PRIYA

PRIYA
PRIYA 14



“Aku mau ke kamar sebentar, kamu duduk aja dulu di sini,” ucap Prisma dengan maniknya tertuju pada salah satu kursi jati, isyarat agar Kiya duduk di sana. Memang sejak mereka masuk ke ruang tamu ini, Kiya masih berdiri di dekat pintu masuk dengan tatapan kagumnya. Tanpa menunggu respon Kiya, Prisma langsung pergi ke bagian utara yang mengarah ke tangga menuju lantai dua.


Kiya mengambil tempat duduk di kursi terdekat. Sekarang mata Kiya mulai menilik, terutama pada foto keluarga berukuran sangat besar yang tergantung di dinding. Ada empat sosok di foto itu, salah satunya sosok Prisma. Di sebelahnya, ada sosok laki-laki dewasa yang terlihat mirip dengannya. Kiya sangat yakin kalau pria itu adalah papa Prisma. Di depan mereka, ada satu wanita dewasa dan dua bocah perempuan dengan wajah yang identik. Kiya menduga kalau mereka adalah ibu dan adik-adik Prisma.


Dilihat dari foto itu, keluarga mereka tampak harmonis. Tapi rumah ini tampak sunyi. Seperti tak berpenghuni saja. Apa mungkin keluarga itu tidak tinggal di sini dan makanya selama ini Prisma memilih untuk ngekos?


“Silahkan diminum Neng!” ucap Bik Asih yang tiba-tiba sudah ada di depan Kiya sambil meletakkan dua gelas cairan berwarna merah dan dua piring berisikan potongan kue rainbow cake. Kiya sungguh tak sadar sudah sejak kapan Bik Asih ada di dekatnya. Mungkin karena dia terlalu memikirkan sososk-sosok di foto itu hingga tak menyadari kedatangan Bik Asih.


“Terima kasih ya Bik.”


“Sama-sama Neng,” sahut Bik Asik dengan mengangguk pelan. “Bibik permisi ke belakang dulu ya, Neng,” pamit Bik Asih sebelum meninggalkan Kiya sendiri lagi.


Setelah wujud Bik Asih cukup jauh dari bangku yang di tempatinya, nada dering charming bell berbunyi, menandakan ada panggilan telepon melalui WhatsApp. Ternyata dari Yeyen.


Kiya meletakkan ponsel merek Samsung itu di dekat telinga kanannya. “Halo Yen. Ada apa?”


“Kamu jadi pergi ke kosan Bumi Putra?”


“Jadi Yen. Tapi sekarang aku di Balle Hinggil.”


“Balle Hinggil? Maksudmu Balle Hinggil yang di jalan Kaliurang Km 10 itu?”


Kiya mengangguk pelan meskipun Yeyen tak dapat melihatnya.


“Ngapain kamu di sana?” tambah Yeyen di balik telepon.


“Kak Prisma mau ngambil mobil. Kata Kak Awan, Kak Prisma mau pindahan. Mungkin mobil itu buat ngangkut barang-barangnya. Mungkin juga alasan Kak Prisma menyuruhku ke kosan Bumi Putra untuk membantunya pindahan,” terang Kiya dengan sedikit keraguan atas kalimat terakhirnya. Kalau alasan Prisma memang seperti itu, seharusnya dia meninggalkannya di kosan Bumi Putra saja, supaya Kiya mulai mengerjakannya.


“Maaf ya Ki, aku nggak menepati janjiku. Kamu pasti kikuk berada di sana,” ucap Yeyen dengan nada menyesal.


Kiya refleks menggeleng-geleng meskipun dia sangat tahu kalau Yeyen tak bisa melihatnya. “Nggak papa Yen. Aku ngerti kok. Kita memang harus pergi melayat jika ada yang meninggal, apalagi itu masih keluarga.” Kemudian mata Kiya lantas menangkap postur Prisma yang sedang turun dari tangga. “Yen, udah dulu ya,” akhirnya sebelum memutuskan panggilan telepon tersebut.


Kiya menoleh ke sepiring rainbow cake yang sejajar dengannya. Kue itu terlihat sangat lezat dan menggiurkan. Apalagi rainbow cake adalah kue favorit Kiya selain black forest tentunya. Dia berharap Prisma akan membiarkan menikmati potongan kue tersebut sebelum mengajaknya pergi.


“Habiskan kuemu. Trus kita pergi,” kata Prisma sambil duduk dihadapan Kiya.


Mata gadis itu kontan berbinar cerah. Apa yang diharapkannya terkabul. Dia tanpa sungkan langsung mengangkat piring itu dan mulai memotong-motong kue menjadi kecil-kecil dengan menggunakan garfu. “Ehm... Yummy,” lirih Kiya tersenyum lebar saat potongan kecil itu masuk ke dalam mulut dan menggelitik lidahnya. Tidak salah kalau rainbow cake menjadi salah kue yang paling enak.


Melihat reaksi gadis berekor kuda di depannya, bibir Prisma tanpa sadar tersungging. Mimik wajah Kiya yang tampak menikmati citra rasa kue itu terlihat sangat lucu. Seperti anak kecil saja.


“Ada apa?” tanya Kiya yang menatap ganjil wajah Prisma. Tidak biasa Prisma menunjukkan raut ramah seperti itu, karena selama ini dia selalu menunjukkan raut dingin dan terkesan galak.


Apakah ada yang lucu hingga Prisma bersikap seperti itu? Atau apakah dia makan bercelemotan? Kiya cepat-cepat mengusap sudut-sudut bibirnya.


Sekali lagi Kiya memasukkan potongan kecil rainbow cake. Ini potongan terakhir. Kemudian mengusap-usap sudut bibirnya sebelum berdiri. “Udah Kak. Dan thanks kuenya. Enak banget!”


“Mau dibungkus nggak? Kayaknya masih banyak di dalam?”


Kiya cepat-cepat menggoyangkan sebelah tangannya, ke kiri dan kanan. “Nggak. Nggak usah kak. Tadi udah cukup kok.” Aduh, bikin malu aja. Apa mungkin aku makan dengan rakus hingga Kak Prisma menawarkannya seperti itu, tambah Kiya dalam hati.


^^ P R I Y A ^^


Kiya benar-benar tidak tahu mengapa Prisma menyuruhnya mendatangi kosan Bumi Putra ini. Awalnya dia kira karena Prisma mau pindahan dan mungkin menyuruhnya untuk membantu mengangkut barang-barang. Namun sejak mereka dari Balle Hinggil dan kembali ke kosan ini, tidak ada satu barang pun yang sudah disentuh Kiya. Prisma justru menyuruhnya untuk duduk di kursi plastik yang sengaja di letakkan di aula kecil di samping pagar.


“Ini angkutan terakhir. Setelah ini kita makan.” Prisma mengucapkan tanpa menoleh ke Kiya yang terlihat bosan dan di tangannya ada dua kotak berisikan peralatan sekolahnya.


“Tapi Kak—”


“Kamu udah ada janji atau ada acara?”


Kiya menggeleng pelan. Hari ini dia free. Namun bukan berarti dia mau berlama-lama di dekat Prisma. Seandainya Prisma tidak mengatakan kalau permintaan berarti pertukaran, Kiya pasti tak akan mendatangi kosan Bumi Putra ini. Dia lebih memilih bermalas-malasan di dalam kamar sambil menonton drama korea.


“Setelah makan, kita ke Jogjatronik. Temani aku beli HP baru.”


“Aku—” Lagi-lagi Kiya tak bisa menyelesaikan kata penolakannya. Prisma sudah meninggalkan lagi sendiri dan menghampiri beberapa anak kos yang sedang berdiri di depan pintu—yang sebentar lagi akan menjadi mantan—kamarnya. Dia berbincang-bincang sebentar sebelum kembali menghampiri Kiya. Awan dan Asep mengikutinya dari belakang.


“Mau makan di mana nih?” tanya Asep dengan cengiran jenaka khasnya.


“Aku manut aja,” jawab Awan.


“Ke Lesehan Pak Amin aja yuk. Gimana?” usul Asep sebelum menoleh ke sampinganya, ke arah Kiya. “Gimana menurutmu Mez,?” imbuhnya.


“Aku ngikut aja Kak.” Mau tak mau dia harus menjawab seperti itu meskipun dia sangat ingin menolaknya.


“Jadi gimana? Setuju ke Pak Amin?” Asep kembali meminta pendapat.


“Aku ngikut aja,” sahut Prisma.


Tiba-tiba Asep menyeringai menggoda menatap Prisma dan Kiya bergantian. “Cie... Cie... Cie... Kata-katanya sama. Cie... Aku ngikut aja,” ucapnya menekan kalimat terakhir dengan nada manja dan mendesah.


Prisma tampak tak terpengaruhi. Sudah biasa melihat sikap kekanakan Asep. Dia justru melangkahkan kaki menuju mobilnya. Sedangkan Kiya hanya mendengus pelan sebelum mengekori Prisma.


BERSAMBUNG...


NANTI TERUS KELANJUTANNYA. PLEASE VOTE, COMMENT, LIKE, AND COMMENT.