PRIYA

PRIYA
PRIYA 29



“Lepaskan, Kak. Aku mau pergi dari sini,” jawab Kiya sambil berusaha melepaskan pergelangan tangan kanannya dari jemari Prisma.


Prisma tak mengindahkan perkataan Kiya, justru dia menuntun Kiya menuju parkiran. Dia sempat mengusap kedua pipi Kiya sebelum memasang helm putih ke kepalanya.


“Aku nggak mau pulang, Kak,” ucap Kiya di sela-sela isak tangisnya.


Prisma menanggapi dengan anggukan singkat. Dia memutuskan untuk membawa Kiya ke rumahnya saja. Prisma nggak tahu tempat mana yang harus dituju. Selama ini rutinitas hanya sekolah dan kosan Bumi Putra saja—sekarang rumahnya di Balle Hinggil. Nanti dia akan menyuruh Kiya untuk menempati kamar Alisa dan Anisa. Kiya bisa menyendiri di sana seraya merenungkan dan menenagkan diri.


Selama perjalanan menuju kawasan Balle Hinggil, Kiya menumpukan kepalanya di punggung Prisma. Laki-laki itu bisa merasakan seragam belakangnya basah. Kiya menangis dalam diam. Melihat Bimo dan wanita tadi sungguh sangat menyakiti hatinya.


“Mama,” lirih Kiya ketika teringat dengan Rasti. Perasaannya saja bisa sesakit ini, apalagi bila Rasti mengetahuinya nanti. Kiya berharap Rasti bisa tegar.


^^ P R I Y A ^^


Kiya mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya lampu di kamar ini sedikit menyilaukan penglihatannya. Kemudian dia menoleh ke jendela kamar yang tirainya masih terbuka lebar. Langit sudah gelap. Diliriknya jam yang terpasang tepat di dinding yang ada dihadapannya. Ternyata sudah jam tujuh malam. Mungkin karena kecapekan akibat menangis, akhirnya dia tertidur. Benar kata orang. Menangis itu membutuhkan energi yang besar.


Kemudian Kiya bangkit dan mengambil tas di atas bufet di samping tempat tidur. Dia segera mengambil ponselnya, memeriksa apakah ada chat atau telepon dari Mamanya. Rasti pasti sangat khawatir. Kiya nggak memberikan kabar apapun. Biasanya dia selalu ada di rumah sebelum jam enam sore. Tapi ternyata hanya ada chat dari grup kelasnya.


Tok... Tok... Tok... Kiya spontan menoleh ke arah pintu. Suara ketukan kembali terdengar. Pintu berwarca coklat tua itu terbuka.


“Udah merasa baikan, Ki?” tanya Prisma saat mata mereka saling bertemu.


“Sedikit Kak.”


“Aku antar kamu pulang sekarang, ya?”


Kiya terdiam sejenak, “Aku nggak mau pulang, Kak. Aku nggak mau bertemu Papa.”


“Tapi kamu nggak mungkin menginap di sini. Apa kata tetangga nanti. Aku juga sudah berjanji pada Mamamu, aku akan mengantarmu sebelum jam delapan.”


Kiya membulatkan bola matanya. “Kakak menceritakan kejadian tadi ke Mama?”


“Nggak. Aku nggak menceritakan apapun tentang kejadi di JIC ke Tante Rasti. Aku hanya mengrimkan pesan kalo aku dan kamu akan pulang sedikit terlambat karena kita akan membeli kado untuk hadiah adik-adikku,” jelas Prisma. “Kita makan dulu baru aku antar kamu pulang. Aku yakin kamu pasti lapar. Bik Asih juga sudah memasak untuk kita,” tambahnya.


Kiya dengan terpaksa menganggukkan kepala. Dia mengikuti langkah Prisma yang sudah mendahuluinya. Saat tiba di ruang makan, Bik Asih baru saja selesai menata meja makan. Wanita paruh baya itu berbasi-basi mempersilakan untuk menikmati hidangan sebelum kembali ke dapur.


“Makan yang banyak, Ki,” suruh Prisma sambil menyodorkan mangkuk nasi.


“Makasih Kak,” jawab Kiya sambil menyendokkan nasi pulen itu ke piringnya, kemudian dia memperhatikan Prisma yang mengambil beberapa lauk hingga memenuhi piringnya.


Seperti anak laki-laki lainnya, Prisma juga memiliki porsi makan yang besar. Kiya sudah biasa melihatnya. Mereka sudah sering makan bersama. Prisma juga bukan orang yang pemilih dalam hal makanan. Sementara Kiya hanya mengambil sepotong ayam kecap. Sebenarnya dia tak selera makan. Kejadian di Jack Ice Cream masih mengacaukan otaknya.


“Ehm, Kak!” seru Kiya.


Kepada Prisma sedikit mendongak yang semula menatap. “Kenapa?”


Sendok di tangan Kiya mengaduk-aduk isi piringnya. Dia ragu. Dia ingin tahu perasaan Prisma. Haruskah dia bertanya sekarang? Atau nanti saja, saat mereka sudah menyelesaikan makan.


“Kenapa?” ulang Prisma.


“Nanti aja, Kak. Setelah kita makan,” putus Kiya sebelum memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Begitupula dengan Prisma. Mereka menikmati makan malam ini dengan tenang.


^^ P R I Y A ^^


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit saat mobil berwarna hitam itu meninggalkan garasi. Kiya memandang jalanan di depannya dengan pikiran berkecamuk. Begitu banyak pikiran negatif tentang masa depan keluarganya yang menghantui. Saling mencerca. Saling menunjukkan dominasi. Semakin pula membuat otak Kiya menjerit parau. Mengapa harus keluarganya yang mengalami. Mengapa harus Papa yang disayang dan dikaguminya yang merusaknya?


Kiya spontan menoleh. “Ada apa Kak?”


“Apa yang ingin kamu bicarakan tadi waktu di meja makan?”


Kiya kembali tercenung. Rasa ragu kembali hadir.


“Ki,” panggil Prisma yang kontan membuat Kiya mengerjap.


“Kak Prisma nggak akan marah, kan?” tanya Kiya. Dia takut kalau pertanyaan nanti akan menyinggung perasaan Prisma dan membuatnya marah.


Prisma menaikkan sebelah alisnya tinggi. “Kenapa aku harus marah?”


“Mungkin...,” Kiya terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mungkin karena ini pertanyaan sensitif untuk Kakak.”


“Sensitif?” Kini kening Prisma mengerut tajam.


“Ini tentang orang tua Kakak,” tambah Kiya menerangkan.


“Memangnya kenapa?”


“Sejak kapan Om Adrian dan Tante Diana pisah, Kak?” tanya Kiya sambil melihat wajah Prisma, ingin melihat reaksi dari cowok di sampingnya ini.


Cowok itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Rautnya biasa saja. Dia justru langsung menjawab panjang lebar tanpa merasa terganggu sedikitpun. “Sejak aku kelas 5 SD.”


“Bagaimana perasaan Kak Prisma dulu? Apakah Kakak...,” Kiya memperhatikan lekat wajah Prisma, mencari-cari apakah ada raut kesedihan atau kemarahan di sana. “merasa kecewa dan marah dengan perceraian mereka?” sambung Kiya.


“Dulu iya. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah mulai bisa menerimanya,” jawab Prisma tanpa ekspresi berlebihan. “Setelah perceraian mereka, aku lebih memilih tinggal dengan Mbahku daripada dengan Papa yang mendapatkan hak asuhku. Aku juga nggak mau berbicara dengan mereka dan setiap bertemu mereka, aku pasti menangis. Saat itu aku merasa kalo mereka sudah nggak menyayangiku hingga memilih untuk bercerai.”


“Apakah penyebab perceraian mereka karena Papamu berselingkuh dengan Tante Mila?” Sebenarnya Kiya sedikit tersentak dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu. Lagi-lagi mulutnya berbicara tanpa diperintah. Entah kenapa, sejak bersingungan dengan Prisma, mulut ini sedikit menjadi liar. Tiba-tiba saja tadi dia teringat dengan wanita berhijab itu.


“Nggak. Papa menikah dengan Tante Mila setelah tidak tahun perceraian mereka,” bantah Prisma. “Aku nggak tahu pasti apa penyebab mereka memutuskan untuk bercerai. Padahal di depanku selama ini, mereka terlihat baik-baik saja. Mungkin karena mereka sudah nggak cocok lagi. Mungkin juga Papa terlalu sibuk dengan urusan kantor dan Mama sibuk dengan dunia artisnya,” ungkap Prisma dengan menoleh ke Kiya sejenak.


Hening sekarang. Kiya menatap kosong ke jalanan di depannya yang dipenuhi beberapa sepeda motor yang sedang berjalan. Selama ini dia terus mencoba berpikir positif. Wanita di video itu hanya sekedar teman Bimo. Tapi saat melihat keakraban mereka di Jack Ice Cream tadi, pikiran positif runtuh tak bersisa. Kini tergantikan dengan bayang-bayangan buruk yang akan dihadapi keluarganya.


“Kak!” panggil Kiya dengan lirih.


“Ehm,” sahut Prisma.


“Apakah Mama dan Papaku akan bercerai karena kejadian ini?” tanya Kiya dengan suara tertahan karena menahan tangis.


^^ P R I Y A ^^


“Malam, Mbak!” sapa Prisma.


“Malam Pris,” balas Raika.


Tepat jam delapan kurang lima, mobil hitam itu berhenti di depan rumah Kiya. Bertepatan pula dengan mobil Galih yang bergerak menjauh. Raika—yang tadi mengantarkan kepergian Galih—lantas menghentikan langkahnya yang hendak menuju teras.


“Kalian darimana?” tanya Raika sambil melihat jam di pergelangannya.


BERSAMBUNG...


MAKASIH. MAKASIH. MAKASIH. NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA.