RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Operasi Nenek



Amara menghentak kan kakinya berkali-kali, kesal karena sikap Ghifa dan Raba yang membuatnya sibuk. Jika untuk Raba bisa, maka Ghifa tetap memaksa. Mereka seperti tak perduli dengan hal sepenting ini dalam hidup.


Saat Amara bertanya mengapa tak ada resepsi, Ghifa dengan lantang menentang jika traumanya belum hilang, tidak siap jika mengulanginya. Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan lain nya, seperti gaun, dan maskawin semua di jawab, terserah dari Raba.


Amara sedang sibuk membujuk Ghifa, agar mau sedikit saja berpartisipasi dalam pernikahan ini. Dia tak berhenti menghubungi kakak kandung nya itu, merasa di abaikan Amara menggedor kantor Ghifa lagi.


" Aku sibuk, kamu saja tanya kan pada Raba, dia ingin model yang seperti apa ?" ucap Ghifa tak beralih dari laptop nya.


" Mas. Setidaknya pilih cincin, gelang , atau apa saja, ajak Raba. Ngakunya saling cinta, ngurusin pernikahan kok malas-malasan. Mas kalau mau tanggung jawab, jangan setengah-setengah dong, dosa Mas, Astagfirullahhaladzim."


Amara sangat putus asa, dia semakin curiga jika mereka hanya berpura-pura saja. Tanda-tanda nya sudah memenuhi pernikahan kontrak, seperti banyak cerita bacaan nya.


" Mas, ngak buat kontrak kan untuk hal kaya gini ?" kata Amara lagi.


Perkataanya berhasil mencuri perhatian kakak nya yang setengah gila, menurut Amara.


Ghifa menatap adiknya tak percaya, dia begitu pintar menebak semuanya, tetapi Ghifa tidak akan tercuri darinya.


" Ngawur kamu, apa ada untungnya ? Ya sudah besok Mas yang akan cari, kamu kabari saja Raba " putusnya tak mau ribut dengan adik kecilnya yang sudah pandai mengatur.


" Mas, " Bentak Amara, " Bisa kan nggak nyuruh Amara, kamu bisa telpon sendiri, ?"


Ghifa sampai tersentak mendengar jawaban adiknya, " Iya, iya. Dasar pemarah " ucapnya mengalah.


Amara pergi dari ruangan Ghifa, bisa di tebak jika adik nya itu akan mengeluh pada bundanya. Sejak ada berita pernikahan nya dengan Raba, Amara tak lagi pulang ke pondoknya. Dia memang sibuk mengatur ini dan itu, seperti yang dikatakan kemarin, apa pun alasannya dia tetap menyukai pernikahan itu.


Ghifa menghela nafas, beranjak dari kursi kerjanya. Ia berdiri menyandarkan setengah badannya, menatap keluar gedung kantornya. Sesekali ia memijit pelipisnya, tak menyangka akan ada banyak hal yang tak terduga setelah kepergian Sovia.


Ghifa kembali teringat kekasihnya, meski dua tahun telah berlalu rasanya ia belum bisa keluar dari masa-masa yang ia lalui bersama Sovia dulu. Ia terlalu nyaman dengan cinta mendalam nya.


Semakin berdiam diri, semakin banyak pula hal yang bermunculan di kepalanya. Ghifa keluar dari ruangannya, berjalan santai menuju kamar mandi.


Jam kerja belum selesai, tetapi kantornya sudah sangat sepi. Merumahkan separuh dari karyawan aktifnya, Ghifa tau ini lah yang akan terjadi. Mengguyur wajah kusutnya, berusaha membersihkan semua yang menjadi beban pikiran sepanjang hari ini.


Ghifa berdiri cukup lama di depan kaca, meneliti wajahnya sendiri. Rahang bersih nan tegasnya itu tak begitu menarik lagi. Dulu ia selalu mematut begitu lama di depan kaca, demi tampil lebih tampan untuk kekasihnya.


Ghifa tersenyum, menyadari jika setiap hal kecil tentang Sovia masih begitu hangat di ingatannya. " Sovia, aku masih mencintaimu, semua terlalu manis bagi ku" ucapnya dalam hati.


Setelah rasa lelahnya sedikit berkurang, Ghifa kembali ke ruangannya. Dia teringat harus mengabari Raba, seperti yang Amara perintahkan tadi. Mencoba menghubunginya, tetapi ia teringat jika Raba adalah seorang guru, kemungkinan ia pasti berada di kelas. Mengurungkan niatnya menelfon.


Bisa ketemu ?


Tulisnya dalam pesan, Ghifa segera meletakan Hp nya lagi. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


***


Setelah keluar dari kelasnya, Raba buru-buru menuju rumah sakit. Hari ini neneknya akan melakukan operasi, Raba sampai berlarian keluar pagar sekolah.


Memeriksa beberapa kali aplikasi ojek, sudah lumayan menunggu tetapi tak kunjung sampai juga. Raba sedikit terkejut ada pesan dari Ghifa. " Aduh, ngak pas banget gini" gerutunya membaca pesan dari Ghifa.


Tak lama ojek datang, Raba dengan cepat ia membalas pesan Ghifa.


" Ok Mbak, "


Melaju di kecepatan rata-rata, motor itu berhasil mengantar Raba sampai di rumah sakit tanpa harus macet. Raba bergegas mencari di mana kakeknya berada. Semoga saja sang kakek tidak mengalami kendala administrasi.


Raba sedikit bernafas lega, melihat kakeknya sedang menunggu di depan ruang operasi. Itu artinya tidak ada kendala, hanya tinggal menunggu operasi selesai.


Dengan sangat pelan Raba duduk di sebelah kakeknya, sejak kejadian malam itu Raba tak cukup berani mengajaknya berbincang terlebih dahulu. Raba tau kakeknya sedang kecewa.


" Yang tenang ya Kek, Nenek akan baik-baik saja " ucap Raba sangat lembut.


Masih dengan menunduk, kakeknya itu tidak menjawab Raba.


Raba tak keberatan, menerima sikap dingin yang layak di terimanya. Ia mengedarkan pandangan, kemudian ia teringat belum membalas pesan dari Ghifa.


Raba merogoh Hp nya di saku seragam, mengetikan sesuatu agar Ghifa mau mengerti keadaanya saat ini.


" Kenapa harus dia ?" tanya kakek pada Raba.


Raba memasukan kembali Hp nya, dia harus menjawab pertanyaan itu dengan sangat tenang.


" Aku menyukainya... Kek "


Kakek Ahmad mengangkat wajahnya, menatap Raba dengan penuh rasa sayang. Dia tak langsung mengucapkan kata-kata, ia menyentuh kepala Raba, " Mengapa harus berbuat salah dulu. Bagaimana pun, itu dosa Raba. Kakek sangat kecewa jika itu alasannya." ia menurunkan tangannya.


Raba diam saja, dia tak bisa lagi mengatakan apa pun, alasan yang di katakan oleh Ghifa memang sangat mengejutkan. Dia sendiri sangat kesal dengan keputusan Ghifa yang terlalu sembarangan.


" Maaf Kek, " cicit Raba.


Keduanya saling terdiam, sesekali melirik pintu yang tak kunjung keluar dokternya. Mereka sungguh tak sabar ingin melihat orang terkasihnya sembuh dari sakit mata.


Tak sampai menunggu dengan bosan, Raba dan pak Ahmad beranjak dari duduk nya dengan kompak. Mereka menghampiri dokter yang terlihat sedikit tersenyum.


" Alhamdulillah, sudah selesai. Kita tunggu sebentar lagi hingga benar-benar bisa di jenguk. Biarkan Ibu istirahat dulu ya Pak" ucap dokter pria itu.


Raba mengusap dadanya lega, sangat bersyukur semua baik-baik saja.


" Bagaimana operasinya ?" kata Ghifa.


Raba dan pak Ahmad menoleh, tak sadar jika Ghifa juga berada di sana.


Raba tersenyum cukup lebar, terlihat sangat bahagia. " Kata dokter baik, "


Ghifa ikut tersenyum, kemudian beralih menyapa sang kakek yang masih datar wajahnya. Ghifa sedikit kebingungan apa yang harus ia ucapkan, hingga ia hanya mengangguk kan kepalanya saja.


Raba tak bisa mengurangi senyumnya, dia tak menyangka hari ini sudah terjadi. Impian mengobati mata sang nenek akhirnya tercapai, dia tau ini bukan apa-apa di banding semua yang telah ia dapat kan selama ini darinya.


Raba menatap Ghifa di sebelahnya, tersenyum lagi dan mengatakan " Makasih, " menggerakkan bibir nya tanpa suara.


***