
Ghifa tampak heran dengan Ardi, tak biasanya dia menyambutnya di pintu masuk. Apalagi dia terlihat tak sabaran dan bahkan berlari kecil menghampirinya.
" Lama banget sih Bang, buruan" uapnya pada Ghifa, dengan wajah kesalnya.
Ghifa tak mau terbawa suasana, biasanya Ardi sering iseng dan mengerjainya apa lagi hari masih pagi seperti ini.
" Ada apa, ?" Ghifa bahkan dengan santai membenarkan posisi arlojinya yang tampak baru.
Ardi berdecak, bosan dengan sikap santai Bos nya yang sok kaya, padahal hampir bangkrut. " Ada Raba, " ucapnya.
Ghifa menghentikan langkahnya, menghadap Ardi yang masih di belakangnya " Serius, ?"
" Iya lah, tuh di ruangan Abang " Ardi menunjuk pintu dengan dagunya santai.
Ghifa mengeriyit dan menatap curiga pada Ardi kemudian melirik pintu ruangannya, " Sudah lama dia ?"
Ardi kembali berdecak " Dari subuh tadi, udah cepetan !" ia mendorong pelan Ghifa, tangannya membuka kan pintu.
Benar saja Raba tengah duduk menunggunya, Ghifa segera menutup pintu mencegah Ardi ikut masuk.
Raba berbalik, melihat Ghifa yang tepat berada di belakangnya. Keduanya saling pandang, sebelum akhirnya Ghifa duduk salah satu sofa di hadapan Raba.
Ghifa menatap gadis yang begitu rapi dengan seragam kerjanya. Ghifa melirik jam tangan " Kamu akan terlambat jika tetap di sini " katanya begitu saja.
Raba ikut melirik jam tangan juga, dia menatap Ghifa dengan malas, menghembuskan nafasnya kasar " Kamu yang kesiangan, mentang-mentang kantor sendiri" Raba menyandarkan punggung yang tampak begitu lelah.
" Banyak bicara, katakan saja apa perlu mu" jawab Ghifa tak terima dikritik tamunya.
Raba kembali duduk tegak, wajahnya berubah serius. " Beri aku dua puluh lima juta, aku mau menikah dengan mu"
Ghifa sangat terkejut matanya seketika membola tak percaya apa yang telah di ucapkan gadis keras kepala ini.
" Apa maksudnya, ?" tanya Ghifa.
" Beri aku waktu satu tahun, akan ku lunasi dan setelahnya ceraikan saja aku. Kamu yang meminta ku untuk menolong dari perkara perjodohan Tante Nia kan, setidaknya cukup untuk membuatmu tenang selama satu tahun itu" jawabnya begitu tegas tanpa berpikir lagi.
Jelas sekali jika Raba telah memikirkannya begitu matang, Ghifa mencoba mencari kesungguhan di mata Raba. Lama ia terdiam kemudian berdiri tegak dan beralih ke meja kerjanya.
" Sayangnya tawaran ku sudah tidak berlaku, dan saya tidak sedang membuka pinjaman uang " dengan santai Ghifa memainkan jam pasir di mejanya.
Raba tampak terkejut, dan berdiri ia kembali menarik nafas begitu kasar " Kalau begitu, anggap saja aku sedang meminta bantuan mu, seperti kemarin kamu berkali-kali memohon"
Lihat saja gadis yang sepertinya kesal dan emosi, sejak tadi telah mengubah panggilan Mas yang biasa ia gunakan saat bersama Amara.
Ghifa tak bermaksud menipu Raba, tetapi dia memang telah tak merasa di desak lagi oleh ayah maupun bundanya. Sejak semalam Ghifa bertekad akan melakukan semua sesuai dengan keinginannya.
" Ada banyak syarat jika kamu memaksa" ucap Ghifa, setelah terdiam sejenak.
" Katakan saja, aku tidak bisa berlama-lama " jawab Raba dengan berdecak geram.
Bagaimana tidak kesal jika untuk menemuinya di sini, Raba sudah telat setengah jam dari pelajaran pertamanya. Sedang butuh uang banyak begini, sayang sekali jika potong gaji pula.
" Nikah di KUA saja, tidak ada resepsi dan gak usah kayak suami istri beneran. Saya mau hidup bebas tanpa tuntutan "
" Saya terima, dan apa perlu tanda tangan kontrak juga?" jawab Raba begitu tegas.
Sedangkan Ghifa malah panik sendiri, mengapa Raba terburu-buru tidak seperti kemarin-kemarin. Ghifa tak langsung menyetujui semua kesepakatan ini.
Memandangnya sekali lagi, sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh Raba saat ini, tiba-tiba Ghifa teringat masalah neneknya kemarin malam.
" Ah, kamu butuh uang ya? Aku pinjamkan, dan lupakan masalah tawaran ku " Wajah keras Ghifa berubah menjadi ramah.
Sayangnya Raba tak menyukai itu " Setidaknya jika kamu menikahi aku, kamu bisa memantau ku lebih dekat, dan lumayan jika aku bisa menemani kondangan, atau banyak hal Mas, apa pun itu. Aku tidak bisa menerima bantuan mu begitu saja" ucapnya begitu sendu.
Wajah kesal dan emosi Raba berubah seketika, kini tampak rapuh dengan segala kebingungannya.
Ghifa bingung sendiri, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kembali melihat jam di lengannya. Hampir satu jam dia di sini, Raba adalah guru Honorer gajinya tak seberapa dan mungkin dipotong pula karena perkara ini.
" Kamu harus pergi dari sini dan pikirkan saja dulu dengan matang. Aku akan transfer uangnya sesegera mungkin, " ucapnya pelan.
Begitu juga dengan Ghifa, dia juga telah mengubah gaya bicaranya sedikit lebih lembut dan ramah, penuh simpati.
Raba menggelengkan kepala, " Aku akan pergi jika kamu menyetujuinya" ucapnya lagi begitu tegas.
Ghifa merasa sedang di tekan, sebenarnya kesepakatan apa ini, dia atau Raba yang menjadi kendali. Masa bodoh, Ghifa tau jika Raba sedang putus asa, jika tidak menyelesaikan perkara ini Raba akan terjebak banyak hal di sini.
" Iya iya, sudah sana pergi. Kamu juga ganggu aku cari duit. " usir Ghifa mengibaskan tangannya di udara.
Raba kembali menatapnya dengan kesal, berbalik dan bergegas pergi. Namun belum sampai di daun pintu, Raba merasakan Ghifa menarik tangan nya lagi seperti kemarin-kemarin.
" Apa lagi?" ucap Raba sembari menoleh Ghifa.
" Nomor Hp, mau ku kirim pake JNT duitnya" ucap Ghifa ketus.
Tanpa menarik tangannya, Raba meminta Hp Ghifa dengan tangan satunya. Barulah Ghifa teringat melepas cekalan tangannya pada Raba.
" Jangan ceritakan ini pada Amara !" Ancam Raba saat mengulurkan Hp pada Ghifa.
Ghifa hanya berdecih samar, merasa heran dengan sifat Raba yang sukar di tebak. Dia membiarkan Raba keluar dari ruangannya, melihatnya kembali dari jendela, memastikan gadis keras kepala dan aneh itu pergi dari kantornya.
Ghifa menarik nafas begitu kasar, menggelengkan kepala tak percaya Raba senekat itu padanya. Ada rasa menyesal karena ide gilanya kemarin, jika saja bundanya tak sibuk menjodohkan dirinya, mungkin dia tidak punya pertemuan dan perjanjian aneh dengan Raba.
***
Epilog
Pagi-pagi sekali Raba keluar dari pagar rumahnya, dia sempat terhenti. Sejenak kembali mengingat bagaimana Ghifa beberapa kali menunggunya di sana. Tak ingin melamun di pagi hari Raba memutuskan segera pergi setelah ojek panggilannya tiba.
Setelah banyak berpikir semalam, Raba memutuskan tekadnya untuk mencoba jalan keluar yang bisa membantunya dalam masalah keuangan nya. Hati Raba semakin tak karuan, saat pagi tadi neneknya hampir terjatuh jika kakek tidak segera menolongnya mungkin bisa saja nenek berada di rumah sakit sekarang.
Dengan terpaksa Raba harus mendapatkan uang secepatnya, rasa gelisah pada neneknya semakin menjadi, itu sebabnya ia mencoba mempertimbangkan tawaran Ghifa, setidaknya jika meminjam uang kepadanya, dia tidak akan terlalu pusing di kejar Debt colector seperti kebanyakan orang. Yang ada kakek dan nenek nya akan semakin stres memikirkannya.
***