RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Kencan Pertama



Berkali-kali Raba merapihkan rambutnya, merasa kurang rapi jika tergerai, sangat lucu jika di kuncir. Ia menghembuskan nafas, merasa kesal dengan dirinya yang selalu saja tak percaya diri. Pilihan terakhir, Raba membiarkan rambutnya tergerai seperti biasa.


Setelah meluapkan semua kekesalan karena Ghifa, kini Raba sibuk mengatasi degup jantungnya yang tak mau bersantai. Karena Ghifa pula, ia melupakan janji kencan nya. " Ah, dasar pria gila. Ya Tuhan .... Kak Sovia kok bisa sih cinta sama dia ?" ucapnya setengah berteriak.


Lagi dan lagi, ia mengatai Ghifa karena kekesalannya, terutama saat mengingat kembali masalah cincin tadi. Raba memoles bibirnya agar sedikit segar, memberi warna senatural mungkin di wajahnya. Dia ingin pertemuan ini sangat berkesan untuknya dan sang pujaan hati.


Raba menerbitkan senyumnya, memastikan kembali setelan yang ia pakai sangat simpel dan nyaman senada dengan riasan wajahnya. " Secantik ini, demi siapa sih ?" ucapnya sembari terkikik geli. Raba menyelesaikan kegiatannya dengan dua kali menyemprotkan parfum di leher dan pergelangan tangannya.


Raba menutup pintu kamarnya, bersiap pergi menemui seseorang yang telah membuatnya berbunga. Seolah mengobati rasa kesalnya hari ini. Agar tetap tampil cantik Raba bahkan berpaling dari ojek online nya, dia memilih taxi khusus untuk kali ini.


Sebuah tempat yang tak asing bagi Raba, selain dekat, tempat ini sangat pas untuk pertemuan apa pun menurutnya. Raba turun dari mobil bayaran nya, iseng-iseng merapihkan lagi rambutnya. Melangkah masuk dengan begitu percaya diri.


" Bang, kopi nya. Sayang nih, ya ampun " kata seseorang yang berdiri tepat di depan pintu. Sangat mengganggu jalan Raba.


Dia terlihat kesal, sedikit berbalik Raba mencoba mencari tau siapa pelakunya. Saat merasa kenal, Raba memalingkan wajahnya tak berniat meneruskan melihatnya. " Maaf, maaf Mbak. " Ucap pria yang masih kesal itu.


Raba hanya tersenyum, dia meneruskan langkahnya, " Mbak, teman Amara kan? Adik Bang Ghifa ?" kata laki-laki itu, menghentikan langkah Raba.


" Iya saya, kenapa ?" jawab Raba sedikit bingung.


Dia tersenyum begitu lebar, " Oh tidak Mbak, hanya memastikan. Silahkan masuk, maaf mengganggu" ucapnya sangat ramah.


Meski penasaran, Raba tak tertarik bertanya lebih banyak. Dia tau ada yang menunggu nya dengan tak sabar di dalam sana. Raba benar-benar masuk, mencari sosok nya dengan penuh gembira.


" Sini, " Panggil nya melambaikan tangan.


Raba tersenyum, menemukan pria yang membuatnya berbunga sedemikian rupa. Dia Raihan, pria idaman yang ia puja dalam hatinya. Senyumnya begitu manis menggoda hatinya, terpana seketika tanpa ada aba-aba.


Raba lebih mendekat, meraih kursi di depannya segera duduk tak mau menunda lama-lama. " Sudah lama menunggu ?" ucapnya pada Raihan.


" Tidak juga, aku baru sampai "


Raba mengedarkan pandangan, mencoba menghilangkan rasa aneh saat sepasang mata Raihan begitu lekat memandanginya, " Cantik sekali, ngak rugi sabar nunggu hari ini " katanya, membuat Raba seketika bersemu.


" Gombal, " Ujar Raba menghalau rasa malu.


" Kita pesan sesuatu dulu, setelah itu kita bisa berbincang lebih lama "


Raihan mengangkat tangannya, meminta segera di beri pelayanan. Sedangkan Raba masih asik menikmati wajah Raihan yang sebenarnya sama seperti biasanya, hanya rambut nya terlihat sangat rapi. Dia bahkan tak mendengar apa pun yang dikatakan Raihan soal menu, Raba hanya mengangguk-angguk setuju saja.


" Kamu yakin tidak ada tambahan ?" tanya Raihan lagi.


" Iya, itu saja " jawab Raba sekenanya.


Raba memusatkan pandangannya, saat Raihan menyebut namanya dua kali.


" Iya, kenapa ?"


" Kamu se-heran itu lihat aku seperti ini " ucap Reihan. Dia menyadari tatapan memuja dari Raba, yang sedikit tak biasa.


Raba berdehem mengembalikan fokus dan ketenangannya, " Takjub aja, " sebutnya dengan jujur, terlanjur terpergok.


" Ih, mulai deh. " Raba tak lagi menggubris, " Oh iya lusa aku harus libur. Jadi jangan buat kan aku bekal " ucapnya sembari tertawa.


Meski tak berharap, Raba tau sekali jika Raihan akan membuatkan makan siang saat hari Senin. Raihan memang semanis itu padanya.


" Ada urusan penting ?"


" Em, tidak juga. Hanya pertemuan keluarga, mereka menjenguk Nenek. " Raba mengusap tengkuknya, mengalihkan rasa bersalah karena berbohong.


" Aku juga belum menjenguk Nenek, boleh gabung mereka ?"


Seketika Raba membulatkan matanya dengan sempurna, tak menyangka Raihan mengatakan itu atas alasannya. " Ah, itu lain kali saja. Mereka keluarga jauh yang sangat asing, takutnya kamu tidak nyaman. "


Meski merasa di tolak Raihan tetap tersenyum, menyikapi Raba yang terlihat tak bersedia. " Ok, lain kali saja " katanya dengan lapang dada.


Tak lama, dua piring mie goreng lengkap dengan segala topingnya mendarat di meja mereka. " Aku tidak tau, jika di tempat seperti ini menyediakan ini juga " ucap Raihan tertawa. " Kamu ngak keberatan kan ?" katanya lagi.


Tentu saja Raba menggeleng tak masalah, toh bukan hidangan, yang sedang menjadi topik pertemuan kali ini. Dia juga sangat menyukai segala jenis mie. " Ini enak. Aku sangat-sangat suka " jawab Raba tersenyum.


Belum sampai habis mie Raba, tiba-tiba berdering Hp nya. Ada rasa tak enak pada Raihan, ia berusaha mengabaikannya. Tetapi, dengan tidak sabar nya, Hp itu kembali berbunyi. " Angkat aja dulu, siapa tau penting " kata Raihan.


Raba menuruti, segera memeriksa Hp. Ia mendesah kesal saat nama Ghifa kembali muncul untuk panggilan ketiga. Dasar pengganggu ucapnya dalam hati.


" Aku kirim pesan saja " kata Raba, pada Raihan yang masih menatapnya.


Ketika baru saja mengetik satu kata, Raba terheran saat muncul pesan Ghifa begitu saja di layarnya.


Cepat pulang, aku tunggu di luar


Raba memelototi layar Hp nya, tak menyangka Ghifa benar-benar merusak kencan pertamanya. Dengan sebal ia kembali menghela nafas, " Huh, dasar gila "


" Siapa ?" kata Raihan menyahuti.


" Ah itu, bukan, bukan siapa-siapa. " Raba gelagapan tak menyadari ucapannya.


Ghifa kembali menelfon, kali ini Raba tak sabar lagi untuk mengabaikannya. Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi, bersiap memaki Ghifa sehabis- habisnya.


Hp yang masih berdering itu tetap berada di genggamannya, Raba berusaha bersabar sampai tiba di kamar mandi. Tetapi, tiba-tiba saja tangan kekar menariknya ke balik dinding yang sepi, Raba terkejut bukan main, mulutnya sudah terbuka hendak menjerit, dia terdiam begitu saja saat tau Ghifa pelakunya.


" Kamu ?" ucap Raba mendelik. Berusaha melepas tangannya dari Ghifa, " Ngapain, ngak sopan banget jadi orang " katanya mengusap lengannya yang sedikit nyeri.


" Bisa angkat telpon kan, pesan juga sudah di baca. Ini mendesak, gak tanggung jawab banget sama kerjaan. " Ucap Ghifa seperti mengomel.


Tak mau mendengar banyak alasan dari pria yang sangat menyebalkan ini, Raba langsung saja bertanya pada intinya, tanpa kata. Dia hanya menampakan wajahnya yang dingin dan jutek.


" Bunda ingin kita ke rumah, ini soal pernikahan lusa " kata Ghifa pelan, merasa tak enak pada Raba yang terlihat kesal.


***