
Sama halnya dengan rumah Prisma di Balle Hinggil, rumah di sini juga terlihat elit dan berkelas. Semua bangunan bertingkat dua dengan warna kuning pudar yang mendominasi dinding, dipadu dengan warna hitam di bingka jendela dan pintunya. Mobil merah ini berhenti di rumah ketiga dari gerbang. Namun rumah di depan Kiya kini tampak sedikit berbeda dari yang lain, dengan berbagai jenis bunga berkelopak menghiasi halaman. Selain bunga, juga ada sebuahpohon manga di sudut kiri dan pohon jambu air di sudut kanan.
Manik Kiya memperhatikan lingkungan sekitar. Suasana di Jalimbare Resindence ini terlihat sangat sunyi, seperti rumah-rumah di perumahan tersebut tak berpenghuni saja. Tak berbeda jauh dengan perumahan di Balle Hinggil. Mungkin karena rata-rata pemilikinya orang berduit, mereka pasti sibuk dengan rutinitas masing-masing dan jarang di rumah. Sementara Prisma sedang mengetuk pintu berwarna hitam itu sambil menjinjing plastik putih.
Selang beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka dan seorang wanita tua berjilbab hijau langsung memeluk Prisma. “Akhirnya kamu dateng juga. Mbah kangen banget denganmu.” Mbah Kiara semakin mempererat pelukannya.
“Aku juga Mbah.”
“Bagaimana kabarmu, Pris?”
“Baik Mbah,” jawab Prisma sebelum menghadap Kiya yang sejak tadi memperhatikan interaksinya dengan Mbah. Kiya hanya ingin membiarkan mereka saling melepas rindu. “Mbah, perkenalkan ini pacarku. Namanya Kiya.”
“Kiya Mbah,” ucap Kiya sambil menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman.
Mbah Kiara menyambut sodoran itu, kemudian dia memeluk Kiya. “Aduh, kamu cantik bangeeet. Pantas cucu Mbah menyukaimu.”
Kiya hanya tersenyum kecil. Dia sudah tiga kali mendengarkan kalimat itu. Pertama dari Yeyen. Kedua Tante Mila. Dan sekarang dari Mbah Kiara. Dia sungguh tak tahu mengapa mereka bisa berkata seperti itu. Apa karena foto-fotonya yang ada di Instagram? Atau karena sikap lembut dan perhatiannya selama ini? Sudahlah, jalani saja, batin Kiya karena belum menemukan jawaban yang puas.
Setelahnya Mbah Kiara menyuruh Kiya untuk masuk ke dalam rumah dan menuntunnya menuju ruang keluarga. “Kamu duduk di sini dulu, ya. Mbah mau ngambil makanan dan minuman dulu untukmu.”
“Nggak usah repot-repot Mbah,” ucap Kiya dengan raut tidak enak.
“Nggak papa. Mbah nggak merasa kerepotan kok. Justru Mbah merasa senang,” balas Mbah Kiara sebelum beranjak menuju dapur, sedangkan Prisma memasuki satu-satunya ruangan dengan pintu tertutup di sana.
Kiya memperhatikan sekeliling. Ruang keluarga ini hampir sama dengan ruang keluarganya di rumah, dimana terdapat TV LCD di atas lemari setinggi pinggang dan beberapa bingkai foto di sisi-sisinya. Di antara kelima foto di sisi kiri TV, ada satu foto yang menarik perhatiannya. Foto seorang wanita berusia sekitar dua puluhan yang sedang tersenyum lebar. Kiya merasa pernah melihatnya.
Dihampirinya foto itu. Dia begitu penasaran, kemudian diambil dan ditelitinya dengan saksama. Ah, iya. Aku ingat sekarang. Diana Satriawijaya. Foto itu pasti foto mudanya. Tapi kenapa foto itu ada di rumah ini?
“Itu Mamaku?”
Kiya spontan menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum canggung karena Prisma memergokinya sedang memperhatikan foto-foto di ruangan ini. Sebaiknya sebagai seorang tamu, dia tak seharusnya menyentuh barang apapun tanpa seizin tuan rumah.
“Itu foto Mama kandungku.”
Alis Kiya kian mengerut. Lalu dia kembali memperhatikan foto itu. Mendadak matanya terbelalak lebar. “Maksud Kak Prisma, Kakak anaknya—”
“Kamu suka bolu pisang, nggak?” tanya Mbah Kiara yang baru kembali dari dapur dengan sebuah baki berisikan sepiring bolu yang sudah diiris, sepiring buah naga yang sudah dipotong-potong, dan tiga gelas dengan cairan berwarna oren.
Kiya segera meletakkan foto itu ke posisinya semula dan mendekati Mbah Kiara yang sudah duduk di salah satu sofa. “Terima kasih Mbah. Saya pemakan segalanya kok Mbah, asalkan halal.”
“WAH, sama kayak Mbah dong!”
“Bik Asih dan Pak Karyo kemana Mbah?” tanya Prisma sebelum memasukkan potongan buah naga ke mulutnya. Sejak tadi dia memang belum melihat sepasang suami istri itu yang bertugas menjaga dan membantu Mbah Kiara di rumah ini.
Dan saat itupula, mereka yang ada di ruang keluarga itu mendengar langkah kaki yang datang mendekat. Mata Kiya langsung terbuka lebar-lebar tatkala menyadari Diana Satriawijaya—yang merupakan salah satu artis terkenal Indonesia dan idolanya—ada di ruangan ini. Mimpi apa dia semalam.
^_^
“Ada apa?”
Mata Kiya refleks mengerjap. Dia lantas memalingkan kepalanya—yang tadi menatap wajah Prisma—menghadap ke depan. “Nggak ada apa-apa kok Kak.”
“Tadi apa yang Mamaku bicarakan denganmu?” Sejak mereka mulai meninggalkan halaman rumah Mbahnya, Prisma ingin sekali melontarkan kalimat itu. Namun dia terus mengurungkan hingga mobil ini sudah berada di jalan Ring Road Utara ini. Dia berharap Kiya akan menceritakannya.
“Tante Diana hanya menceritakan masa kecilmu,” jawab Kiya dengan setengah berbohong, lalu tiba-tiba pikirannya mengajak berkelanan ke kejadian beberapa jam lalu, saat Diana mengajak ke dalam kamarnya setelah mereka makan siang bersama.
Kiya ragu-ragu masuk ke dalam kamar yang terletak di lantai dua itu. Sebenarnya dia enggan menerima ajakan Diana, tapi dia tak bisa menolak karena Diana sudah menuntunnya dengan paksa menaiki tangga. Alhasil, di sinilah dia berada. Duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan Diana yang sedang sibuk dengan paperbag yang dibawanya dari Jakarta.
“Kata Prisma, kamu suka EXO ya?”
Kening Kiya berkerut sejenak sebelum kepalanya mengangguk. Dalam hati, Kiya bertanya-tanya darimana Prisma tahu tentang boyband kesukaannya itu. Padahal selama ini, tidak satu kalipun nama EXO keluar dari mulutnya saat mereka bersama.
“Waktu Tante ke Korea, Tante jadi teringat kamu. Jadi Tante ke SMTOWN COEX Artium untuk membelikan beberapa merchandise untukmu,” ungkap Diana sambil menyerahkan sebuah paperbag berwarna putih kepada Kiya.
Kiya tak langsung menerimanya, namun membiarkan paperbag itu masih tergantung di tangan Diana. Bukan karena nggak mau. Sebagai fans EXO, dia pasti sangat mengingingkan merchandise resmi tersebut. Hanya saja mereka baru pertama kali bertemu, dan tak sepatutnya dia menerima barang-barang seperti itu. Apalagi Kiya yakin, harga-harga merchandise itu pasti mahal-mahal.
“Ambillah!” Diana kembali menyodorkan paperbag itu.
“Ehm, saya nggak bisa menerimanya Tan.”
“Kenapa? Merasa nggak enak sama Tante?” Lalu Diana meletakkan tali paperbag tersebut ke tangan Kiya. “Anggap saya ini sebagai ucapan terima kasih karena membuat anak Tante bahagia.”
“Tapi saya—”
“Kalau kamu nggak mau menerimanya, Tante akan marah,” ancam Diana.
Kiya menghela napas panjang. “Baiklah, saya terima Tan. Terima kasih banyak.”
“Tante yang harusnya berterima kasih. Sejak dia berpacaran denganmu, Tante merasa Prisma kembali ceria seperti saat dia masih anak-anak. Dia juga banyak tersenyum,” cerita Diana.
Kiya tak merespon. Dia ingin menjadi pendengar yang baik saja. Ditambah lagi dilihat dari wajah Diana, perempuan itu seperti memiliki beban yang berat dan butuh seseorang untuk bisa mendengarkan ceritanya.
BERSAMBUNG...
MOHON VOTE, RATE, COMMENT, AND LIKE.