
Sekali lagi Prisma berpamitan dengan Rasti sebelum menghampiri Kiya yang sudah berdiri di samping mobilnya. Perlahan mobil Toyota itu mulai meninggalkan kawasan perumahan Indah Permata blok C tersebut. Selama perjalanan menuju sekolah, Kiya lebih banyak memandang jendela di sampingnya, menatap hiruk-pikuk jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan roda dua dan empat.
Hanya sekitar sepuluh menit untuk mereka tiba di SMAN 24 Sleman. Kiya berniat turun setibanya mobil yang dikemudikan Prisma sudah terparkir dengan rapi. Tapi tiba-tiba Kiya merasa pergelangannya dipegang, memaksanya untuk menoleh ke belakang dan menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
Prisma menyodorkan ponselnya dan berujar, “Simpan nomormu di sini.”
Kiya buru-buru mengambil benda segiempat itu dan cepat-cepat mengetik nomornya. Sebisa mungkin dia harus segera menjauh dari mobil ini dan juga segera menjauh dari Prisma. Parkiran sekolah semakin ramai. Kedatangannya dengan Prisma pasti akan menarik perhatian, karena selama ini—setahunya dari penjelasan Yeyen—kalau Prisma tidak pernah berangkat seseorang dengan cewek.
“Udah nih, Kak.” Kiya menyodorkan lagi ponsel itu kepemiliknya. “Aku duluan ya Kak.” Tanpa menunggu sahutan Prisma, Kiya segera membuka pintu.
Setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, Prisma juga ikut membuka pintu dan lantas mengikuti langkah Kiya. Di depan kelas XII IPS 4 sudah berdiri Asep dan beberapa teman dekatnya. Mereka pasti tak akan membiarkan Kiya lewat mengingat postingan di Instagram dan Insta story-nya yang diposting Prisma kemarin. Dan seperti dugaan Prisma, Asep sekarang sedang menghadang jalan Kiya. Beberapa anak yang lain juga terlihat menatap kedatangan Kiya dengan tatapan ingin tahu.
“Wih.... akhirnya pasangan baru datang juga nih. PJ dong!” tukas Asep dengan cengiran jenakanya yang menampakkan gigi gingsul di sebelah kanan.
Kiya bergeser ke kiri. Asep juga ikut bergeser ke kiri. Kiya bergeser ke kanan. Lagi- lagAsep mengikutinya. “Misi Kak. Aku mau lewat,” ucap Kiya sambil bergeser ke kiri lagi.
Asep bergeser ke kiri juga. “Kasih PJ dulu, baru kami kasih lewat.”
“Maaf Kak. Aku mau lewat. Sebentar lagi bel.” Kiya masih berusaha lolos dari hadangan Asep.
“Biarkan dia lewat, Sep. Nanti aku traktir kalian di kantin,” ujar Prisma yang sudah berdiri di belakang Kiya.
Awalnya Asep tak ingin membiarkan Kiya lewat, tapi delikan tajam Prisma memaksa untuk menggeser tubuhnya. Kiya lantas berjalan tergesa-gesa meninggalkan depan kelas XII IPS 4 tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah katapun kepada Prisma. Dia harus segera menjauh dari area kelas dua belas ini.
Dia merasa sedikit risi. Beberapa anak perempuan menatap dengan tatapan menyelidik. Ada beberapa pula yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Bahkan Jessica, Amira, dan Natasya terang-terangan menatapnya dengan pelototan tajam. Sementara anak laki-laki kebanyakan tidak peduli, meskipun ada satu dua orang yang memandang dengan tatapan menilai.
Saat masuk ke dalam kelasnya, tatapan yang beberapa menit lalu diterima Kiya juga didapatkannya dari teman-teman. Rasa risi itu semakin menjadi-jadi. Benaknya mulai bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? Apakah wajahnya bercelemotan? Apakah ada penampilannya yang aneh?
Yeyen yang sedang fokus ke ponselnya, tiba-tiba berdiri dan melambai-lambaikan tangan. Menyuruh Kiya cepat untuk menghampirinya.
“Ki, kamu beneran jadian dengan Kak Prisma?” tanya Yeyen dengan raut penasaran.
“Hah?” Kiya melongo. Dari mana Yeyen mengetahuinya. Dia belum menceritakan apa-apa.
Yeyen menyodorkan ponselnya, memperlihatkan gambar dari aplikasi Instagram. “Semalam Kak Prisma posting ini. Anak-anak sekarang heboh, katanya kamu pacaran dengan Kak Prisma.”
Kiya memperhatikan dengan cermat gambar berlatarkan sebuah gerai—yang diyakininya berlokasi di Jogjatronik. Wajah itu jelasnya wajahnya, meskipun kedua matanya sedang tidak menatap ke depan. Matanya menatap ke samping, melihat-lihat beberapa barang yang ditampilkan di lemari etalase. Cuma kapan Prisma mengambilnya. Dia sungguh tak menyadari, karena saat itu dia lebih tertarik melihat-lihat barang di sana daripada berbincang-bincang dengan Prisma. Dia kemudian melirik ke bawah. Tidak ada caption apapun.
“Jadi kamu benar-benar pacaran dengan Kak Prisma?”
Kiya mengembalikan ponsel itu ke tangan Yeyen. “Kami nggak benar-benar pacaran.”
“Maksudmu? Aku gagal paham nih.” Kening Yeyen spontan mengernyit.
“Bisa dibilang, aku dan Kak Prisma hanya pacaran pura-pura.”
“Aduh... Maksudmu gimana sih?” Yeyen garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih belum mengerti dengan apa yang dikatakannya.
Yeyen sedikit mengoyang-goyang lengannya. “Ki, jadi hubunganmu dengan Kak Prisma itu apa sih? Aku penasaran banget nih.”
Kiya melirik Yeyen sebentar sebelum menatap ke depan dimana Bu Desi sedang mengedarkan pandangan. “Istirahat nanti aku ceritain.”
^^ P R I Y A ^^
Yeyen sedikit mengintip ke ponsel Kiya, kemudian dia menyungging senyum kecil. Setelah bel pulang berbunyi, Kiya mendapati satu chat Line dari Prisma. Dia mengajaknya untuk pulang bareng. Sekarang Prisma sudah menunggu Kiya di depan kelasnya.
Kiya tak berniat membalas chat itu. Dia memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya. Dia kembali memasukkan buku-buku dan alat sekolahnya ke dalam tas.
“Aku yakin kalo Prisma memang menyukaimu,” komentar Yeyen untuk kesekian kali hari ini.
Sejak Kiya menceritakan semua kejadian di hari minggu kemarin, Yeyen sudah sering berkomentar dengan kalimat itu. Dia menyakini kalau firasatnya selama ini benar. Prisma mungkin memang menyukai Kiya. Tapi Kiya terus menyangkal. Mustahil. Yeyen terlalu mengada-ngada dengan argumen-argumen yang tak masuk akal.
“Jadi kamu pulang dengan Kak Prisma?” Yeyen menyampirkan tali tasnya ke bahu sebelum berdiri.
Kiya mengangguk kecil dan ikut berdiri. “Mungkin ada dibicarakannya.”
“Kapan kalian mau mulai challenge Spemoginya?”
Kiya mengedik bahunya pelan. “Nggak tahu. Kami belum membahasnya.”
“Aku jadi penasaran siapa yang ingin Kak Prisma tantang.” Yeyen menepuk-nepuk dagu dengan jari telunjuknya. “Apa mungkin Kak Awan? Dia kayaknya memang punya pacar rahasia.”
“Mungkin aja. Aku nggak tahu.”
“Atau challenge itu hanya akal-akalan Kak Prisma saja supaya bisa dekat-dekat denganmu?” tebak Yeyen.
Kiya memilih untuk bungkam kali ini. Bukan tak mau merespon atas tebak-tebakan Yeyen. Tapi karena keberadaan Jessica dkk yang memaksa untuk mengatup mulut. Apalagi tiga pasang mata tersebut sedang menatapnya dengan sinis. Pasti foto yang diposting Prisma telah menyentil hati mereka. Kiya sekarang merasa sedikit resah. Dia berharap tak akan ada drama kekerasan di sekolah lagi. Sungguh malas berurusan dengan ketiga kakak kelasnya itu. Dan untunglah harapannya kali ini terkabul. Jessica, Amira, dan Natasya hanya melewatinya saja.
“Aku kira Kak Jessica akan melabrakmu lagi,” bisik Yeyen setelah menoleh ke belakang dan memastikan keberadaan Jessica dkk cukup jauh dari posisi mereka.
“Aku kira juga begitu. Tapi syukurlah nggak.” Kiya menghela napas panjang. Lega.
“Sejak insiden labrakan itu, aku kira Kak Jessica akan terus mengganggumu. Tapi ternyata nggak. Padahal kalo dilihat dari kelakuannya, dia nggak akan membiarkanmu tenang bersekolah di sini. Seperti yang dialami Moza,” papar Yeyen masih dengan berbisik. “Apa ada seseorang yang mengancam mereka agar nggak mengganggumu?” Yeyen kembali main tebak-tebakan.
“Entahlah. Aku nggak peduli. Yang penting mereka nggak mengangguku.”
“Tapi kalo memang benar ada yang mengancam mereka, kira-kira siapa ya?”
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTE, AND RATE.