
Makan malam bersama keluarga Prisma ternyata tak seperti dugaan Kiya. Makan malam ini seperti makam malam dengan keluarganya di rumah, yang diselingi obrolan ringan yang membuat suasana tampak hidup. Mulanya Kiya menduga kalau ruang makan ini akan sunyi sepi. Dilihat dari penampilannya, Adrian termasuk sosok yang harus khitmat di meja makan, tidak memperbolehkan saling berbicara. Dia juga menduga kalau Andrian akan mengintimidasi dengan tatapannya. Lagi-lagi dugaan Kiya salah. Memang tak baik memiliki prasangka sebelum mengalaminya. Penampilan luar belum tentu sama dengan isinya.
Adrian termasuk sosok yang ramah. Bahkan laki-laki dewasa itu sering melontarkan guyonan. Dia memiliki selera humor yang cukup tinggi. Tak berbeda dengan sang suami, Mila juga sangat ramah. Raut keibuan jelas terpancar di wajahnya. Si kembar pun sangat mengemaskan. Anisa dan Alisa berceloteh dengan riang yang sekali-kali ditanggapi Prisma dengan senyum lebar. Keluarga ini benar-benar terlihat seperti keluarga yang harmonis. Meskipun begitu, panggilan Prisma terhadap Mila masih tetap mengusik pikiran Kiya.
“Besok-besok kalo kami ke Jogya, datang lagi ya Ki,” pinta Mila.
“Iya, Tante,” jawab Kiya ragu-ragu. Sebenarnya dia bingung harus menjawab apa. Dia nggak mungkin mengatakan “tidak.” Nanti terdengar tidak sopan. Tapi dia juga sangsi dengan jawabannya tadi. Hubungannya dengan Prisma nggak seperti yang ada dibenak Mila atau Adrian. Mungkin saja ketika mereka datang ke sini lagi, dia bukan lagi berstatus pacaran tanda kutip-nya Prisma.
“Jangan ngebut-ngebut dan hati-hati di jalan,” nasihat Adrian.
“Sampaikan salam balik kami untuk Papa dan Mamamu, ya Ki,” tambah Mila sambil menuntun Kiya ke depan pintu.
“Iya, Tante,” angguk Kiya sebelum menyalami Mila dan Adrian. “Saya pulang dulu, ya Om, Tan. Terima kasih atas makan malamnya.”
“Pa, Tan, aku ngantar Kiya dulu ya,” pamit Prisma, kemudian mendekati mobilnya.
Setelah memastikan save belt sudah terpasang, mobil itu mulai menjauh dari halaman rumah bernomor 8 E itu dan memasuki jalanan Kaliurang. Saat berhenti di lampu merah simpang tiga antara jalan Kaliurang dan jalan Kapten Haryadi, Prisma lantas mengambil ponselnya di saku celana, kemudian mengarahkannya ke Kiya yang sedang menatap pinggir jalan. Dia sedang melihat pengamen jalanan yang sedang menyanyikan lagu daerah dengan alat-alat musik tradisional mereka.
“Ki,” panggil Prisma.
Merasa dipanggil, Kiya spontan menoleh dan Prisma langsung memotretnya. Bibir remaja itu tersenyum lebar tatkala melihat hasil potretnya yang sangat memuaskan. Dia lalu segera membuka aplikasi Instagram dan menguploadnya.
“Kak Prisma foto aku lagi?” tanya Kiya dengan kernyitan dalam.
Prisma nggak menjawab, justru meletakkan ponselnya di dashboard dan segera mengemudi mobilnya lagi. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
“Kak Prisma foto aku lagi?” ulang Kiya, dikira Prisma tadi tidak mendengarnya.
“Besok mau temani aku ke Imogiri Barat?”
Kiya mendengus. Prisma suka sekali mengalihkan pembicaraan mereka.
“Tadi aku sudah izin dengan orang tuamu dan mereka mengizinkan. Kita akan mengunjungi Mbahku di sana. Besok sekitar jam sembilanan aku menjemputmu.”
Kiya lagi-lagi mendengus. Lebih kasar. Kalau akhirnya dia tetap harus menemani Prisma tanpa bisa menolak, kenapa pula Prisma harus bertanya seperti itu. Sejak dia berstatus pacar Prisma, Kiya sering merasa haknya dirampas. Dia tak bisa mengeluarkan argumen-argumen penolakannya. Karena ujung-ujungnya, dia tetap harus menerima. Meskipun begitu, jauh di lubuk hatinya, Kiya merasa tak keberatan menemani Prisma.
Sekitar jam setengah sepuluh, mobil merah itu akhirnya berhenti di depan pagar rumah Kiya. Saat Kiya hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba Prisma memegang pergelangan tangannya.
“Ada apa Kak?” tanya Kiya dengan tatapan heran.
“Terima kasih untuk malam ini,” ujar Prisma diselingin senyum merekah.
Kiya membalas dengan anggukkan singkat. Semburat merah sedikit menghiasi kedua pipinya kala melihat tatapan lembut di manik Prisma. “Mau mampir dulu, Kak?” tawar Kiya setelah berhasil menguasai dirinya yang sempat terpesona.
Sekali lagi Kiya mengangguk singkat.
“Masuk gih!” suruh Prisma.
Kiya segera membuka pintu mobil. Dia memastikan mobil Prisma sudah tak terlihat retinanya sebelum masuk ke dalam rumah. Saat melewati ruang keluarga, dilihatnya Rasti dan Bimo tampak asyik menatap televisi sambil bernyanyi. Mereka pasti sedang berkaraoke. Kiya berbasa-basi sebentar—sekadar menyapa—sebelum menuju kamarnya. Baru saja dia menutup pintu, ponsel dalam tas kecilnya berbunyi. Kiya segera merogohnya. Ada video call WhatsApp dari Yeyen.
Dahi Kiya sempat mengernyit, heran kenapa Yeyen tiba-tiba mengajaknya video call malam-malam begini. Apakah ada yang urgent?
“Ya Yen? Kenapa?” tanya Kiya to the point.
Wajah Yeyen yang sudah memenuhi layar ponsel Kiya, kini memasang mimik penasaran. Dia menilik dengan cermat. “Kamu dari mana? Habis makan malam dengan Kak Prisma?”
“Kok kamu bisa tahu, Yen?” Sebenarnya Kiya ingin bertanya seperti itu. Tapi dia memilih mengatup mulutnya. Ingin mendengarkan kelanjutan Yeyen.
“Aku lihat fotomu di IG kak Prisma. Trus caption-nya: Terima kasih. #havedinner.”
“Oh,” sahut Kiya seolah tak terkejut. Sejak dia mempergoki Prisma mengambil fotonya, Kiya sudah menduga kalau Prisma akan mempostingnya ke Instagram. Cuma dia nggak menyangka, kali ini Prisma menyertai dengan caption. Selama ini Prismatidak pernah menambahkan caption di semua fotonya. Entah karena malas atau ada alasan lain.
“Jadi kalian benar-benar dinner bersama? Di restoran mana? Memangnya hari ini ada acara penting apa?” Yeyen tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Kiya meletakkan ponselnya secara vertikal di atas meja belajar. Kemudian dia menuju satu-satunya lemari berukuran dua meter di kamarnya. “Kami nggak dinner seperti yang ada di pikiranmu. Aku hanya makan malam dengan keluarganya.”
“Keluarga? Maksudmu kalian mau tunangan?” celetuk Yeyen dengan suara lantang.
Kiya berdecih. “Siapa yang bilang mau tunangan? Kami hanya makan malam.”
“Trus? Trus?” Yeyen semakin memasang mimik penasaran.
“Ya, hanya makan malam.”
“Hanya begitu saja?”
Setelah mengambil piyama bergambar Hello Kitty, Kiya mendekati ponselnya. “Udah ya Yen?! Aku mau ganti baju dulu. Bye!” Kiya segera menekan tombol merah. Dia harus segera mengakhiri pembicaraan ini. Atau kalau tidak, Yeyen akan memaksanya bercerita, padahal tidak ada yang patut diceritakan. Makan malam tadi murni makan malam biasa yang diselingai obrolan ringan, hanya seputar sekolah dan kegiatan sehari-harinya dan Prisma.
Kiya tak langsung mengganti piyamanya. Dia justru membuka aplikasi Instagram, ingin melihat foto yang dikatakan Yeyen. Benar dugaan Kiya, foto itu memang fotonya yang ada di dalam mobil Prisma. Lagi-lagi foto itu diambil secara candid. Kemudian Kiya menggeser ke atas. Memang ada caption di sana. Dan sekarang Kiya mulai bertanya-tanya, mengapa Prisma semakin sering memposting fotonya? Apa ini hanya untuk challenge Spemogi? Atau ada maksud lain?
BERSAMBUNG...
NOTE:
PLEASE RATE BINTANG - NYA YA. SOALNYA RATE HAYA 4.6 :( :( :(