
Kiya bukannya takut berhadapan satu lawan satu dengan para fans Awan. Hanya saja Kiya tipikal orang yang lebih memilih menghindari masalah. Dia hanya ingin menikmati hidupnya seperti air sungai yang mengalir tanpa ombak-ombak yang mengganggu.
Huh! Kiya menghela napas panjang sebelum kembali menggerakkan kakinya. Meskipun rasa bimbang masih menggeluti, masalah video itu tak akan selesai kalau dia terus mengulur-ulur waktu seperti ini dan tidak bertindak apa-apa. Dan tinggal dua langkah lagi untuk sampai di depan Awan, Kiya tiba-tiba berdiri terpaku di tempatnya. Sosok Prisma yang baru keluar dari pintu kelas memaksa Kiya untuk bergeming. Lanjut. Tidak. Lanjut. Tidak. Lanjut. Tidak.
Prisma yang menyadari seseorang sedang melihat ke arahnya refleks menolehkan kepala. Kiya langsung membalikkan badan dan buru-buru bergerak menjauh. Dari gerbang sekolah yang tampak lenggang karena lebih memilih menunggu hujan reda, dia melihat Raika yang sedang berjalan menuju ke arahnya sambil memegangi payung berwarna merah. “Mbak Raika!” serunya.
“Udah lama pulangnya, Dek?” tanya Raika ketika sudah berdiri di depan Kiya.
Kepala Kiya menggeleng. “Belum kok Mbak.”
“Yuk pulang sekarang! Mas Galih udah nunggu di mobil.”
Kiya mengangguk pelan. Kemudian dia berdiri menempel di samping Raika agar bisa berlindung di bawah payung dan mereka segera berjalan ke depan gerbang. Ada sebuah mobil Toyota Yaris yang sudah menunggu mereka di depan gerbang.
“Kita mampir ke Gudeg Annisa dulu ya, Dek?!” ucap Raika sambil memasang save belt.
“Oke, Mbak,” sahut Kiya yang sudah duduk di kursi penumpang di belakang kemudi.
Perlahan mobil Toyota itu mulai bergerak dan memasuki jalan raya. Setelah lima belas menit perjalanan dari SMAN 24 Sleman, akhirnya mobil berwarna silver tersebut berhenti di sebuah rumah makan bertingkat dua. Gudeg—yang terkenal sebagai makanan khas kota Yogyakarta—yang dijual di Annisa ini memang terkenal sangat enak. Rasanya gurih dan sedap. Kiya sudah sering ke sini menemani Rasti atau mengambil pesanan beliau. Bahkan karyawan-karyawan di Annisa ini sudah sangat mengenal keluarganya.
“Mau ikut ke dalam ato gimana, Dek?” tawar Raika dengan melepaskan save belt.
“Aku nunggu di sini saja Mbak.”
“Ya sudah kalo gitu, Mbak dan Mas Galih pergi ke dalam dulu. Kami nggak akan lama kok,” ujar Raika sebelum mengambil dompetnya di dalam tas.
Saat Raika membuka pintu mobil, Galih ternyata sudah menunggu dengan payung merah yang tadi digunakannya untuk menjemput Kiya. Raika langsung menyambut uluran tangan dari Galih dengan senyum lebar. Kemudian mereka memasuki gedung dua lantai tersebut dengan bergandengan tangan. Sedangkan Kiya menyungging senyum kecil melihat interaksi hangat yang diperlihatkan sejoli itu. Raika dan Galih sudah menjalin hubungan sebagai kekasih cukup lama. Mungkin hampir delapan tahun, sejak mereka kelas satu SMA. Keluarga Raika dan Galih juga sudah saling mengenal cukup baik. Beberapa kali keluarga Raika mengunjungi keluarga Galih, begitupula sebaliknya.
Sambil menunggu sepasang kekasih yang selalu terlihat mesra itu kembali, Kiya memutuskan untuk membuka aplikasi Instagram, berharap ada foto-foto terbaru dari anggota boyband atau artis kesukaannya. Kiya sangat menyukai boyband BTS dari Korea. Selain dance-nya energik, lagu-lagu mereka juga keren-keren dan sering masuk Billboard. Lagu yang sangat disukainya adalah Blood, Sweet, and Tears. Menurutnya, lirik lagu dan suara yang dinyanyikan tujuh orang tersebut sangat karismatik.
Sementara dari Indonesia, Kiya sangat menyukai Diana Satriawijaya. Diana merupakan artis senior yang sudah memerankan banyak film. Hampir semua filmnya menjadi populer dan selalu menempati peringkat teratas. Meskipun di usianya yang telah mencapai empat puluh tahunan, dia masih terlihat cantik dan seksi, bak seperti gadis dua puluhan saja. Baru-baru ini, dia baru menerima penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik.
“Udah Mbak?” tanya Kiya ketika Raika sudah duduk lagi di samping kemudi.
Raika mengangkat kantung plastik hitam yang ada di tangannya. “Udah Dek.”
“Hanya satu bungkus aja Mbak?”
“Iya Dek. Kan hanya kita bertiga yang makan.”
“Memangnya Papa ke mana Mbak?” Seingatnya, pagi tadi Bimo masih di rumah dan mereka sarapan bersama. Laki-laki paruh baya itu juga nggak mengatakan kalau beliau akan pergi dinas.
“Papa pergi lagi ke Bandung Dek.”
“Tadi siang Papa buru-buru pergi setelah mengambil kopernya. Iya, kan Mas?” Raika menoleh ke sampingnya, meminta persetujuan Galih yang sedang fokus menyetir. Galih hanya mengangguk singkat kepalanya.
“Papa makin sering ke Bandung, ya Mbak?”
“Mungkin karena Papa banyak urusan kantor dek.”
Kiya tak lagi merespon, justru menengok ke kaca mobil yang dialiri rintik-rintik air hujan. Kiya tidak ingin berprasangka buruk tentang Papanya. Tapi bila mengingat kemesraan Bimo dengan wanita di video BigGames itu, Kiya tak bisa menyingkirkan pikiran negatif yang selalu mengusik benaknya. Spekuslasi buruk terus menghantuinya. Di dalam hati Kiya terus memanjatkan doa, semoga keluarganya baik-baik saja. Semoga Mamanya tidak menjadi korban pelakor yang sedang marak dialami ibu-ibu rumah tangga sekarang. Semoga juga Papanya tidak melakukan kekhilafan.
^^ P R I Y A ^^
Akhirnya pelajaran Fisika telah berakhir. Hampir dua jam siswa-siswi XI IPA 1 bergelut dengan rumus-rumus mekanika listrik. Bu Desi yang baru saja keluar dari kelas membuat Yeyen langsung menghela napas . Fisika adalah pelajaran paling dibencinya. Juga karena yang mengajar adalah Bu Desi yang terkenal sebagai guru tergalak di SMA, Yeyen semakin tak menyukai hingga ke ubun-ubun kepala. Sesungguhnya Yeyen tak ingin masuk jurusan IPA. Tetapi kebanyakan orang tua menganggap jurusan IPA adalah jurusan yang menjanjikan di masa depan. Begitupula dengan kedua orang tua Yeyen.
“Kantin yuk!” ajak Kiya sambil berdiri. “Aku lapar. Mau makan bakso.”
Yeyen dengan ogah-ogahan membangkitkan tubuhnya. “Aku sedang malas ke kantin, tapi aku juga nggak mau tinggal sendirian di kelas.”
Kiya mengangkat sebelah alisnya. “Kamu kok lesu? Fisikanya kan udah berakhir.”
Yeyen tiba-tiba menunjukkan mimik ingin menangis. “Aku patah hati.”
“Patah hati?” Lagi-lagi alis kiri Kiya terangkat.
“Kamu nggak lihat postingan IG Kak Awan?”
Kiya dengan cepat menggeleng. “Aku nggak follow dia. Memangnya kenapa?”
“Kak Awan kayaknya udah punya pacar deh,” jawab Yeyen sambil membuat suara isakan.
“Tahu darimana?”
Yeyen cepat-cepat merogoh saku baju dan mengambil ponselnya. Dia bermain sebentar dengan touchscreen ponselnya sebelum menyodorkan ke Kiya. “Lihat nih!” suruhnya dengan menunjukkan sebuah foto dari aplikasi Instagram.
Kiya terpaksa mengambil sodoran itu. Sebenarnya dia nggak terlalu tertarik dengan apa yang ingin Yeyen perlihatkan, apalagi yang berhubungan dengan Awan.
BERSAMBUNG...
Yuk, gabung di grup @alsaeida!!!