
Ghifa belum pergi dari depan rumah Raba, entahlah dia sedang apa. Sepuluh menit berlalu dia belum berniat menggerakkan mobilnya. Bayangan wajah Raba yang tenang, tegang, dan marah terlintas begitu saja. Apa ini, baru beberapa kali menemuinya dia sudah melihat begitu banyak jenis emosi dari gadis keras kepala yang begitu di pedulikan oleh adiknya.
Dia mengetukkan telunjuknya pada stir mobilnya pelan. Keputusan mengajak Raba berdiskusi semakin bulat. Dia yakin ucapannya tadi belum benar jika di sebut tawaran, secepatnya ia harus menemuinya lagi.
Merasa telah menemukan solusi, Ghifa bergerak menuju kantornya. Meski tempat itu tak layak lagi di sebut sebuah kantor, setidaknya Ghifa masih memiliki pekerjaan dan tabungan di sana.
Tak bohong jika ia sangat bergantung pada keuangan usahanya apa lagi saat-saat sulit seperti ini. Jika saja dia tidak habis merugi, pasti tak ada penurun penghasilan drastis seperti ini.
***
Televisi menyala tanpa suara, di ruang tengah itu Amara dan bundanya sibuk bercerita banyak hal, Amara sangat nyaman dengan kepala berbaring di pangkuan Nia.
Tangan hangat sang bunda mengelus pucuk kepala Amara, beberapa kali menanyakan kegiatan apa saja saat di pesantren. Nia begitu antusias mendengar cerita sang putri yang terlihat begitu bahagia.
" Am, Apa Mas mu tidak cerita soal Raba?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terucap, Nia tak tahan menyimpannya.
" Soal Raba, memang sejak kapan Mas Ghifa dekat dengan Raba. Tidak, memang iya, kemarin mereka menemui ku bersama. Katanya hanya kebetulan. Ada apa Bunda?"
Amara bangun dari pangkuan Nia, mencoba mendengar cerita lebih jelas.
" Tidak ada. Mas mu kan memang seperti itu, Bunda kira akan ada perubahan" Ujar Nia berbohong.
Amara tampak berpikir, tak di sangka ia malah murung dalam sekejap. " Bun, Mas Ghifa sekarang tambah dingin, senyumnya semakin berkurang. Apa iya kak Sovia belum pergi dari hatinya?"
Nia terlihat bingung hendak menjawab apa, bahkan Amara yang jarang bertemu saja masih bisa merasakan kesedihan Ghifa, lalu bagaimana dengan dirinya yang setiap hari bersama. Belum lagi kerenggangan Ghifa dengan suaminya.
Nia menggeleng, merasa tak bisa menjelaskan apapun. " Doa kan saja, agar dia bisa kembali seperti dulu" ucapnya menepuk pipi kiri Amara.
Patahnya hati Ghifa memang begitu berdarah, tetapi waktu terus bergulir wajarkah jika dia masih menyimpan rasa. Tak bisa di salahkan, sebab urusan hati hanya dia dan Tuhan yang tau.
" Bun, aku kenalkan Mas dengan teman-teman ku ya, banyak kok yang siap nikah tanpa pacaran. Di pondok lumayan banyak Bun" ucap Amara mengusulkan solusi untuk masalah ini.
Nia hanya tersenyum, " Jika Mas mu berjodoh dengan teman mu memang kamu tidak mengapa?"
" Tidak masalah Bun, asalkan jangan Raba "
Nia sampai terkejut dengan ucapan terakhir dari Amara. " Apa masalahnya?" Nia begitu menelisik sang putri.
" Tidak ada, asal Mas yang suka sama Raba, dia harus mengatasi masa lalunya kan. Karena Raba sudah mengenal Mas lebih jauh dari orang lain. Tidak baik jika dia yang mengejar Mas Ghifa, " ucap Sholeha setengah tertawa.
" Bisa gila rasa laki-laki tua itu, belum lagi kesombongannya terhadap wajah tampan dan tubuh tingginya. Ya Allah, kasian si Raba...." tambah Amara dengan tawanya.
Nia membuang nafasnya perlahan, sampai terkejut jika putrinya ini tak merestui kakaknya. Tetapi Nia tak menganggap ucapan Ghifa sungguhan, nyatanya sampai saat ini putranya itu belum memberikan bukti kesungguhan kata-katanya.
" Biarkan saja Mas mu, selagi dia masih mau pulang ke rumah Bunda mu tidak begitu khawatir. Ghifa sudah sangat dewasa, dia pasti bisa berpikir lebih baik, Ayah cukup tenang " Seloroh Hamdan yang baru saja ikut bergabung.
Pria yang memiliki wajah sama persis dengan Ghifa itu duduk menyebelahi istrinya, merapat kemudian merangkulnya.
" Ayah, jangan bermesraan di sini" teriak Amara, sembari menutup sebelah matanya.
Hamdan menyemburkan tawa, putrinya ini sejak kecil tak pernah berubah. Tak terima jika Bundanya di manja sedemikian rupa oleh ayahnya. Bahkan dia terang-terangan mengatakan cemburu.
" Ayah suka, memangnya kenapa?" Hamdan seolah semakin membuat Amara gemas karena iri.
" Ih Ayah..... Am ngak bisa berhenti baper. Pikirkan perasaan gadis jomblo ini dong Yah" ucapnya begitu sungguh-sungguh, dia bahkan ikut merapatkan posisi duduknya pada Nia.
Nia tersenyum " Am, kamu ini sudah besar, masa iya masih seperti saat kamu kecil dulu. Ayahmu tidak sedang pamer, dia hanya tidak bisa menyembunyikan dari mu "
Jawaban Nia terdengar begitu mesra di telinga Hamdan, bahkan ia mengeratkan rangkulannya pada sang istri. Menatap Amara yang seolah tak terima.
" Bunda, Amara tau. Kemesraan kalian memang tak pernah berkurang dari dulu. Semakin dewasa ini Am sangat bersyukur jika kalian tetap seperti ini." ucapnya serius.
Pembicaraan ringan ini terus berlanjut, apa lagi saat Hamdan terus saja menggoda putrinya untuk cerita tentang laki-laki yang seperti apa yang menjadi idamannya. Bahkan Hamdan tak segan merekomendasikan kriteria yang cocok dengan Amara.
Amara hanya senyum-senyum malu, padahal dia tak memiliki idaman saat ini. Sekedar suka saja tak lebih, itu pun ia tahan dalam hati. Entah mengapa ketika pulang ke rumah ada saja tingkah sang ayah yang tak bisa ia abaikan begitu saja.
Memilih yang tampan, baik hati, kaya dan beriman baik. Bukan kah itu terlalu sempurna di era zaman akhir seperti ini.
" Ah Ayah, tinggi sekali standarnya " ucap Amara pada Hamdan.
" Sekedar berharap, jika tak mendapat yang seperti itu setidaknya jangan tertinggal imannya," Hamdan bahkan menekan kan kata iman seperti tanda warning untuk putrinya.
Amara tersenyum, dia tau arah pembicaraan ini bukan sekedar saran melainkan nasihat yang mungkin saja menjadi landasan ia menerima sosok menantunya. Lupakan soal itu, Amara bahkan tak sedang memikirkan seseorang.
" Yah, bantu Mas Ghifa dong. Dia terlihat sangat sulit, cari kan dia jodoh atau nikahkan saja dia dengan anak Tante Rahma" ucapnya tiba-tiba.
Hamdan sampai melotot, kemudian beralih ke mata sang istri yang menatap begitu tajam padanya. Oh Amara tidak tau kah kamu jika Ayahmu akan selalu dalam bahaya jika nama itu di sebut.
" Tidak. Aku tidak mau di jodohkan dengan siapa pun"
Ghifa tiba-tiba menyela, dia baru saja masuk. Penampilannya yang sedikit Kumal dan lesu, kakak Amara ini seperti habis terkena badai di pinggir pantai.
Semua orang terdiam, merasa kelu dengan tatapan tajam dari Ghifa.
***