RABANIA My Wife

RABANIA My Wife
Salah Paham



Ardi tampak sedikit tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ghifa, dia bahkan sempat tertawa. Dia segera saja menepuk pundak sang Bos, " Bang, aku tau Tante Nia sibuk mencari calon istri untuk mu. Tapi jangan terlalu khawatir, Om Hamdan pasti akan membantumu kali ini." ucapnya masih dengan tawa sederhananya.


Ghifa tau temannya ini tidak akan percaya, tetapi setidaknya dia bisa beralasan untuk mengambil dana dari saku perusahaannya, yang sedang sekarat itu.


" Apa yang kamu katakan, aku punya hak untuk mengurus semua hal ini tanpa bantuan siapa pun, termasuk Ayahku." jawabnya tegas.


Ardi menghela nafas, " Bang, kan kamu juga tau kita ini hampir hancur. Apa wajar jika masih memiliki banyak uang, sudah lah jangan terlalu keras kepala, Om Hamdan pasti membantu mu "


Ghifa tak bisa meneruskan perdebatan ini, Ardi juga tidak mungkin menyetujui ide gilanya demi menutupi keterpurukan hatinya saat ini. Tak lama Ardi pamit pergi, meneruskan kencan yang katanya tertunda.


Lamunan Ghifa semakin dalam, antara meneruskan niatnya pada Raba atau pasrah saja dengan pilihan sang bunda. Ghifa menghela nafas, mengingat anak camat, pak Lurah dan terakhir putri Sholeha seorang Ustadzah. Ghifa semakin pusing, mana mungkin dia tega mengajaknya bermain-main dengan pernikahan.


Jika mengingat Raba, Ghifa hanya merasa sedang meminta bantuan kepadanya dan berniat membantu kesulitannya juga. Jika di lihat dari sifatnya Raba akan lebih mengerti di banding gadis pilihan bundanya.


Ghifa juga beranjak dari tempatnya, kesal dengan Ardi yang sedang asik berkencan dia memilih pulang. Dia akan lebih terhibur jika Amara berada di rumah.


***


Amara datang dengan berteriak pada sang bunda, memeluk erat mencurahkan rasa rindu yang begitu tak terbendung. Jarak rumah yang sebenarnya tidak begitu jauh dengan pesantren tetap menjadi pemisah beberapa bulan ini.


Nia dengan senangnya melihat putri kesayangannya tiba di rumah tanpa di minta pulang. Padahal biasanya Nia sampai menangis merindukan Amara.


" Mas mu tau kamu pulang?" tanya Nia saat melepas pelukan putrinya.


Amara tersenyum begitu manis, " Dia sudah sempat bertemu dengan ku juga tadi, Ayah di mana Bun?"


" Ada di kamar, sepertinya belum sampai tertidur. Ayah mengeluh agak lelah hari ini Am !"


Amara mengajak sang bunda duduk, bersiap mendengar cerita selama ia tak berada di rumah. Meja makan itu tiba-tiba menghangat oleh tawa Amara, dia menceritakan jika berat badannya naik dua kilo gara-gara memakan es krim.


" Ayah tidak sakit kan Bun?" tanya Amara kemudian.


" Tidak, dia akan keluar setelah mendengar tawa mu yang renyah ini "


" Kita tunggu ya Bun, " jawab Amara melihat pintu kamar yang masih belum bergerak.


" Raba tidak ikut dengan mu, biasanya dia akan kesini?" tanya Nia, baru menyadari tidak ada sahabat putrinya itu.


Amara menghela nafas, " Dia sibuk Bun, sepertinya dia akan menambah banyak les privat, Neneknya harus segera di operasi. Dia sedang mengumpulkan uangnya " jawab Amara sendu.


Ditengah kesedihan Amara pada sang bunda, dengan bersamaan Ghifa datang dan mendengarnya. Dia langsung bergabung dan mengikuti pembicaraan mereka. " Operasi, siapa?" tanya Ghifa.


Amara menatap kakaknya yang tampak aneh dengan wajah kepo nya. Sungguh tak biasa.


" Neneknya Raba Mas, dia sakit mata kan. Mas tidak tau?" jelas Amara.


Ghifa terdiam, dia memang tidak mengetahuinya, " Tidak. " Jawabnya singkat.


Amara berbalik menatap Nia " Aku sudah tawarkan bantuan, tetapi dia menolak "


Nia merangkul putrinya yang terlihat sangat sedih, mencoba memberi pengertian tentang prinsip Raba yang tak bisa ia ubah seenaknya.


***


Setengah delapan malam, Ghifa kembali menggerakkan mobil hitam pribadinya. Seperti yang telah ia rencanakan, menemui Raba di tempat yang sama, di depan rumahnya. Meski sedikit nekat Ghifa tetap meneruskan perjalanannya.


Sesampainya di depan pagar rumah yang tampak sepi, Ghifa merasa bingung harus melakukan apa. Berharap Raba keluar dari rumah dan memanggilnya, sungguh tidak mungkin. Dia tetap diam di balik kemudinya, berpikir keras bagaimana cara bertemu dengan Raba.


Setengah jam sudah berlalu, sikap bodohnya ini semakin terlihat dengan menyia-nyiakan waktu hanya dengan memandang dan terdiam. Ghifa tak tahan lagi, dia keluar dari mobil itu.


Bersandar di kap mobil, menaruh kedua tangannya di dalam saku switer hitam kesukaan nya. Tak di sangka dari arah yang berlawan Raba baru saja turun dari motor, dia menyewa ojek online.


Terbit senyum dari Ghifa, saat melihat Raba seolah mengenali dirinya. Raba melangkah mendekati pagar, pura-pura tak perduli dengan sosok Ghifa yang terlihat mengejarnya.


Lagi dan lagi Ghifa tak bisa menahan tangannya untuk meraih tangan Raba, kali ini dia menghindar begitu gesit. Berhasil lepas dari genggaman Ghifa.


" Maaf, sekali lagi kita harus bicara " ucap Ghifa menarik tangannya.


Raba tak langsung menjawab, dia tampak menatap Ghifa dengan wajah bosan dan kesal. Tetapi tak lama ia menarik nafas, " Kamu sudah tau jawabannya, aku tidak bisa Mas. Ada-ada saja, jangan ajak aku masuk pada hal rumit yang kamu anggap sangat gampang, " jawabnya masih dengan berdiri di depan pagar.


Setelah sempat terdiam Raba meneruskan langkahnya membuka pintu pagar, namun Ghifa terlebih dahulu menarik pintu itu menahan agar tak terbuka berdiri menghalangi Raba. Suara hantaman tangan dan pintu pagar itu menimbulkan bunyi, tidak berisik tetapi sangat keras.


" Aku mohon, sekali saja-,


Perkataan Ghifa terhenti.


Bugh....


" Aduh..." teriak Ghifa memegangi punggungnya yang tiba-tiba di hantam.


Raba berteriak, " Kakek, jangan" dia menghalangi kakeknya yang kembali mengayunkan sebuah benda tumpul pada punggung Ghifa.


Ghifa berbalik, dengan meringis kesakitan. Dia berusaha tersenyum menyapa kakek Raba yang terlihat menyeramkan wajahnya.


Raba menurunkan balok itu, tidak berat tetapi lumayan sakit jika di hantam kan punggung seperti tadi. " Ini mas Ghifa kek, kakaknya Amara " sebut Raba pada kakeknya, dia masih terlihat bingung dan tampak berpikir.


Ghifa menganggukkan kepala, takut-takut kakeknya Raba tidak percaya dan kembali memukulnya.


"Kakek kira, maling atau orang jahat " jawabnya masih kaku tak membalas senyum Ghifa.


Dia masih menatap Ghifa dengan curiga, seolah memastikan apa yang di katakan oleh Raba benar adanya.


" Kek.... Dia Mas Ghifa, kakek pernah bertemu dengannya," Raba mendekati sang kakek, dan menyentuh tangannya yang masih saja tegang.


" Ah, Maaf kek. Jika menganggu kakek, maaf sekali saya tidak sengaja" Ghifa menangkup kan kedua tangannya.


Setelah percaya Kakek Raba tersenyum, dan meminta Raba agar mengajak Ghifa masuk ke dalam. " Lain kali, bertamu dengan cara yang baik" ucapnya, kemudian mendahului keduanya masuk.


***