
Setelah menemui neneknya, Raba bersedia pergi bersama Ghifa. Pergi ke toko perhiasan dengan penuh rasa canggung dan kikuk, keduanya hanya saling melempar saran, seolah tak berhak mengambil keputusan.
Di tempat yang sama, seperti saat membawa Sovia memilih cincin pertunangan. Ghifa hanya tak mengerti di mana lagi tempat terpercaya untuk hal ini. Sedangkan Raba, menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Ghifa.
Saat mobil berhenti melaju, Ghifa mengatakan sesuatu yang menurut nya lebih baik di katakan, " Ini, tempat yang sama saat aku membeli cincin ini " katanya, mengangkat jemari kirinya.
Raba terlihat meneliti, sesaat ia tersenyum begitu damai, " Aku tau, " singkatnya.
Ghifa mengangguk, dia meneruskan langkahnya, sedikit mendahului Raba di sampingnya.
Tempat yang masih sama, Ghifa tak perlu lagi menjelaskan bagaimana kebahagiaannya waktu itu, sampai sekarang dia tak lupa sedikit pun, untuk kali ini cukup biasa saja, seperti pergi bersama Amara.
Ghifa di sambut begitu ramah sama seperti dulu, dia sedikit menunggu Raba yang terlihat agaknya merasa tak enak hati, dia berjalan begitu lambat tak seperti biasanya. " Sini, " ucap Ghifa padanya.
Satu senyuman kikuk yang begitu kentara, gadis keras kepala itu seperti salah tingkah atau ah entahlah Ghifa tak terlalu paham. Raba mendekat pada Ghifa, di bimbing agar memilih perhiasan yang sekiranya pantas untuk di jadikan simbol atas pernikahan jadi-jadian ini.
" Tentukan saja apa mau mu " ucap Ghifa.
Raba terlihat berpikir sejenak, dia jua dengan jelas melirik tangan kiri Ghifa.
Tiba-tiba Raba meraih tangan Ghifa, " Mbak, yang seperti ini masih ada ?" katanya, sembari mengulurkan tangan Ghifa, menunjuk cincin tanpa melepasnya dari jari nya.
Meski sedikit heran, tetapi Mbak-mbak itu tetap tersenyum, " Saya coba cari, kemungkinan sudah tidak ada, tetapi sebentar kita coba cari " ucapnya, bergegas melakukan pelayanan.
Raba melepas tangannya dari tangan Ghifa, " Maaf, " katanya.
Ghifa berdehem kecil, " Kenapa harus sama ?" suara Ghifa terdengar begitu dingin, seolah tak suka dengan keputusan Raba.
" Ah itu, maaf jika kamu tidak suka. Menurutku ini pilihan terbaik, dari pada melepas atau meletakan nantinya, aku sangat tau kamu tidak akan melepas itu demi yang baru, tetapi kehidupan tak lepas dari pandangan orang lain. Orang akan berkomentar jika cincin kawin tidak di gunakan. Jika kau pilih yang sama, kamu tidak perlu memakai yang baru, itu saja cukup"
" Tapi kamu mengenakan cincin yang sama, dengan Sovia " kata Ghifa terus terang.
Raba menghela nafas, " Jadi, kita pilih yang lain saja ?"
Ghifa menatap Raba yang merubah wajahnya sedikit kesal, sarannya memang tidak buruk, tetapi ia merasa mengapa harus begitu. Karena Ghifa terlalu banyak berpikir, sampai sepasang cincin dengan motif yang sama, tak sadar telah di depan matanya.
" Kalian beruntung, masih ada satu yang tersisa " Mbak-mbak ramah itu menyodorkan pada keduanya.
Raba menatap Ghifa lagi, lama tak mendapat keputusan, dengan berdecak pelan Raba mendorong kotak cincin itu, "Mbak saya pilih yang ,-
" Kita ambil yang ini " Ghifa memotong ucapan Raba, dia bahkan menarik kembali kotak cincin itu.
Dengan tergesa, Ghifa segera mengeluarkan kartu debitnya. Dengan wajah berpaling menjauhi Raba. Entah mengapa dia tak tega melihat sepasang cincin itu di kembalikan lagi.
Urusan sudah selesai, Ghifa mengantarkan Raba pulang diam tanpa kata dalam mobil nya. Begitu juga dengan Raba, dia sibuk memainkan Hp tanpa menghiraukan Ghifa di balik kemudinya. Tidak ada sedikit pun obrolan dari keduanya, sampai pagar putih terlihat, Ghifa menghentikan mobilnya.
Tak sungkan sama sekali, Raba turun tanpa mengucapkan terimakasih. Dia masuk ke halaman rumah tanpa berbalik sedikit pun pada Ghifa, sedangkan Ghifa hanya berdecak sendiri memukul stir mobilnya kesal.
" Makasih kek, main nyelonong aja " gerutunya, sembari memutar kemudinya.
Ghifa melajukan mobilnya ke Cafe, ia ingin bersantai sejenak sebelum kembali ke kantor. Dua hari lagi pernikahan dadakan itu akan di laksanakan, meski Raba setuju tanpa ada pernak pernik di hari itu, nyatanya Amara tak menyetujuinya sama sekali.
Ghifa duduk begitu saja di meja kesukaan nya, tak lama seseorang pasti akan datang menghampirinya. Pikirannya masih berpusat pada pernikahan dan Raba, gadis keras kepala itu terlalu nekat menurutnya, Ghifa sempat berpikir apa karena dia terlalu buntu atau memang gampang menerima ajakan orang gila sepertinya.
Selain merasa senang telah di bantu, hatinya juga miris menganggap dia begitu semaunya terhadap pernikahan.
" Bang, sendiri aja ?"
Itu dia Tama, penguasa Cafe ini pasti muncul tanpa di cari. Ghifa menoleh pada nya, " Iya, yang lain datang juga ?" tanya Ghifa.
" Nggak sih,"
Tama ikut duduk, diam saja memperhatikan wajah Ghifa, " Bang, kemarin bawa cewek ke sini kan ?" ucapnya tiba-tiba.
Ghifa melihat wajah penasaran Tama, dia baru tersadar dengan pertanyaan nya, ini tentang Raba waktu itu. Ghifa berdehem kecil, menetralkan suaranya yang mungkin terdengar gugup.
" Yang mana, kapan ?"
" Pakai baju batik, ceweknya cantik, sepertinya agak muda kan ?"
Benar sekali, Tama melihat jelas Raba waktu itu. Ghifa tak mungkin jujur, tetapi jika mengelak bisa saja akan lebih rumit ceritanya nanti. " Ah itu, itu teman Amara, kebetulan ada urusan aja "
" Si, Rabania, pantesan cantik banget dari belakang. Tumben ada perlu sama dia, soal perasaan ?" katanya begitu bersemangat.
Ghifa berdecak, " Apa an sih, dia biasa aja kok. Dan bukan perasaan juga, kita hanya makan disini " jawab Ghifa sekenanya.
Tama mengangguk-angguk, entah dia percaya atau tidak dengan ucapan Ghifa. Ghifa menyesal singgah ke cafe, karena Tama malah menambah pikirannya.
Ghifa menghela nafas, " Kopi dong Tam, malah diem aja di sini " kata Ghifa mengusir Tama dari mejanya.
" Iya, iya bentar " dia beranjak dari sana, sembari menggerutu, hingga Ghifa tak mendengarnya.
Ghifa mengeluarkan Hp dari saku celana, tanpa sengaja mendengar seseorang di belakangnya menyebut nama yang sama seperti Tama tadi, tetapi dengan suara yang begitu lembut.
" Rabania, kamu juga perlu santai sesekali tak masalah, aku sudah menunggu mu di cafe. Kita kan sudah atur janji satu Minggu yang lalu"
..........
" Ya sudah, jangan lama-lama ya. "
Ghifa perlahan menoleh kebelakang, memastikan sosok yang sedang bicara di sambungan telepon. Cukup menarik, dia tampan dan sepertinya berprofesi sama dengan gadis keras kepala itu.
Mungkin saja, dia laki-laki yang di ceritakan Amara, laki-laki yang sedang menemani Raba berjuang untuk hidup bersamanya. Ghifa tersenyum miring, wajar saja dia mau menerima tawarannya, jika benar itu pacarnya, mana bisa dia membantunya.
Ghifa menggelengkan kepala, tak percaya Raba bisa berpikir begitu jauh untuk masa depannya.
" Jelas saja dia tak punya uang " ucap Ghifa pelan.
Anehnya ia semakin merasa kesal pada Raba.
***