
YUK LIKE, COMMENT, VOTE, AND RATE! MOHON KRITIK DAN SARANNYA.
Kiya menatap ragu-ragu pagar tinggi yang ada di depannya. Kemudian dia menoleh ke sebelah kiri, menatap bel yang terpasang di sana. Haruskah dia menekan bel itu yang tampak berdebu—seperti tak pernah disentuh saja—atau justru balik badan dan kembali ke rumah? Huh... Kiya menghela napas panjang. Keteguhan hati yang tadinya tinggi sebelum tiba di kosan ini, kini sedikit demi sedikit mulai turun.
Huh... Dihelanya napas panjang lagi. Kiya tidak ingin masalah video itu berlarut-larut. Tapi dia juga tak ingin berinteraksi dengan Prisma. Ah, seandainya akun BigGames bukan milik Prisma.
“Demez?”
Karena terlalu fokus dengan kegundahannya, Kiya sampai tak mendengar suara sepeda motor yang mendekat. Merasa suara yang memanggil itu tidak asing, Kiya spontan menoleh. Seperti tebakannya, sosok yang sudah masuk dalam black list-nya turun dari boncengan. Sedangkan Awan yang menjadi pengemudi hanya mengumbar senyum ramah.
“Ngapain kamu ke sini Mez?” tanya Asep setelah berdiri di depan Kiya.
Wajah Kiya langsung merengut masam. Panggilan singkatan 'Mez' yang dilontarkan Asep terkenal tak sedap di telinga. Bak memanggil orang yang berotak mesum saja. Omez.
“Mau bertemu Prisma ya?” tanya Asep lagi saat Kiya tak menyahut.
Kiya hanya mengangguk pelan.
“Mau bantu-bantu Prisma pindahan ya?” tanya Awan menambahi.
“Pindahan?” Kiya mengerutkan dahinya. Dia baru pertama kali mendengarkannya.
“Hari ini Prisma mau pindahan. Papanya melarang ngekos lagi dan memintanya menempati rumah yang sudah dipersiapkan di Bale Hinggil,” jelas Awan sebelum membuka pagar hingga menampakkan beberapa kamar yang tersusun membentuk huruf U. “Yuk masuk! Prisma pasti ada di dalam.”
Dahi Kiya kian mengerut. Hatinya makin bimbang. Sebelumnya dia tak pernah masuk ke kosan cowok sekalipun. Ditambah lagi kosan di depannya ini terlihat sedikit menyeramkan. Dengan dinding berwarna abu-abu kelam dan beberapa sampah plastik yang tampak berserakan di beberapa tempat. Juga beberapa laki-laki yang sedang duduk-duduk teras di kamar yang sedang memandangnya.
“Yuk masuk, Ki!” Sekali lagi Awan mengajak.
“Ehm... Aku di sini saja Kak dan bilangin aja ke Kak Prisma kalo aku udah di depan.” Akhirnya Kiya memutuskan untuk tetap di posisinya sekarang. Lagian nggak enak juga kalau ada warga di sini melihatnya masuk ke kosan itu.
“Masuk aja ke dalam. Nggak papa kok. Di sini cowok cewek bebas masuk,” tukas Asep.
Kiya menggeleng. “Nggak papa Kak. Aku di sini aja.”
“Oke deh. Kami masuk dulu. Nanti aku bilangin ke Prisma kalo kamu udah di depan,” ujar Awan sebelum mengikuti Asep yang sudah mendahului.
Sementara Kiya segera menuju pinggiran selokan dekat pagar dan duduk di sana. Huh... Untuk kesekian kalinya, Kiya kembali menghela napas panjang. Seandainya Yeyen ada di sini, Kiya pasti tidak akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Juga nggak akan setegang ini. Entah kenapa, sekarang Kiya tiba-tiba menjadi nervous untuk bertemu Prisma.
Seharusnya Yeyen juga ada di sini, tapi dia membatalkannya dan Kiya tidak bisa memaksa. Mertua dari adik Papanya meninggal dunia. Yeyen dan keluarganya harus pergi melayat.
Setelah menunggu hampir lima menit, terdengar suara sepeda motor yang memaksa Kita untuk menoleh ke sumber suara. Dia mengernyit heran kala si pengemudi berhenti di depannya.
“Kak Prisma?” ujar Kiya saat si pengemudi membuka helm. Sebenarnya dia cukup familiar dengan sepeda motor sport berwarna merah itu. Cuma dia tak menduga kalau Prisma akan menemui dengan menggunakan kendaraan dua roda tersebut.
Apa dia mau pergi? Trus ngapain dia menyuruhku ke sini? Kiya membatin.
Prisma menyodorkan helm hitam yang tergantung di stang kanannya. “Pake ini!”
Prisma semakin menyodorkan helm itu. “Pake!” perintahnya.
“Tapi—” Kiya terpaksa tak melanjutkan kalimatnya dan langsung mengambil helm tersebut. Sorotan tajam Prisma terlalu mengintimidasnyai sehingga membuat mulut Kiya mendadak terkunci dan tubuh bereaksi tanpa diperintah.
“Naik!” perintah Prisma lagi setelah Kiya memakai topi pelindung tersebut.
Kiya hanya menurut. Tak ingin bertanya lagi. Sorot tajam dari mata Prisma masih mengontrol tubuhnya. Hingga mereka menjauh dari kawasan kosan Bumi Putra pun, Kiya masih memilih bungkam. Lagian nggak mungkin Prisma membawanya ke tempat yang aneh-aneh, kan?
^^ P R I Y A ^^
Kiya cukup terkejut saat sepeda motor yang dinaikinya melewati papan nama setinggi satu meter bertuliskan Balle Hinggil. Satpam yang berjaga di pos samping kiri gerbang pun tampak sangat mengenal Prisma. Laki-laki paruh baya itu menyapa sambil memperlihatkan senyum lebar sebelum membuka pintu gerbang.
Kawasan perumahan ini memang dikenal sebagai salah satu kawasan elit Kaliurang. Semua unit rumah ini memiliki bentuk yang sama dengan dindingnya di dominasi warna abu-abu. Suasana di sini juga sangat sejuk dan asri. Beberapa palm tree yang memenuhi sepanjang jalan.
Mata Kiya menatap takjub tatkala sepeda motor ini berhenti di rumah paling ujung bernomor 8 E. Rumah tersebut bertingkat dua seperti yang lainnya. Halamannya juga sangat luas dengan rumput jarum yang terhampar dan pohon mangga yang ada di sudut-sudutnya. Interior pintunya pun tampak berkelas dengan ukiran-ukiran unik, tampak berbeda dengan pintu-pintu yang sering dilihat Kiya.
“Turun!” perintah Prisma.
“Kita ngapain ke sini, Kak?” tanya Kiya sambil turun dari sepeda motor sport tersebut. Dia tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran ini. Semula dia mengira Prisma akan mengajakan ke toko terdekat, mungkin mencari barang-barang yang dibutuhkan untuk kepindahannya.
“Ngambil mobil,” jawab Prisma sambil berjalan mendekati pintu. “Masuk!” suruh Prisma dengan nada perintahnya.
Pantas saja perumahan ini disebut sebagai kawasan elit. Selain penampilan luarnya yang tampak asri dan berkelas, isi di dalam rumah terlihat sangat megah. Banyak interior yang memberikan kesan mewah dan pastinya bernilai fantastis yang memenuhi ruang tamu ini. Beberapa lukisan abstrak juga menghiasi dinding-dinding serta guci-guci berukuran besar yang berdiri kokoh di sudut-sudut ruangan.
“Bik Asih! Bik Asih!” panggil Prisma setengah berteriak dan beberapa detik kemudian, seorang wanita paruh baya menghampirinya. “Tolong buatkan minuman buat teman saya dan bawakan juga beberapa cemilan, Bik.”
“Baik Den,” angguk Bik Asih.
“Bilangin juga ke Pak Narto untuk panasin mobil saya.”
“Baik Den,” sahut Bik Asih sebelum membalikkan badan, berniat menuju dapur dan mengerjakan tugas dari tuan mudanya. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badan lagi hingga matanya dan Prisma bertemu. “Den, tadi Tuan telepon. Beliau tanya apakah Aden jadi pindah ke sini?”
“Jadi Bik. Hari ini rencananya saya pindah ke sini.”
“Tadi Nyonya Ana juga nelepon Den. Beliau nanya apakah Aden ada datang ke rumah ini? Katanya sejak kemarin nomor HP Aden nggak aktif,” tambah Bik Asih sambil mengingat percakapan mereka. Maklumlah, faktor umur.
“Kemarin HP saya hilang, Bik. Nanti saya telepon balik kalo saya udah beli HP.”
“Baik Den. Kalo gitu, Bibik ke belakang dulu ya, Den,” pamit Bik Asih.
“Aku mau ke kamar sebentar, kamu duduk aja dulu di sini,” ucap Prisma dengan maniknya tertuju pada salah satu kursi jati, isyarat agar Kiya duduk di sana. Memang sejak mereka masuk ke ruang tamu ini, Kiya masih berdiri di dekat pintu masuk dengan tatapan kagumnya. Tanpa menunggu respon Kiya, Prisma langsung pergi ke bagian utara yang mengarah ke tangga menuju lantai dua.
BERSAMBUNG...