
“Sepertinya dia sangat menyayangimu, ya?”
“Masa sih Mbak?” tanya Kiya nggak sependapat.
“Coba deh perhatikan matanya sekali-kali. Matanya selalu menatapmu dengan lembut.”
“Ah, nggak mungkin!” bantah Kiya.
“Kok nggak mungkin? Kalian kan pacaran, wajar kalo dia menyayangimu.”
“Tapi,”-tiba-tiba Kiya bangkit dari sofa-”aku ngantuk Kak. Aku mau tidur dulu,” ucapnya segera menjauh dan masuk ke dalam kamarnya. Lebih baik dia memghindar atau Raika akan mulai bertanya-tanya. Wajah perempuan itu terlihat berminat dengan ekspresi ingin tahu. Sampai kapanpun, status yang sebenarnya dengan Prisma harus tetap disembunyikan.
^^ P R I Y A ^^
“Kamu baik-baik saja Ki?” tanya Yeyen dengan menunjukkan tatapan khawatir.
Mata Kiya spontan mengernap. “Aku baik kok Yen. Memangnya kenapa?”
“Tapi hari ini kamu kebanyakan melamun. Aku jadi khawatir.”
Kiya memberikan senyum lebar. “Aku baik-baik saja. Kamu nggak usah khawatir.” Sebenarnya Kiya tidak sedang baik-baik saja. Malam tadi dia tak bisa tidur. Matanya tak mau diajak kompromi untuk terpejam. Di sekolah pun dia tak bisa berkonsentrasi. Dia kebanyak termenung dengan pikiran yang melayang ke mana-mana, mulai dari bayangan orang tuanya yang akan berpisah hingga pernikahan Raika dan Galih yang batal.
“Tumben Kak Prisma bawa motor hari ini Ki?” tanya Yeyen sedikit heran. Sejak Kiya dan laki-laki itu berstatus pacaran, Prisma memang tidak pernah lagi membawa sepeda motor sport-nya ke sekolah.
“Katanya sih, mobilnya lagi di service.”
“Trus kapan kalian mulai challenge Spemoginya,” tanya Yeyen dengan setengah berbisik, supaya anak-anak yang juga sedang menunggu jemputan sepertinya tidak mendengar.
“Nggak tahu. Selama semingguan ini, aku tidak pernah membahasnya.”
Yeyen tiba-tiba mengerling mengoda. “Aku tebak, pasti challenge Spemogi yang pingin Kak Prisma lakukan itu tak akan terjadi. Challenge Spemogi hanya akal-akalan Kak Prisma saja agar bida dekat-” Yeyen terpaksa tak melanjutkan kalimatnya karena sepeda motor Yudi berhenti di depannya dan Kiya. “Kok Mas yang jemput, kukira Mama?” gerutunya.
“Siapa yang mau menjemputmu. Aku ke sini mau bertemu sama Kiya kok,” bantah Yudi sebelum tersenyum lebar pada gadis di sampingnya itu. “Hai Ki!” sapanya.
“Hai juga Mas,” balas Kiya. “Baru selesai kuliah Mas?”
Yudi mengangguk mantap. “Iya Ki. Untungnya hari ini cuma ada satu matkul. By the way, kamu lagi nunggu jemputan? Mau Mas antar? Nanti kita ke Indomaret dulu, Mas mau traktir es krim.”
“Nggak usah Mas. Aku pulang-”
“Ki, yuk pulang!” ajak Prisma yang memotong perkataan Kiya.
“Mas Yudi, Yen, aku duluan ya!” pamit Kiya sambil berdiri dari tanggul selokan yang tadi dijadikan tempat duduk dan segera menghampiri Prisma yang memberhentikan motornya cukup jauh.
Kiya mengembuskan napas panjang saat sudah berada di depan Prisma. Kiya sudah menduganya. Laki-laki itu pasti sedang menunjukkan raut masa. Kiya sungguh tahu ada masalah apa antara Prisma dan Yudi. Setiap dia berbicara dengan Yudi, Prisma selalu terlihat tidak suka dan seolah sedang cemburu. Tak hanya Prisma, Yudi juga bersikap sama.
“Mau langsung pulang atau gimama?” tanya Prisma sambil memasang helm putih ke kepala Kiya. “Ato kamu ke Jack Ice Cream? Kemarin kamu kan merengek ingin ke sana,” sambungnya dengan menekan kata Jack Ice Cream dan merengek.
Kiya sekali lagi mengembus napas panjang. Kapan dia merengek pada Prisma? Kayaknya nggak pernah deh? Tapi dia nggak berkomentar apa-apa. Dia sedang malam berbicara sekarang. Juga sedang enggan meladeni sikap kekanakan Prisma-yang selalu ingin menang-yang selalu muncul saat matanya sosok Yudi.
“Jack Ice Cream saja Kak.”
Kiya butuh sesuatu yang bisa membuatnya sedikit rileks. Makan es krim mungkin bisa jadi solusinya. Dan sekitar lima belas menit kemudian, mereka akhirnya tiba di sebuah gedung dengan pernak-pernik bergambar es krim yang ada di jalan ring road.
“Kamu sering ke sini, Ki?” tanya Prisma sambil celingak-celinguk melihat interior bangunan.
“Lumayan.”
“Pernah ke sini dengan Yudi?”
“Pernah.”
Prisma tiba-tiba menatapnya dengan tajam. “Berduaan saja?”
“Nggak. Sama Yeyen,” jawab Kiya sambil menempati tempat favoritnya saat berkunjung ke sini. Tempat itu tak terlalu jauh dengan pintu masuk dan cukup dekat dengan etalase yang memajang berbagai contoh es krim yang ditawarkan.
Seorang wanita berpakaian coklat menghampiri meja mereka, kemudian menyerahkan daftar menu yang tadi dipegangnya. Kiya memutuskan untuk memesan sunday vanilla topping parutan coklat. Sebenarnya Prisma tak terlalu suka dengan makanan yang dingin. Jadi dia memesan hot chocolate.
Setelah mencatat pesanan Kiya dan Prisma, si pelayan itu segera menuju kasir pemesanan, lalu dia menuju ke meja yang cukup jauh yang ditempati sepasang laki-laki dan wanita dewasa. Awalnya Kiya nggak menyadari, karena laki-laki itu membelakangi hingga menutupi wajahnya. Mereka juga tampak terlibat perbincangan seru.
Setelah diperhatikan dengan saksama lagi, Kiya merasa cukup familier dengan postur laki-laki itu. Mirip Bimo. Wanita yang juga di depannya juga terlihat mirip dengan wanita di video skandal itu. Dan karena rasa penasaran bercampur curiga yang begitu tinggi, tiba-tiba berdiri dan hendak menghampiri meja tersebut.
^^ P R I Y A ^^
“Mau ke mana Ki?” tanya Prisma saat melihat Kiya yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. “Mau ke kamar mandi?”
Kiya menggeleng. “Nggak Kak. Aku mau ke sana.”
Prisma mengikuti arah pandangan Kiya yang tertuju ke satu-satunya pelangan dengan setelan formal. Sang laki-laki memakai kemeja dan dasi berwarna senada, sedangkan si perempuan tampak cantik dengan blazer yang menutupi kaos yang dipakaSinya.
“Laki-laki itu mirip Papa,” tambah Kiya sambil beranjak.
Prisma menilik saksama seraya berdiri. Laki-laki itu benar-benar mirip dengan Bimo dari belakang dan perempuan itu mirip dengan yang ada di video. Kemudian dia segera menyusul Kiya. Tadi Prisma sempat melihat raut tegang karena menahan amarah di wajah Kiya. Dia takut gadis itu akan berbuat nekat.
Hanya tinggal tiga langkah lagi untuk berdiri tepat di samping meja bernomor sepuluh itu, Kiya tiba-tiba berhenti dan bergeming. Maniknya kini berkaca-kaca. “Papa,” panggilnya lirih.
Laki-laki berkemaja abu-abu itu menoleh. Dia sedikit mengernyit heran bercampur bingung saat melihat wajah Kiya. Sementara Kiya yang sudah yakin kalau laki-laki itu memang Bimo langsung berlari menjauh. Matanya yang berkaca-kaca, sekarang sudah luruh dan membasahi kedua pipinya. Sebagai anak, dia merasa terkhianati. Teganya Bimo bermain serong di belakang mamanya. Padahal selama ini Rasti sudah mencurahkan seluruh cintanya.
“Kiya,” panggil Prisma ketika Kiya melewatinya, tapi Kiya tak mengubrisnya. Prisma segera menyusul Kiya yang sudah hampir sampai di pintu keluar JIC. Dia menarik pergelangan Kiya hingga langkahnya berhenti. “Kamu mau ke mana?”
“Lepaskan, Kak. Aku mau pergi dari sini,” jawab Kiya sambil berusaha melepaskan pergelangan tangan kanannya dari jemari Prisma.
BERSAMBUNG...
MOHON VOTE-NYA YA. RATE BINTANG LIMA-NYA JUGA :))