RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Nasi Bekal dan Pembuatnya



Ghifa melemparkan Hp nya ke meja. Setelah memastikan Zahra melaluinya, ia membuang nafas begitu lega. Setidaknya gadis itu mendengar jelas percakapannya dengan Raba, meski sebenarnya hanya ia yang bicara. Gadis keras kepala itu hanya tampak kebingungan dengan tingkahnya.


Ghifa meraih Hp nya kembali, mengetikan sesuatu pada Raba. Dengan menggerutu, " Nanti dia ngira aku gila" ucapnya.


Hari pertama kamu kerja.


Tulisnya begitu singkat, ting secepat kilat telah terkirim. Ghifa meletakan kembali benda canggih penolong masa depannya kali ini.


Ghifa juga sempat melongok, kemana Zahra pergi. Sepertinya dia sudah pulang, tak terdengar bundanya berbincang lagi.


***


" Terimakasih Ustadzah, sudah mau singgah kemari. Jika ada sempat nanti, saya akan berkunjung bersama Ghifa, insyaAllah." Kata Nia di depan pintu.


Zahra diam saja dengan senyum singkatnya, " Kami pulang ya Tante" katanya menyalami Nia.


" Iya hati-hati, "


Keduanya pergi, mobil berwarna silver itu meninggalkan pelataran rumah mewah bercat putih tanpa ragu


Sedangkan di dalam mobil, Zahra tampak diam saja tak semangat seperti tadi. Ibunya sampai heran dan penasaran, " Kamu kenapa?" kata ibunya.


" Umi... Mas Al Ghifari itu sayang-sayangan dengan orang lain tadi. Kata Tante Nia dia siap ta'aruf. Ah Zahra tak suka padanya" ucapnya setengah merengek.


" Kata siapa kamu?"


" Zahra mendengar sendiri umi, dia juga mencium pacarnya lewat panggilan vidio. Ah, Zahra ngak suka, dia... Dia ah, Zahra ngak mau umi.."


Ustazah Halimah tak menyangka jika putrinya langsung menolak Ghifa seperti ini, dia hanya menghela nafas. Tak mungkin membujuk putrinya lagi jika seperti ini.


***


Raba menatap Hpnya, dia masih saja heran dengan sikap Ghifa. Dia juga sedikit penasaran, tak lama notifikasi pesan masuk. Terlihat sekilas nama Ghifa dengan satu pesannya.


Raba hanya kesal pada suara aneh Ghifa yang terakhir tadi, sembarangan sekali memberi kecupan lewat telfon. Padahal dia tau jika ia sedang di kelas. Menyebut Ghifa gila spontan saja dari dalam hatinya sejak tadi dan berkali-kali.


Raba mengabaikan pesan itu, melanjutkan menjelaskan kembali materi di kelasnya. Untung saja tadi ia sempat keluar mengangkat panggilan vidio Ghifa, jika tidak mungkin dia akan terkena teguran keras, karena mesum di kelas.


Raba menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran buruknya. Ia kembali fokus pada materi, mejelaskan hitung-hitungannya di papan tulis.


Jam terakhir semakin panas mengepul dengan materi keramat matematika ini, jangankan mereka yang belajar, Raba yang mengajar saja sudah sangat tak karuan rasanya. Untungnya bel tanda pelajaran berakhir terdengar begitu nyaring, menggembirakan.


Raba tertawa, murid-muridnya ini sangat tidak bisa berbohong jika bosan dengan matematika. Raba maklum saja, yang penting sepanjang jam pelajaran mereka tidak mengeluh padanya.


" Kita sambung besok lagi, apa masih ada pertanyaan?" ucap Raba.


Mereka bahkan kompak menjawab tidak, ah mereka ini tak bisa menahan lagi. Terlihat dari mata mereka yang mengusirnya. Meraka sangat memohon, agar ia segera keluar.


" Kalau begitu cukup sampai disini, sampai bertemu di pertemuan berikutnya, dan jangan lupa kerjakan di rumah." Ucapnya untuk terakhir kali.


" Ok Bu...." Jawab mereka kompak.


Raba keluar dari kelas, ia menyempatkan melihat Hpnya lagi saat berjalan menuju kantor.


Mulutnya terbuka membentuk 0, dia tak percaya sistem kerjanya telah di terapkan mulai hari ini. Kemudian Raba baru tersadar, jika Ghifa pasti sedang terdesak tadi.


Raba tersenyum, " Ada-ada saja, " ucapnya meneruskan langkahnya yang sedikit berhenti tadi.


Raba masuk ke dalam kantor, di meja kubikel nya tergeletak kotak bekal. Raba mendekat, memeriksanya. Seingatnya dia tidak membawa bekal, dia menoleh kanan dan kiri, mencoba bertanya pada seseorang. Kemudian, ia melihat secarik kertas di bawahnya.


Raba tersenyum, dia tau siapa yang meletakan ini di sini. Raba meletakan buku, mendudukkan dirinya yang sedang lelah dan lapar.


" Baik banget, tau aja kalau aku lapar" gumamnya dengan tersenyum.


Ditengah makan siangnya yang begitu nikmat, Risti datang menyapa.


" Ra, udah makan aja kamu?" dia meletakan buku dan laptop nya di meja.


" Iya nih Ris, lapar banget" jawab Raba nyengir kuda.


Risti menarik kursi, duduk lebih dekat pada Raba, " Kamu mau ngak ambil les ku ?" katanya tiba-tiba.


Raba menghadap Risti, " Les yang mana, memang kamu kenapa?" katanya.


Setau Raba, Risti mengisi les di banyak tempat, dan kebanyakan anak-anak orang kaya.


" Aku hamil Ra, suami ku melarang ku banyak kerja. Hampir saja aku di minta berhenti ngajar" ucapnya sangat sedih.


" Wah kamu udah hamil, selamat ya, ya ampun. Senang sekali" ucap Raba menyentuh tangan teman dekatnya itu.


Risti tersenyum, " Jadi gimana, mau ngak ambil lesnya ?" tanya ia lagi.


Raba tampak berpikir, dia saja sudah ada les di tiga tempat. Tetapi Raba memang sedang sangat butuh uang tambahan untuk melunasi hutangnya.


" Satu aja lah Ris yang ku ambil, aku udah ada tiga, belum lagi mereka kadang minta seminggu dua kali kadang juga lebih. "


" Oh itu Ra, ada satu yang tempatnya ngak terlalu jauh dari rumah mu. Trus, bayarannya lumayan, tetapi anaknya agak nakal, tapi tenang aja orang tuanya baik kok. Masih muda, duda pula" katanya bersemangat.


Raba melotot, " Hah, masa sih. Duh takut cinlok, cinta lokasi kayak di sinetron ha ha ha" jawab Raba asal.


" Nggak masalah Ra, lagian kamu emang jomblo kan" Risti juga tertawa sangat lebar.


Terabaikan sudah makan siang spesial yang sedang ia nikmati tadi. Risti juga langsung memberikan alamat rumah itu pada Raba.


" Kamu udah urus kan, kalau mau berhenti?"


" Sudah Ra, beres pokoknya. Anaknya juga udah ku kasih tau kalau guru lesnya ganti. Setiap hari Sabtu ya Ra, tetapi bisa berubah harinya. "


" Iya deh, gampang itu. Dekat ternyata dengan rumah ku" kata Raba saat melihat alamatnya.


Risti tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena Raba membantunya, katanya ia tak enak jika sembarang mencari pengganti.


Raba membereskan kontak bekal, ia juga beranjak ke wastafel. Mencuci tangan, dan sedikit membasuh wajahnya yang kusam. Guyuran air meresap begitu lembut dan menyegarkan wajahnya, Raba begitu menikmati setiap guyuran kecil itu.


Ketika mengangkat wajahnya, terlihat sebuah tangan mengulurkan tisu padanya. Raba sedikit terkejut, namun tak lama ia menguasai dirinya kembali. Menerima tisu, membalasnya dengan senyuman.


" Ada les lagi hari ini ?" ucapnya begitu lembut.


Raba mengangguk, menatap sosok murah senyum yang berdiri di depannya. Dia bahkan tak segan merapihkan helaian rambut di wajah Raba yang tak sengaja basah.


" Mau ku antar ?" katanya lagi.


Raba menggeleng, " Tidak perlu, kamu tau arah kita berbeda setiap hari Senin" ucap Raba begitu manis padanya.


" Pengen hari Rabu dan Kamis sesegera mungkin." Ucap pria yang selalu menyempatkan membuat bekal untuknya.


***