PRIYA

PRIYA
PRIYA 30



“Kalian darimana?” tanya Raika sambil melihat jam di pergelangannya.


“Dari Mal Hartono Mbak. Kiya tadi nemani saya beli kado untuk adik-adik saya, Mbak,” jawab Prisma dengan alasan yang sama saat menjelaskan pada Rasti.


“Kata Kiya, adikmu kembar ya?”


Prisma mengangguk antusias. Meskipun berbeda ibu, dia sangat menyayangi dua adiknya tersebut dan selalu bersemangat bila membicarakan mereka. “Iya Mbak. Namanya Alisa dan Anisa.”


“Oh iya Pris, ada yang mau Mbak kasih ke kamu.”


“Apa Mbak?”


“Masuk ke dalam dulu, Pris!” ajak Raika.


“Yuk Kak!” timpal Kiya sambil mengikuti Raika yang sudah mendahului.


Sudah berulang kali Prisma mendatangi rumah ini. Dia sudah hapal dimana keluarga ini selalu berkumpul. Sama seperti keluarga dahulu. Pasti di ruang keluarga. Di sana terlihat Rasti dan Bimo yang sedang sibuk menulis, mencatat nama-nama yang akan diundang di pesta pernikahan Raika nanti. Di Meja bundar di depan TV berukuran 22 inci tersebut tampak berserakan. Penuh dengan beberapa kertas undangan dan berbagai barang yang tidak Prisma ketahui namanya. Tak sampai dua minggu lagi, pernikahan Galih dan Raika akan diselenggarakan.


“Ini untukmu, Pris,” sodor Raika dengan memberikan plastik putih berisi kain berwarna kuning emas. “Ini baju bridemaid dari Mas Galih?”


“Mas Galih kasih untuk Kak Prisma, Mbak?” Belum sempat Prisma hendak bertanya, Kiya sudah melontarkan kalimatnya. Sepertinya dia nggak tahu tentang ini.


“Sepupu Mas Galih yang kuliah di luar negeri nggak bisa datang. Jadi daripada nggak dipake, mendingan kasih ke Prisma. Dia ‘kan pacarmu, jadi dia pantas memakainya di pesta Mbak nanti,” jelas Raika sambil duduk di samping Rasti.


“Semoga cocok ya Pris,” ujar Rasti yang sejenak berhenti menulis.


“Oh iya, hampir aja Mbak lupa.” Raika mendekati Rasti dan mengambil sebuah undangan yang ada di atas meja. “Ini ada undangan untuk keluargamu,” kata Rasti sambil menyerahkan lembar berwarna keemasan itu.


“Baik Mbak. Terima kasih.” Prisma mengambil undangan itu dan memasukkan ke dalam tasnya. “Tapi saya nggak janji kalo orang tua saja bisa datang, Mbak. Mama dan Papa saya tinggal di Jakarta,” sambungnya.


Raika mengangguk kecil. “Iya, Pris. Nggak papa. Mbak paham kok.”


“Kamu udah makan, Nak?” tanya Bimo sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa.


Kiya hanya melihat sebentar ke arah Bimo. Tak berminat untuk menjawab.


“Ki, Papa tanya tuh. Kamu udah makan belum?” timpal Rasti.


“Udah Ma,” jawab Kiya dengan sedikit bersungut.


“Tadi kami makan di luar Om, Tan,” tambah Prisma, sedikit berbohong. Dia nggak mungkin mengatakan kalau Kiya makan di rumahnya. Dia juga sedikit heran. Bimo tampak tak merasa bersalah sedikitpun. Raut Bimo terlihat biasa-biasa saja. Sikapnya seperti mereka tidak pernah bertemu di JIC saja. Sikapnya seperti tak pernah kepergok dengan wanita itu saja. Prisma yakin Kiya juga merasakannya.


“Rencananya kamu mau lanjut kuliah di mana, Pris?”


“Belum tahu Om.”


“Ada rencana mau kuliah keluar negeri?”


Prisma terdiam sejenak. Berpikir. Adrian memang pernah menyuruhnya kuliah di Jakarta atau ke Amerika. Andrian ingin Prisma mendapatkan pendidikan yang baik, mengingat Prisma yang akan menjadi penerus perusahaannya nanti. Tapi memang sampai sekarang Prisma masih belum memutuskan. Banyak yang harus dipertimbangkannya. “Mungkin dalam negeri saja, Om.”


“Papa menyuruh saya ambil managemen bisnis, Mbak.”


“Cocok untukmu Pris. Tampangmu memang terlihat seperti pengusaha-pengusaha muda,” tukas Raika dengan tersenyum kecil.


Prisma menanggapinya dengan senyuman canggung. Kemudian matanya melirik ke pergelangan tangannya. “Om, Tan, Mbak, saya pamit pulang ya,” pamitnya sebelum menyalami mereka satu per satu.


“Ki, antar Prisma ke depan,” suruh Raisa yang dibalas dengan anggukan dari Kiya.


^^ P R I Y A ^^


“Kamu masih mogok ngomong sama Papamu,” tanya Yeyen seraya membukanya tas, mengambil alat tulis beserta buku cetak untuk mata pelajaran berikutnya.


“Setiap melihat wajah Papa, aku jadi teringat kejadian di JIC,” tanggap Kiya yang ikut mengeluarkan alat tulis dan bukunya.


Sejak dia memergoki sang Papa dengan wanita itu, Kiya memutuskan untuk tidak berbicara dengan beliau. Kiya juga lebih sering menghindar interaksi diantara mereka berdua. Sebenarnya dia ingin marah, ingin mengeluarkan segala unek-unek yang bercongkol di dalam hatinya. Tapi sebentar lagi pernikahan Raika dan Galih akan dilaksanakan. Kiya tidak ingin memperkeruh suasana yang sedang bahagia-bahagianya ini.


“Trus sikap Papamu gimana sampai sekarang?”


Kiya menopang dagunya dengan tangan kanan. Berpikir. “Sikap Papaku biasa-biasa saja. Papaku juga nggak pernah menyinggung pertemuan kami di JIC.”


“Apa mungkin laki-laki di JIC itu bukan Papamu?” duga Yeyen. Dia merasa sedikit aneh dengan apa yang diterangkan Kiya atas sikap Bimo. Laki-laki—yang dikenalnya sebagai sosok yang sangat ramah—itu tidak menunjukkan sikap bersalah sedikit, bak menganggap kejadian di JIC tidak pernah terjadi.


Kiya cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Nggaklah. Nggak mungkin. Jelas-jelas itu Papaku dan nggak mungkin juga aku nggak mengenal wajah Papaku,” jelasnya tanpa ragu secuilpun. “Kalo kamu nggak percaya, kamu bisa tanya Kak Prisma,” tambah Kiya lagi, semakin menyakinkan.


“Tapi mau sampai kapan kamu mendiamkan—“


Kalimat Yeyen terpotong tatkala ponsel Kiya di atas meja bergetar. Matanya menangkap di kotak pop up dengan nama “Mas Yudi”. Matanya juga tanpa sengaja membaca chat yang berisikan ajakan untuk pergi ke alun-alun kota itu.


“Mas Yudi sering ngajakin kamu keluar ya, Ki?” Melihat isi chat tersebut, Yeyen nggak bisa menutupi rasa penasarannya. Yudi sangat jarang mengajaknya keluar, seperti mengajak makan atau ke tempat-tempat yang sedang hit saat ini. Tapi Yeyen sedikit memaklumi. Selama ini dia juga lebih sering berpergian dengan Kiya daripada dengan Yudi. Memang kebanyakan orang-orang lebih memilih pergi bersama pacar atau teman-temannya daripada sama kakak atau adik yang berlawanan jenis. Merasa sedikit awkward saja bila pergi berdua.


Kiya memilih nggak menjawab. Dia segera membalas pesan Line tersebut. Masih seperti jawaban beberapa hari ini, dia kembali menolak. Alasannya sederhana saja. Pernikahan mbaknya tinggal beberapa hari lagi, dia harus sedikit membantu-bantu di rumah.


“Menurutmu Mas Yudi gimana, Ki?”


“Maksudnya?” Kiya mengernyitkan dahinya.


“Pandanganmu terhadap Mas Yudi gimana?”


“Mas Yudi orangnya baik. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri, sama seperti aku menganggapmu,” jawab Kiya mantap dengan senyum lebar.


Yeyen mengaruk-garuk kepala. Dia ragu ingin menanyakan pertanyaan ini. Tapi dia juga cukup penasaran dengan tanggapan Kiya. “Kalo misalnya Mas Yudi memang menyukaimu, kamu gimana Ki?” Akhirnya setelah sedikit berdebat dengan batinnya, Yeyen mengucapkannya.


Kiya lantas tercenung. Empat hari belakangan ini, Yudi memang lebih gencar menghubunginya lewat chat atau telepon. Karena seperti perkataannya tadi yang menganggap Yudi sebagai saudaranya, Kiya menyambutnya biasa saja. Tidak merasa risi ataupun tergganggu. Dia nggak pernah kepikiran kalau Yudi memiliki perasaan untuknya.


BERSAMBUNG...


HOREEEE..... HANYA INGIN BILANG HORE. CK CK CK CK