
Kiya menghela napas panjang. Lega. Untunglah Prisma baik-baik saja. Tidak seperti yang dipikirkannya. “Syukurlah Kak Prisma baik—”
“WAH, ada dedek gemez! Mau kasih surat cinta lagi ya?” potong Asep dengan menyeringai lebar sambil mendekati pintu kelas, kemudian dia merangkul pundak Awan.
Wajah Kiya langsung berubah cemberut. Dia selalu nggak suka dengan panggil itu apalagi keluar dari mulut Asep. Dan matanya refleks mendelik tajam tatkala melihat Awan yang sedang cengengesan. Entah apa yang sedang ditertawakannya. Menurut Kiya nggak ada yang lucu. Cowok itu juga nggak pernah menunjukkan raut bersalah dan menyesal kepadanya. Sudah setahun berlalu, Awan belum sekalipun meminta maaf karena keisengan surat cinta itu.
“Permisi Kak,” ucap Kiya sebelum membalikkan badan. Sebaiknya dia segera menjauh dari kakak-kakak kelas yang masih cengar-cengir nggak jelas itu. Dia takut amarahnya sedikit terpancing.
^^ P R I Y A ^^
Kepala Kiya celingak-celinguk, menanti-nanti sebuah angkutan umum yang akan membawanya ke kawasan Kaliurang km 15. Tapi belum ada tanda-tanda dari wujud kendaraan ronda empat itu. Kalau lima belas menit lagi dia masih tidak melihatnya, Kiya bermaksud akan memesan gojek online saja. Syukurlah, lima menit berselang, akhirnya kendaraan yang ditunggu-tunggu datang juga. Bibir Kiya langsung sumringah lebar.
“Kiya!” panggil seseorang dengan menepikan sepeda motor bebeknya.
Kiya yang baru saja menapakkan sebelah kakinya ke lantai mobil kontan menoleh.
“Kiya!” panggil sosok itu lagi sambil membuka helm.
“Mas Yudi?” Kiya mengangkat sebelah alisnya. “Mas Yudi cari Yeyen ya?” tanyanya ketika sudah berdiri di samping Yudi.
Kepala Yudi mengangguk. “Yeyen nggak bareng samamu, Ki?”
Kiya menggeleng. “Nggak Mas. Dia kan sudah dijemput sama Tante. Emangnya Yeyen—”
“Mbak, jadi masuk nggak?” tanya sang supir yang memotong ucapan Kiya.
“Nggak Pak. Dia pulang sama saya saja. Terima kasih ya Pak,” jawab Yudi mewakili. “Sekalian Mas mau mentraktirmu es krim. Udah lama Mas nggak mentraktirmu, kan?” sambungnya dengan menatap wajah Kiya.
Kiya mengangguk dengan antusias. Rezeki gratis sebaiknya jangan ditolak. “Thanks banget Mas. Mas Yudi emang the best-lah,” sahut Kiya dengan menunjukkan jempol kanan di akhir kalimatnya.
“Yuk pergi sekarang!”
“Boleh Mas,” jawab Kiya sebelum menaiki boncengan di belakang Yudi.
“Udah?” Yudi menolehkan kepala ke belakang.
“Udah Mas.”
Yudi segera menyalakan sepeda motornya dan perlahan mulai menjauh dari gerbang SMAN 24 Sleman. Dia berniat mengajak ke Jack Ice Cream—lebih sering disingkat JIC—namun Kiya menolak. Terlalu jauh menurutnya. Lagipula sudah sore, takut Rasti mencari-cari nanti. Dan akhirnya Yudi membawa Kiya menuju Indomart terdekat.
Kiya memilih paddle pop shaky shake. Sedangkan Yudi memilih Walls Magnum. Kemudian mereka duduk di kursi teralis yang ada di depan indomart dan memang disediakan khusus untuk para pembeli. Mereka berdua menikmati es krim tersebut dengan khitmat sambil memandang ke arah jalanan.
“Ki,” panggil Yudi.
“Ya Mas?” Kiya menengok sebentar ke wajah Yudi.
“Kamu udah punya pacar?”
“Aku belum mau pacaran dulu Mas.”
“Kenapa? Orang tuamu melarang?”
“Nggak kok Mas. Cuma malas aja pacaran.”
Yudi cengengesan mendengar jawaban Kiya.
“Dan aku hanya mau pacaran dengan orang yang kusukai. Aku ingin merasakan euforia jatuh cinta,” tambah Kiya sebelum memasuk sesendok gumpalan es krim ke mulutnya.
“Memangnya tipe cowok yang kamu sukai gimana sih?”
Kiya terdiam sejenak. “Ehm, nggak ada kriteria khusus sih Mas.”
“Hah?” Kiya spontan menoleh ke kiri.
Yudi tak lagi menyahut. Justru dia mengacak-acak rambut Kiya dengan senyum lebar. Sudah sejak lama dia menyukai sahabat adiknyan ini. Hanya saja Kiya kurang peka. Semua kode yang selalu diberikannya kepada Kiya hanya selalu dianggap sikap kakak kepada seorang adik. Sementara Kiya juga tampak tak peduli dengan ucapan Yudi tadi. Kalau memang penting, Yudi pasti akan mengulanginya lagi. Kiya kembali asyik menikmati es krimnya. Makanan gratis memang selalu yang terbaik.
^^ P R I Y A ^^
“Makasih ya Mas Yudi,” ucap Kiya setelah turun dari boncengan.
“Sama-sama Ki,” balas Yudi dengan menyunggingkan senyum lebar.
“Mau mampir dulu nggak Mas?”
Yudi melirik jam di pergelangannya sebelum menjawab, “Nggak kayaknya deh Ki. Mas sebaiknya pulang saja.” Kemudian dia menyalakan sepeda motornya. “Mas pamit ya. Salam untuk keluargamu.”
“Sip Mas. Hati-hati di jalan,” balas Kiya seraya melambaikan sebelah tangannya yang mengantar kepergian Yudi.
Setelah motor Yudi berbelok di perempatan ujung perumahannya, Kiya segera membuka pintu pagar. Saat dia ingin memegang gagang pintu, pintu itu tiba-tiba sudah terbuka dan menampakkan sosok Bimo yang sedang menggeret koper.
“Baru pulang Dek?”
“Iya Pa,” angguk Kiya. “Papa mau ke mana?” Kiya memperhatikan saksama benda segiempat yang ada di samping Bimo.
“Papa mau dinas luar.”
“Kok baru pulang udah dinas lagi, Pa?” Kiya mengernyitkan alisnya. Heran. Padahal baru kemarin Papa pulang ke rumah.
“Banyak banget tugas kantor yang harus diselesaikan Dek.
“Tapi kan Papa—”
“Kamu baik-baik di rumah ya. Belajar yang rajin dan jangan suka main game terus,” nasihat Bimo sambil mengacak-acak poni Kiya. “Papa berangkat ya?!” Bimo menyodorkan tangannya, mengisyaratkan Kiya untuk menyalaminya. Kemudian dia mencium puncak kepala Kiya dengan penuh sayang. Sekali lagi dia memberikan wejangan sebelum masuk ke dalam mobil.
Kiya melihat kepergian Bimo dengan tatapan penuh kecamuk. Spekulasi negatif yang sempat redup, sekarang kembali menyala. Video kemesraan Papa dengan wanita itu kembali memenuhi sudut-sudut benak otaknya. Kembali mengusiknya.
Kiya mengambil napas panjang dan mengembuskan pelan. Sebagai seorang anak tak sepantasnya curiga pada orang tuanya. Tapi... Tapi... Orang tua kadang juga sering berbuat salah dan khilaf. Sebagai seorang anak, mereka wajib untuk memperingati dan memberikan nasihat. Karena dampaknya akan berpengaruh untuk semua anggota keluarga, sebab orang tua adalah pilar penting bagi sebuah keluar.
“Dek, ngapain kamu di situ?” tegur Raika.
Kiya menolehkan kepalanya ke belakang. “Nggak ada papa kok Mbak.”
“Kok telat pulangnya, Dek? Dari mana aja?”
“Tadi Mas Yudi ngajak makan es krim dulu Mbak.”
“Berarti kamu pulang dengan Yudi, ya?” tanya Raika memastikan dan langsung dibalas anggukkan kepala Kiya. “Oh ya Dek, salim dulu sama Mama Mas Galih di belakang.”
“Tante Galuh di sini? Tapi aku nggak lihat mobil Mas Galih.” Kiya mencoba mengingat kendaraan-kendaraan yang ada di depan rumah. Cuma ada sebuah sepeda motor dan mobil hitam milik Mamanya. Tidak dilihat mobil Toyota Yaris berwarna silver di sana.
“Mas Galih sekarang nggak di sini. Setelah ngantar Mamanya, dia langsung ke hotel.”
Kiya manggut-manggut paham. “Trus udah sampai mana persiapannya Mbak?”
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, AND LIKE YA...
YUK MASUK GRUP ALSAEIDA!