
"LARA!!!!!"teriak sinka purmaya di hadapan masion sembari menyilangkan dadanya
"iya, bibik"ucap lara yang baru membersihkan taman belakang dan menuju ke depan mansion
"udah aku bilang panggilin aku nyonya, sapa sih bibik mu"ucap sinka purmaya dengan nada angkuh sembari bersandar di depan mobilnya
"maaf, ada apa panggilin lara bi.. eh nyonya"ucap lara sembari menundukkan kepalanya
"ambilin tas ku dikamar"perintah sinka purmaya
"tas yang mana nyonya"tanya lara
"tas warna merah merk yang terkenal itu"ucap sinka purmaya dengan gaya angkuhnya
tanpa basa basi, lara terus ke kamar tantenya di lantai empat dan mengambil tas di dalam almari
"ini nyonya"ucap lara dengan nafas yang tak teratur kerna menaiki tangga
sinka purmaya mengambil tasnya yang berada di tangan lara "oh, kamu ambilin juga kunci ku di kamar"ucap sinka purmaya
"hufftt, baik"ucap sinka dan berlari menaiki tangga ke kamar di lantai empat. sebenarnya mansion kepunyaan keluarga surya mempunyai lift di setiap lantai tetapi paman dan bibiknya mencegahnya untuk menggunakan lift
"ini, nyonya"ucap lara dengan nafas yang tak teratur
"hmmm"ucap sinka purmaya sambil mengambil kuncinya
"yuk, erva ervin"ucap sinka purmaya kepada kedua anak kembarnya
"tapi nyonya, aku nggak siap lagi. nyonya tungguin lara ya"ucap lara dan bersedia untuk menaiki tangga untuk kali ketiga
"kamu nggak sekolah aja hari ni"ucap sikma purmaya
lara yang baru melangkahkan kaki berhenti
"kenapa nyonya"tanya lara bingung
"nungguin lo, bisanya kami telat lagian salah lo juga yang nggak siap lebih awal"ucap elva sembari tersenyum sinis
"tapi kan aku.. "ucap lara.kerna aku menguruskan keperluan kalian sih bicara lara di hati
"lo nggak sekolah juga udah pinter lagian lo udah lulus sekolah kan"kata elvin kakak kembarnya elva
"iya bazirin duit bokap dan nyokap gue aja"ucap elva tersenyum sinis
lara hanya menundukkan kepalanya
"kamu ngerjain pekerjaan rumah aja"ucap sinka angkuh
"iya"ucap lara sambil tertunduk
"YAUDAH, MINGGIR"ucap elva dan elvin kompak dan mendorong lara yang menghadang jalan
sinka, elva dan elvin nggak menghiraukan lara dan menuju ke mobil
lara yang berada di lantai bawah terus menaiki tangga ke lantai empat
"iya, paman"ucap lara setelah sampai di hadapan pamannya iaitu hendri anggara
pamanya hanya memandang lara tajam di depan kamar
"siapa pamanmu"tanya hendri dengan nada angkuh
"eh.. t..tuan ada apa ya"ucap lara terbata bata
"pakaikan aku dasi"ucap hendri sambil menyodorkan dasinya
"baik"
lara mengambil dasi pamannya dan memakainya
hendri hanya melihat wajah cantik lara yang sedang memakaikannya dasi dengan senyuman menggodanya
lara yang sadar yang dirinya diperhatikan, melajukan kerjanya untuk memakaikan dasi
"udah tuan"ucapnya dan melangkah ke arah pintu kamar
"eh,tunggu dulu dong"kata hendri dan memegang tangan lara dan melemparkannya ke kasur
"layanin aku dulu ya"ucap hendri sembari menjilati bibirnya
"eh,lepasin lara tuan"teriak lara setelah lengannya dipengang kuat oleh hendri
"hahaha, nggak usah akting deh.kamu kira aku nggak tau kemana kamu pergi pada waktu malam"ucap hendri dan memegang kejap lengan lara
"kamu itu tiap malam mesti keluar, mesti pergi layanin pria hidung belangkan heh, dasar j4l4ng"kata hendri dan mengusap pipi lara
"kamu puasin aku aja, pasti kamu puas sayang"bisik hendri di telingan lara yang membuat lara merinding dan menyiapkan tendangan mautnya
brukk
"aduh telurku"teriak hendri dan melompat di atas kasur sembari memegang burungnya yang ditendang oleh lara.
"rasain itu, udah tua nak mati mau nggatal ajah"ucap lara dan keluar dari kamar.bakal mandul tuh orang tua ucap lara sambil tersenyum nipis
"huffttt,capek banget"ucap lara dan membaringkan badannya di kasur yang berada di kamarnya.matanya kemudian berkeliling di siling kamarnya yang sempit dan berada di lantai bawah
"hikkss hikkss"
"mommy daddy,kenapa kalian tinggalin lara"ucap lara selepas matanya singgah di foto orang tuanya
selepas aja kejadian yang menyakitkan itu, lara tinggal bersama paman dan bibiknya di mansion keluarganya kerana lara nggak mampu hidup mandiri.lara kira hidupnya akan bahagia bersama bibik dan pamanya, ternyata nggak malah lara dianggap pembantu di rumah ini dan selalu menghadapi perlecehan seksual oleh pamannya. aneh bukan, lara dianggap pembantu di mansionnya sendiri.malahan perusahaan keluarganya diambil alih oleh pamannya hendri anggara dan dibantu istrinya sinka purmaya.selain itu sepupunya elva vantisha dan elvin antonio malah nggak mengangapnya sebagai saudara
"nggak papa, aku nggak akan keluar dari rumah ini sebelum tujuanku tercapai"ucap lara sembari tersenyum licik