengikutinya. Ghifa masih tak menyangka akan bertemu Raba di saat ia bersama ayah dan ibunya. Tak lama dari ini bunda dan ayahnya pasti akan banyak bertanya soal Raba lagi, terlebih sikapnya yang tak melihatkan tanda penolakan yang telah ia ceritakan pada mereka.
Ghifa mempercepat langkahnya ketika merasa sang bunda mengikutinya, Ghifa berdecak sebal. Paksaan menikah pasti akan kembali terjadi.
" Ghifa tunggu, Bunda mau tanya" ucap Nia dari kejauhan.
Ah badai telah datang, Ghifa tak bisa lagi menghindar lebih jauh lagi. Ia berhenti, melirik ayahnya yang ternyata menatapnya. Dia hanya mengedikkan bahu merasa tak tau.
" Jujur sama Bunda -,
" Kita periksa Ayah dulu. Nanti kita lanjut lagi" potong Ghifa pada Nia.
Nia menghela nafas, " Kamu ya, sudah ketauan masih saja ngeles." Katanya melanjutkan perjalanan.
Koridor Rumah Sakit yang tak begitu ramai, membuat langkah mereka leluasa dan cepat sampai di ruangan khusus mata. Ghifa membaca papan nama yang terpasang di pintu. Seketika ia juga teringat nenek Raba.
Ghifa juga mengingat ada wajah senang di mata Raba tadi. Syukurlah jika ia bisa segera mengobati neneknya.
" Bunda masuk dulu, " ucap Nia.
Ghifa mengangguk dia memilih duduk di kursi tunggu. Sembari memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada bundanya masalah Raba.
Masalah semakin tak karuan, awalnya ia sudah lega karena tak ada desakan menikah, ia juga bercerita jika dia di tolak Raba, dan tentu saja dengan yakin ia membatalkan niatnya menikahi Raba.
Dengan secepat kilat, keadaan malah mendorongnya ke arah yang berlawanan. Belum lagi sikap Raba yang sangat ramah, tentu menambah rasa tak percaya pada bundanya.
Ghifa menghela nafas entah yang ke berapa kali, sejak tadi hanya itu yang ia lakukan. Rasa pusingnya yang sudah mereda tiba-tiba muncul lagi, kepalanya puyeng.
Tak sampai setengah jam Hamdan keluar dari ruangan. Wajahnya tampak masam, begitu juga dengan bundanya yang terus menepuk pundak suaminya itu.
" Apa kata dokter Bun?"
" Katanya sering terjadi pada orang yang mulai tua, mungkin kacamata bisa sangat membantu"
" Rabun maksudnya?"
Ghifa menahan tawanya agar tak meledak, karena ia juga harus mengakui jika ayahnya sudah tua.
" Biar Ghifa yang urus di optik"
" Ya sudah, kita pulang saja dulu" kata Nia menggandeng suaminya.
Ghifa melirik ayah dan bundanya, berharap mereka lupa dengan perkara Raba tadi. Mereka keluar dari Rumah sakit itu, segera bergerak pulang.
Harapan Ghifa kandas, ketika baru saja masuk ke dalam mobil, bundanya itu sudah menyerbunya dengan banyak pertanyaan.
" Jadi, mau jawab atau Bunda tanya Raba?"
Ghifa melotot, pilihan ini terlalu menjebak. Keduanya sama saja, seperti jalan buntu.
" Kok tanya Raba Bun?"
" Bunda lihat, Raba tidak marah atau membencimu, yang seperti kamu ceritakan kemarin malam."
" Ya ngak gitu lah, masa iya kita tunjukan di depan kalian juga kan ngak mungkin. Lagian yang di tolak itu Ghifa Bun, wajar lah kalau dia yang masih ramah, yang malu kan anak Bunda" jawab Ghifa asal.
" Masuk akal Bun, pasti malu banget putra mu itu" ucap Hamdan tertawa.
Menahan rasa kesalnya ditertawakan ayahnya, Ghifa hanya mengangguk menyetujui.
" O, kalau begitu Bunda cari kan yang lain. Putrinya ustadzah masih belum nemu calon loh Nak" ucapnya bersemangat.
" Bunda.... Ghifa tidak suka"
Nia dan Hamdan diam saja, merasakan suasana putranya telah membeku kembali. Mereka hanya saling pandang, kemudian berpaling menatap keluar jendela dengan kompak.
Ghifa juga merasakannya, ayah bundanya itu pasti akan menahan diri jika sudah seperti ini. Suasana ini hanya menambah rasa sesak di dalam mobil yang berjalan sangat pelan menggeliat di tengah kemacetan.
***
Raba beristirahat sejenak, rasa gerah dan lelahnya perlu di urai. Dia duduk menikmati semilir angin yang masuk dari jendela kamar yang terbuka. Raba merasa lega, neneknya akan segera operasi. Dia tak menyangka jika terpaksa meminjam uang untuk hal ini, dan itu membuatnya tetap bersedih. Andai ia bisa cepat mendapat uang yang lebih banyak, mungkin tidak sampai hari ini neneknya menahan sakit.
" Untung saja, ada kamu" ucapnya pelan, Raba mengingat Ghifa sebagai penolongnya saat ini.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk, dan ternyata kakek yang menunggunya di meja makan. Raba keluar menemui kakeknya yang terlihat sangat serius.
" Ada apa Kek?" tanya Raba, sembari menarik kursi di depan kakeknya.
Ahamd membiarkan cucunya itu duduk dengan nyaman, kemudian menuangkan segelas air putih kepada Raba. Menyodorkan dan memintanya untuk segera meminum nya.
" Apa yang terjadi?"
Raba berusaha mengingat pertanyaan ini menunju kemana, " Soal apa?"
" Nak Ghifa. Sepertinya dia tidak menceritakan tentang punggungnya. Tetapi dia tampak marah pada mu tadi, menurutmu benarkan jika ia sangat tak terima ?"
Pertanyaan kakek membuat Raba bingung, dia saja sudah tidak ingat tentang kejadian ini. Dan masalah tadi di Rumah sakit apa begitu kentara jika dia marah padanya.
" Ah itu, dia memang seperti itu kan Kek "
***