RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Kecupan singkat



Dengan membuang rasa malunya, Ghifa nekad menemui ayahnya di kantor. Dia terlihat baru saja menerima tamu, ada beberapa botol air mineral yang belum di bersihkan. Biasanya jika hari Senin seperti ini tamunya pasti orang penting.


Baru saja duduk di hadapan sang ayah, Ghifa sudah berkeringat dingin dalam tubuhnya. Jika menemui ayahnya di kantor seperti ini, dia merasa sedang bermitra sungguhan dengannya.


" Tumben sekali, Ayah kira sudah lupa jalan kemari" celetuk Hamdan, pada putranya yang berpenampilan rapih.


Ghifa tetap diam meski hatinya sedikit tersentil, apa pun yang di ucapakan ayahnya kali ini tak perlu di dengar.


" Ghifa tau ini aneh, tetapi tidak ada cara lain, untuk memilih distributor terpercaya untuk proyek kali ini" ucap Ghifa terus terang.


Hamdan tampak berpikir, ia berpindah duduk dari meja kerjanya mendekati Ghifa di sofa.


" Kamu belum menang tender kan, jangan terburu-buru. Jika proyek itu jatuh ke Om Rizal, tidak ada kesempatan untuk mu. Kamu tau meski usianya sudah tua, otaknya masih sangat berkualitas" Kata Hamdan.


Ghifa sudah menduga ayahnya akan mengatakan hal ini, apalagi dari dulu om Rizal sudah bekerja sama sangat lama dengannya. Ghifa tak perduli, jika ada kesempatan meski sekecil lubang jarum, tetap akan ia coba. Ghifa benar-benar membutuhkan peran ayahnya kali ini.


" Sedikit lagi, Ghifa pasti mendapatkannya. " jawab Ghifa dengan yakin.


Hamdan menyandarkan punggungnya, masih menatap wajah sang putra yang rasanya, lama sekali tak pernah berkunjung ke kantornya.


" Ayah tak bisa cuma-cuma memberikan kesepakatan pada proyek yang masih abu-abu begini, kamu tau itu Ghi. Lagi pula sejak awal kamu berdiri tidak sekali pun minat dengan jasa kantor ini. Ada apa?"


Ghifa di pukul telak oleh ayahnya sendiri, rasa kesal di dadanya tak bisa di tampakkan begitu saja. Semua yang di katakan adalah benar, bukan sombong tetapi Ghifa yang dulu memang sehebat itu. Bisa berdiri sempurna tanpa ayahnya, bahkan hingga berebut banyak proyek dengannya.


Dan Ghifa yang sekarang, ah lupakan ia tak lagi perduli.


" Setidaknya aku meminang lebih dulu dari pada orang lain," Kata Ghifa, ia juga mengeluarkan lampiran tertulis mengenai pekerjaan ini.


Hamdan hanya melirik, kemudian ia berdiri mendekati meja kerja lagi. " Ayah tak bisa janji, tetapi jika Hunian Asri ini tak kau menangi datang lah kemari, ada proyek kecil yang belum di tangani di sini. Itu saja jika kamu mau, kalau tidak ya... Semoga saja kamu berhasil di tender itu"


Hamdan memeriksa Hpnya, kemudian ia menatap Ghifa yang masih terdiam di tempatnya. " Bunda minta Ayah pulang, bagaimana jika kita makan siang di rumah saja" ucapnya tiba-tiba.


Ghifa menatap ayahnya, sekilas wajah pengusaha itu sudah berubah menjadi sosok ayah yang begitu lembut padanya.


Ghifa tak menolak, lagi pula ia juga belum sempat makan siang. Dia juga berharap kalau-kalau ayahnya itu bisa berubah pikiran saat di meja makan bersama bundanya.


Ghifa beranjak, mengekori sang ayah yang mulai bergerak keluar kantornya.


Sampai di pintu depan Hamdan menoleh, tampak menunggu Ghifa mendekat padanya.


" Kamu tidak sibuk kan?" tanya Hamdan, saat Ghifa di dekatnya.


" Tidak, kenapa?"


Hamdan tak menjawab, ia berjalan lagi seolah menunggu Ghifa mengambil mobilnya.


Ghifa melalui ayahnya dengan pertanyaan di kepalanya, berpikir ayahnya itu sedang merencanakan sesuatu. Tak mau ambil pusing, Ghifa dengan cepat mengarahkan mobilnya tepat di mana sang ayah menunggu.


Ghifa berdecak pelan, " Ok lah, untuk kali ini sopir pribadi saja tak masalah" ucapnya, Ghifa mengingat berkas pinangannya tadi yang di gantung begitu saja.


Ghifa juga turun membukakan pintu untuk ayahnya. Dengan segaris senyum yang Hamdan juga tau jika itu hanya dibuat-buat.


Hamdan hanya menghela nafas, merasa tak tertarik untuk mengomentari tingkah putranya yang sedikit aneh.


Tak perlu lama-lama, mereka sudah sampai di depan rumah. Ada satu hal yang menarik bagi Ghifa, di garasi ada satu mobil asing terparkir. Hatinya sedikit mengganjal, merasa ada hal lain di balik ajakan ayahnya kali ini.


Ghifa tak ingin jauh menebak, ia segera mengikuti ayahnya masuk kedalam. Dan, benar saja saat ia sampai di meja makan, dua wanita berhijab sedang asik ngobrol dengan bundanya.


Ghifa langsung teringat dengan anak Ustadzah yang sering di bicarakan bundanya. Mereka berhenti berbicara, saat Ghifa dan ayahnya bergabung.


" Kita makan siang dulu Ustadzah, " Kata Nia pada kedua tamunya.


Mereka tidak menolak, dan sepertinya memang sudah di rencanakan.


Ghifa hanya melirik bundanya sekilas, begitu juga kepada ayahnya. Ternyata mereka tak menyerah membujuknya. Ghifa diam saja, malas memperdulikannya.


" Ustazah, ini Ghifa, anak pertama kami" kata Nia.


Ustazah itu mengangguk, " Nak Ghifa, kenalkan ini Zahra, putri saya" katanya dengan sangat ramah.


Ghifa tersenyum dalam anggukan kepalanya. Dia juga melirik gadis anggun yang tertunduk wajahnya. Perasaan Ghifa semakin tak nyaman, kali ini bundanya terlalu jauh membujuk dirinya. Meski tak mengatakannya, Ghifa tau kemana arah pertemuan ini.


Kemudian mereka menikmati makan siang dengan sepi, untung saja Hp Ghifa berdering, hingga ia bisa pamit terlebih dulu dari meja makan.


Ghifa berpindah ke ruang tengah, menerima panggilan yang biasanya tak penting dari Ardi. Saat hendak mengangkatnya ia berubah pikiran, Ghifa memilih mengabaikannya dan mengirim pesan pada seseorang.


Pikiran jahatnya kembali muncul, kali ini ia akan benar-benar menggunakan Raba sebagai rekan kerjanya. Lagipula mereka sudah tanda tangan kontrak beberapa hari yang lalu.


Sebelumnya ia memberi tahu Ardi jika sedang berada di rumah. Memintanya agar tak perlu menghubunginya untuk saat ini.


Ghifa duduk bersandar di sofa, ia melirik jam, mungkin saja Raba juga sedang makan siang. Ghifa segera menekan panggilan, berharap ia akan segera mengangkatnya. Tapi sayang, dering pertama berakhir begitu saja.


Ghifa semakin gelisah, kala mendengar obrolan bundanya pada Zahra mendekat, bersaman dengan itu, terdengar dering dari panggilan Raba. Ghifa buru-buru mengalihkan pada panggilan Vidio.


Meski sedikit lama, akhirnya Raba mau menerimanya. Ghifa sedikit canggung, tetapi ia harus segera menyelesaikan perkara Zahra sekarang juga.


Wajah Raba terlihat begitu jelas, dari latarnya ia tampak sedang di kelas. Sedikit ragu, tetapi Ghifa tak punya waktu.


Bundanya sudah berjalan melewatinya terlebih dahulu. Kebetulan sekali Zahra melambatkan langkahnya, segera saja Ghifa menjalankan aksinya.


Hai Sayang...


Iya aku tau, sebentar lagi aku jemput


Iya ya dah....


Ghifa hampir memutus panggilan, tetapi suara Raba tampak kebingungan. Ghifa tak bisa berpikir lagi, langsung saja ia memberi suara kecupan jauh untuk Raba. Dengan cepat ia mematikan layar Hp nya.


***