RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Kreditur Pribadi



Ghifa menyandarkan tubuhnya, pagi hari yang begitu cerah ini cukup membuatnya gerah hati. Tak menyangka jika Raba akan menodongnya seperti ini, padahal sejak keluar rumah tadi Ghifa telah memutuskan tidak terburu-buru menikah. Ayahnya juga telah mendukungnya, apa lagi sang bunda yang berkali-kali meminta maaf karena memaksanya.


Wajah sendu Raba yang masih begitu teringat jelas di pikirannya membut Ghifa sedikit mengasihani gadis malang itu.


" Bang, perlu kopi atau tidak?" Ardi menerobos masuk begitu saja.


Ghifa menatap Ardi, dia ingat harus berdiskusi dengan dirinya masalah keuangan. " Ar, sini deh !"


Ardi menurut dengan atasan nya itu tanpa bertanya. Dia duduk serius di depan Ghifa.


" Kalau aku ambil dua puluh lima juta masih ada ngak Ar?" tanya Ghifa .


Ardi berdecak " Bang, untuk apa sih, dah habis duit kita."


Ghifa bingung bagaimana caranya merayu Ardi untuk mencairkan uang itu tanpa harus bercerita untuk apa.


" Apa kita se-miskin itu ?"


" Iya lah, bulan ini aja kita belum menurunkan gaji, padahal Abang udah PHK sepertiganya "


Ghifa memijit keningnya yang berkerut, mengapa begitu sempit dan sulitnya keuangannya saat ini.


" Duit pribadi kamu, ada segitu?" tanya Ghifa lagi.


Ardi menggeleng, " Sebenarnya untuk apa sih Bang, katakan dengan jelas. Jika aku bisa bantu akan ku berikan."


Ghifa menggeleng " Lain kali saja, kalau begitu"


Ardi tampak sedih melihat Ghifa yang terlihat sedang memikul begitu banyak beban dan masalah. Ardi berniat kembali meninggalkan Ghifa, saat ia berdiri dari duduknya sekali lagi ia menatap Ghifa.


" Bang, aku ada jika sangat perlu bisa ku pinjamkan pada mu. " Kata Ardi.


Ghifa menatap Ardi tak percaya, ada rasa lega namun tak langsung menyetujui tawarannya.


" Nanti saja, jika mendesak. " Ucap Ghifa.


Ardi benar-benar keluar kali ini. Apa pun alasannya dia tak bisa memaksa Ghifa untuk bercerita.


Pintu ruangan Ghifa kembali tertutup rapat, sedangkan Ghifa masih sibuk dengan pikirannya pada uang dua puluh lima juta yang rasanya sangat sulit sekali ia dapatkan saat ini.


Berpikir keras mempertimbangkan tawaran Ardi, jika di tidak langsung menerimanya bagaimana dengan Raba yang sedang menunggu uang darinya.


Selain tak enak hati pada Ardi, tentu saja dia harus memiliki pemasukan lebih setelah berhutang padanya nanti. Ah Ghifa pusing sekali, apa dia harus meminta bantuan pada ayahnya. Ah sungguh tidak mungkin, baru saja ia baikan dengan sang ayah, tiba-tiba hendak merepotkan saja.


Ghifa menatap pintu berkali-kali, merasa ragu antara menemui Ardi atau tidak. Ghifa juga melirik Hp nya, teringat Raba. Berpikir pasti dia sedang sangat membutuhkan uangnya.


Ghifa berdiri, memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan tepat. Pria bertubuh tegap dan tinggi atletis itu mondar mandir di ruangannya. Menimbang beberapa opsi untuk mendapatkan uang.


Sebenarnya tak ingin ikut terlalu memikirkan masalah tawaran dengan Raba. Tetapi Ghifa sendiri telah melihat kondisi neneknya, dia juga tidak akan mungkin diam saja membiarkan Raba kesusahan.


Tiba-tiba ia berhenti, mendapatkan satu jalan keluar yang mungkin saja lebih membantu dari pada meminjam uang Ardi. Ghifa melangkah keluar, meninggalkan ruang kerja yang sedang tak bisa ia andalkan itu.


***


Raba bernafas lega, meski ia belum mendapatkan uangnya, setidaknya beberapa menit atau paling lama beberapa jam saja saldo di ATM nya bertambah. Biarlah jika sekarang Ghifa yang berpikir aneh-aneh, memang ia tak lagi bisa melakukan sesuatu yang instan untuk saat ini.


Meski dia bisa saja di catat bolos kerja, Raba tetap ke sekolah. Dia masih ada satu jam terakhir di kelas tujuh. Raba sedang duduk menunggu pesanannya di kantin, karena dia tak lagi sempat sarapan tadi.


Ponsel canggih Raba berbunyi.


Perlahan Raba menggulir layar Hp nya. Kontan saja dia tersenyum ketika notifikasi transaksi Bank dari nomor baru.


" Alhamdulillah, emang ngak salah cari pinjaman, belum sehari udah cair " gumamnya pelan.


Raba terkejut ketika memeriksa nominalnya lagi, tampak berbeda dengan kesepakatan tadi.


" Nanti saja, akan ku tanyakan lagi" Gumamnya lagi.


Dengan hatinya yang begitu senang Raba mengetikan beberapa huruf untuk mengucapakan terimakasih dengan sopan pada Ghifa, sang kreditur nya sekarang.


Semangkuk soto ayam lengkap dengan nasinya, Raba tak sabar mengisi perutnya yang sejak tadi bertabuh berisik. Bunyi seruputan kuah hangat dari soto, menggugah seleranya dan sejenak ia bisa tenang dari masalah yang begitu menyulitkannya.


Sebentar saja, setelah ini Raba akan banyak memenuhi kepalanya dengan banyak hal seperti, fokus ngajar dan nyicil hutang. Ah Raba seperti tulang punggung, punggungnya ikan teri, he he he.


Bukan, bukan. Raba memang sosok tangguh yang terbiasa melakukan apapun sendiri, meskipun terkadang terlampau nekad seperti ia lakukan tadi pagi.


Seolah menandatangani kontrak sebelum tau isinya, wanita mana yang bisa segila ini, meski Ghifa bukan sosok asing baginya tetapi dia tak begitu dekat dengannya. Raba hanya sedang meredam pusing kepalanya dengan mengorbankan rasa malu. Katanya masa bodoh.


" Ra, kamu telat hari ini?" tanya Rita, ibu guru yang juga mengajar di sekolahnya.


Dia datang dan duduk begitu saja di samping Raba. Dia bahkan melongok mangkuk soto Raba yang sudah mengering.


" Iya, ada urusan" jawabnya pelan.


" Jadi pinjam uang online nya?" Rita melambaikan tangan pada ibu kantin, meminta satu mangkuk soto juga


Raba tak menjawab, dia menyelesaikan makannya.


" Kalau jadi, sekalian aja sama aku. Persyaratannya cuma KTP, cicilannya sedikit cukuplah sama gaji honorer kayak kita" tambah Rita lagi.


Kemarin Raba memang sempat tanya-tanya soal pinjaman online pada Rita, dia terbiasa melakukannya. Raba juga sempat tergiur tetapi ia di ingatkan lagi oleh teman satunya, jika hutang menggunakan sistem itu hanya akan menyusahkan.


Dan untungnya Raba masih memiliki kreditor kaya seperti Ghifa, itu lah dia mengurungkannya. Raba juga takut bunganya lebih besar dari hutangnya, bisa-bisa ia tenggelam dalam hutang hingga tua.


" Aku nggak jadi butuh uang banyak Rit, Alhamdulillah urusan ku sudah kelar" Raba mengembangkan senyumnya.


***


" Yang bener aja Bang, tuh kan kesayangan. Kan sudah ku bilang, pinjam saja uangku jika mendesak, malah gadaikan mobil. " Ardi tak berhenti berdecak sedari tadi.


Panas terik-teriknya muka bumi, Ardi di minta menyusul Bosnya itu di sebuah Pegadaian. Dengan rasa kesalnya, Ardi mendapati Ghifa berjalan tanpa rasa bersalah masuk ke mobil mahal yang telah di gadaikan olehnya.


Ardi bahkan teringat saat Ghifa mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk membeli mobil itu. Tanpa angin dan hujan tiba-tiba saja dia menggadaikannya.


" Sudahlah, santai aja. Bentar aja, nanti ku tebus lagi. Seminggu mungkin" ucap Ghifa enteng.


Ardi melajukan mobilnya, masih dengan rasa kesal. " Seminggu, mana ada. Kita ini lagi bangkrut Bang, yang ada mobil Abang beneran hilang. "


Ghifa diam saja, tak berniat meladeni omelan Ardi. Ghifa memilih memejamkan mata tak perduli. Dia sangat pusing, itulah sebabnya mengapa meminta Ardi mengemudi untuknya.


" Aneh deh, jangan-jangan Abang main judi ya?"


***