
“Jadi surat cinta itu benar darimu?” tanya Agus.
“Bukan Kak. Itu dari Kak Awan. Dia mau ngisengin Kak Prisma,” bantah Kiya.
“Sejak kapan kamu menyukai Prisma?” tanya Amanda, sepertinya ke-kepo-an dari teman-teman Prisma akan berlanjut.
“Ehm, itu—”
Ketika Kiya masih sibuk mencari jawaban yang cocok, tiba-tiba Prisma menjawab, “Aku menyukainya sejak insiden surat itu. Aku jatuh cinta pandangan pertama dengannya. Dan sekarang, lanjut ke Yeyen!”
Kiya menghela napas lega. Lantas dia melirik ke Prisma yang sedang mengambil ponselnya di saku celana. Berkat perkataan laki-laki itu, dia akhirnya bisa terbebas dari pertanyaan kepo kakak-kakak kelasnya. Dan sebenarnya waktu Prisma memberikan jawaban tadi, dia sempat deg-degan. Dia merasa terhipnotis dengan raut serius Prisma. Tapi dia segera menyadarkan diri kalau kalimat itu pasti hanya karangan belaka. Nggak mungkin Prisma menyukainya sejak insiden surat tersebut. Yang ada Prisma pasti marah, seperti dugaannya selama ini.
Tepat setelah gadis bernama Dewi yang digandeng Awan memperkenalkan diri, beberapa pelayan datang dan meletakkan makan pesanan mereka. Mereka menikmati hidangan itu dengan lahap. Makan di Amoura Cafe ini memang terkenal sangat enak. Piring-piring mereka hampir bersih.
“Terima kasih atas traktirannya ya Kak,” ucap Kiya berbasa-basi pada Asep saat mereka berdiri di depan pintu masuk kafe.
“Kalo mau traktiran lagi, ajak kami ya Kak,” timpal Kiya dengan cengir lebar.
“Sip. Sip,” sahut Asep sambil menunjukkan jempolnya.
“Kamu tunggu sebentar, ya?! Aku mau ke WC dulu,” ujar Prisma sebelum masuk lagi ke dalam kafe lagi sambil menarik Asep agar ikut dengannya.
“Ki, bukankah itu Papamu,” lirih Yeyen dengan menatap ke rumah makan ayam geprek yang ada di seberang jalan. “Dan yang bersama Papamu, bukankah dia wanita yang ada di video itu?
^^ P R I Y A ^^
Kaki Kiya refleks berlari ke pinggir jalanan. Dia ingin bertatap muka dengan kedua orang dewasa tersebut dan menanyakan banyak hal. Tapi mobil mereka sudah terlebih dahulu membelah jalanan. Kiya mencoba berteriak-teriak, memanggil-manggil nama Papanya, berharap salah satu dari penghuni plat AB itu bisa mendengar seruannya. Namun mobil itu terus beranjak menjauh dan meninggalkan Kiya dalam kondisi yang nelangsa.
Yeyen segera menghampiri Kiya. Dilihatnya ke sekeliling, orang-orang mulai memperhatikan Kiya. Yeyen sedikit mendengus melihat tatapan ingin tahu mereka. Begitulah orang Indonesia. Selalu ingin tahu semua hal yang terjadi di sekeliling mereka. Kemudian dia menepuk-nepuk kecil pundak kanan gadis itu, mencoba memberikan ketenangan. Dia paham bagaimama perasaan Kiya sekarang. Pasti sedih sekaligus marah.
“Ada apa, Ki?” Prisma yang melihat Kiya dan Yeyen sedang berdiri di pinggir jalan segera menghampiri mereka. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Kemudian ditelitinya tubuh Kiya, takut ada yang terluka.
“Nggak ada apa-apa kok Kak,” jawab Kiya sambil mengusap-usap kedua mata yang berkaca-kaca, tidak tahu kapan linangan itu memenuhi bola matanya.
“Ada apa?” Asep yang sedang mengendarai sepeda motornya datang mendekat. Dia merasa aneh kenapa teman dan adik kelasnya berada di pinggir jalan seperti ini, padahal mobil mereka bawa persis di samping pintu kafe.
“Nggak ada apa-apa kok, Sep.” Kini Prisma yang menjawab.
“Kalo gitu, aku duluan ya,” ucap Asep sebelum mengendarai sepeda motornya.
“Pulang sekarang, yuk Kak?” pinta Kiya.
“Kamu baik-baik saja, kan Ki?” Sebenarnya Prisma belum puas dengan jawaban Kiya tadi dan dia masih tampak khawatir.
“Aku baik-baik saja,” bohong Kiya sambil berjalan ke parkiran mobil. Dia sungguh tak baik-baik saja saat ini. Jiwanya terguncang. Pikiran-pikiran negatif tentang Bimo di otaknya seolah ingin meledak, bak ingin membunuhnya dari dalam secara perlahan-lahan.
Sepanjang perjalanan, mobil Toyota ini terasa hening. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga tak menyadari mobil itu sudah memasuki kawasan perumahan Mataram Asih. Setelah berhenti di depan rumah blok D nomor 4, Yeyen segera turun. Dia sempat memeluk tubuh Kiya Prisma sebelum membuka pagar rumahnya, sekali lagi mencoba memberikan semangat dan ketenangan. Dam sekitar jam sepuluhan, mobil Prisma juga berhenti di depan rumah nomor C 10 perumahan Indah Permata.
“Mau masuk dulu, nggak Kak?” tawar Kiya berbasa-basi.
“Nggak usah Ki. Udah malam. Salam sama kedua orang tuamu.”
Sebelum Kiya turun, Prisma menarik lengannya. “Aku nggak tahu apa yang sedang terjadi denganmu tadi, tapi ingatlah kalo kamu masih mempunyaiku. Aku akan selalu ada untukmu.”
“Ya, Kak. Terima kasih banyak,” sahut Kiya
Mobil merah itu pergi menjauh dari perumahan itu setelah Prisma memastikan jika Kiya sudah masuk ke dalam rumah. Sesungguhnya dia masih sangat khawatir dengan Kiya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa bila Kiya tak ingin bercerita. Mungkin gadis itu masih ingin memendamnya sendiri.
Saat Kiya melewati ruang keluarga, ruang itu tampak sunyi. Tidak terlihat Rasti atau Bimo yang biasanya masih menonton TV. Dilangkah kakinya menuju dapur. Biasanya juga di jam-jam segini kedua orang tuanya suka ngemil, seperti makan sosis atau nugget dengan saos pedas. Masih tidak ada. Kiya belum melihat wujud mereka. Rasti dan Bimo tidak mengasih kabar apapun kalau mereka ingin keluar. Pilihan terakhirnya adalah kamar Raika. Dia berdoa semoga Mbaknya itu sedang duduk-duduk santai di kasurnya sambil membaca novel.
“Gimana acaranya, Ki?” tanya Raika.
Kiya baru saja hendak mengetuk pintu kamar yang bersebelahan dengannya itu, tapi pintu sudah terbuka terlebih dulu dengan pemiliknya dalam balutan piyama kuning.
“Seru Mbak.”
“Oh iya, Mama dan Papa nginap di rumah Bukde Rasih malam ini,” beritahu Kiya sambil remote TV yang ada di atas meja dan segera menyalakannya.
“Tapi kok pagi tadi, Mama nggak bilang apa-apa Mbaknya? Memang ada acara apa?”
“Mbak juga nggak tahu. Mbak hanya dikasih tahu lewat SMS.”
“Mbak?” panggil Kiya setelah duduk di samping Raika dan ikut larut menyanyikan acara TV di depannya.
“Kenapa?”
“Menurut Mbak, hubungan Mama dan Papa gimana?”
Raika mengangkat alisnya. “Gimana apa maksudmu?”
“Maksudku, apakah hubungan mereka baik-baik saja? Apakah mereka selama ini sedang bertengkar tanpa sepengetahuan kita?”
Raika kini tampak berkerut, tampak berpikir. “Mereka baik-baik saja kok. Mereka juga nggak sedang bertengkar. Memangnya kenapa?”
“Ehm, sebenarnya...,” Kiya ingin menceritakan apa yang dilihatnya selama ini. Sudah tiga kali, satu kali dilihatnya melalui video dan dua kali dilihatnya secara langsung saat Papanya sedang bersama wanita cantik berambut sebahu itu. Cuma dia masih sangat ragu.
“Sebenarnya apa, Ki?” tanya Raika karena Kiya tak juga melanjutkan kalimatnya.
“Nggak ada apa-apa Kak.” Kiya menyungging senyum lebar. Semoga Raika percaya dan tidak mengungkit lagi.
“Hubunganmu dengan Prisma gimana?”
“Baik Mbak.”
“Sepertinya dia sangat menyayangimu, ya?”
BERSAMBUNG...
MOHON KRITIK DAN SARANNYA. TERIMA KASIH.