PRIYA

PRIYA
PRIYA 11



“Mungkin besok,” sahut Awan sebelum memakan lagi sepotong batagor.


“*Jadi mau Abang anterin nggak?” Sepertinya Asep masih**ingin mengganggu Kiya meskipun gadis mungil itu tak menanggapi. Entah sejak kapan dia suka menggodanya*.


Sedangkan Kiya sekarang menulikan telinganya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap angkutan umum yang sedang ditunggunya segera datang. Dia tak mau berlama-lama di gerbang sekolah ini, apalagi ada sosok Asep hendak menghampirinya. Dan dia langsung menghela napas lega ketika angkot yang ditunggunya sudah datang, Kiya segera masuk ke dalam mobil dan menempati tempat duduk di dekat pintu. Setelah menunggu sekitar lima menit, akhir sang sopir mengemudi mobilnya lagi, kembali menelusuri sepanjang Kaliurang.


“Pak, berhenti di Indomart ya!” ucap Kiya seraya ancang-ancang untuk turun.


“Ya Neng,” balas pria paruh baya itu sambil menginjak rem mobilnya.


“Terima kasih Pak,” ujar Kiya dengan menyerahkan selembar uang nominal dua ribu, kemudian dia segera turun dari mobil dan langsung menengok ke kiri dan ke kanan, melihat volume kendaraan yang berlalu-lalang. Indomart itu terletak di seberang jalan.


Saat kakinya menginjak teras Indomart, mata Kiya lantas terpaku pada sosok laki-laki dengan celana training berwarna hitam dan hoodie abu-abu yang baru saja melewati pintu Indomart. Di tangan kanannya terdapat sebungkus plastik hitam besar. Sepertinya dia baru saja selesai berbelanja.


“Kak Prisma.” Sebenarnya Kiya tidak ingin mengucapkan nama itu, namun nama Prisma terpanggil begitu saja tanpa diperintah. “Habis belanja ya Kak?” tambah Kiya yang mencoba menghilangkan hawa canggung ini dan rasa gugup yang melingkupinya.


“Hm,” balas Prisma singkat.


“Beli apa Kak?” Kiya nggak bermaksud sok akrab. Hanya saja mulut ini nggak bisa diajak kompromi. Kalimat tanya itu keluar begitu saja. Tapi Kiya cepat-cepat melarat ketika mengingat kejadian beberapa hari lalu. “Aku sungguh minta maaf Kak. Aku nggak sengaja menumpahkan kuah bakso itu ke Kakak. Saat itu aku sedang terkejut,” ujarnya dengan menambahkan karena kedatangan Kakak di dalam hati.


“Ya.” Lagi-lagi Prisma menyahutnya dengan singkat.


“Apa Kakak terluka?”


“Nggak.”


“Syukurlah.” Kiya mengembuskan napas lega.


Setelahnya hening melanda. Kiya menundukkan kepala. Dia bimbang, apakah harus kembali berbasa-basi atau langsung saja masuk ke Indomart. Sementara Prisma enggan untuk memulai percakapan atau menjauh dari teras tersebut. Dia hanya terus menatap Kiya dengan tatapan tajam. Bahkan terkesan sedikit intens.


“Permisi Kak, aku ke dalam dulu ya.” Tanpa mendengar tanggapan Prisma, Kiya segera menerobos masuk ke Indomart. Ah, Kiya harus mempersiapkan mental yang lebih kuat bila bertemu Prisma lagi. Tatapan tajam cowok itu sangat mengintimidasinya.


Kiya langsung mengambil keranjang yang ada di samping pintu dan lantas menuju rak-rak makanan ringan yang terletak beberapa meter dari meja kasir. Dia mengambil sekotak besar Beng Beng yang berisi 24 buah dan dua buah bungkus Taro. Lalu dia menuju rak minuman dingin yang persis di samping kasir, mengambil dua botok ice jeruk dan sebungkus ice krim rasa vanila.


Dirasa cukup, Kiya beranjak ke kasir nomor dua yang terlihat kosong dari antrian. Dia meletakkan keranjangnya di atas meja kasir dan membiarkan si Mbak Kasir menghitung. Kalau akhir bulan, toko ini tampak lenggang. Pelanggan di sini kebanyakan mahasiswa yang mendapatkan kiriman di awal-awal bulan.


Saat hendak keluar Indomart, lagi-lagi langkah kaki Kiya kontan berhenti dan kembali terpaku. Di duganya sosok Prisma yang sudah menjauh dari kawasan ini, tapi ternyata dia masih berdiri di teras sambil menatap ke jalanan.


Lama Kiya mematung di posisinya, hanya memandang postur Prisma yang membelakanginya. Dia ragu apakah harus kembali berjalan atau menunggu saja sampai Prisma pergi, dan tiba-tiba dia teringat video skandal itu. Dia mulai menimbang-nimbang. Haruskah dia menanyakan sekarang d isuasana kikuk seperti ini atau menunggu nanti-nanti saja setelah menemukan waktu yang pas?


Setelah berpikir cukup keras, Kiya memutuskan untuk menghampiri Prisma. Lagipula tidak ada tanda-tanda kalau Prisma akan beranjak dari posisinya. Kiya juga tidak tahu harus menunggu Prisma sampai kapan hingga dia pergi. Dan sebaiknya video itu memang harus cepat dihapus. Apalagi dia juga takut kalau apa yang diucapkan Yeyen benar. Kalau kelamaan, takutnya views video itu semakin banyak dan Prisma mungkin nggak mau menghapusnya.


“Belum pulang Kak?” ujar Kiya dengan gaya sok kenal sok dekatnya lagi.


“Sedang nunggu seseorang.”


“Memangnya kenapa?”


“Ehm....” Kiya mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku bisa minta tolong nggak Kak, bisa hapuskan video Kakak yang dicandi itu?”


“Baiklah.”


Bibir Kiya menyungging lebar. Tak menyangka Prisma akan menyetujui permintaannya segampang itu. Kalau tahu begini, sejak awal masuk sekolah dia langsung menemui Prisma. Jadi dia tak perlu mengalami galau berkepanjangan bak seperti orang yang kacau karena cinta.


Prisma juga tak bertanya alasannya. Dia langsung menyetujuinya saja. Ah, mungkin Prisma nggak seperti yang dibayangkan Kiya. Dibalik raut muka yang terkesan dingin dan pemarah, Prisma bisa saja cowok berhati lembut. Yah, memang tak baik menghakimi seseorang dengan melihat penampilan luar saja. Don’t jugje book by its cover.


“Tapi besok kamu harus ke kosan Bumi Putra yang ada di jalan Kenanga.”


“Hah?!” Kiya mengerutkan dahinya.


“Minta tolong termasuk permintaan. Permintaan berarti pertukaran. Dan pertukaran berarti ada harga yang harus diterima dan diberi,” imbuh Prisma lagi, memperjelas.


^^ P R I Y A ^^


“Tapi untuk apa—”


“Kiya!” seru seseorang yang memotong ucapan Kiya.


Kiya dan Prisma spontan menoleh ke sumber suara, tertuju pada sosok Yudi yang sedang turun dari sepeda motornya. Kemudian Yudi datang mendekat dengan senyum ramah di bibirnya.


“Habis belanja ya?” tanya Yudi.


“Iya Mas,” jawab Kiya dengan mengangguk. “Mas mau belanja juga?”


“Nggak kok. Tadi waktu lewat sini, aku lihat kamu. Jadi aku ke sini.” Yudi kemudian melirik ke samping ke kiri, menatap Prisma yang juga sedang menatapnya. Kedua bola mereka saling menilik, seolah saling menilai.


“Oh iya Mas Yudi, ini Kakak kelasku dan Yeyen. Namanya Kak Prisma. Dan Kak Prisma, Ini Mas Yudi, kakaknya Yeyen,” ujar Kiya memperkenalkan.


Awalnya Kiya tak berniat memberitahu nama mereka masing-masing. Dia tidak akrab dengan Prisma dan tidak berniat menjalin pertemanan dengan cowok itu sehingga dia tak harus memperkenalnya ke Yudi. Tapi pancaran penasaran di manik mereka masing-masing memaksa bibirnya untuk melontarkan kalimat itu tanpa diperintah. Sepertinya hari ini bibir Kiya memiliki pemikirannya sendiri hingga bertindak sesuka hati.


Yudi mengulurkan sebelah tangannya. “Yudi.”


“Prisma,” balas Prisma dengan mengambil uluran tersebut.


BERSAMBUNG...


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. MOHON LIKE, COMMENT, RATING, AND LIKE NYA YA.