RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Rumah sakit Mata



Raba terbangun lebih cepat dari biasanya, tentu saja karena akan mengantar nenek ke rumah sakit. Dia tak tahan lagi melihat neneknya yang semakin terganggu penglihatannya.


Selesai membuat sarapan Raba segera mandi, dan menunggu kakek dan neneknya keluar dari kamar. Raba memainkan Hp nya, memeriksa room chat yang terlihat sepi.


Tak sengaja ia melihat nama Ghifa, Wajahnya tampak tegas di foto profilnya, dengan gerakan cepat ia mengabaikannya. Pria angkuh itu cukup aneh akhir-akhir ini, menurut Raba.


Lamunan Raba buyar, saat nenek dan kakeknya keluar dari kamar. Raba beranjak ikut menyambut sang nenek. " Wah Nenek sangat cantik, hari ini kita akan jalan-jalan saja ya, ke Rumah Sakit nya ngak jadi"


" Nduk, dari mana kamu dapat uang, bulan kemarin aja kamu sudah di potong gajinya, atau kamu pinjam di itu apa namanya, yang online-online itu ya?" tanya kakek, mengabaikan perkataan Raba.


Tentu saja kakek Ahmad terkejut ketika Raba memintanya bersiap, saat di tanya hendak kemana dia menunjukan seluruh syarat operasi mata sang nenek. Rencananya hari ini ia akan bertemu dengan dokter terlebih dahulu.


" Tidak kok Kek, ada teman Raba orangnya baik banget. Kebanyakan duit, jadi di pinjamkan dulu pada Raba. " Jawab Raba asal.


" Kamu ini jaman sekarang kok percaya sama orang sembarangan, udah nanti kembalikan sebagian uangnya, pakai saja tabungan kita. Kakek ndak tenang Nduk, "


Kakek Ahmad sudah bersiap kembali ke kamar, mungkin saja akan mengambil buku tabungannya.


" Kek, Kakek. Tenang aja Raba ngak minjam ke sembarang orang kok, pinjaman ini juga tidak berbunga. Pokoknya tenang aja ya, kita sarapan dulu"


Raba menuntun kakeknya duduk, mengambilkan sepiring nasi bergantian untuk kakek dan neneknya.


Raba kembali duduk, ia kembali menatap sang kakek yang masih saja memperhatikan dirinya dalam diamnya.


" Makan dulu Kek, percaya sama Raba ya" ucap Raba dengan lembut.


Kakeknya menurut tak lagi banyak menanyakan perihal uang dan pinjaman.


Dengan tenang Raba memulai sarapannya, dia tak menyangka jika menyembunyikan satu hal ini sangat sulit dari kakeknya. Raba tau jika kakeknya itu hanya merasa tak tega kepadanya. Terlebih Raba tak pernah sekalipun menyembunyikan apapun dari sang kakek, terutama masalah keuangan.


Jika dipikir lagi, Raba membulatkan tekad untuk meminjam uang pada Ghifa salah satunya karena pasti ia tak meminta bunga dan bisa cair secepat mungkin.


Benar Raba tak lagi menunda, ketika uang telah sampai padanya ia segera mengurus persyaratan operasi mata neneknya.


Sebenarnya dulu sudah pernah mengurus surat-surat secara lengkap, namun saat itu bertepatan dengan wisuda Raba. Nenek bersikeras menunda operasinya, tak di sangka hingga saat ini uangnya belum terkumpul juga.


Lagi-lagi Raba bersyukur dengan ide gila yang sempat di ajukan oleh Ghifa, bahkan ketika ia menolaknya Raba sudah pusing tujuh keliling bingung harus bagaimana. Untung saja dia bisa membujuk pria aneh itu.


Selesai dari sarapan, Raba memesan taksi online, bersiap pergi ke Rumah sakit. Dengan senyum leganya, Raba melihat kakek dan neneknya, keduanya saling menguatkan meski masih dalam perjalanan.


Raba berjanji dalam hatinya, jika tak akan meninggalkan keduanya apa pun yang terjadi, bekerja tanpa mengeluh untuk mereka dan terus sehat agar tetap menjaganya. Raba tersenyum begitu samar ke arah kaca Spion yang mengarah ke kursi belakang.


Menukar cinta dengan cinta, mengganti cinta dengan cinta pula, Raba tak akan pernah mengubah prinsipnya apa pun yang akan menjadi pilihannya.


" Rumah Sakit Fatimah bagian Mata, " ucap pak sopir saat menghentikan mobilnya.


Mereka sampai tujuan, dengan perlahan kakek Ahmad memindahkan istrinya ke kursi roda, begitu juga yang ikut membantunya. Mereka memasuki Rumah Sakit, dengan kakek yang setia mendorong sang istri dengan perlahan.


Dia tak sanggup lagi untuk sekedar tersenyum, melihat semua apa yang telah ia terima dari cucu kesayangannya itu. Sedikit pun tak pernah menyangka jika balita yang menangis di pangkuannya karena ditinggal ayah dan ibunya meninggal itu, telah tumbuh dewasa di depan matanya.


" Apa dia tidak susah mencari uang sebanyak itu untuk ku?" tanya Nenek tiba-tiba.


" Aku tau dia anak baik, tetapi kita tak bisa menolak niat baik dan semangatnya. Doa kan saja agar dia tetap sehat dan baik-baik saja hingga memiliki keluarga"


" Iya, aku juga akan tetap sehat untuk cucuku" kata Nenek.


Keduanya memperhatikan Raba yang seolah sibuk mengurus ini dan itu, yang mereka tak mengerti. Raba yang sangat terbiasa mengurus segala kebutuhan dan kepentingan semua sendiri sangat cekatan dan tak sedikitpun terlihat kebingungan.


Untuk kesekian kalinya, Ahmad bersyukur telah bertahan hidup menemani gadis istimewa seperti Raba. Tangannya menggenggam erat tangan istrinya, seolah menyalurkan segala rasa dalam hatinya.


Tak lama, Raba kembali dengan senyum sumringah yang terpancar dengan terangnya, langkahnya sangat bersemangat. " Alhamdulillah, nomor antriannya tidak terlalu jauh. Kita tunggu sebentar ya Nek." Katanya, sembari berjongkok menatap wajah neneknya.


***


Ghifa masih menggerutu pada bundanya, yang memaksanya pergi ke rumah sakit. Padahal ia hanya pusing, setelah bangun tidur tak lagi terasa.


Ternyata kata dokter juga Ghifa hanya kurang tidur dan istirahat, bundanya itu sibuk membeli vitamin dan susu agar ia segera sehat katanya. Tidak tanggung-tanggung ayahnya juga ikut mengantarnya, bayangkan saja bagaimana perasaan pria dewasa dengan tubuh tinggi berisi nya itu di antar berobat kedua orangtuanya, Ghifa mengatakan sangat malu.


Setelah urusan keluhan Ghifa selesai, Nia juga memaksa suaminya untuk segera mengontrol kesehatan matanya. Hamdan juga akhir-akhir ini mengeluh pandangannya sedikit kabur, Nia membagi rata omelan nya itu pada kedua laki-laki satu jiwa beda hati itu.


" Ayah lain kali saja ya Bun, kasihan Ghifa dah ngantuk tuh" kata Hamdan merayu istrinya.


Ghifa hanya tersenyum, dia tau jika ayahnya ini juga tidak mau pergi menemui dokter.


" Alasan. Yok turun" ajak Nia pada suaminya.


Mereka telah sampai di parkiran, sedangkan Hamdan masih saja enggan turun dari mobilnya. Dengan tatapan tajam sang istri akhirnya dia menyerah dan mengikuti Nia.


" Loh, Tante sama Om ?" tanya Raba.


" Raba, " ucap Nia, ia juga melihat kakek dan nenek Raba, " Habis antar Nenek ya?"


" Iya Tan, kalian?"


Saat bersamaan Ghifa keluar dari mobil. Ia menatap Raba sedikit terkejut, namun tak lama wajahnya berubah seperti biasa.


" Antar Om, katanya sedikit ada masalah matanya" Kata Nia, pada Raba yang terlihat tengah memperhatikan Ghifa.


" Jadi, bagaimana apa ada perkembangan?" tanya Hamdan.


Raba sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hamdan, " Oh itu, Alhamdulillah nenek sudah di jadwalkan operasinya Om" jawabnya sedikit tergagap.


Ghifa menatap Raba dengan begitu tajam seperti biasanya, tanpa kata dengan wajah kakunya, entahlah wajah itu seolah otomatis berubah saat bersitatap dengan Raba.


" Mas Ghifa sakit ya ?"


***