
Rintik hujan tak lagi menetes, Ghifa terpojok dengan semua pertanyaan dari Amara yang tampak heran dengan kehadirannya. Kepalang tanggung, Ghifa harus merebut Raba dari Amara secepat mungkin.
" Perlu, kamu ada urusan Ra?" tanya Amara pada Raba di sampingnya.
Raba menggeleng, tak membenarkan pertanyaan sahabatnya itu. Matanya berpusat pada Ghifa, seolah memohon jangan katakan apa pun sekarang juga.
"Sebenarnya-,
" Ah, itu. Mas Ghifa ngak sengaja barengan aja, perlunya sama kamu lah, ha ha tidak dengan ku " pangkas Raba pada Ghifa dengan tergesa.
Ghifa tak menyangka jika Raba memang tak sedikitpun berniat menyetujui permintaannya. " Lain kali, kita bicara lagi. Jangan katakan apapun selain aku mengizinkan " ucap Ghifa pada Raba.
Raba tau ucapan Ghifa begitu menekan padanya, tetapi dia tak bergetar hanya karena tatapan tajam laki-laki aneh di depannya ini.
Ghifa melangkah pergi, kemudian berbalik dengan satu kata yang sangat menyebalkan bagi Raba, " Awas...." ucap Ghifa masih pada Raba.
Raba tak bergeming, membiarkan Ghifa pergi dengan semua keangkuhannya. Dia melirik Amara yang semakin bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sangat di takutkan oleh Ghifa, pikir Raba dalam otaknya. " Tidak, tidak ada Am, kakak mu emang begitu kan?" Raba tersenyum. Ketika Amara bertanya ada apa.
***
Bersandar di kursi kemudi, Ghifa memandangi rintik hujan yang mulai pergi. Di tengah jalan tadi dia merasa jika Raba tidak akan membicarakan masalah ini pada Amara. Dia hanya meyakinkan agar Raba tak sesuka hati membeberkan niatnya sebelum ia menyetujui.
Amara tidak bisa tahu lebih dulu, apa lagi jika hanya hubungan palsu yang mungkin saja akan ia jalani dengan Raba. Ghifa hanya perlu menunggu, kapan Raba bisa bersedia mengikuti permainan tak lucu ini dengannya.
Masalah dengan sang bunda, Ghifa tak begitu ambil pusing. Paling jauh bundanya itu hanya akan bercerita pada ayahnya saja. Jika kedua orang tuanya itu tau tidak lah mengapa, justru bisa meredakan gejolak perjodohan yang terus-menerus muncul ke setiap harinya.
Apalagi soal ayahnya yang terkesan sangat tidak perduli dengan apa yang ia lakukan, selagi tak menghamili anak orang. Sejak paksaan menikahi Sovia beberapa tahun lalu hubungan keduanya semakin berjarak, sang ayah yang merasa bersalah, dan Ghifa yang terus menyalahkan dirinya.
" Awas saja jika Amara sampai tahu sebelum dia menyetujui permintaan ku ini, " Ghifa mengeratkan pegangan pada kemudinya.
Dia tetap berdiam di sana memperhatikan dua gadis itu bercengkerama, dengan penuh rasa curiga ke pada Raba. Dia tak sedikit pun melepas pandangannya dari sosok Raba.
Dia menarik nafas begitu dalam, berpikir lagi bagaimana caranya membujuk Raba agar mau menjadi istrinya tanpa harus melibatkan hati. Dia tau ini salah, tetapi jika bukan Raba siapa lagi, sembarang orang tidak akan mungkin bisa menjaga rahasia dan belum tentu bisa berperilaku baik kepada keluarganya.
Oh Raba. Ayo bantu sekali ini saja.
Ghifa memutuskan pergi, menemui Ardi di tempat biasa. Berharap temannya itu tak sedang sibuk dengan pacar barunya di weekend seperti ini.
***
" Kamu masih ambil les Ra?"
" Iya, bulan depan berencana menambahnya Am, jika hanya tiga perhari masih kurang, " jawab Raba sendu.
" Ra, jika terlalu banyak kamu akan lelah. Kamu juga tidak bisa mengendari motor, bahaya kalau pulang malam. Itu saja dulu, Kakek juga tidak akan menyetujuinya "
Amara menatap Raba, berusaha meyakinkan agar sahabatnya ini bisa menyisakan waktunya untuk beristirahat.
" Aku minta tolong Ayah ya -,
" Jangan. Aku mohon Am, jangan " Raba memotong begitu cepat perkataan Amara.
Amara terdiam, menelusuri mata berair dari sahabatnya ini. Ada banyak perihal yang harus ia selesaikan sejak dirinya beranjak dewasa. Dia tumbuh dengan kemandirian yang mungkin saja orang tak bisa membayangkannya.
" Ok. Kita sudah banyak bercerita tentang ku, lalu apa saja yang kamu lakukan di pesantren, apa ada yang sudah mau menikahi mu?" tanya Raba, menggoda Amara.
" Apa sih Ra, aku di sana itu mengaji bukan mencari calon suami. Kamu mikir apa?" Amara menutupi wajah tersipu nya dengan kedua tangan.
Raba tertawa, padahal jelas-jelas dia yang bercerita jika berlari ke pesantren karena mengejar Ihwan tampan yang bermukim di sana. " Masih saja berkilah, aku ini bisa membaca pikiran dan isi hati mu hanya dengan tatapan mata Am, kamu lupa?"
Amara memukul pundak Raba pelan, menyalurkan rasa kesalnya karena tak bisa berbohong padanya.
Keduanya hanya berbagi keluh kesah di kehidupan sehari-hari mereka, menceritakan detail bahagia dan detail-detail luka yang tak bisa mereka bagi dengan orang lain. Duduk saling mendengarkan meski terkadang tak ada saran dan masukan, mereka hanya saling tertawa, menikmati kesederhanaan persahabatan.
Amara menyudahi acara temu kangen yang jarang sekali di lakukan setelah lulus kuliah. Dia ingin sekali mengajak Raba pulang, tetapi sahabatnya itu terlalu sibuk di weekend nya, katanya hendak mencari referensi buku untuk les privat nya. Amara pulang sendiri ke rumah.
***
Ghifa kesal jika mengingat wajah Raba yang seolah begitu membenci dirinya. Di tengah alunan lagu kafe yang begitu syahdu, ada amarah yang timbul begitu saja di hati Ghifa. Entah mengapa dia begitu kesal mengingat Raba dengan keras menolak ajakan menikahnya.
Secangkir kopi hitam original mengepul asapnya di pandangnya dengan tatapan kosong, tak ada apapun dalam benaknya. Kisahnya yang dulu memang begitu getir, mengapa Raba seolah mengejeknya dengan tidak menerima lamaran, ah pantaskah jika di sebut lamaran.
" Ya ampun Bang, ganggu orang kencan aja, emang tidak bisa besok saja?" Ardi datang menggerutu tanpa duduk terlebih dahulu.
Bertambah kesal hati Ghifa, terlebih melihat wajah Ardi yang seolah tak sudi menemuinya, " Ini soal pekerjaan, kamu pikir aku tidak ada kerjaan sampai mengganggu mu berpacaran " jawab Ghifa kesal.
Ardi memilih duduk, merasakan nada bicara Ghifa yang sangat serius tak bisa di ajak bercanda. " Maaf...... Aku pikir hanya iseng aja, bertemu di sini " Ardi merasa bersalah.
Ghifa juga menyadari jika ia telah berlebihan dan membuat Ardi ikut terkejut dengan tingkahnya. Ghifa menarik nafas, menyentuh ganggang cangkir kopi, menyeruput kopi itu dengan perlahan.
" Masih ada kah, uang di kantor Ar?" tanya ia kemudian.
" Ada beberapa juta, jika pemborong yang tersisa tetap bersama kita."
Ghifa tampak menimbang, perlukah ia mengatakan yang sebenarnya pada Ardi, jika tidak dengan alasan apa iya mengambil keuangan yang kandas untuk kebutuhan pribadinya, ah Ghifa sangat pusing. Mengapa seperti ini.
" Untuk apa sebenarnya, apa ada hal yang mendesak?" tanya Ardi, penasaran.
" Aku akan menikahi seseorang "
***