
“Mas Galih sekarang nggak di sini. Setelah ngantar Mamanya, dia langsung ke hotel.”
Kiya manggut-manggut paham. “Trus udah sampai mana persiapannya Mbak?”
“Mungkin 70-80 persenlah. Doakan saja semuanya lancar sampai hari H.”
“Amin Mbak.”
“Ya udah, yuk kita ke belakang. Setelah itu kamu langsung mandi dan istirahat,” ujar Raika sebelum kembali masuk ke dalam rumah.
^^ P R I Y A ^^
Beberapa detik lalu bel istirahat berbunyi. Kiya dan beberapa teman sekelasnya masih terlihat sibuk memasukkan alat-alat sekolah ke dalam tas. Sebagian ada yang sudah meninggalkan kelas. Separuhnya langsung menuju kantin.
“Yen, kita ke XII IPS 4 dulu baru ke kantin ya?” Kiya memasukkan kotak pencil ke dalan saku tas yang paling depan. Ini peralatan sekolah terakhir yang tadi digunakannya.
“Mau ngapain di sana?”
“Ketemu Kak Prisma.”
“Memang dari kemarin-kemarin kamu belum ketemu dia?”
Kiya menggeleng. “Belum. Kalo pas kejadian, dia pulang lebih awal. Kalo kemarin, kata Kak Awan dia nggak masuk.”
“Berarti kamu belum minta maaf sama dia?”
Kiya kembali menggeleng. “Belum.”
Yeyen mengikuti langkah Kiya yang hendak menuju pintu kelas. “Apa mungkin dia dirawat di rumah sakit gara-gara kuah panas itu?” duga Yeyen, tapi cepat-cepat dia menyanggah. “Tapi kayaknya nggak mungkin. Masa iya hanya gara-gara kuah panas harus dirawat di rumah sakit. Kalo kena api, mungkin saja iya.”
Kiya manggut-manggut menyetujui. “Menurut kamu, Kak Prisma marah atau nggak ya karena kejadian itu?” tanya Kiya yang sebenarnya sudah lama ingin mendengarkan pendapat Yeyen tentang ini. Sejak kejadian itu, dia sangat was-was dengan dugaan tentang sikap Prisma.
“Mungkin saja marah dan aku yakin, ekspresi semakin mirip dengan Red,” ucap Yeyen sambil menarik-narik kedua ujung mata dan menatap Kiya dengan tajam, menunjukkan raut dari salah satu tokoh dalam film Angry Bird.
Kiya bergidik. “Yen, jangan membuatku takut dong!”
“Kan aku bilang mungkin aja.” Yeyen menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk. “Tapi kalo dipikir-pikir, Kak Prisma nggak akan marah deh. Menurutku dia menyukaimu?”
“Cih, jangan ngelantur!” tukas Kiya dengan sedikit berdecih.
“Siapa yang ngelantur?! Aku yakin Kak Prisma menyukaimu. Sering kali aku melihatnya sedang menatapmu.”
“Menatap bukan berarti suka,” bantah Kiya sambil mendengus.
“Tapi dia menatapmu berbeda saat menatap teman-teman perempuannya. Kayak ada binar-binar bunga di matanya.”
“Cih, sok tahu! Dan apaan tuh binar-binar bunga?!” cibir Kiya.
Yeyen sekarang tak menyahut, tak lagi membalas celetuk Kiya. Ketiga sosok gadis semampai yang berjalan berlawanan arah membuatnya memilih bungkam. Bukan karena Yeyen penakut. Dia pemegang sabuk hitam taekwondo. Dia bahkan pernah mengajar tiga cowok berandalan yang berani mengganggu adik sepupunya. Hanya dia malas saja mencari musuh. Kalau Jessica dkk tidak bertindak berlebihan, dia lebih memilih untuk diam saja.
Sementara Kiya hanya menyungging senyum singkat saat matanya dan Jessica tak sengaja menjalin kontak. Dia tetap harus menghormati Jessica sebagai kakak kelas meskipun mereka pernah memiliki perselisihan. Hingga kini, Kiya masih mengingat jelas pelabrakan itu. Kejadian dua setelah insiden surat cinta untuk Prisma.
“Siapa yang namanya Zakiya Annatasya?”
Kiya yang mendengar namanya yang disebut-sebut spontan mendongakkan kepala. Dahinya refleks mengerut tegang. Siapa ketiga gadis itu? Ada apa mereka mencari dirinya?
“Siapa yang namanya Zakiya Annatasya?” ulang gadis berambut keriting dan sedikit lebih pendek dari kedua gadis lainnya.
Cewek yang ada di tengah-tengah langsung maju lebih dulu. “Oh, jadi kamu yang nembak ke Prisma pake cara kuno itu?!” Dia menilik Kiya dengan tajam, dari kepalanya turun ke bawah dan naik ke kepala. “Cih, sok kecantikan banget kamu nembak-nembak Prisma! Ngaca dong!”
Kiya hanya bungkam sambil sekali-kali melirik teman-teman sekelasnya yang sedang menatap prihatin. Kiya yakin kalau mereka ingin menolong, cuma nggak ada yang berani. Mereka baru beberapa hari menjadi siswa-siswi di SMAN 24 Sleman ini. Tidak sewajarnya mencari masalah dengan kakak-kakak kelas.
Sedangkan Yeyen sedang pergi ke WC. Tepat bel istirahat berbunyi, dia buru-buru pergi ke sana. Dia memang sering kebelet pipis. Makanya dalam sehari, dia bisa empat sampai lima kali pergi ke WC.
Kiya juga sempat melirik ke name tag ketiga gadis tersebut. Yang sedang berbicara dengan tatapan sinis itu bernama Jessica Amanda. Dua cewek lainnya, yang berambut keriting bernama Amira Anugerah dan gadis yang sejak tadi yang berbulu mata lentik bernama Natasya Setianingsih.
“Kalo kamu merayu Prisma lagi, awas aja kamu!” ucap Jessica sengit.
Kiya hanya diam saja. Dia bingung harus merespon bagaimana. Menurutnya dia selama ini nggak pernah merayu Prisma. Jangankan merayu, berbicara dengannya saja baru satu kali, waktu insiden surat cinta itu. Dan dia pun nggak berminat sama sekali dengan Prisma.
“KAMU DENGAR NGGAK?!” bentak Jessica sambil memukul meja.
Kiya sontak tersentak. “D-Dengar Kak,” jawabnya terbata-bata.
Pukulan tadi benar-benar sangat nyaring. Kiya nggak menduga kalau Jessica mempunyai tenaga yang cukup besar hingga mampu memukul meja seperti itu. Kemudian dia melirik telapak Jessica. Tampak kemerahan. Tapi raut wajah Jessica terlihat biasa saja. Apa tangannya nggak sakit, Kiya membatin.
Setelah kembali memberi ancaman dengan kalimat yang hampir sama, Jessica dkk meninggalkan kelasnya. Pelabrakan memang sangat singkat-mungkin mereka bertiga juga sedang lapar dan segera ke kantin, namun memiliki efek diberikannya yang signifikan untuk Kiya. Rasanya dia ingin menangis. Dia selama ini tak pernah dibentak oleh siapapun. Perbuatan Jessica dkk membuatnya down dan setengah frustasi. Mengapa di awal-awal SMA-nya, dia harus mengalami kejadian seperti ini. Dan sejak hari itu, Kiya melihat Jessica, Awan, dan Prisma sebagai tiga orang yang harus dihindari bila ingin menikmati masa SMA.
“Kak Jessica pernah melabrakmu lagi setelah hari itu?”
Kiya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. “Ya yen?”
“Kamu melamun ya tadi?” Kiya menatap selidik.
Kiya menggelengkan cepat.
“Bohong. Pasti kamu melamun, kan?” tanggap Yeyen tak percaya. “Memangnya kamu melamun apaan sih? Masalah video itu lagi?”
“Nggak Kok,” sanggah Kiya.
“Jadi Kak Jessica pernah melabrakmu lagi nggak?” tanya Yeyen lagi.
“Nggak pernah.”
“Ck, mentang-mentang Ayahnya pejabat di kota ini, dia bisa seenak begitu. Sok berkuasa. Padahal anak-anak di sini bukannya nggak berani, hanya malas saja. Buang-buang waktu saja untuk anak manja seperti mereka,” cibir Yeyen yang sejak MOS tidak menyukai Jessica yang kala itu menjadi panitia MOS di kelompoknya.
“Sudah. Sudah. Jangan ngomongin tentang mereka lagi,” ucap Kiya saat dia dan Yeyen sudah berdiri di pintu kelas XII IPS 4.
Mata Kiya menilik saksama ke dalam kelas. Masih tidak dilihatnya wujud jangkung beralis tebal. Mungkin cowok itu sudah ada di kantin. Ketika Kiya memutuskan untuk mengajak Yeyen ke kantin, suara bass tiba-tiba menghentikan niatannya.
“Kamu cari Prisma?”
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA, BERI LIKE, RATING, COMMENT, AND LIKE.
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR 👍👍👍
YUK GABUNG KE GRUP @ALSAEIDA...